Puisi sebagai Terapi

ADMIN SASTRAMEDIA 4/15/2019
(dalam Kumpulan Puisi Dian Hartati Upacara Bakar Rambut)

oleh Matroni Muserang

Dian Hartati, perempuan penyair yang sudah banyak mengenyam pengalaman perpuisian di Indonesia, telah melewati fase-fese berat sehingga sampai di ruang  bernama “terapi”. Terapi sebenarnya salah satu tujuan dari semua penulis. Terapi merupakan cara mengobati. Terapi juga merupakan cara mengobati pikiran yang banyak membaca, lalu dituangkan dalam bentuk tulisan. Terapi dalam hal ini sebuah tempat yang di dalamnya berisi gelembung-gelembung kata yang diisi para pembaca. Bayangkan bagaimana seandainya di dunia ini tidak ada ruang bernama terapi. Mau dibuat apa hasil pembacaan kita? Membaca merupakan tugas awal manusia. Membaca dalam terapi di sini, dimaksudkan dengan Dian sedang membaca dirinya. Berdialog dengan diri sendiri.

Kumpulan puisi Upacara Bakar Rambut yang berisi 30 puisi ini merupakan kumpulan puisi terapi yang mencoba mengobati jiwa penyairnya. Ranah Dian Hartati bukan lagi persoalan diksi atau apapun dalam puisi. Kumpulan puisi ini merupakan ruang pergulatan itu terjadi dan ada. Terapi digunakan untuk menyampaikan pesan rohani yang selama ini bersarang dan bergemuruh dalam jiwa penyairnya. Untuk itulah membaca puisi ini kita akan diajak memasuki ruang yang bernama terapi.

Sebelum upacara dimulai/ aku pernah bersemadi/ dan menanam rambut di belakang rumah/ ia menumbuhkan mawar duri berwarna ungu/ memecah pot hitam dan batu-batu kehidupan.

Lirik /aku pernah bersemadi/ sudah menandakan bahwa Dian memiliki pengalaman masa lalu. Pengalaman itu berupa gaya hidup, karakter hidup, cara berpikir bahkan pengalaman migis (mistik/metafisik). Artinya sebelum masuk ke perkampungan Terapi, Dian sudah melewati perkampungan-perkampungan lain yang sebelumnya pernah Dian lewati dan rasakan. Bagaimana pembaca mengetahui hubungan antara pengalaman dengan magis? Saya ingin masuk dari pintu mistiko-filosofis yang digagas Ibnu Arabi dan dilanjutkan oleh Mulyadhi Kartanegara. Mistik di sini bukan diartikan seseorang bersemadi dalam satu ruang kemudian tidak mau peduli dengan dunia, tapi mistik menurut Heidegger ingin memberikan penyadaran terhadap krisis spiritual dan krisis pengetahuan yaitu dengan mistik keseharian. Mistik keseharian merupakan pembuka diri terhadap penyingkapan dasar-dasar kenyataan dan kehidupan sehari-hari. Dian cukup mampu menyingkap dasar-dasar kenyataan yang selama ini dia alami.

Mistiko-filosofis sebenarnya sebuah metode yang dipakai oleh Malyadhi Kartanegara dalam meminimalisir jurang pemisah yang begitu tajam antara aliran rasionalisme dan iluminasi atau akal (rasio sentris), indera (empiris) dan intuisi (hati). Sebab kata kaum rasionalis bahwa pengetahuan yang benar adalah pengetahuan yang hanya bisa ukur dari rasio. Kaum empiris beranggapan pengetahuan  yang benar adalah pengetahuan yang bisa diinderai. Mistiko filosofis sebenarnya mencoba untuk menjembatani dua aliran yang sejak lama hidup sendiri-sendiri. Menurut Mulyadhi Kartanegara akal, indera, dan hati harus saling berdialektika untuk menemukan pengetahuan.

Dian dalam 30 puisi ini mencoba mentransformasikan pengalaman rohani (mistik) dan pengalaman keseharian dalam bentuk puisi yang begitu dalam. Saya melihat puisi-puisi dalam buku ini merupakan sebuah transformasi keseharian penyairnya dalam menapaki dan melihat kehidupan. Lihat misalnya dalam puisi Analog: dalam hatimu, siapakah aku…/ di dalam hatimu, menjelma apakah aku…/ di dalam hatimu, adakah keresahan tentang aku…./ di dalam hatimu, abadikah aku? Pertanyaan eksistensial seperti ini menandakan bahwa makna itu tidak lahir begitu saja, akan tetapi kebermaknaan itu lahir setelah adanya proses pembacaan terhadap diri, rasa cemas, rasa sedih untuk kemudian direnungkan.

Pengalaman sebagai realitas yang menjangkiti keseharian Dian akan selamanya menjadi sejarah Dian, maka pengalaman yang seperti apa yang kemudian membuat Dian harus menjadikan puisi sebagai terapi? Tentu pengalaman ini yang membuat dirinya harus terus berlaju, memunguti nilai-nilai universal dari sebuah perjalan rohani yang selama ini Dian rasakan. Perjalanan rohani inilah yang akan dijawab oleh mistiko sebagai instrumen. Hanya dunia rasalah yang akan mampu menyelami pengalaman rohani Dian. Sebab kalau kita tidak menggunakan tangan mistiko untuk masuk dalam perkampungan rohani yang Dian alami, maka 30 puisi ini tidak akan memiliki hubungan apa-apa dengan pembaca. Untuk itulah membaca puisi ini kita harus memasukkan dua metode antara akal dan hati atau dalam dunia filsafat harus menggunakan rasionalitas dan intuisi. Karena adanya hubungan keduanya inilah 30 puisi Dian akan mudah dipahami makna dan kedahsyatannya.

Bagaimana Dian /menanam rambut di belakang rumah/ maksudnya apa menanam rambut? Lalu menumbuhkan mawar berwarna ungu/ kita diajak memasuki pengalaman masa lalu dan masa lalu itulah yang membuat Dian harus berganti wajah, berganti gaya hidup, sehingga masa lalu adalah batu-batu kehidupan yang harus dipoles dipercantik menjadi keberlanjutan hidup yang lebih progresif menatap masa depan yang lebih bermakna untuk dirinya sendiri dan orang lain. Untuk itulah /Dari sebuah semadi, aku menajamkan panca indera/ meragas kata-kata/ meniup matahari menjadi nyala sebelah/ dan ujung-ujung rambutku terbakar/sedikit demi sedikit/ sulur-sulur yang membelit tubuh berlepasan/.

Dari ruang semadi, Dian menemukan pengalaman yang kemudian membuat dirinya harus membakar rambutnya, membakar dirinya sendiri, membakar batu-batu kehidupannya sendiri. Untuk apa harus membakar semua itu? Kalau kita membaca puisi Dian menjawab untuk memindahkan laut ke rumah, agar keseharian Dian selalu bergemuruh (hlm. 31), dan membawa buku dan kenangan. Bagi Dian kegemuruhan inilah yang akan membuat dirinya menjadi ratu bagi dirinya sendiri (hlm. 30) bagaimana menjadi ratu untuk dirinya sendiri? Kita harus membuka mata melihat cahaya berkedipan/ mencari pintu, jalan keluar yang tak juga terbuka.

/Membuka mata melihat cahaya berkedipan/ kalimat ini ingin menggambarkan bahwa dalam hidup kita harus tetap membuka mata, membuka cakrawala pembacaan, membuka pikiran, dan di sinilah kemudian kita akan selalu terbuka terhadap pemahaman-pemahaman orang lain. Dengan memiliki inklusivitas, maka kita tidak mudah menjustifikasi seseorang, kemudian orang itu salah, tidak. Dian mengajak kita untuk selalu menjadi orang inklusif terhadap keberagaman dan keberagamaan. Untuk apa kita harus membuka mata, ingat membuka bukan saja membuka pintu rumah, akan tetapi membuka di sini memiliki makna bahwa kita harus memiliki banyak pintu untuk masuk dalam dunia yang satu, satu semesta banyak pintu. Lalu mata, kita diajak untuk membuka mata hati, mata pikiran, dalam membaca realitas, membaca pengalaman, dan membaca masa lalu. Kita tidak boleh menutup mata, kita tidak boleh menutup hati dan pikiran kita jika belum menemukan cahaya. Cahaya di sini adalah pengetahuan sejati, pengetahuan yang melampuai ruang dan waktu.

Dalam hidup boleh kita menikam kata-kata/ melumatkan segala yang bernyawa/ dan mengupat diam-diam/ tapi setelah kita menikam, mengumpat, jangan lupa bahwa di balik fenomena itu ada cinta ibu tersimpan di sana/ ia akan tumbuh dan terus menumbuh/ lagi-lagi progresivitas Dian terus tumbuh dari pembacaan dan kekritisannya dalam melihat dan berdialog dengan dirinya, masih pada hari yang sama/ masih memikirkan si penggenggam kenangan/ diam-diam aku menyimpan air mata/ untuk hari esok/ yang mungkin ada. Sesekali memang air mata itu penting, baik untuk wanita maupun laki-laki, tapi air mata di sini bukanlah air mata yang jatuh karena kehilangan pacar, akan tetapi air mata di sini sebagai terapi jiwa. Sebab air mata yang keluar dari mata Dian merupakan ungkapan kepasrahan yang sangat ikhlas kepada Tuhan, maka dari itu Dian berkata bahwa baik-baiklah dalam perjalanan panjang/ akan aku urai doa-doa/ memenuhi penjuru langit.

Memaknai hidup yang penuh dengan doa merupakan sosok manusia yang rendah hati, tawadu’, sebab manusia yang tidak pernah berdoa, dia akan dianggap sombong, maka dari itu, Dian tetap berjalan di sajadah keyakinannya bahwa kita sebenarnya berjalan di atas sajadah doa-doa. Doa dari orangtua, doa dari sahabat, doa dari ulama.***

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »