Bahasa dan Nasionalisme

ADMIN SASTRAMEDIA 5/30/2019
oleh Yulfi Zawarnis

Madras mengingatkan kita pada sebuah wilayah di India selatan yang mayoritas penduduknya berkulit hitam. Wilayah Madras ini dihuni oleh masyarakat dari etnik Tamil yang termasuk bangsa Dravida. Di beberapa tempat, masyarakat yang berasal dari etnis Tamil Madras ini dulunya kerap disapa dengan sebutan keling. Istilah keling merujuk pada kerajaan Kalingga yang kemudian mengalami keausan bahasa. Belakangan, istilah “keling” lebih merujuk pada istilah rasialis untuk etnis Tamil. Bahkan, karena dinilai rasialis, Kampung Keling di Medan diubah namanya menjadi Kampung Madras. Sebuah perayaan, pesta rakyat pun dibuat untuk merayakan perubahan nama Kampung Keling, yang identik dengan mereka, menjadi Kampung Madras.

Sebuah artikel di media massa ibukota pernah menuliskan bahwa bahasa tidak saja sebagai alat komunikasi, tetapi juga mampu menusuk perasaan dan membuat sekelompok masyarakat merasa tersingkir oleh kesinisan yang terkandung di dalamnya. Lalu, apakah kaitannya dengan perubahan nama Kampung Keling menjadi Kampung Madras? Menurut beberapa sumber, istilah keling belakangan ini lebih sering diasosiasikan dengan sifat-sifat buruk yang dilekatkan pada masyarakatnya. Kamus Besar Bahasa Indonesia mencatat istilah Keling diartikan sebagai ’orang berkulit hitam yang berasal dari India sebelah selatan’.

Istilah keling bertukar menjadi istilah yang berkonotasi negatif sejak pertengahan 1970-an. Perlahan istilah keling mulai diasosiasikan dengan hal-hal yang kurang menyenangkan. Kulit hitam legam lebih ditonjolkan dibandingkan kelebihan yang dimiliki kelompok masyarakat ini. Gaya hidup yang suka bermabuk-mabukan dan premanisme mulai diidentikkan dengan mereka. Atas dasar itulah kemudian kelompok masyarakat ini berinisiatif untuk mengganti sebutan keling menjadi Madras. Perubahan ini tidak saja terjadi di Indonesia, tetapi sampai ke negara-negara di Asia lainnya yang masih menggunakan istilah keling, seperti Malaysia dan Singapura.

Bahasa memang “organ vital” kemanusiaan, itulah kenyataannya. Pada zaman reformasi, kita masih ingat sekelompok orang yang menolak disebut cina karena menurut mereka istilah itu bernada sinis, menghina, kasar, dan bermakna negatif. Kemudian media massa tidak lagi menuliskan istilah itu dan menggantinya dengan China, Tiongkok, atau Tionghoa. Lalu, apa bedanya ketiga istilah ini? Menurut pakar bahasa Mandarin, Dr. Hermina Sutami, kata cina tidak berasal dari bahasa-bahasa negara Cina melainkan dari bahasa Sansekerta, chîna, berarti ‘daerah pinggiran’. Kata cina itu digunakan untuk menamakan negara yang berbudaya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, cina adalah ’sebuah negeri di Asia; Tiongkok’. Arti yang lainnya ’bangsa yang tinggal di Tiongkok; Tionghoa’.

Istilah Tionghoa dan Tiongkok sudah muncul di Indonesia sejak zaman Presiden Soekarno. Menurut Anne Martani, praktisi dan pengamat bahasa Mandarin, Tiongkok merujuk pada ’Republik Rakyat Cina’, Tionghoa ’segala sesuatu yang berasal atau diturunkan dari Tiongkok’. Istilah Tionghoa merupakan versi dialek Hokkien, salah satu dialek di Tiongkok yang lazim digunakan di Indonesia, yang merupakan istilah lain dari zhonghua. Terkait dengan istilah zhonghua ini kita dapat merujuk pada bahasa Mandarin dari RRC yakni Zhonghua Renmin Gongheguo. Pada masa pemerintahan Soeharto, istilah Tionghoa dan Tiongkok dipopulerkan dengan Istilah Cina.
Penyebutan Cina dan Keling belakangan dianggap memiliki tujuan menyindir yang mengandung makna sinis. Beberapa media kemudian mengganti penggunaan istilah Cina menjadi China dan Kampung Keling di Medan diganti menjadi Kampung

Madras. Rasanya menjadi tidak beralasan jika istilah cina dianggap lebih bermakna negatif dibanding istilah china. Bukankah kedua istilah ini sama saja? Hanya saja cina merupakan bahasa Indonesia dan china merupakan bahasa asing. Pun demikian dengan istilah keling yang memang makna aslinya tidak memiliki konotasi yang buruk sedikitpun. Jika kemudian muncul asosiasi yang negatif terhadap kata atau istilah yang bermakna netral, seperti keling dan cina ini, tentunya perlu pertimbangan yang matang untuk menggantinya.

Masyarakat kita memang berasal dari berbagai suku dan bangsa. Persoalan penegasan identitas diri tidak hanya menyangkut masyarakat yang berasal dari etnis berbeda negara. Di Indonesia, terdapat penyebutan untuk suku-suku tertentu. Orang Minang misalnya, biasa disebut dengan urang awak, orang Palembang dengan sebutan wong kito, dan orang lampung dengan sebutan ulun lampung. Sampai saat ini, saya belum pernah mendengar sebutan-sebutan tersebut dimaknai negatif oleh penutur bahasa Indonesia. Sama halnya dengan cina dan keling, sebutan wong kito, urang awak, dan ulun lampung tentunya memiliki kaitan yang erat dengan budaya masyarakatnya. Akan tetapi, kita harus paham bahwa masyarakat tertentu memiliki prototipe tertentu yang dapat ditinjau dari sisi positif maupun sisi negatifnya. Membuat generalisasi sifat manusia berdasarkan ras yang sifatnya umum tentunya tidak ada kaitannya secara ilmiah. Pada akhirnya, dari manapun suku dan bangsa masyarakat di Indonesia, kita disatukan oleh bahasa dan budaya yang sama, Indonesia.***

Sumber: KerlingAntologi Kritik/Esai Bahasa dan Sastra, Penyunting: Dessy Wahyuni, Medri Oesnoe, Agus Sri Danardana, dan  Tirto Suwondo, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan  Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta, 2016

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »