Di Bawah Bayang-bayang Kosmologi Penciptaan

8/08/2018


Oleh Raudal Tanjung Banua


Sastra Media - Meskipun secara teologis kita dituntun untuk memercayai bahwa segala sesuatu mudah terjadi atas kehendak Tuhan (“Kun fayakun—jadi, maka jadilah!”), namun penciptaan jagad raya dengan segala isinya tetap dengan keniscayaan kosmologis, suatu proses yang memunggah banyak kejadian, banyak peristiwa, dan tentu saja banyak makna. Bumi, sebagai bagian dari semesta raya yang dihuni manusia (makhluk berakal yang tak kekal), jelas menorehkan jejak dalam proses panjang itu; terlebih ketika bumi mendapatkan dimensinya, jika bukan padanannya, dari konsepsi dunia. Ya, bumi sebagai benda (apatah seberkas debu, planet atau bintang-bintang) akan memperoleh “ruh”nya ketika bersentuhan dengan dunia sebagai bukan-benda, bukan materi, tapi sebagai “kata”, sebutlah dalam pengertian biner, jasmani-rohani, atau konsepsi dunia-akhirat. Dalam arti lain, dibutuhkan imajinasi sebagai perantara untuk membayangkan kejadian (di) bumi dengan segala isinya, juga masa depannya, dan itu hanya mungkin didapat lewat kehidupan dunia(wi).

Jika bumi dan segala isinya lebih bersifat benda, kasat mata, maka dunia dengan segala tingkah-laku penghuninya lebih bersifat gerak, dinamika yang menghidupkan (atau menghancurkan?) bumi yang mereka (atau kita) tempati ini dengan ide, gagasan dan tindakan. Dengan cara itu, Penciptaan (dengan P besar) yang dianggap berakhir pada hari keenam seperti termaktub dalam kitab suci, terus-menerus hendak “disempurnakan” oleh pengusung agung nilai ciptaan itu, yakni manusia sebagai khalifah, yang lewat penciptaannya pula (dengan p kecil) melanjutkan pasca-hari keenam. Sebagaimana bumi dan jagad raya menghadapi benturan bahkan pralaya dalam mencari keseimbangan kosmisnya, demikian pula kiranya semesta dunia—semesta kata—mencari titik pijaknya, kadang menghadang mati, menghadapi perang saudara, tragedi, bencana demi bencana. Tapi itulah hakikatnya dunia, karena ia memang bukan sorga yang abadi.

Gagasan besar penciptaan diusung dengan sangat meyakinkan oleh Ahmad Nurullah dalam buku puisi perdananya, Setelah Hari Keenam. Penyair kelahiran Sumenep, Madura, 10 November 1964 ini, secara teknis menyatakan,”...kumpulan puisi ini saya susun secara alfabetis berdasarkan judul. Dengan cara itu saya hendak mengatakan bahwa puisi-puisi yang dihimpun dalam buku ini bukan produk yang lahir secara berkesinambungan, sehingga tidak menuntut pendekatan berdasarkan kronologi tahun penulisan.” (“Prakata”, hal. ix).

Meskipun mengakibatkan tahun penulisan tersusun secara acak dan kelahiran puisi-puisinya dikatakan tidak berkesinambungan (yang terakhir ini tak sepenuhnya saya setujui), tapi ini justru menarik. Dari situ kita dapat membuktikan bahwa gagasan utama yang diusung Nurullah di dalam puisi-puisinya senantiasa terlihat, dalam kurun waktu atau tahun kapan pun ia menulisnya. Tampak bahwa kosmologi penciptaan telah menjadi obsesi teramat akut bagi penyair ini, sehingga tidak bisa tidak dalam setiap kesempatan ia selalu mengulik ihwal penciptaan ini, jika tidak sebagai tema dan gagasan utama, ya, sebagai latar, abstraksi atau analog dari peristiwa-peristiwa lain yang tidak secara langsung merujuk peristiwa Penciptaan (dengan P besar), katakanlah peristiwa keseharian, misalnya dalam “Sore yang Berhujan”:

            Rumah-rumah kuyup
            di bawah sore yang berhujan
            Angin riuh. Kota basah
            Sesekali kilatan petir
            menyalakan kenanganku
            tentang suatu peristiwa:

Kendati menceritakan sepotong peristiwa biasa saat sore berhujan, gagasannya menyeberang kepada hari lain yang tak biasa, di dalam bait berikutnya, yakni ketika “dinding tebal yang angker rubuh oleh kata-kata”—menuju terciptanya hari baru, sejarah baru. Namun ketimbang memungut idiom-idiom umum sebuah gerakan yang meruntuhkan tembok angker sebuah rezim, yang pastilah penuh pamflet dan yel-yel, Nurullah memilih menyusupkan idiom-idiom penciptaan yang segar. Ia merujuk material bumi jika bukan jagad-raya (gunung berapi, jurang, tanah, bukit, matahari, cakrawala), maupun yang merujuk konsepsi duniawi: silsilah, waktu dan sejarah. Tidak lupa ia mencatat kehadiran generasi baru yang telah membuat segalanya berubah:

           “Terima kasih, Nak, atas segala kopi hangatnya
            Dan singkong rebusnya.”
            Anakku—anak kita—tersenyum
            Melangkah menuju hari esok yang panjang.

Perubahan di sini tak hanya mencakup muatan puisi, dari hujan sore yang sederhana menjadi hari lain yang tak biasa, tapi sekaligus mengubah fokus dari aku-personal menjadi aku-kolektif; dari anakku menjadi anak kita, anak kita semua. Barangkali beginilah hakikat penciptaan. Ada tahapan-tahapan yang tidak sim-salabim meskipun itu sangat mungkin (ingatlah sabda Kun fayakun). Tapi tidak, kosmologi penciptaan merupakan keniscayaan termasuk di tangan penyair, sehingga tak heran bahwa Tuhan pun menciptakan bumi dalam enam hari. Kesadaran ini tampaknya mendasari kerja kepenyairan Nurullah, sehingga terasa dalam menggubah puisi yang bagaimanapun, dan di dalam posisi yang seperti apa pun, ia tidak bisa lepas dari obsesinya mendalami kosmologi penciptaan ini. Untuk membuat obsesi itu menjadi lebih nyata, lebih konkrit, kini dan di sini, ia memang acap mengelaborasinya dengan peristiwa-peristiwa aktual, katakanlah ke dalam ranah sosial politik, kebudayaan, juga sains. Atau sebaliknya, untuk meluruhkan peristiwa aktual menjadi lebih puitik dan kontemplatif, ia mesti membaurkan dengan panorama dunia penciptaan yang sugestif.

Sajak keseharian lain yang menganalogkan dunia penciptaan misalnya pada bait ini:

            Tanah becek itu adalah sebuah dunia:
            Di bawah langit yang deras, angin kencang dan
            kampung yang murung tahun 70-an—
            ketika Republik guncang dan bingung oleh
            PGT, beras bulgur, dan partai-partai—
            anak-anak itu berlari-lari, berteriak, bersorak:
            Hujan adalah pesta—detik-detik penuh suka cita.

            (“Hujan”: 40)

Walaupun “hanya” menceritakan sekeping kenangan penyair pada masa kanak—bermain bola di tengah hujan—dengan teknik siklis, namun ia tidak melepaskannya dari amsal sebuah dunia karena memang,”Tanah becek itu adalah sebuah dunia”, yang terus-menerus bergerak dan berbiak. Dalam sajak jenis ini, ia tidak secara telak menempatkan kosmologi penciptaan sebagai tema utama, meski tetap menjadi tulang punggung yang menegakkan sebuah dunia. Yakni, dunia sehari-hari yang dekat dengan kita, namun sebagaimana tulang punggung, jarang sekali kita raba. Dan Nurullah memberi persfektif lain untuk merabanya. Sebagaimana kita diajak untuk lebih menajamkan telinga menangkap gema kokok ayam, yang mungkin sudah sayup atau hilang dari ingatan. Itu artinya, kita mesti memaknai subuh lebih dari sekedar “waktu yang dirayakan kokok ayam”. Sebab, sebagaimana tulis Nurullah lebih lanjut, “Subuh bukan cuma jengger waktu; subuh adalah juga upacara bagi pohon-pohon, kerikil dan batu-batu.” Dengan menyadari ini, kita merasa segar menghikmati hari yang bersalin:“Detik-detik ketika dunia menunggu matahari/menetas dari rahim timur. Menyeka sisa gelap/Menyalakan cakrawala.//”

Saya selalu takjub membayangkan betapa dunia bergerak dalam bentuk penciptaan yang sepadan, perlahan dan sabar, yang mesti dihikmati untuk mendapati inti suasana: tenang, damai. Sebagaimana lebih lanjut termaktub dalam bait sajak “Subuh: Waktu yang Dirayakan Kokok Ayam” ini:

            Di sebentang desa, bulir-bulir padi bunting
            Menguning. Rerumput baru keramas. Semak perdu,
            pohon-pohon merbau berbaris sampai di serambi hutan
            Lalu berhenti di kelokan sungai. Di kiri jalan setapak,
            ada sebuah gardu, genangan rawa-rawa
            Rumah-rumah memucat di kejauhan

Begitulah sebuah hari lahir. Lebih dari yang tampak, lebih dari yang rutin, pergantian hari bukan hanya sekedar peristiwa terbenam dan terbitnya matahari (alamiah), namun menyebar proses kedamaian Ilahiah dari cahaya yang menerobos pepohonan, bulir padi, tepi hutan, sungai, jalan setapak, gardu dan rawa-rawa, untuk akhirnya sampai ke rumah-rumah yang dihuni manusia—yang memucat di kejauhan. Bahkan cahaya begitu sabar dan perlahan. Sampai hari baru itu pun tak lagi dirayakan ayam-ayam, tapi juga manusia yang mesti “berkokok” dan “mengekas” mengisi hari-harinya.

Upaya mengusung konsepsi penciptaan jagad-raya ke dalam inti renungan sajak-sajaknya, membuat tiap bait gubahan Nurullah punya makna yang luas serta ungkapan yang segar. Sampai-sampai peristiwa kecil keseharian yang berpotensi terbenam dalam klangenan, sebagaimana disinggung di atas, bisa dibangkitkan Nurullah menjadi dunia penuh dimensi; sebaliknya kejadian besar semisal hiruk-pikuk politik atau fenomena sosial yang aktual bisa diredamnya untuk tidak tampil bawel, tapi tetap elegan. Karut-marut politik negeri ini nyatanya tetap menyediakan ruang renung dalam sajak “Dari Sebuah Negeri: Fragmentaria” dan “Negeri Api”. Atau puisi “Pesta” yang merupakan catatan Pemilu 2004, memang mencuatkan kalimat-kalimat liar, namun cukup terkendali sebab cenderung dingin pada beberapa bagian: “Jika demokrasi adalah pesta/hewan apalagi yang akan disembelih/buat pelengkap hidangan, dansa-dansi, dan huru-hara?”.

Tidak lupa ia merespon peristiwa di luar tanah air seperti mengenang Bunda Teresa dalam “Batu yang Bernyanyi” atau ingatan pada peristiwa di Bukit Morin & Danau Neuchatel, 1994, ketika terjadi bunuh diri massal pengikut Sekte Kenisah Matahari pimpinan Luc Jouret dalam sajak “Ritus Bunuh Diri”. Begitu pula fenomena saintek, dengan kehadiran bayi tabung, diresponnya dalam sajak “Di Bank Sperma”; atau sesuatu yang lazim, gempita perayaan tahun baru dalam “Nota Bulan Desember”. Kesemua itu muncul alamiah di satu sisi, tapi sarat renungan lewat pernyataan atau pertanyaan-pertanyaan filosofis, seolah tak berujung: Apa makna hidup, apa arti dunia? Selamat tahun baru? Untuk apa? Sebab,”Seperti waktu, aku pun terus berjalan: gelisah oleh/tatapan mata bulan.”  

Satu lagi jenis sajak yang tidak kehilangan dimensi penciptaan di tangan Nurullah, dan karena itu mampu membangkitkan emosi, adalah sajak perjalanan. Dalam “Barito” misalnya, Nurullah mencantumkan “Catatan Perjalanan” di bawah judul sajaknya. Sebagai catatan perjalanan, apalagi ditulis seorang jurnalis (Ahmad Nurullah adalah seorang wartawan) bisa jadi catatan ini akan berhenti pada sejumlah lanskap, reportase atau feature. Tapi tidak. Di tangan Nurullah, perjalanan ke pedalaman Kalimantan tidak hanya kelucak Sungai Murung-Barito, guncangan riam lawang haring atau gadis-gadis Dayak yang berjoget dalam blue jeans dan kaos T-shirt, melainkan juga yang tak nampak: rombongan roh melolong sebelum upacara purba mengantar dari bumi ke nirwana. Sebab,”Dunia cuma seluas antena parabola”, dan lebih ditegaskan lagi pada bait pembuka bagian kedua (2),”Pedalaman Kalteng adalah dunia yang pecah.”

Lewat ancangan dunia sebagai tamsil, Nurullah dengan leluasa masuk ke inti dunia yang pecah itu; Dadanya tenggelam ke dunia magi. Bersama balian, kidung randan, tari japen, dan bahalai,” tapi kepalanya gatal melongok dunia luar yang kebyar—dunia “Barat”, atau kemajuan?—tanyanya. Nurullah lalu mengingatkan,”Hati-hati matamu mengerling perempuan/Bila tak ingin biji pelirmu tersangkut di pohonan.//” Lewat penghormatan pada laku masyarakat yang dikunjunginya, dan konsistensinya merujuk kosmologi penciptaan, Nurullah akhirnya menutup catatan perjalanannya ini dengan legawa, sebagaimana ridha Adam pada dunia:

            ................
            di sebuah kawasan yang jauh,
            ternyata ada juga orang berbahagia. Bukti
            bahwa bumi sabar mengasuh segala yang ada:
            yang kecil, ganjil, sederhana
            Meski, bukan tak bermakna

Sajak perjalanan lain dengan renungan tak kalah jernih ialah “Selat Kamal: Mengupas Nostalgia”. Dengan mengutip Herakleitos (penyair asal Madura lain, Jamal D. Rahman juga pernah mengutip Herakleitos) bahwa “Kita tak mungkin mencebur ke sungai yang sama,” maka puisi ini dengan cantik meloloskan diri dari perangkap nostalgia buta. Nurullah berhasil mendayagunakan kenangan masa kecil, lintasan sejarah dan legenda untuk menciptakan Madura hari ini: Jembatan Suramadu, TKW, rumah idaman abang sate atau moral yang kropos. Tapi, seperti katanya,”...demi kemerdekaanku,/tak ada alasan untuk menangis, Ayah, Ibu.” Sebab, si aku sadar bahwa ia terdampar di negeri kata-kata: sebuah negeri yang kurus dan tak seharum pesta.

Jika kita mencermati sajak-sajak penyair Indonesia asal Madura, seperti Abdul Hadi WM, D. Zawawi Imron atau Jamal D. Rahman—untuk menyebut beberapa nama—termasuk di dalam prosa seperti Fadoli Zaini, niscaya kita akan mendapatkan beberapa ciri general. Pertama, keakraban mereka dengan idiom alam mulai lautan, selat, ombak, pohon siwalan, matahari, perahu layar dan seterusnya. Kedua, keintiman mereka dengan kampung-halaman yang membentangkan panorama budaya lokal semisal sapi karapan, meski dalam perkembangannya kemudian muncul jarak di antaranya tapi tetap mengobarkan kerinduan. Ketiga, renungan yang dipungut dari lingkup horisontal—alam dan kampung halaman—biasanya dibubungkan ke arah vertikal, transenden. Ini yang kadang-kadang diidentikkan dengan sajak-sajak relegius jika bukan sufistik. Ahmad Nurullah menurut hemat saya juga punya basis yang kuat pada ketiga ciri ini, namun ia memiliki teknik berbeda membangun jagad puitiknya. Idiom alam di tangan Nurullah cenderung merujuk alam besar atau alam utama, seperti bumi, matahari, planet dan bintang-bintang, bukan cahaya, kabut, batu atau debu. Meski tentu ia menyebut juga cahaya, kabut, batu, debu atau semacamnya, namun tetap dalam asosiasi “yang besar” sebagai konsekwensi keterikatannya pada kosmologi penciptaan. Kampung-halaman Nurullah juga meluas, hanya ketika ia pulang ke Madura saja ia menziarahi tanah ini (sajak “Selat Kamal: Mengupas Nostalgia”), selebihnya ia berada dalam kampung-halaman bernama dunia jika bukan semesta raya. Akibatnya, refleksi ketuhanan Nurullah tidak muncul dalam tadahan tangan dan kalimat doa yang liris lagi sedih, melainkan dari kontemplasi di tengah hiruk-pikuk dunia orang ramai.     

Barangkali saya berlebihan. Namun saya bisa menunjukkan sajak yang mencoba melepaskan diri dari orbit penciptaannya, terbukti kehilangan daya pukau. Sajak “Setabur Bunga untuk Aceh” menurut saya tidak terlalu kuat, bukan lantaran sajak ini ditulis sebagai sajak solidaritas merespon peristiwa tsunami Aceh, Desember 2004—jadi kemungkinan tergesa, emosional—namun lebih diluputkannya kosmologi penciptaan sebagai analog, abstraksi atau sekedar idiom. Akibatnya, sajak ini tak berbeda dengan sajak-sajak sejenis yang ditulis banyak penyair sebagai respon sosial. Padahal, tsunami dengan gempa, patahan bumi, gelombang besar dan hancurnya sesudut dunia, sangat paralel dengan kosmologi penciptaan sehingga sajak ini berpotensi sangat dahsyat jika tak lepas dari orbit puitiknya tersebut. Bukan berarti ia harus terbelenggu konsepsi ini, sebenarnya. Sebab kosmologi penciptaan bisa saja berperan sebagai pintu masuk, atau ancangan, bisa pula hanya mengambil satu-dua ungkapan kunci. Itulah sebabnya saya mengatakan bahwa kosmologi penciptaan tidak selalu hadir sebagai tema utama; ia bisa hanya sebagai abstraksi, analogi atau sumber metafor. Tapi dalam sajak ode untuk Aceh ini, ia benar-benar abai pada basis awalnya.

Sajak “Genesis” menunjukkan hal yang sebaliknya. Sejak awal, ia mencoba dekat pada orbitnya, terus dan terus, sehingga menutup kemungkinan “improvisasi” untuk melongok ke jagad yang lain. Akibatnya, pada bait-bait akhir muncul kesan didramatisir jika bukan main-main, hanya untuk menunjukkan konsistensi pada kosmologi penciptaan. Menurut saya, dua bait penutup sebenarnya tidak perlu lagi, terasa dipaksakan; maka ia cukup berhenti sebelum dua bait terakhir.   

Adam-Hawa dan Amsal Penciptaan

Jika peristiwa keseharian saja sebegitu agungnya di tangan Nurullah, maka kejadian penciptaan yang lebih besar pastilah memunggah imajinasi dan pergulatan yang lebih luar biasa. Penciptaan sebagai tema utama memang memuat lebih lengkap panorama kejadian.

Menariknya, atau uniknya, upaya Nurullah menyusun puisinya secara alfabetis, telah menempatkan sebuah sajak panjang berjudul “Adam & Hawa: Mitos di Hari yang Gelisah” sebagai sajak pertama di dalam buku ini. Di dalam “Daftar Isi” urutannya no. 1, tepatnya halaman 1-4. Untuk diketahui, jarang sekali judul puisi di “Daftar Isi” buku puisi diberi nomer, dan yang jarang itu saya temui dalam buku Nurullah ini, sehingga kian menegaskan posisi sajak pertama tersebut.

Lebih dari kebetulan Adam berawalan huruf A, bukankah di dalam geneologi penciptaan Adam adalah manusia pertama? Lebih bukan kebetulan lagi, ternyata sajak pertama inilah yang mewarnai hampir semua sajak, jika bukan keseluruhan, di dalam buku ini. Idiom-idiom, gagasan dan obsesi yang dibabar dalam sajak yang terdiri dari 7 (tujuh) bagian ini, kelak seperti “diturunkan” kepada 49 sajak lainnya, seolah menjadi ruh seluruh buku. Tampak sebagai pedoman umum, mukadimah, puisi pertama ini menginisiasi bait, baris atau diksi puisi yang kemudian, sehingga boleh dikatakan hampir tidak ada puisi yang lahir di luar “kumpulannya terbuang”. Semua dirangkai oleh kegelisahan Adam-Hawa.

Misteri penciptaan? Jika kita percaya kelahiran sebuah sajak (juga buku puisi) bagi seorang penyair (yang serius) bukanlah perkara main-main, bukan target-targetan—apalagi dalam konteks Nurullah setelah 24 tahun proses kepenyairannya, sejak 1987, Setelah Hari Keenam ini adalah buku kumpulan puisinya yang pertama—boleh jadi kelahiran buku ini mengalami misteri penciptaan sebagaimana yang saya dugakan itu.

Seperti disebutkan, puisi “Adam & Hawa: Mitos di Hari yang Gelisah” terdiri dari 7 (tujuh) bagian yang saling terhubung oleh tema pokok tentang penciptaan, juga alur, bahkan latar dan tokoh yang jelas. Hakikat sajak ini memang bercerita, namun begitu ranum oleh gagasan, sehingga baik sebagai cerita (prosa?) maupun sebagai gagasan (esei?) ia sangat kuat dan puitik. Kita merasa hanyut dalam idiom dan cerita yang datang sambut-bersambut, timpa-bertimpa, dengan gagasan dan imajinasi yang tak habis. (Sampai di sini saya agak masygul mendapati kenyataan klaim beberapa pihak akhir-akhir ini tentang lahirnya genre baru sastra Indonesia: Puisi-esei. Bukan tidak percaya pada kemungkinan lahirnya genre baru, melainkan buntut klaim itu benar yang tak tertanggungkan: genre baru dalam sastra Indonesia ternyata tidak dilahirkan oleh sastrawan atau penyair yang bertungkus-lumus di bidangnya, melainkan oleh seorang konsultan politik! Bukan pula tidak percaya pada kemungkinan “yang bukan sastrawan boleh ambil bagian” [ini zaman demokratis, Bung!], melainkan bahwa sastra Indonesia masih memiliki sastrawannya yang sejati, sehingga rasanya belum perlulah “bernafas ke luar badan”, dan  mereka toh telah lebih dulu melahirkan apa yang disebut genre baru itu, salah satunya, ya, Ahmad Nurullah ini—yang memang tak hendak hidup dari klaim-klaim tentatif!—maka segan dan hormatlah padanya, sebab bukankah ini bagian dari inti demokrasi juga?)   

O, baiklah, kita lanjutkan. Jadi pada bagian pertama (1) sajak panjang ini, aku jatuh lebih dulu. Maka ia dengan bebas membuat pernyataan sekaligus mengajukan pertanyaan:

            1.
            Gara-gara Adam dan Hawa lalai mengunyah firman,
            aku pun jatuh, dan menangis. Maka kutepuk-tepuk tanah,
            tengadah,”Matahari, apa yang kausaksikan tentang bumi,
            sejak awal penciptaan? Sejak awal mula
            Adam dan Hawa datang?”

            Tak ada jawaban. Cuma gema, ulangan kata-kata
            meninggalkan jejak maknanya yang bergeser
            di atas pasir. Pada angin yang berdesir.

Lantaran tak ada jawaban, kecuali “gema, ulangan kata-kata”, maka aku-lirik sadar diri untuk tidak lagi bertanya, alih-alih “tepekur, merenung” bahkan “Lalu tertidur./Bersama batu-batu, bersama angin/bersahabat dengan kesunyian/”. Upaya bersahabat dengan kesunyian tampak alangkah bijak, sebab memberi efek dan jejak yang dalam pada bagian sajak berikutnya. Sajak bagian kedua (2) dan ketiga (3), bait-baitnya menjadi lebih reflektif, jika bukan meditatif, ditandai dengan inti renungannya yang bergeser kepada materi dan non-materi yang melingkupi bumi, seperti batu, angin, ledakan, api, galaksi, matahari, planet-planet, waktu. Makhluk hidup seperti tumbuhan atau hewan tampak belum lagi disinggung, dan baru pada bagian keempat (4) aku-lirik menyaksikan dengan bebas semua kejadian yang berhubungan dengan makhluk hidup:

            4.
            Lalu lelehan air. Bumi kuyup. Lautan membuncah. Juga
            sungai-sungai, rawa-rawa, parit-parit. Bagai siluman,
            seekor ikan raksasa berkeciprat. Mungkin meloncat
            dari langit. Terperangkap, bertelur dan berbiak
            di rongga-rongga batu karang. Lautan menjamunya
            sebagai tamu kehormatan. Dengan lumut dan ganggang
            Sebagai warga yang kekal.

            Pada detik yang sama—mungkin tak sama—serangga,
            dan kadal menetas di pohon-pohon. Atau
            di rerimbunan semak. Juga buaya di rawa-rawa. Kura-kura
            di atas onggokan pasir, lokan di celah batu-batu karang. Dan
            srigala, dan tapir, dan monyet di hutan-hutan.

            Hari suka cita: Awal kehidupan telah dimulai.
            Serangga bernyanyi. Burung-burung berarak,
            membangun pesta di udara
            Meramaikan cakrawala.

Lalu di mana Adam? Baru pada bagian kelima (5), moyang umat manusia ini dimunculkan, tepatnya setelah bumi beserta makhluk yang menghuninya berbenah. Boleh jadi untuk menyambut penghuni baru, tragedi baru. Dan itulah yang terjadi:

            5.
            Waktu deras mengalir. Hari bergeser. Sebuah menit
            Menyelinap: Babak baru awal sebuah tragedi. Yakni:
            pada sebuah detik ketika Adam dan Hawa
            tertunduk gemetar di Surga
            Oleh sebuah dosa—getah racun buah
            Menjungkirkan mereka ke bumi. Mengusung benih ilmu,
            membawa biji kata-kata
            Serangkum benih sejarah,
            dan bulir-bulir airmata.

            .....................

Cara Nurullah menyusupkan aku sejak awal sebagai “titisan” Adam sekaligus saksi kejadian merupakan upaya untuk masuk lebih jauh “menyaksikan” proses penciptaan. Lewat cara ini, tidak masalah Adam dan Hawa baru dimunculkan pada bagian kelima (5), sebab pada bagian pertama (1) keberadaan sepasang moyang manusia ini sudah disinggung dalam sebuah pernyataan tentang kelalaian Adam dan Hawa mengunyah firman yang menyebabkan aku jatuh dan menangis. Pernyataan yang sama diulangi pada penutup sajak, tepatnya bagian ketujuh (7) tapi dengan efek lebih luas dan makna yang kolegial: “Gara-gara Adam dan Hawa lalai mengunyah firman/Aku—kita—mengenal sejarah: darah, keringat, airmata,/komputer, AIDS, filsafat, dan kata-kata.//”

Nampak jelas bahwa sajak tujuh bagian ini menerapkan alur yang melingkar dengan mengajukan aku sebagai saksi kejadian, meski aku itu bermetamorfosis menjadi kita.

Demikianlah, kelalaian yang menjungkirkan Adam-Hawa ke bumi, membuat mereka harus beradaptasi dengan dunia. Dan itu sungguh tak mudah. Bahkan secara satir hewan-hewan bertanya heran,“Itukah makhluk mulia/yang dulu malaikat sujud padanya?” Dan dalam ungkapan metaforis yang menggelitik, hewan-hewan itu tertawa: “menyaksikan Adam dan Hawa/tak becus membungkus kelaminnya.//”

Belum lagi deraan pertanyaan eksistensial yang meresahkan seperti,”Dari tulang rusuk kiri atau kanankah aku tercipta?” tanya Hawa pada Adam, pasangan, sekaligus cikal-bakal dirinya. Sama halnya dengan kenyataan “tak becus membungkus kelamin” yang berjejak dalam pergulatan iman vs nafsu manusia ke depan, persoalan “tulang rusuk kiri atau kanan” ini juga bukan sekedar wadag, letak atau posisi, namun telah menjadi semacam opini yang ternyata terus direproduksi sampai hari ini. Nurullah memang jeli terhadap detail yang memproyeksikan teksnya jauh ke depan.

Dan tragedi di bumi terus terjadi ketika “Qobil—Eyang buyutnya Hitler, Mussolini—sesepuh segala kejahatan,” lahir. Alih-alih menyesal, Nurullah mencoba berdamai dengan keadaan, jika bukan takdir, karena memang, Adam dan Hawa datang bukan dari kekosongan. Mereka, seturut Nurullah,”mengusung benih ilmu/membawa biji kata-kata/serangkaian benih sejarah,/dan bulir-bulir air mata.”

Maka punya bekallah manusia bersentuhan dengan dunia: kata, sejarah, air mata—apa yang kelak mewarnai keseluruhan puisi di dalam buku ini.

Pada Mulanya Kata

Bukan kebetulan, “kata”, sebagai warisan utama dari proses penciptaan bumi dan turunnya Adam, secara telak dipanggul penyair. Maka penyair takjub pada “kata”, dan berterima kasih padanya:

            Berterima kasihlah pada kata. Tanpa kata-kata,
            bukan saja manusia dan dunia, bahkan Tuhan pun
            takkan pernah ada. Tidak—dalam pikiranmu.

            Tanpa kata: mata, tangan dan setiap sendi tubuhmu
            menjauh. Tanpa kata, surga jadi bisu.

            Berterima kasihlah pada kata. Tanpa kata-kata,

            jalanan, pepohonan, dan hewan-hewan takkan bangkit
            dari pingsannya. Bumi sesat. Benda-benda tuli
            Tuhan pun pekat dan kehilangan arti.

            Berterimakasihlah pada Kata

           Jakarta, 2005

Kata adalah ruh, setidaknya di tangan penyair yang menghidupi dan mengutus dirinya sendiri menjenguk proses penciptaan melalui mata batin meditasi. Inilah yang ditempuh Nurullah misalnya dalam sajak panjang,”Di Tebing Waktu: Meditasi”. Dalam meditasi yang lazimnya klasikal, ia justru menampilkan kekinian lewat nama-nama yang tak asing dengan opini dunia, mulai ilmuwan, penjelajah, peneliti atau sosok yang dianggap “menemukan” dunia baru: Stephen Hawking, Colombus, Pizarro, Boliver. Pertanyaannya yang mengusik tentang apa yang dilakukan Tuhan sebelum jagad raya tercipta, dijawabnya dengan pertanyaan lain yang sangat retoris,”Membangun surga?/Merancang neraka?”

Pertanyaan ini kian mengerucut pada tragedi karena Kata telah membuat sang aku mengenal dan membayangkan sesuatu di luar surga dan neraka:

            “Ketika bumi masih sebercak Kata,
             Apa yang dilakukan Tuhan, Stephen?”
             Merakit algojo?
             Merancang pendeta?
             Anda tahu: siapa presiden pemenang lomba,
             besok, di negeri saya?”

Dalam sajak “Genesis” penciptaan dunia kembali diulang dengan tragedi-tragedinya, tentu dengan kata sebagai ruhnya. Kemudian muncul lagi dalam sajak “Kejadian: Benih Sejarah”, “Narkisus”, “Setelah Hari Keenam”, “Sinopsis: Hari Penghabisan”. Kata menjadi sangat penting sejak itu, menjadi spesifik sekaligus universal. Ia terutama spesifik sebagai puisi, sebagai dunia yang bisa dimasuki, bahkan secara fisik. “Berdiri di tepi sajakmu, kudengar kau/adalah suara kepedihan: waktu rekat dan bernanah/kata-kata berdarah/seperti juga sejarah” (“Echo”). Atau, ia bisa “menginap” ketika,”suatu hari kau mengajakku berkunjung/ke dalam puisimu,”Silakan masuk,” katamu.”

Kata juga akrab dan berperan membangun dunia dalam sajak “Mitologi Kata”, “Mungkin Hanya Kata”, “Pada Setiap Kata”, “Pada Tidur di Sebuah Sore”, “Seseorang Berdiri di Tepi Sajakmu”, “Setelah Kemerdekaan: Kata-kata”, “Sore yang Berhujan” dan “Burung-burung Mengungsi ke dalam Sajakku”, dan sederet puisi lain yang tak meluputkan kata sebagai tulang punggungnya. Baik yang menampilkan kata secara langsung maupun lewat padanan atau rujukan semisal firman, sajak, bahasa, suara, doa, mantra.

Begitu pula sejarah dan airmata, muncul berkait-kelindan dalam banyak sajak, di antaranya yang paling terlihat jelas adalah “Menimang Sejarah, Menangisi Airmata”, “Pada Airmatamu, Kulihat Jalan Buntu”, “Pada Sebuah Makan Sore: Intermezo”,”Ritus Hujan”,”Sejarah Adalah Setumpuk Telur” dan “Seusai Perang”. Sejarah dan airmata kadang juga muncul lewat padanan seperti tragedi, darah, keringat, kesunyian, musim, waktu.

Akhirnya, atas semua itu, dinamika gerak dan peran kata dipungkasi dalam sajak terakhir dalam buku ini,”Tuhan Para Pelaut.” Berbeda dengan sajak panjang pada halaman pertama buku, “Adam & Hawa: Mitos Hari yang Gelisah” yang lebih bersifat mukadimah, sajak penutup yang relatif pendek ini sangat lugas dibanding sajak lain; ketimbang bersifat meditasi, ia lebih berupa manifesto:

            Tuhanku adalah Tuhan para penjelajah:
            mereka yang menampik ketenangan
            sebagai hadiah—
            Tuhan badai, gelombang, angin puyuh
            Tuhan para pemberani, dan para penemu

            ............

            Tapi, Tuhanku juga Tuhan rembulan,
            matahari, bintang-bintang, yang bersinar—
            tanpa berisik. Tuhan yang tidak minta dicari,
            tapi ditemukan. Di dalam sukmamu:
            sehabis melepas jangkar,
            dan membuang sauh.

Pada akhirnya pula, jika dicermati padanan atau sinonim yang ada, dapat dikatakan semua puisi memuat unsur kata-sejarah-airmata. Meski muncul silih-berganti sebagai gagasan utama, latar, abstraksi atau analogi, keseluruhan isi buku ini tidaklah jatuh pada taraf menjenuhkan. Pertama, karena renungan masing-masing sajak cukup matang sehingga persfektif dan muatan yang diusung menawarkan keberbagaian. Kedua, idiom penciptaan bisa menyempal ke dalam ungkapan, kalimat, baris atau bait yang tak terduga sehingga memunculkan variasi dan versi yang saling mengisi.

Eksistensi Dunia Pra dan Pasca

Begitulah kiranya, ada tiga hal yang diwarisi Adam, sekurangnya dalam jagad puitik Nurullah: Kata sebagai ruh awal-mula, sejarah sebagai jalan kata, dan airmata sebagai penggerak keduanya. Kesadaran atas ketiga hal ini, membuat penciptaan di tangan Nurullah tidak hanya sebatas kejadian yang “sedang terjadi”, tetapi juga setelah terjadi (pasca) bahkan sebelum terjadi (pra). Kesadaran ini tidak hanya ditujukan lewat pertanyaan atau pernyataan, melainkan juga dipertaruhkan sebagai gagasan utama sebuah sajak. Lihat misalnya sajak “Bersyukurlah Kau Tidak Lahir dari Hujan”, yang ia persembahkan “Untuk Orang Yang Tak Ada”. Ia pun tak kenal lelah menjaga eksistensi dunia “pra-penciptaan” itu: “Kubayangkan: di langit rohmu bening/bagai sepasang sayap kupu-kupu belum dilukis oleh/benda-benda, oleh pelbagai cuaca/Oleh airmata.//Bersyukurlah kau jadi orang yang tak ada/Bertahanlah terus untuk tak ada/Tak pernah ada!//”

Hal yang sama diulanginya dalam sajak “Meniti Jembatan Kesunyian” yang ia dedikasikan “Untuk Anakku yang Belum Ada”. Dengan meniti “jembatan kesunyian” yang ia “bangun dengan seribu helai nafas”, si aku dapat mendatangi (calon) anaknya yang masih terbaring “di sungai sumsum. Lelap tenggelam/di jeram penyatuan//”. Eksistensi dunia yang belum ada itu pun menemukan momentumnya ketika di bawah matahari malam, sebuah perahu sarat muatan tanah, angin, api dan air, serta tunas-tunas mimpi, menyelusup ke dalam sebatang lilin, dan si aku bertanya,”Nak, kapan kau berangkat?” 

Pertanyaan tentang “apa yang dilakukan Tuhan sebelum jagad raya diciptakan?” bukanlah pertanyaan yang kosong dan mengada-ada, sebab setidaknya ia bisa mengorelasikan dengan praktek kekinian, khususnya dalam peristiwa-peristiwa aktual. Mulai situasi politik yang karut-marut, isu flu burung, AIDS, sampai bayi tabung, Pemilu atau peristiwa pembredelan media. Kematangan daya ungkap Nurullah, membuatnya lolos dengan cerdik dari perangkap off-side ungkapan klise. Malahan, upaya aktualisasi semacam ini tak ubahnya gravitasi bagi kosmologi penciptaan yang boleh jadi orang anggap mengawang, antah-berantah, kemudian di tangan Nurullah jadi membumi, kini dan di sini.

Berdasarkan ini, pertanyaan besar yang diusung Nurullah pasca-penciptaan, yakni “Setelah Hari Keenam” niscaya mendapat jawaban, tidak saja dari hampir keseluruhan puisinya yang kontemplatif tapi membumi, termasuk yang ia cuatkan dalam “manifesto” “Tuhan Para Pelaut”. Namun lebih-lebih lagi, jika kita cermati, jawabannya justru sudah ada pada sajak pertama yang saya katakan sebagai “mukadimah” buku ini, yaitu sajak “Adam & Hawa: Mitos Hari yang Gelisah”. Sajak ini terdiri dari 7 (tujuh) bagian—mengingatkan jumlah hari dalam sepekan—yang masing-masing bagian memaparkan proses penciptaan jagad-raya dengan segala isinya, step by step, sampai Adam-Hawa muncul pada bagian kelima (5). Pada bagian keenam (6), sepasang makhluk mulia itu masih digambarkan terheran-takjub pada perjumpaan pertamanya dengan dunia, sebagaimana juga berhasil digambarkan Sutardji Calzoum Bachri dalam sebuah puisinya. Jika merujuk kitab suci, boleh jadi penciptaan sudah digenapkan pada bagian keenam (6) ini, yang secara simbolik bisa dibaca sebagai hari keenam. Lalu apa setelah itu?

Masih ada bagian lain, ternyata, yakni bagian ketujuh (7), pasca hari keenam yang menghidupkan jagad-raya karena “Adam dan Hawa mulai jatuh cinta pada/biji-biji keringat dan airmata mereka sendiri./Mata mereka mulai terbuka/pada terik dan pagi, embun dan api.//” Atau dalam bahasa Derek Walcott,”sejak itu daging harus dibakar dan diberi garam.”


Maka menyalalah api yang lain: cinta pada yang hakiki, pada Sang Rabb. Dan Tuhan tentu tak tinggal diam, sehingga genaplah hari-hari ke depan dengan kerja dan ibadah, dosa dan kejahatan, rindu dan cinta, dan begitulah seterusnya. Wallahu’alam bissawab.

Bantu Bagikan

Related Posts

Previous
Next Post »