Monolog Faust II karya Goethe

12/02/2018
Faust merupakan naskah drama tragedi karya besar Goethe yang dibagi mejadi dua bagian. Sepanjang sejarah pementasan drama di Jerman, Faust adalah drama dengan jumlah penonton terbanyak sampai hari ini. Drama ini mulai ditulis olehnya pada tahun 1806 dan mengalama revisi pada tahun 1828. Dalam versi bahasa Indonesia, Faust diterjemahkan oleh Abdul Hadi W.M.


1
Harapan sesungguhnya tidak kecil
Hanya pikiran yang ragu membuatnya nihil
Semua ini tergantung pada kesabaran
Dan keuletan kita, pada ikhtiar keras
Seperti kemauan kuat kita menggali tanah
Untuk mendapatkan tambang logam atau batubara
Kita akan bersyukur juga kelak
Jika yang kita dapatkan
Ternyata hanya seekor cacing

Siapa gerangan berani menahan arus
Yang mengalir deras di sekelilingnya
Dengan gairah dan semangat berkobar-kobar?
Namun aku harus berterima kasih kepada mereka
Rakyat kecil yang miskin, teraniaya dan polos
Karena merekalah yang mendorongku bangkit
Dari keadaan yang begitu nista ini
Yang merobek jaringan urat syarafku.
Penderitaan mereka sungguh dahsyat,
Dan menghantuiku, sehingga kecillah
Arti kehadiranku di dunia

2
– Seolah seperti mendapat pencerahan
Faust melanjutkan monolog:

Sebagai bayang-bayang Tuhan
Sekarang aku merasa memancarkan kebenaran
Cahaya langit mulai menerangi hatiku
Dan bersujudlah aku seakan tak berarti
Namun tanganku tak sanggup menadahnya
Aku merasa lemah dan kerdil
Sekaligus merasa besar, O Nasib!
Beginilah kau mencampakkan aku
Pada ketakpastian seperti ini

Pegangan apakah yang bisa kugunakan
Setiap yang kulakukan tak lebih dari kesedihan
Yang begitu menghambat. Kejahatan
Telah mencerai-beraikan pikiran
Hingga aku tak mampu lagi
Melihat dunia dengan jernih dan terang.
Dan jika harapan yang kelihatannya indah
Dan gemerlapan, sedang melayang di awang-awang
Ruang sempit yang sesak ini pun
Segera pula mengepungku hingga tak bisa bergerak

O Diri, kau begitu gelisah, kaucakar dirimu.
Memang, dalam topeng barunya, nasib
Kerap menimbulkan rasa gairah
Namun kelak pada gilirannya, seperti
Kepada rumah, tanah, harta, istri dan anak
Dalam hidup ini sebenarnya
Kita hanya menampar-nampar udara
Dan yang tak pernah hilang
Hanya rasa sedih dan kecewa.

(Faust membuka buku dan menulis)

Tertera dalam kitab yang dikatakan suci ini:
”Pada mulanya adalah Kata!” Apa artinya ini?
Aku tak percya kata-kata dapat merubah dunia
Kini tiba saat membuat tafsir baru
Coba yang ini, “Pada mulanya adalah Pikiran!”
Namun mukadimah ini harus diuji
Apa betul pikiran dapat mencipta dunia baru?
Mungkin lebih bak kutulis
“Pada mulanya adalah Kekuatan!
Ah, tapi penaku sudah tak sabar
Dan kuragukan kekuatan dapat merubah
Dunia dan menciptakan yang baru.
Kni nuraniku menuntunku dan membisikkan
Apa yang sebenarnya kuinginkan, sekarang
Bacalah, “Pada mulanya adalah perbuatan!”

 (Penerjemah: Abdul Hadi W.M)



Bantu Bagikan

Related Posts

Previous
Next Post »