Surat Kepada Alfreda

ADMIN SASTRAMEDIA 4/18/2019
oleh Sofyan RH. Zaid

Alfreda, Aku menulis surat ini saat lampu padam. Tepat di malam hari ulang tahunmu. Ditemani sepotong lilin yang rela membakar dirinya demi cahaya. Sesekali laron mendekat dan terbakar. Aku melihat bulan beku di antara kelip bintang. Angin yang nakal menyusupkan wajahmu yang dingin. 

Alfreda, aku menulis surat ini bukan berarti ingin kembali ke masa lalu, masa di mana kita pernah menjadi sepasang kupu-kupu. Aku hanya ingin mengenang semua itu. Membuka ingatan, album  lama bersamamu. Segala bentuk gelisah dan keterasingan dapat sejenak aku lupakan. Aku juga rindu menulis surat, dan aku selalu bahagia tiapkali menuliskannya untukmu, apalagi di hari ulang tahunmu. Surat telah menjadi jembatan di antara kita. Seperti dua kampung yang terhubung, dan dari sanalah jejak kepenyairanku bermula.

Lewat surat ini, Alfreda, aku ingin mengenangmu. Mengenang pagi, pertama kali kita kehilangan hati. Kita mencarinya ke wangi bunga, tetes embun dan terbit matahari. Ternyata di dadaku hatimu, di dadamu hatiku. Kita malu-malu saling meminta, kemudian membiarkannya tertukar. Aku menjadi kau, kau menjadi aku. Kita mulai berjalan bergandengan tangan. Derap jadi irama, jejaknya menjadi tanda. Perjalanan kita telah cukup jauh untuk kembali. Melewati batas demi batas. Kaki luka, kerikil dan duri berganti menusukkan diri. Kita pun akhirnya mengerti bahwa; ketulusan selalu punya jalan sendiri.

Lewat surat ini, Alfreda, sekali lagi aku ingin mengenangmu. Mengenang rasa, sepiku penuh baris gigimu. Malammu penuh tebal alisku. Kita mulai kenal rindu, kerap menghitung waktu. Kadang menangis dan tersenyum sendiri. Menjadi bagian dari kegilaan yang sadar. Mungkin Bacan benar bahwa: orang yang bisa membuat kita bahagia adalah orang yang juga bisa membuat kita berduka. Begitulah tanda kedekatan jiwa. Kita seolah lebih tua dari usia. Menjadi begitu bijak, begitu pujangga. 

Alfreda, apa kabarmu di sana? Semoga kau baik-baik saja seperti dalam doaku setiap waktu. Sudah bertahun-tahun kita tidak berjumpa, sejak berpisah di alun-alun kota malam itu. Aku sendiri baik-baik saja di perantauan. Hanya tinggal di kota ini seperti hidup dekat matahari. Panas menyengat. Segala sesuatu terjadi tanpa pernah bisa dihindari. Usia habis di jalan ditelan kemacetan. Diri terasing dari kehidupan dan perlahan menjadi boneka yang berpikir. 

Alfreda, kota tempat di mana aku hidup, telah menjadi hutan beton. Sepanjang hari deru gemuruh. Orang-orang kehilangan burung dan napas pohon. Ceropong-ceropong terus melolong seperti serigala di siang hari. Tanah-tanah kosong telah berganti gedung-gedung. Rumah-rumah penduduk digusur menjadi jalan. Hutan-hutan kecil di tepian untuk meredam gairah hujan, telah menjadi pabrik-pabrik besar. 
Anak-anak juga kehilangan taman tempat mengejar kupu-kupu atau memetik bunga, kehilangan tanah lapang tempat bermain layang-layang atau duduk bersama mentatap senja, kehilangan bening sungai untuk mandi dan berenang. Katanya ini kota maju, tapi banyak pemulung hidup beranak dalam sampah. Gelandangan menghuni jembatan, peminta-minta hampir memenuhi tiap sudut kota. Kejahatan terjadi di mana-mana. Kaum pribumi menjadi perantau di kotanya sendiri. Kota yang diwariskan leluhurnya hanya tersisa dalam sejarah.
Itulah kenapa aku kerap lupa kepadamu. Ingatan penuh asap dan debu, serta sejumlah rencana yang tak nyata. Mimpi-mimpi terdampar di batas benda. Banyak kepulangan yang tertunda. Namun percayalah, cinta kepadamu tetap ada. Itu pula yang membuatku bertahan di sini, sampai malam ini, meski rindu kerap memaksaku untuk bertemu.

Alfreda, apa kabar orang tuamu? Kadang aku masih suka tersenyum sendiri kemudian menitikkan air mata ketika ingat peristiwa itu. Peristiwa yang ditulis luka menjadi sejarah dalam hidupku. Dengan penuh keyakinan dan keberanian aku datang sendiri melamarmu, tapi sayang ayahmu menolak mentah-mentah. Kau juga pasti ingat bagaimana ucapannya malam itu; “Kamu hanya seorang penyair. Kamu sendiri tahu, cinta atau pun puisi bukanlah rumah, sawah dan perhiasaan. Anakku tidak akan pernah menikah denganmu!” 

Mendengar kalimat itu, aku kehilangan keseimbangan. Aku tidak tahu lagi harus berkata apa. Seakan laut Lombang dan Slopeng menyatukan debur dalam dadaku. Seolah bulan dan bintang berjatuhan menimpa kepalaku. Perlahan aku beranjak pergi meninggalkan rumahmu, meski aku tahu, di ujung halaman kau menangis. Begitu juga aku, sepanjang jalan menuju rumah. Aku tidak marah pada ayahmu, hanya aku malu pada diriku sendiri. Mencintaimu aku seperti tertidur panjang dengan mimpi yang indah, tapi malam itu tiba-tiba terjaga dan ketakutan. Air mata membasahi jalan. Kesunyian menuntunku pada kesadaran terdalam.

sudahlah, Alfreda, yang terjadi biar terjadi sebagai bagian dari kedewasaan. Apalagi ayahmu  benar, aku hanya seorang penyair, cinta atau pun puisi bukanlah rumah, sawah dan perhiasaan. Ya, aku hanya seorang penyair, Alfreda. Selain puisi dan cinta, tidak ada yang bisa diharap dariku. Kau tahu, sebagai penyair aku tidak dekat dengan penguasa atau pengusaha. Aku hanya terus menulis puisi dan bertahan sebagai penyair meski beberapa rubrik koran yang memuat puisi sudah lama tutup. Sejumlah redaktur menolak puisiku, karena puisiku -katanya- bukan puisi kritik sosial. 

Puisiku tidak berbau pemerkosaan yang kerap terjadi pada anak atau ibu sendiri, bahkan dalam angkutan umum. Puisiku tidak berbau pencurian motor. Puisiku tidak berbau koruptor yang terus merongrong uang negara. Puisiku tidak berbau teroris yang memusuhi negara lain dengan mengebom negara sendiri. Puisiku tidak berbau kekerasan atas nama agama. Puisiku tidak berbau fundamentalisme buta yang suka mengatakan orang lain kafir atau sesat, menolak menghargai perbedaan dan mencari persamaan untuk perdamaian.

Puisiku juga tidak berbau mafia hukum yang bisa memasukkan orang ke penjara seenaknya. Puisiku tidak berbau politikus rakus yang mengatasnamakan rakyat untuk kepentingan sendiri. Puisiku tidak berbau pemimpin yang lemah dan penakut. Puisiku tidak berbau pesawat jatuh di gunung atau laut. Puisiku tidak berbau Lumpur Lapindo yang terus memancar deras dan meluas. Puisiku tidak berbau lokalisasi yang dilindungi aparat. Puisiku tidak berbau penebangan liar hutan. Puisiku tidak berbau utang negara. 

Puisiku hanya berbau cinta dan rindu kepadamu. Selebihnya tentang Tuhan, pencarian jalan, dan harapan akan keabadian. Namun aku tetap “berlindung kepada-Nya dari berdiri mengaku sebagai penyair, tapi tak satu pun puisi yang ditulis.”

Alfreda, Akhir bulan ini, jika tak ada aral, aku akan pulang ke kampung halaman. Aku sudah suntuk dan bosan di kota ini. Pergi pagi pulang sore, menyaingi matahari. Aku ingin seperti dulu, kita kabur ke pantai; menikmati senja, pasir putih, cemara udang, barisan nyiur atau para nelayan yang turun dari perahu disambut anak-istri. Aku ingin kita naik gunung; mencari buah jambu, anak burung dan menatap hamparan sawah dari ketinggian seperti halaman kitab suci. Iya, aku ingin pulang, Alfreda. 

Demikianlah surat ini aku tulis tepat di hari ulang tahunmu, dan lampu masih saja padam. Sementara sepotong lilin yang rela membakar dirinya demi cahaya sudah hampir habis meleleh. Selamat ulang tahun, Alfreda. Peluk ciumku dari jauh, dari sebuah kota bernama rindu.

Bekasi, 07 Juni 2014/2018

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »