Empat Quote Nh. Dini yang Fenomenal

12/04/2018

Nh. Dini lahir tanggal 29 Februari 1936 di Semarang, Jawa Tengah dengan nama Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin. Perempuan berdarah Bugis-Jawa ini berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya, Salyowijiyo, merupakan seorang pegawai perusahaan kereta api, dan ibunya Kusaminah, seorang ibu rumah tangga biasa. 

Dini menulis sastra mulai dari puisi, drama, dan prosa. Namun dia lebih dikenal sebagai prosais. Pada Sebuah Kapal (1972), La Barka (1975), Sebuah Lorong di Kotaku (1976), Namaku Hiroko (1977), Pertemuan Dua Hati (1986), dan Biografi Analisis Hamzah: Pangeran dari Negeri Seberang (1981) merupakan sejumlah karyanya yang terkenal. 

4 Desember 2018 pada usia 82 tahun, dia wafat dalam kecelakaan lalu lintas di Jalan Gombel, Semarang, kota kelahirannya. 

Berikut beberapa quote Nh. Dini dan kutipan dari karyanya Sebuah Lorong di Kotaku


“Dalam mengarang saya tidak pernah tergesa-gesa. Saya anggap pekerjaan mengarang adalah tugas yang santai, yang harus dikerjakan dengan senang hati. Kalau saya menulisnya dengan terburu-buru, dengan hati yang kesal, maka dapat dipastikan bahwa si pembaca pun akan merasakannya.” Nh. Dini,
“Aku diajar berpuasa bukan karena agama, bukan karena keinginan masuk surga. Kakek mengajarku untuk menahan keinginan, untuk mengetahui sampai di mana aku dapat mengatur kekuatan.” Nh. Dini
“Kesedihan tidak untuk disampaikan kepada semua orang. Itu adalah sesuatu yang seharusnya diimpit-diindit, diselinapkan di balik lapisan penutup. Karena kesedihan adalah hal yang sangat pribadi, seperti rahasia, harus disembunyikan dari pandang orang lain.”  Nh. Dini
“Kegagalan bukanlah akhir dari pekerjaan, tetapi permulaan untuk mencapai kesuksesan.” Nh. Dini

Bantu Bagikan

Related Posts

Previous
Next Post »