Puisi Menyambut 20 Tahun Reformasi

5/26/2018

Judul Buku               : Aargh Reformasi
Pengarang                 : Berthold Sinaulan
Jenis/Genre              : Fiksi – Kumpulan Puisi
Kata Pengantar        : Prof. Dr. Toeti Heraty N. Roosseno
Penerbit                      : Nulisbuku Jendela Dunia Publishing, Jakarta
Edisi                             : Cetakan I, Mei 2018
ISBN                            : 978-602-6598-43-1
Jumlah halaman     : 80 halaman

Menyambut dan memperingati 20 tahun peristiwa Reformasi 1998 yang berwujud pada penggantian rezim pemerintahan dan banyaknya perubahan di negara ini, terbit sebuah kumpulan puisi yang diberi judul “Aargh Reformasi”. Berisikan 55 puisi yang ditulis dalam kurun 1998 – 2008, kumpulan puisi ini diberi pengantar oleh Prof. Dr. Toeti Heraty N. Roosseno, seorang gurubesar filsafat yang juga budayawan dan perempuan penyair terkemuka di Indonesia.

Seperti dituliskan dalam “Catatan Awal” kumpulan puisi ini, setelah 20 tahun Reformasi bergulir, sudah sampai di manakah kita? Sudah berhasilkah perjuangan Reformasi duapuluh tahun lalu itu?

Disebutkan pula, seharusnya ada lebih banyak puisi yang pernah ditulis, namun inilah yang ditampilkan dalam kumpulan puisi ini. Ada dua hal yang menyebabkan. Pertama, sebagian puisi disimpan dalam memori komputer lama yang rusak dan tidak berhasil ditemukan kembali. Kedua, sebagian memang dengan sengaja telah penulis singkirkan, tepatnya simpan kembali, karena dianggap belum layak dipublikasikan.

Sang penulis juga mengakui, semua puisi yang ada di sini adalah puisi-puisi sederhana, sederhana ide dan gerak tangan menuliskan hal yang terpikirkan dalam otak. Mudah ditebak, karena memang tak bermaksud merahasiakan apa pun. Baca saja dan (semoga) akan langsung mengerti artinya. Hampir tak ada kiasan, permainan kata, dan sebagainya. Biasa saja.

Walaupun demikian, kumpulan puisi ini tetap diterbitkan sebagai tanda pengingat bagi kita semua tentang jejak Reformasi. Sejak  menjelang turunnya Presiden Soeharto, kemudian digantikan BJ Habibie, Gus Dur, Megawati Soekarnoputri, SBY, dan kini Joko Widodo.

Puisi yang dijadikan judul kumpulan ini, “Aargh Reformasi” merupakan puisi terbaru yang ditulis. Isinya menceritakan betapa pada 1998 kita sama-sama bergandeng tangan untuk berusaha mengubah negeri menjadi lebih baik lagi. Tetapi duapuluh tahun kemudian, sebagaimana dituliskan di akhir puisi tersebut:

Dan sekarang semuanya
cuma sibuk berebut kekuasaan
rakyat pun ditinggalkan,
aargh!

 Semoga kumpulan puisi membantu mengingatkan kita kembali bahwa Reformasi yang dicetuskan pada 1998 belum selesai. Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Jadi pengingat, ya itulah tujuan diterbitkannya kumpulan puisi ini.***


Bantu Bagikan

Related Posts

Previous
Next Post »