Bahasa Indonesia Harus menjadi Bahasa ASEAN

ADMIN SASTRAMEDIA 5/28/2019
oleh Rida K. Liamsi


Bahasa, selain sebagai alat komunikasi antarpersonal, juga sebagai alat pemersatu bangsa dan negara. Sebuah negara belumlah bernama negara jika belum memiliki bahasa kebangsaannya. Bayangkan, bagaimana Indonesia yang memiliki beratus suku bangsa dan bahasa daerahnya, bisa menjadi negara kesatuan, kalau tidak ada bahasa kebangsaan yang mempersatukannya. Misalnya, tidak ada bahasa Melayu yang bisa diterima semua etnis dan menjadi teras bahasa kebangsaan Indonesia sampai saat ini. Bahasalah yang kini menjadi salah satu pemersatu bangsa dan negara kebangsaan Indonesia ini, dan menjadi jantung semboyan: NKRI harga mati.


MEA atau masyarakat ekonomi ASEAN itu memang sebuah kesepakatan dan kehendak bersama negara-negara ASEAN, untuk bersatu membentuk masyarakat ekonomi, agar ada sinergisme, kekuatan daya saing, pemberdayaan sumber daya, dan penerapan sistem ekonomi yang berkelanjutan, melalui pasar secara bersama. Seperti masyarakat ekonomi Eropa dan lainnya. Namun, meski latar belakangnya adalah ekonomi, bahasa tetap menjadi hal yang nomor satu pentingnya, untuk menjadi pemersatu masyarakat ekonomi ini. Bahasa menjadi kekuatan perekat semua gagasan, kesepakatan, dan tindakan bersama serta menjadi penetralisasi semua perbedaan, konflik, dan dampak kehadiran komunitas ekonomi bersama ini. Bayangkan kalau tidak ada sarana bahasa bersama yang menjadi media komunikasi antarnegara yang sudah ratusan tahun membangun identitas dan kulturnya ini, kalau tidak disatukan oleh bahasa, dipahami bersama oleh komunitas sejak yang hidup di Mindano (Filipina) sampai ke Bengkulu (Indonesia), atau dari Ende (NTT/Indonesia) sampai ke Pataya (Thailand), dan lain-lain rentang hubungan antarnegara ASEAN. Kita akan kembali ke zaman batu dengan menggunakan bahasa isyarat.

Bahasa di ASEAN yang paling tepat menjadi bahasa pemersatu MEA itu adalah bahasa Indonesia, karena bahasa Indonesia memiliki sejumlah kelebihan: Pertama, bahasa Indonesia dipakai oleh lebih separuh penduduk ASEAN, karena Indonesia adalah negara terbesar penduduk dan wilayahnya. Kedua, bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu. Bahasa Melayu itu adalah bahasa yang mempunyai jejak dan hubungan linguistik dengan bahasa-bahasa negara ASEAN lainnya, seperti Singapura, Malaysia, Brunei, sebagian dari Filipina, Thailand, Vietnam, Kamboja, dan Laos, karena di sana sebagian penduduknya adalah rumpun bangsa Melayu. Bukankah, bangsa dan bahasa Melayu itu datang dari daratan Asia Selatan ke kawasan Nusantara ini? Di dunia saat ini, ada 400 juta penutur bahasa Melayu, yang jika zaman berkehendak, akan bangkit menjadi bahasa komunikasi antarnegara dan wilayah bangsa yang serumpun, serta pemersatu di masa depan. 


Oleh sebab itu, bahasa Melayu seharusnya sudah menjadi bahasa PBB. Bahasa Indonesia harus menjadi bahasa MEA, karena untuk jangka panjang, jika bahasa Inggris yang dipakai sebagai bahasa komunikasi dan interaksi MEA, terutama dalam komunitas ekonominya, Indonesia adalah negara yang paling dirugikan. Mengapa? Karena Indonesia, selain memang belum siap untuk menghadapi perdagangan bebas dalam komunitas MEA dengan berbagai kelemahannya, juga secara bahasa, hanya sekitar 5% yang bisa berbahasa Inggris. Sisanya adalah penutur bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa daerah yang setiap waktu menjadi bahasa komunikasi ekonominya. Untuk jangka panjang, kalau rakyat Indonesia tidak segera belajar dan memahami bahasa Inggris yang menjadi bahasa komunikasi MEA, rakyat Indonesia akan tersisih dari pergaulan ekonomi MEA, akan menjadi masyarakat yang tertinggal dan terbelakang dalam semua aktivitas ekonomi, lalu digilas oleh rakyat kawasan negara lain yang sudah sangat maju bahasa Inggirisnya, terutama Singapura, Malaysia, Brunei, Filipina, Thailand dan Vietnam. Mereka akan menyerbu Indonesia dari segala sektor di bidang ekonomi, terutama tenaga kerja (lihat kasus keunggulan tenaga kerja Filipina dibanding Indonesia dalam soal penghasilan TKW di luar negeri). Indonesia akan menjadi sapi perah dalam masyarakat MEA itu. Indonesia akan menjadi negara kaya yang tetap miskin, karena keterbelakangan kultural, khususnya bahasa.


Menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa MEA itu, memang diperlukan kemauan politik dan kehendak yang lebih keras serta strategis, dalam memperjuangkan dan juga memaksakannya. Meski sudah agak terlambat, seharusnya ada upaya yang terus menerus mengedukasi masyarakat ASEAN tentang keunggulan bahasa Indonesia sebagai bahasa ASEAN, sebagai bahasa yang modern, terbuka, komunikatif, dan maju. Upaya itu, memang sudah dilakukan oleh lembaga-lembaga kerja sama bahasa antarnegara yang bahasa nasionalnya bersumber dari bahasa Melayu, seperti Mabim, dll. Akan tetapi, progresnya terlalu lambat dan sudah puluhan tahun, bahasa Indonesia belum mampu jadi bahasa penentu di kawasan ASEAN (kesalahan banyak terjadi dari para pakar linguistik Indonesia).


Bahasa Indonesia masih sulit menjadi bahasa resmi ASEAN, karena peran ekonomi Indonesia yang lemah dan tidak menentukan. Indonesia belum bisa memaksakan keberadaan bahasanya pada negara-negara ASEAN lainnya, karena ekonomi Indonesia hanya jago kandang. Sebaliknya, negara-negara ASEAN lain yang menggunakan bahasa Inggris sebagai kekuatan komunikasinya justru menyerbu Indonesia. Lihatlah berapa banyak bank Indonesia yang sebagian sahamnya (minimal 30%) dikuasai oleh Singapura dan Malaysia. Begitu pula sebaliknya, tidak ada bank di Malaysia yang dikuasai sahamnya oleh Indonesia (kecuali para pengusaha Indonesia yang paling banyak menyimpan uang di bank-bank Singapura atau cuma buka cabang). Berapa banyak perkebunan sawit Indonesia yang dikuasai Malaysia, Singapura, dan lainnya? Tidak ada kebun sawit Malaysia yang dikuasai Indonesia. Satu-satunya Indonesia agak bisa bersuara secara ekonomi di Malaysia adalah penerbangan. Ada Malindo yang dikuasai sebagian sahamnnya oleh Lion Air, tetapi Air Asia yang dikuasai Malaysia, merajalela di Indonesia. Selain itu, industri semen di Vietnam tempat Indonesia mulai bersuara.


Indonesia tak dipandang di ASEAN, terutama di Malaysia dan Singapura. Lihatlah, sudah berapa puluh tahun Indonesia berjuang mengambil alih transhipment kapal-kapal Indonesia yang berlabuh di Singapura untuk dialihkan ke Batam, tetapi tak pernah berhasil. Tanpa kekuatan ekonomi, Indonesia bukan apa-apa di MEA.


Untuk jangka panjang, karena MEA adalah komunitas ekonomi dan kelak akan menjadi bagian dari masyarakat ekonomi dunia, Indonesia harus memaksakan rakyatnya belajar bahasa asing, khususnya bahasa Inggris. Masyarakat harus mau mempelajari bahasa asing itu, terutama di lembaga pendidikan, secara sistematis dan dimulai sejak dini untuk kepentingan masa depan. Mana bisa Indonesia jadi poros maritim dunia, kalau rakyatnya tidak mengerti bahasa dunia. Minimal 25% rakyatnya harus bisa berbahasa Inggris, minimal para entrepreneur dan UKM-nya yang 25 juta orang itu, supaya bisa berinteraksi dengan MEA dan MED (masyarakat ekonomi dunia yang cepat atau lambat akan mewujud selagi sistem ekonomi dunia itu liberal dan global).


Dalam menyambut MEA ini, Kepulauan Riau (Kepri) harus paling siap, karena Kepri ini ada di depan pintu masuk Indonesia dan di pusat kawasan ASEAN, di depan gerbang arus globalisasi MEA. Kepri bukan saja harus siap secara ekonomi, tetapi juga secara kultural untuk menjadi beranda MEA, menjadi the first line bahasa Indonesia sebagai bahasa MEA. Sekarang ini memang para turis yang datang dari Singapura dan Malaysia sebagian besar bisa berkomunikasi dengan dunia usaha di Kepri dengan menggunakan bahasa Melayu. Namun, pasar dunia usaha di Kepri, khususnya di resort wisata dan pertokoan-pertokoan, belum disiapkan menjadikan bahasa Indonesia sebagai kekuatan membentuk bahasa persatuan ASEAN. Soal label harga saja masih banyak yang menggunakan bahasa asing, tetutama Inggris. Nama-nama toko saja pada umumnya memakai bahasa Inggris. Mestinya,komunitas ekonomi Indonesia, khususnya di Kepri, bisa memaksa para turis menerima bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi bisnisnya. 


Harusnya, Kepri menjadi pelopor menerbitkan kamus bisnis bahasa ASEAN yang terasnya bahasa Indonesia. Harus ada pemaksaan kehendak untuk mengindonesiakan semua lini perdagangan, agar manfaat MEA itu bisa dirasakan oleh warga Kepri yang paling ceruk tetapi tidak mengerti bahasa asing, khusunya bahasa Inggris. Kalau tidak, Indonesia akan tetap menjadi negeri bak keranjang sampah bagi kemajuan ASEAN, besar tetapi tak berdaya.


Jika satu bangsa tidak berdaya secara bahasa, bangsa itu cepat atau lambat akan punah. Seperti kata pepatah Melayu, bahasa menunjukkan bangsa. Sekarang ini, tiap dua minggu satu bahasa dunia punah, meskipun itu bahasa daerah. Dapat dibayangkan, jika seratus tahun lagi—akibat MEA, bahasa asing yang menjadi bahasa komunikasi dan pemersatunya—di manakah kedudukan bahasa Indonesia itu? Maka, untuk kepentingan masa depan Indonesia dan rakyatnya, hanya ada dua pilihan dalam urusan bahasa ASEAN dan bahasa MEA ini, yaitu bahasa Indonesia harus diterima sebagai bahasa resmi ASEAN dan menjadi bahasa MEA atau Indonesia keluar dari organisasi negara ASEAN tersebut.****


Tanjungpinang, 22 Oktober 2015.


Sumber: KerlingAntologi Kritik/Esai Bahasa dan Sastra, Penyunting: Dessy Wahyuni, Medri Oesnoe, Agus Sri Danardana, dan  Tirto Suwondo, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan  Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta, 2016

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »