Aksara Nusantara: Jatidiri Kita Dulu, Sekarang, Dan Nanti

ADMIN SASTRAMEDIA 5/30/2019
oleh Bambang Priantono


Aksara dalam bahasa Sansekerta berarti yang tidak termusnahkan. Aksara merupakan perwujudan kasat mata yang tertera pada kertas ataupun berbagai media seperti kayu, batu, kain, dan apapun yang bisa tertuliskan. Aksara berfungsi juga sebagai sarana untuk menggambarkan, menceritakan, dan menyampaikan pesan dalam satu bahasa secara tersurat. Aksara di Nusantara ini berasal dari hasil inkulturasi budaya India (aksara Brahmi) yang datang ke Nusantara sebelum hadirnya Islam dan Nasrani. Pada perkembangannya, aksara Brahmi ini berkembang sendirisendiri menurut daerahnya, sebelum disusul kedatangan aksara Arab-Melayu dan Latin yang kini menjadi aksara resmi bahasa kita.

Aksara-aksara yang ada di Nusantara ini tergolong aksara silabik atau abugida yang menggambarkan hubungan antarhuruf dan memiliki kesamaan pola dengan aksara-aksara turunan Brahmik lainnya. Saat ini, aksara yang tercatat di Indonesia antara lain aksara Carakan/Hanacaraka, Surat Ulu/Kaganga (Batak, Rejang, Lampung, Kerinci), Bali, Lontara (Bugis-Makassar), dan Sunda Baku. Aksara-aksara ini dulunya berkembang sebagai sarana tulis yang sangkil bagi para penuturnya, baik dalam penulisan prasasti, naskah-naskah, hingga mantra yang dahulunya juga menggunakan aksara-aksara tersebut. 

Ketika Islam mulai menjejakkan diri di bumi Nusantara sejak abad ke10 (atau bahkan dari abad ke-7—8 Masehi), aksara abjad yang disebut aksara Jawi atau Pegon (yang berakar dari aksara Arab) dipergunakan sebagai sarana talimarga dalam tulis menulis, khususnya yang terkait dengan ilmu-ilmu keagamaan hingga menjadi aksara resmi di berbagai kesultanan yang berdiri di Nusantara. Akibatnya, aksara-aksara di Nusantara tradisional yang sebelumnya ada, kemudian penggunanya makin berkurang, tergantikan secara perlahan oleh sistem penulisan Jawi yang resmi pada saat itu. 

Namun, hal itu juga tidak berlangsung lama, seiring dengan kedatangan bangsa-bangsa barat seperti Portugis, Spanyol, dan Belanda yang membawa juga sistem penulisan Latin atau Rumi pada abad ke-17. Nusantara mengalami perubahan aksara berkali-kali hingga pada ujungnya mengarah pada aksara Latin. Aksara Latin ini juga mengalami evolusi beberapa kali, yakni dari masa pra-Ophuysen (hingga 1900), Ophuysen (1900—1947), Suwandi (1947—1972), dan EYD (1972— kini). Perubahan demi perubahan ini juga turut mempengaruhi penggunaan aksara di Nusantara.

Saya sendiri belajar aksara Carakan di sekolah hingga sekolah menengah. Itupun tidak dapat mencapai nilai sempurna. Memang, pendidikan lokal mengajarkan bahasa daerah dan aksaranya, tetapi pada akhirnya terlupakan karena faktor perkembangan zaman yang tidak lagi menganggap penulisan aksara setempat sebagai sarana sangkil dan mangkus untuk bertalimarga (komunikasi). Aksara Latin dirasa lebih mudah diterapkan serta relevan dengan arus globalisasi, setidaknya tingkat nasional saat ini.

Berapa banyak generasi muda yang menguasai aksara di Nusantara? Saya sendiri tidak pasti, pernah saya iseng menulis aksara Jawa (yang saya sendiri baru belajar lagi) dalam secarik kertas dan saya tunjukkan pada teman saya yang juga penutur bahasa Jawa, dia malah memicingkan mata pertanda tidak paham sama sekali dengan huruf itu. Dia berkata kalau dulu dia pernah belajar Carakan, tetapi sudah lama lupa caranya. Saya hanya berkata dalam hati, mengapa kita sibuk belajar aksara orang lain, tetapi melupakan aksara yang dulu menjadi bagian dari kebudayaan kita. Memang, banyak kota yang sudah mulai kembali memperkenalkan aksara tradisional Nusantara dalam beberapa aspek, seperti yang saya lihat di Solo, Yogyakarta, Cirebon, Bogor, Bandung, sebagian Malang, Bali, Lampung, dan Sulawesi Selatan (saya mengkhususkan pada aksara di Nusantara abugida turunan Brahmi meskipun aksara Jawi juga menjadi bagian dari aksara di Nusantara itu dalam konteks yang berbeda). 

Namun, kalau saya lihat semuanya masih sebatas pada nama jalan dan papan nama instansi terutama pemerintahan (kalau di Solo yang pernah saya lihat bahkan sampai di nama-nama hotel, sekolah, dan beberapa instansi swasta).

Memang, aksara di Nusantara mengalami pergeseran dan pengurangan pengguna, tetapi setidaknya masih ada sinar terang agar aksara-aksara khas kita ini tidak mengalami kepunahan dengan cepat. Banyak aplikasi di internet yang memperkenalkan penulisan dalam berbagai aksara, khususnya dalam aksara Carakan (itu yang sudah saya lihat dan tampak terutama di media sosial), juga banyak grup di media sosial yang berusaha melestarikan dan mengembangkan kembali aksara-aksara di Nusantara ini. Hal itulah yang memotivasi saya kembali mendalami aksara di Nusantara, khususnya aksara Carakan/Hanacaraka yang sejatinya menjadi alat talimarga kasat mata penutur bahasa Jawa. Zaman semakin canggih dengan berbagai macam gawai (gadget) yang menjadi bagian keseharian masyarakat. 

Dengan teknologi ini saya yakin aksara-aksara di Nusantara akan kembali mengalami kebangkitannya sebagai sarana talimarga tersurat alternatif yang di samping melestarikan budaya, juga menjadi sesuatu yang berbeda karena keindahan serta nilai seni yang terkandung dalam aksara tersebut. Pembelajaran aksara di Nusantara dalam tataran daerah seharusnya kembali dikembangkan dengan cara-cara yang lebih menarik sebagaimana orang-orang kita mempelajari huruf Hanzi atau Kana untuk mendalami bahasa Mandarin dan Jepang. Mulai pembelajaran interaktif seperti flashcards, slideshow, atau dengan lagu jika diterapkan di tingkat sekolah dasar.

Pergeseran dan punahnya satu aksara memang suatu keniscayaan seiring dengan berkembangnya zaman. Namun, jika kita bersama punya kemauan besar untuk melestarikannya, tentunya sistem aksara itu akan bertahan. Kendati dalam skala kecil (komunitas, misalnya), ibarat pemeo mengajarkan bahwa walau satu ayat pastilah ada buah yang dipetik. Pelestarian aksara di Nusantara ini juga perlu tekad kuat dari pemerintah tempat aksara itu tumbuh, di samping sekadar memampangnya di papan nama jalan.

Aksara di Nusantara juga jatidiri kita, baik secara lokal maupun nasional. Mari bersama turut melestarikannya.***

Tangerang, 7 November 2015

Sumber: KerlingAntologi Kritik/Esai Bahasa dan Sastra, Penyunting: Dessy Wahyuni, Medri Oesnoe, Agus Sri Danardana, dan  Tirto Suwondo, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan  Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta, 2016

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »