Monolog Faust I karya Goethe

12/01/2018
Faust merupakan naskah drama tragedi karya besar Goethe yang dibagi mejadi dua bagian. Sepanjang sejarah pementasan drama di Jerman, Faust adalah drama dengan jumlah penonton terbanyak sampai hari ini. Drama ini mulai ditulis olehnya pada tahun 1806 dan mengalami revisi pada tahun 1828. Dalam versi bahasa Indonesia, Faust diterjemahkan oleh Abdul Hadi W.M.




Monolog Faust dalam Adegan I 

Monolog pada malam hari saat Faust putus asa dan nyaris bunuh diri. Petikan ini sampai Faust memanggil kekuatan jahat atau Mefistopeles.


1.
Filsafat, ilmu hukum dan kedokteran
Telah kupelajari, juga ilmu agama
Setengah mati berikhtiar akhirnya sia-sia
Aku disebut sarjana, bahkan doktor
Namun tak merasa lebih pandai dari sebelumnya
Kedudukanku dipandang tinggi dan dipercaya
Tak peduli yang kulakukan salah atau benar
Sepuluh tahun sudah dengan getir kubimbing
Mahasiswa-mahasiswaku dengan batang hidung ini

Pengetahuan telah meremukkan tulang belulangku
Dan ternyata mustahil. Walau begitu
Aku tak merasa lebih bodoh dibanding sarjana
Mana pun, para doktor, ahli agama
Dan para pendeta yang tolol itu.
Yang merongrongku dan bikin gemas
Bukan lagi perasaan berat dan keraguan
Tidak pula Neraka atau Kejahatan
Sebab aku telah melampauinya

Aku sudah bertobat untuk tak berlagak
Sok pandai. Mengajar orang-orang
Dan membaptis mereka jadi manusia
Aku tidak kaya karenanya, tak pula terhormat
Bahkan anjing pun tak mau hidup sepertiku
Karena itu aku akan mohon pertolongan
Kepada Ilmu Sihir, mungkin ia bisa menuntunku
Mengenal rahasia terdalam kehidupan

Dan kalau ilmu sihir sudah kupelajari
Segala peristiwa yang tak kukenal sebelum ini
Akan kuketahui dengan mudah
Walau pun harus melalui jalan berliku-lku.
Kemudian kuharap dapat kuperoleh
Dan kukuasai inti kehidupan yang mengikat dunia
Dari sumbernya, kudapat bibit murni kejadian
Hingga dapat kukendalikan kekuatan produktifnya
Dengan itu akan mudahlah kukendalikan dunia
Hanya dengan perintah dan kata-kata

2
Kemuraman dan kegelapan ini
terus mencekikku Sedangkan matahari
yang terang benderang di sana
Memancarkan sinarnya dan senja pun tiba
Menembus kaca-kaca berukir, menggerayangi
Tumpukan buku yang dimakan cacing,
bercampur debu. Merangak di loteng sumpeg ini,
penuh kertas berserak .Juga gelas dan peti
dan aneka perabot yang morat-marit
Begitulah duniaku, tak lebih.

Karena itu hatiku tersaruk-saruk
Aku bertanya: Haruskah aku dijajah
Oleh aneka keharusan yang tak bisa dimengerti Ini?
Begitu menyayat seperti irisan sembilu.
Dan celakanya lagi, aku tetap mau bertabah
Dan sabar. Atau mungkin memang begtulah
Tuhan mencipta manusia, membungkuskan
Dan membalutkan pada jiawanya: Asap,
Tanah, dulang belulang rengsa
Lantas maut tak berdaging sebagai pengatupnya

Aku ingin terbang, meninjau seberang sana
Negeri tak bertuan itu: Ini primbon tua
Dari Nostradamus, menyimpan ribuan rahasia
Mudah-mudah bisa menolongku
Bila aku paham ilmu nujum dan tanda-tanda
Alam kupahami, jiwaku akan kokoh lagi.
Ah percuma juga. Omong kosong ini
Hampir kusangka lambang-lambang suci adanya—

Wahai Setan, datanglah kau! Kemarilah kau
Lebih dekat, jika kau mendengarku
Jawablah aku!

(Penerjemah: Abdul Hadi W.M.)

Bantu Bagikan

Related Posts

Previous
Next Post »