Realisme Sosialis dan Sastra Indonesia

8/27/2018
oleh Pramoedya Ananta Toer


Pokok-pokok pikiran ceramah pada Seminar Sastra yang diadakan Fakultas Sastra Universitas Indonesia (UI) Jakarta pada tanggal 26 Januari 1963. Pelopor yang dianggap bapak realisme-sosialis adalah Maxim Gorki. Tanggal timbulnya tak dapat ditentukan dengan pasti, tetapi kira-kira tahun 1905. Istilah realisme-sosialis itu sendiri baru timbul kira-kira tiga puluh tahun kemudian, yakni melalui ucapan Andrei Zdanov di hadapan Kongres I Sastrawan Soviet di Moskwa pada tahun 1934.

Realisme-sosialis adalah pemraktikan sosialisme di bidang kreasi sastra. Ia merupakan bagian integral dari kesatuan mesin perjuangan umat manusia dalam menghancurkan penindasan dan penghisapan rakyat pekerja, yakni buruh dan tani dalam menghalau  imperialisme, kolonial­isme, dan meningkatkan kondisi dan situasi rakyat pekerja di seluruh dunia. Humanismenya adalah humanisme proletar sebagai lawan dari humanisme Barat atau humanisme universal yang idealis melawan realita. Humanisme  universal telah menghadapi keruntuhan di Indonesia. Se­dangkan sastra realisme-sosialis mulai maju, karena "membukakan ke­mungkinan-kemungkinan perkembangan hari depan yang menguntung­kan bagi setiap dan semua tenaga yang berjuang, berproduksi dan berkreasi dan kematian bagi tenaga-tenaga penghalangnya". Sastra real­isme-sosialis, mendukung banyak kewajiban-kewajiban dan tanggung jawab sedang sastra borjuis hanya bertanggung jawab pada estetika dan masyarakat yang belum jelas ada atau tidak. Politik adalah suatu realitas sosial bagi realisme-sosialis yang menjadi tabu bagi sastrawan humanisme universal. Dan ternyata memang kekurangan akan didikan politik inilah yang menjadikan penyakit yang berlarut-larut pada sastra Indonesia.

Telah sejak permulaan abad kedua puluh ada sastra realisme sebagai permulaan di Indonesia, yakni karya Hadji Moekti, Mas Marco Kartohadikromo, tetapi perkembangannya naik-turun. Surutnya terutama karena likuidasi atas PKI (1926).

Sastra tahun tiga puluhan adalah sastra yang lunak walaupun ada artinya, paling sedikit memperkembangkan Bahasa Indonesia. Banyak bermunculan sastra yang bergerak dalam detektivisme, seksualisme, sensualisme, dan takhayulisme boleh digabungkan: subjektivisme.

Zaman Jepang merupakan pasar malam yang meriah dalam Sastra Indonesia. Di sinilah Chairil Anwar dan Idrus memelopori sastra di Masa Revolusi yang gairah, tetapi karena kekurangan pendidikan politik, harapan rakyat yang ada pada mereka terpaksa dicabut.

Setelah KMB, maka timbullah humanisme universal yang berupa politik etik Belanda dalam jubah baru. Penyakit makin parah hingga makin jauh dari tradisi revolusioner rakyat.

Pada 17 Agustus 1950 Lekra timbul sebagai sumber realisme-sosialis. Slogan-slogan yang merupakan karya seni adalah gabungan antara politik dan sastra sekaligus. Sebagai salah satu metode pendidikan massal dan kolektif dalam memenangkan realisme-sosialis dapat dibagi atas: a) memperkuat kesadaran politik, mengingat musuh-musuh tidak tinggal diam dan akan terus menghisap Rakyat; dan b) memberikan pegangan taktis, yang terdiri dari:

Menentukan garis yang tepat dan salah, antara ilmu untuk rakyat, dan ilmu untuk ilmu, antara seni untuk rakyat dan seni untuk seni. Meluas dan meninggi, artinya meluaskan pengetahuan atas massa dan meninggikan mutu kreatif dan ideologi mereka.

Politik adalah panglima, sebab tanpa politik kebudayaan dan sastra tidak dapat menentukan haluan yang besar. (Gerakan) turun ke bawah, pengarang harus mengetahui dan biasa pada penghidupan rakyat.
Organisasi adalah penting untuk pendekatan pada objektivitas. Sastrawan membaja diri dalam gerakan massa.

Kemudian pemrasaran mencoba menilai kesusastraan Indonesia yang ada dengan memakai kacamata realisme-sosialis. Dipergunakan ukuran-ukuran yang fundamental, yang di dalamnya termasuk sejarah sastra sebagai sejarah umat manusia dalam masyarakatnya pada zaman­nya sendiri dalam hubungannya dengan perkembangan sastra atau sejarah yang sedang berjalan.

Pemrasaran memberi periode-periode Sastra Indonesia dan timbang­an atasnya. Periode Sastra Asimilatif, karya sastra yang dapat pengaruh yang bekerja secara perlahan-lahan, tanpa kesadaran diucapkan dalam bahasa Melayu Kerja, berasal dari masyarakat borjuis kecil dan Melayu Sekolah dari golongan birokrat. Elan pengucapan sastra borjuis kelak menjadi benih Sastra Indonesia.

Periode Sastra Gatra, merupakan sastra dalam penjadian muncul bersama pers Indonesia pertama yang bermodalkan nasional Medan Prijaji. Ke sinilah digolongkan Tirto Adhisoerjo dengan "Boesono" yang mengarang Njai Permana (1912). Demikian juga Hadji Moekti Hikajat Siti Mariah dan Mas Marco.
Periode Sastra Formalis, di sini Balai Pustaka memegang pimpinan dalam perkembangan Sastra Indonesia. Sastra Perlawanan dan real­isme-sosialis mundur. Bersifat formalis dalam bahasa dan tentu saja dalam pengucapan sastra. Bersifat mengungkung, kecuali karangan-karangan Abdoel Moeis yang berisikan perjuangan. Guna positif dari zaman ini adalah makin mengatur Bahasa Indonesia.

Sastra Nasionalis dalam Periode Sastra Formalis. Dalam elan mereka ini kurang sedikit dari Sastra Gatra, tetapi dalam bahasa mengikuti formalisme. Tergolong dalam hal ini ialah: Mohammad Yamin, Rustam Effendi dan Moh. Hatta. Ada nasionalisme yang ditentukan juga oleh faktor-faktor individual.

Periode Pudjangga Baru. Dibangun oleh orang-orang Balai Pustaka yang merasa jemu dengan formalisme. Ternyata mempunyai konsepsi sastra yang jauh lebih merosot dari Sastra Gatra. Kecuali Asmara Hadi. Nilai zaman ini ialah mereka adalah "pahlawan-pahlawan bahasa".

Periode Jarak dan Kapas. Di sini ada intensitas penulisan, tetapi karena medium politik waktu itu menyebabkan belum mendekati Sastra Gatra.

Periode Sastra Borjuis Patriotik. Berupa Sastra Indonesia di masa revolusi. Sebagian terbesar dipimpin oleh borjuis yang patriotik. Walaupun masuk sastra borjuis, nilai patriotiknya dapat dibenarkan, menempati tempat teratas dalam persajakan sastra patriotik.

Periode Borjuis Dekaden. Timbul ide penonrevolusioneran revolusi itu sendiri, tidak mencoba meningkatkan malah meracun. Menghindari tanggung jawab, sebanyak mungkin beriseng.
Akhirnya pemrasaran memberi beberapa kesimpulan.

Dalam perlawanan terhadap kemerosotan Revolusi, para sastrawan Lekra, sebagai sumber realisme-sosialis di Indonesia melalui tingkat-tingkat demikian.

Sastra Manifes. Dengan tema melawan, menolak, menentang kapi­talisme dan feodalisme. Dalam polemik, dalam taraf pertama kela­hirannya para sastrawan Lekra terus-menerus mengadakan ofensif spontan terhadap ukuran-ukuran sastra yang telah established seba­gai bagian dari perjuangan politik.
Perkembangan ke arah yang Normal. Berjalan bersama kekuatan progresif dalam masyarakat.
Kritik Sastra Realisme-Sosialis.  Kriterium utamanya adalah, politik pengarang, dan kedua adalah objektivitas. Moral terutama ditimbang dari jurusan kaum pekerja

Dan akhirnya penilaian atas karya sastra ialah di bidang estetika. Estetika mengambil tempat terakhir dalam kehidupan sosial. Perut lapar lebih banyak membutuhkan nasi ketimbang keindahan, sedang kelaparan rohani lebih banyak membutuhkan makanan rohani daripada keindahan yang telah "rumit pelik". Tetapi estetika bukanlah suatu barang luks bagi realisme-sosialis. Tetapi estetika realisme-sosialis tak dapat terlepas dari pasang surutnya perkelahian untuk memenangkan sosialisme. Hubung­annya adalah sangat erat.
Oleh pemrasaran dilampirkan surat-surat pernyataan dari berbagai organisasi, yakni dari "Gelanggang", Lekra, Gerkis, Sastrawan Surabaya, untuk menunjukkan bahwa di situ telah didapati nada yang menghendaki perubahan keadaan, pengubahan atas realitas yang tersedia atau yang ada. Tetapi perubahan yang dimaksud berbeda besar, ada yang bersifat reformistik, temporal malah ada pula yang tanpa sasaran, tetapi pada realisme-sosialis tampak keinginan merombak keadaan secara struktural dan fundamental dengan keuntungan bagi proletariat, yakni kaum pe­kerja.

Sumber: "Lentera" Bintang Timur, Minggu 10 Februari 1963)

Bantu Bagikan

Related Posts

Previous
Next Post »