Bahasa Ibu: Memberikan Keteduhan Jiwa

ADMIN SASTRAMEDIA 5/30/2019
oleh Dhanu Priyo Prabowo

Di tengah hiruk-pikuknya masyarakat memperingati harihari penting, ada satu hari penting yang sering luput dari perhatian orang Indonesia, yaitu Hari Bahasa Ibu Internasional. Mungkin masyarakat tidak mempedulikan hari yang telah disahkan oleh Unesco pada tanggal 17 November 1999 itu. Penyebabnya bisa bermacam-macam, salah satunya: apa uniknya Hari Bahasa Ibu itu?
Ajip Rosidi dalam bukunya Bahasa Indonesia Bahasa Kita: Akan Diganti dengan Bahasa Inggris? (2010, cetakan ke-4) menyampaikan bahwa yang dimaksud dengan istilah “bahasa ibu” adalah hal yang selama ini biasa disebut dengan istilah “bahasa daerah”. Menurut hematnya, istilah “bahasa daerah” kurang tepat karena pada kenyataannya bahasa-bahasa tersebut tidak mempunyai daerah yang khusus. Misalnya, bahasa Jawa, kecuali digunakan di daerah Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta, juga digunakan di Jawa Barat (Cirebon dan Banten). Selain itu, juga di tempat-tempat pemukiman para kaum transmigran di luar pulau Jawa. 

Di kota-kota besar di luar Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta seperti di Jakarta dan Bandung, misalnya, ada komunitas yang mempergunakan bahasa Jawa. Ia memberikan contoh di Bandung pernah ada wayang wong dan ketoprak dalam bahasa Jawa. Demikian pula di Deli (Sumatra Timur) banyak komunitas yang berbahasa Jawa dan mempunyai kelompok kesenian Jawa. Suriname juga terdapat komunitas beerbahasa Jawa.

Bahasa Sunda tidak hanya digunakan di wilayah Jawa Barat dan Banten. Di beberapa wilayah yang secara administratif termasuk provinsi Jawa Tengah seperti Kabupaten Cilacap dan Brebes, sebagian masyarakatnya mempergunakan bahasa Sunda. Sastrawan dwi bahasa (Indonesia dan Sunda) itu menambahkan bahwa di Jakarta dan kota-kota lain bahasa Sunda juga dipergunakan sebagai alat komunikasi. Sebaliknya di daerah-daerah itu tidak hanya terdapat bahasa yang bersangkutan saja, karena selain bahasa Jawa, di Jawa Tengah dan Jawa Timur juga ada bahasa Madura, bahasa Osing, dan bahasa Sunda. Di Jawa Barat, selain bahasa Sunda, juga ada bahasa Jawa dan Bahasa Betawi. 

Dengan adanya kenyataan itu, Ajip Rosidi tidak sependapat dengan istilah “bahasa daerah”, bahkan istilah itu terasa tidak tepat karena penggunaan bahasa-bahasa itu tidak terbatas di daerah-daerah tertentu. Menut hemat Ketua Yayasan Racage itu, istilah “bahasa ibu” lebih tepat (daripada bahasa daerah) karena memang dipergunakan oleh para ibu dengan anaknya, lagi pula istilah sesuai dengan istilah yang digunakan Unesco: mother tongue.

Hasil penelitian dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pada tahun 2012, dengan mengambil sampel di 70 lokai wilayah Maluku dan Papua ditemukan jumlah bahasa dan sub bahasa di seluruh Indonesia mencapai 546 bahasa. Tahun berikutnya, kemungkinan, jumlahnya akan menembus 600 jenis karena penelitian kembali dilakukan dengan mengambil sampel di 109 wilayah.

Dari sekian banyak bahasa ibu, ada yang sudah tertulis/aksara tetapi juga ada yang masih dalam bentuk bahasa lisan. Pandji R Hadinoto dari “Gerakan Kebudayaan Nusantara demi Ketahanan Sosial Budaya Indonesia” menyatakan bahwa Aksara Nusantara yang kini sudah mengglobal adalah Aksara-Aksara tradisi dari (1) Bugis/Lontara, (2) Bali, (3) Rejang, (4) Sunda, (5) Jawa, dan (6) Batak, karena memang sudah diakui dan terdaftar di Unicode/ Unesco Consortium. Untuk itu, ia berpendapat bahwa sudah saatnya kini Aksara-Aksara Nusantara tersebut di atas kembali diperkenalkan untuk dipergunakan dan dimasyarakatkan wujudnya di Nusantara. 

Kiprah Aksara-Aksara Nusantara merupakan penyanding huruf Latin yang mengekspresikan nama-nama diri, rumah, jalan dan jembatan, kampung atau desa, kelurahan, kecamatan, kota, kabupaten, provinsi, warung, toko, gedung, kawasan perumahan dan industri, judul lagu atau tembang, dan lain sebagainya. Pemakaian Aksara Nusantara itu pada hakikatnya juga memperteguh jati diri (eksistensi) bangsa. Bangsa Thailand, China, Vietnam, Kamboja, Jepang, Korea, Arab, dsb adalah contoh-contoh konkret bangsa-bangsa yang memiliki karakter. Mereka dapat menunjukkan kepada dunia bahwa keberadaannya sebagai bangsa dapat disemak dari lambang-lambang gagasannya (aksara) yang dimilikinya.

Menghargai
Namun, gambaran seperti itu hendaknya kita refleksikan kembali ke dalam kenyataan serhari-hari, khususnya terhadap bahasa ibu. Walau bahasa ibu itu dipergunakan oleh puluhan Juta orang (Jawa dan Sunda) sebagai alat komunikasi oleh mereka, paling tidak dalam acara-acara nonresmi (noperkantoran). Suasananya semakin “murung” setelah bahasa ibu tidak (akan) lagi sebagai mata pelajaran mandiri, tetapi hanya akan disubordinasikan dengan mata pelajaran lainnya. Mendikbud M. Nuh mengatakan bahwa bahasa daerah tetap ada yakni di kolom kurikulum seni budaya dan prakarya. Daerah-daerah yang dipersilahkan memasukkan bahasa ibunya dalam kurikulum.
Pergulatan bahasa ibu untuk dapat tetap bertahan memang tidak ringan. 

Orang-orang dengan bahasa ibu mayoritas di Indonesia (Jawa dan Sunda) banyak yang tidak lagi mau dengan setulus hati menggunakannya. Orang-orang itu merasa lebih “percaya diri” apabila dalam menyampaikan pendapatnya dengan bahasa Indonesia. Barangkali untuk acara resmi, kita masih dapat memahaminya. Akan tetapi, dalam komunikasi sehari-hari di tengah keluarga atau dalam acara yang tidak resmi, keinginan menggunakan bahasa Indonesia lebih besar daripada dengan bahasa Ibu.

Bahasa ibu Jawa, misalnya, di samping sebagai media penyampai gagasan, juga mengajarkan bagi si pemakai untuk dapat bertakrama. Dalam pandangan pragmatisme, undha-usuk ‘tingkat tutur’ menjadi sangat tidak efektif sebagai sarana ide/pikiran. Ada yang mengatakan rumit, feodal, dan tidak familiar. Bahasa Jawa memang mengandung sebuah ajaran bagi mereka yang memakai untuk dapat mengendalikan dirinya (emosinya). Ketika ia berbicara dengan orang lain dengan undha-usuk krama, maka ia akan sangat sulit untuk mengeluarkan kemarahannya. Si penutur pasti akan berusaha untuk menahan kemarahannya karena tingkat tutur itu memang tidak efektif untuk ekspresi marah.

Itu baru sebuah contoh, masih banyak “pendidikan” yang dapat diserap dari bahasa ibu. Seperti seorang ibu, bahasa ibu selalu mengajarkan kearifan pada anak-anaknya. Ibu tidak akan pernah mendidik anaknya menjadi seorang berandalan, demikian pula dengan bahasa ibu. Bahasa ibu, misalnya Jawa, mengajak anak-anaknya untuk dapat menghargai bukan hanya hanya perasaan tetapi juga perilaku orang lain. Jika sekarang banyak perilaku menyimpang dari anak-anak keluarga Jawa, pertamatama bukan karena mereka tidak suka, tetapi karena mereka tidak pernah diperkenalkan dengan bijaksana terhadap bahasa ibunya (yang memberikan keteduhan jiwa). 

Kalau anak-anak dari keluarga Jawa tidak lagi dapat berperilaku sopan kepada mereka yang lebih tua (ayah, ibu, saudara, dsb), jangan terus mereka dikambinghitamkan. Pertanyaannya: apakah anak-anak kita telah kita beri ruang yang cukup untuk mengenal bahasa ibu mereka di tengah keluarganya? Barangkali pertanyaan ini sulit untuk dijawab pada saat ini oleh keluarga Jawa yang berbahasa ibu Jawa, karena mereka tidak memahami apa sebenarnya yang mereka alami.
Benarkah?***

Sumber: Solo Pos, 23 Februari 2013)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »