J.E. Tatengkeng dan Sentuhan Akhir Keseimbangan

5/26/2018

J.E. Tatengkeng

Seni bagi J.E. Tatengkeng bukanlah tujuan tunggal, bukan pula jalan semata, namun seni adalah gerakan sukma yang menjelma menjadi keindahan kata-kata. Cara pandangnya terhadap seni banyak dipengaruhi oleh dunia Barat dan Kristen, kemudian dia memberikan sentuhan akhir berupa keseimbangan.

J.E. Tatengkeng bernama lengkap Jan Engelbert Tatengkeng atau yang biasa dipanggil Om Jan lahir di Kolongan, Sangihe, Sulawesi Utara, 19 Oktober 1907. Tatengkeng merupakan salah seorang penyair angkatan Pujangga Baru bersama Sutan Takdir Alisyahbana, Amir Hamzah, Sanusi Pane, Armijn Pane, dan lainnya.

Tatengkeng lahir dan besar dalam lingkungan Kristen yang taat. Ayahnya seorang guru Injil sekaligus kepala sekolah Zending. Di Solo, saat dia mengenyam pendidikan di Christelijk Hogere Kweekschool semacam Sekolah Menengah Tinggi Pendidikan Guru Kristen, mulai berkenalan dengan "Tachtigers", yakni aliran kesusastraan Belanda.

Perjalanan hidup dan proses kreatif kepenyairannya tercium sangat kuat dalam bukunya yang terkenal Rindu Dendam (1934). Sebuah buku yang menghimpun 32 sajaknya yang bernapas religius dan kekagumannya pada keindahan alam.

Tatengkeng juga seorang negarawan yang pernah menjabat Perdana Menteri NTT (1949-1950). Dia juga banyak bergelut di dunia pendidikan. Mulai dari guru, menjadi kepala sekolah di daerah Papua, sampai sebagai salah satu pendiri Fakultas Sastra Universitas Hassanuddin Ujung Pandang (kini Makassar). Tempat di mana dia akhirnya meninggal dunia pada 6 Maret 1968.

Puisi-puisi Tatengkeng banyak dimuat Majalah Pujangga Baru, Tuwo Kona, Suara Umum, Suluh Kaum Muda, Pemimpin Zaman, Pembangunan, Zenith, Siasat, Indonesia, Tinjawan, Konfrontasi, Sulawesi, dan lainnya. Selain menulis puisi, dia juga menulis prosa dan drama.

Tatengkeng percaya bahwa kebenaran itu hanya ada pada Tuhan yang bisa dicari di alam raya melalui seni, khususnya puisi.

Bantu Bagikan

Related Posts

Previous
Next Post »