Sajak-Sajak Weni Suryandari

7/31/2018

Pencarian

Kurenangi tasawuf dan filsafat untukmu
Namun aku selalu tersesat di tengah-tengah
Burung ababil memanggil-manggil
Di paruhnya batu sijjil, disepuh air laut

(Aku berhenti untuk membaca Rimbaud,
tapi neraka di lubang mataku, bukan, bukan itu
yang kucari!)

Asin laut tetap melukai tubuhku, perih merepih
Bersama butir matahari di sekujur kulit
Aku bicara pada Neruda, tentang kesetiaan
dan pengakuan orang kasmaran yang bestari
Ai, pipiku merah jambu

Gelombang membawaku timbul tenggelam
Dalam pencarian menemani hari tanpa kesunyian
meski separuh tubuh kaku,
            ;separuhnya lagi bukan aku

Jati Asih, Oktober  2015


Di Venesia

Aku melihat keindahan laguna
Pada langit membentang sepanjang
abad yang bertandang
dari peradaban ke peradaban

Langit Venesia mencuri sepasang mata
menyisiri masa lalu dalam surga kenangan
ah, mari kita mendayung debar hari cabar
menyusuri kota mengejar burung-burung
di depan gereja Basilika, saat wajahmu murung
diserbu kabut gerimis yang menghempas
wajah keperakan Adriatic luas.

Aku tahu kini, pada jarak dan waktu
Kenangan menulis sejarahnya sendiri
Dan tatapan kita, hanya menunda mimpi
demi mimpi, saat matahari menangis
menunggu sumpah hangus di ubun senja
            ;perjalanan adalah takdir yang belum selesai



2015


Hujan Agung

Bulan melengkung, angin berkibas basah
lampu lampu terangi jalan berwajah
sungai,  hingga tiba Shubuh sunyi
sedang ciumku tak sampai-sampai
di kotamu
                        oi, aku cemburu
gigil rindu tak dapat kutahan,
kata-kata pingsan di udara,
pecah hujan bertalun,
pecah sunyi mengalun
kidung kekasih menusuk dada
aku luluh lantak,
lebur bersama jiwa-jiwa yang terbang
dan mata-mata airmata
hantarkan sajak pendoa
menyelinap di antara bangsal kematian
sepanjang lorong langit, sambil
 membawa debar di jantungku
                        ke dadamu
dan ciumku yang tak pernah sampai

2014


Lepas Tahun

Laut lepas, perahu berlayar sendiri
Angin menepi menunggu tahun pergi
di puncak malam
Aku melayang di kepalamu,
ada kenangan bermain di dadaku,
                        basah

Peluk aku dengan rengkuh seluas sayap
membentang dari langit dan bumi
malam berkabar beribu kisah
perihal kita
Dan tahun tahun usang terbakar
                        di udara
Air meliuk, gelombang pecah di ujung karang
Perahu masih berlayar sendiri,
Laut lepas, menderas-deras di mataku

 2014


Laut  Kematian

Kubuka mataku, berlayarlah padaku
Saat angin dan ombak bermain di bawah bulan
dan pepohonan tinggal menunggu bayang bayang
bibirku beku, sedang laut mengalun tenang

aku melihat orang orang gelisah menunggu
garis nasib pada perut dan harapan yang tak surut
Pengangguran menjadi angka harmonis bagi kemiskinan
Bendera lupa pada slogan, kita cuma diam dibius hiburan

Berlayarlah di mataku, akan kau selami samudera
dan riwayat karang dari anyir perjalanan getir
Di sana akan kau temui cahaya kebijaksanaan
Tentang hidup dan maut sebagai sari ruhani bagi usia
dijerat lalai dari pesta penjilat yang tak pernah usai

Kubuka mataku, berlayarlah padaku
Akan kukecup kerinduan di bawah bulan
Dan perahu Khidr menelan pengkhianatan
Hingga manusia tenggelam pada surga penghabisan

2015


Seawan Doa, Sesuar Cahaya

Serumpun pohon bambu meliuk liuk
Bagai kunang-kunang menari di pucuk
Menimang ranting dengan nyala cahaya
Menepis bayangan di atas lembar peta buta
Di bawah bulan, di simpang randu

Aku berdiri, kesunyian menepi
Kenangan menjurai, bintang tinggal kerlip di nadi
Angin menderai menyingkap waktu
Meliuk dari halaman babad purba
Sebuah kitab tua menjura

Kudengar kepak sayap dari langit aksara
Mataku yang lelah seketika bercahaya
Memandang nanap jantung kehidupan
Gairahku seketika semekar mawar di taman
Harapan dan impian pun berjalin rupa

Oh, rindu yang lindap menyusuri jalan kebijaksanaan
negeri senyap gulita, suara pemimpi bernyanyi sumbang
Kakinya tergenang laut darah, tangannya melambai
pada lumbung padi di awang awang

Seorang gadis mencuci malam di sungai kering
Sepasang matanya sesendu tebing, luka batin
remuk dikoyak impian dan serimbun ingin

Oh cahaya, jangan biarkan kami mati berdiri
Tanah retak, kemarau dihalau berita politik televisi
puisi mengalir hingga pekat nadi, kita mabuk asap,
Sedang doa doa terdengar lebih hening dari mati!

Jati Asih, 2015


Kelahiran Kematian
; Borges

Sebab kematian merupakan jalan panjang sepi,
lorong gelap, juga peristiwa yang tak terbuka
oleh mata batin yang fana, saat dunia bermula

lalu terbentang perjalanan cahaya antara
jantung dunia dan taman-taman langit
tertulis dalam kata-kata puitis para sufi
yang selalu  menuliskan setiap intuisi

Mungkin saja aku pun berjalan mencari wajahku sendiri
dalam cermin seperti Heraclitus, lalu kuabadikan
setiap kilau kesucian ke dalam dadaku, sekadar
membuka kegelapan dalam perjalanan kelahiran
awal kematian  menjauhi dunia masai yang terberai

Tiba-tiba aku ingin bangkit menjelma menjadi albatross
Terbang menjauh dari iring-iringan bunga keranda
Sedang dunia beradab tak dapat kuwariskan pada
sejarah masa depan kebijaksanaan.


2015


Sisa Cium di Alun Alun

Suatu masa, angin kesiur di buritan, geladak sesak
Di amis laut, aku menitip kemelut, saat aroma kapal
Jokotole dan nafas nelayan tak mampu mengusik
Perjalanan peradaban, masa lalu ke masa depan

Perahu ikan berbarisbaris menanti jantung gerimis
Jalanan panjang membelah pulau, menuju ujung
Sumenep, tempat leluhur menyimpan jejak hingga
tedas waktu pada takdir bergulir

Karapan, lebaran ketupat membius luka batin
Isak membasah, beban rindu tak pernah usai
Ingatan sisa cium di alun alun, kerap melambai

Kini puisi menyelusuri jalan kembali ke kotaku
Aroma kapal dan amis nelayan pudar
Kenangan lantak oleh Suramadu, aspal yang kekar

Ingatan pingsan di kepala
Sepasang pecut melecut kabut di mataku

2014


_____
WENI SURYANDARI, lahir di Surabaya 4 Februari 1966. Memasuki dunia SMP, ia mulai menulis puisi dan cerpen. Selain itu ia aktif berkegiatan di Sanggar Matahari (saat itu dipimpin oleh almarhum Freddy Arsy). Kegemarannya menulis puisi dan cerpen tetap dilakukannya hingga SMA meski pun untuk kalangan keluarga dan teman-teman dekatnya. Memasuki dunia perguruan tinggi di IAIN pada tahun 1984, ia tetap berkesenian di kampusnya hingga tamat tahun 1989. Pada tahun 2005 dunia tulis menulis mulai dilakukannya lagi secara serius, sehingga pada tahun 2008 memenangkan Kategori Terpuji dalam sayembara menulis Novelette di Tabloid Nyata dengan judul Kesetiaan Seorang Sri” dan dimuat sebagai cerita bersambung (2008-2009). Sejak itu karya-karyanya mulai terbit di media massa cetak lokal dan nasional, di antaranya di Media Indonesia, Indopos, Kartini, Story Teenlit Magazine, Jurnal Nasional, Suara Karya, Tabloid Masjid, Padang Ekspress, Suara Karya, Suara Merdeka, Koran Merapi, Kedaulatan Rakyat, Minggu Pagi, Pikiran Rakyat, Jembia Batam Pos, dan Tabloid Nova.

Karya-karyanya juga tergabung dalam sejumlah antologi puisi bersama, antara lain: Perempuan Dalam Sajak (2010), Kitab Radja dan Ratoe Alit (2010), 24 Sauh, Antologi Cerpen Esensi (Erlangga, 2010), Gebyar Kerlip Sastra Reboan (2011), Kartini (KKK, 2011), Cinta Gugat – Sastra Reboan (2013), Titik Temu (Kampung Jerami, 2015), Menulis Puisi Lagi (2014), Klungkung, Tanah Tua, Tanah Cinta (2016), Antologi Negeri Poci 6, Negeri Poci 7 (2015 -2016), NUN (Antologi Hari Puisi, 2015), Perempuan Laut, Penyair Perempuan Madura (2016), Antologi Puisi Nusantara, Festival Puisi Bangkalan (2017) dan lain sebagainya.

Buku tunggalnya yang sudah terbit adalah Kabin Pateh (KC, 2013), dan Sisa Cium di Alun-alun (KS, 2016).

Kini Weni tinggal di Bekasi dan berprofesi sebagai guru bahasa Inggris.

Bantu Bagikan

Related Posts

Previous
Next Post »