Sajak-Sajak Terjemahan Abdul Hadi W.M. (I)

7/31/2018
Bechet Negatigil (Turki) 
GARIS KEMATIAN

Buku-buku memanggil dengan bangga dari perpustakaan
-- Bacalah kami, kami adalah juru selamatmu!
Baru halaman pertama malas bikin kami menaruh mereka
Lebih baik jalan raya kami tempuh

Jalanan memanggil kami dengan suara lantang
-- Kemarilah dan berjalanlah, akan kami ber hiburan
Tapi jalan segera memenuhi kami dengan kejemuan
Dan tak memberi kami kepuasan apa pun

Cinta memanggil berulang kali, merayu dan tersipu-sipu
Tiap suaranya mengenakan sebuah topeng
Tiada dariku yang tersisa untuk memujinya
Biar musuh-musuhku bersorak, apa peduliku

(O dunia yang sekarat
Kami adalah budak-budakmu ternyata
Ke mana pun kami pergi atau tinggal
Lahir tetap pilihan terbaik)

Kemudian kelir diangkat sekali lagi
Betapa sungai ini mengalir untukku, sekali lagi,
Ada yang menyimpang, ada yang hilang
Hidup tak tahu artinya hidup sungguh malang.


Eugene Montale (Italia) 
KEREK SUMUR

Kerek semur berderik-derik
Air naik menuju cahaya dan mencair di sana
Sebuah kenangan bergetar dalam ember penuh
Dan pada lingkaran jernih sebuah bayangan terbawa.
Kudekatkan wajahku pada bibir yang sesaat saja lenyap:
Masa silam berubah sudah, menjadi tua
Menjadi milik orang lain
            Ah ia berderit
Dan mengembalikanmu ke lubuk kedalaman yang gelap

Hai bayang-bayang, jarak memisahkan kita.


Ashis Sanyal (India) 
SIAPA AKAN MENJAWAB KETOKAN KAMI

Siapa sekarang akan membawa kami
pulang menuju kebahagiaan
Siapa?

Langit tak lebih
tenda bolong terangkat
di udara, bumi hanya
taburan pasir terserak
ditumbuhi lumut lebat dan belulang
di dasar sungai yang hilang

Tatabahasa daunan hijau
telah terusir dari
ingatan kami, apa kami juga terusir?

dari ingatan burung-burung ---

Siapa akan menjawab ketokan kami
bila kami tinggalkan rumah penjara ini
yang gaungnya akan membawa kita pulang?

Hanya pohonan tahu mengapa
kata-kata kehilangan musiknya
dan mereka sekarang
akan tetap tinggal
seakan dongengan


Wolfgang Baech;er (Jerman) 
PERANG SAUDARA

Di belakangku pintu-pintu alas belantara
berdentuman tertutup sendiri
Aku menguncinya
agar tak kudengar lagi
suara kesunyian,
mengunci suara-suara
yang terdengar di sekitar
dan dalam diri

Telah kuungsikan diriku
dalam kebisingan kota
yang membuat tenang
Dan baca tajuk Koran
Baca dalam kereta api kota
Tentang perang berkelanjutan
di Vietnam, Laos, Kamboja,
Palestina, Irlandia, Amerika

Suara-suara menerobos
dinding kereta api kota
dinding kebisingan
Tembakan-tembakan menembus
pintu-pintu dan jendela
Tembakan mengenai suara-suara
mengena, melukaiku


Abdul Rauf Benawa (Afghanistan) 
SAJAK

1.
Cintaku kembali dari medan perang tanpa kemenangan
Kusesalkan ciuman tadi malam yang kuberikan kepadanya

2
Mukamu bunga mawar dan matamu cahaya lampu
Tuhan! Aku tersesat. Jadi kupu siang atau kupu malam/

Ra’di (Iran) 
DUNIA

Dunia ini adalah sebuah hotel
Kita manusia adalah sang pencinta anggur
Mabuk oleh kegairahan
Anggur benar anggur
Kita tutup mata kita dengan cadar
Agar tetap buta
Dan kita cicipi
Anggur dari cawan kehidupan
Dan kita cuci bibir cawan
Dengan air mata
dan tetap mencicipinya
dan tetap menangis
Dan di situ kita
mencari sesuatu untuk mengisi kekosongan
dan mata kita tetap terkatup
sampai hari kiamat
Di mana cadar kita akan dibuka
Dan menunjukkan rahasia
yang membuktikan cawan
yang kita cintai itu
sejak hari penciptaan pertama
tak terisi anggur
yang ada hanya khayal dan mimpi
sedikit harapan, rasa kecewa
perpisahan, dan pertemuan kembali
dan pada akhirnya, semua juga hilang, lenyap.
O dunia ini seperti hotel
Kita adalah pencinta anggur yang malang.





(Diterjemahkan oleh Abdul Hadi W.M.)

Bantu Bagikan

Related Posts

Previous
Next Post »