Bandung Lautan Akronim

ADMIN SASTRAMEDIA 5/30/2019
oleh Nandang R. Pamungkas

Selain memiliki beragam pilihan tempat yang menjadi tujuan wisata, Bandung pun dikenal sebagai kota kreatif. Tak hanya kreatif mencipta beragam kreasi seni, kerajinan, produk fashion (distro), maupun grup musik, Bandung juga dikenal kreatif mencipta beragam menu makanan dan jajanan. Tak heran jika pada saat musim liburan tiba, Bandung akan penuh sesak oleh para pengunjung dari luar. Tujuannya berwisata, berbelanja, dan tentu saja berburu kuliner menu khas makanan dan jajanan Bandung.

Kekreatifan mencipta menu makanan dan jajanan berdampak pula pada munculnya nama-nama makanan serta jajanan baru. Pernah suatu hari, saya menemukan toko kue yang menjual “kue nangkub”. Dalam hati, saya bertanya-tanya kue apa pula ini? Ternyata nama ini merupakan akronim dari kue nangka keju bakar. Halah, ada-ada saja. Kenyataannya, orang Bandung memang kreatif dan gemar menggunakan akronim. Ada kecenderungan, orang Bandung suka menamai makanan ciptaannya menggunakan akronim. Makanan yang terbuat dari bahan aci (tepung tapioka) saja memiliki beberapa variasi nama akronim: cilok (aci dicolok), ciréng (aci digoreng), dan cimol (aci digemol). Lalu, makanan yang mengandung bahan oncom dinamai comro (oncom di jero), comring (oncom garing), comét (oncom lemét/ saemét), dan comhu (oncom tahu). Selain itu, ada pula nama-nama makanan seperti gehu (taoge tahu), misro (amis di jero), batagor (bakso tahu goreng), bacil (bakso cilok), basreng (bakso goreng), pikda (keripik lada), dan piscok (pisang coklat). Ada lagi yang namanya jeniper yang merupakan akronim dari jeruk nipis peras. Bahkan, nama colenak pun dianggap sebagai akronim dari dicocol enak dan kerupuk gurilem, kerupuk yang gurih dan pelem (enak).

Saya pun takkan lupa makanan favorit sewaktu kuliah, internet (indomie telur kornet) dan nasgobing (nasi goreng kambing). Selain nama-nama makanan, orang Bandung pun gemar menamai nama jalan dan nama tempat dengan menggunakan akronim. Ya, di Bandung ada beberapa nama jalan yang juga dijadikan akronim. Jalan Otto Iskandardinata diakronimkan menjadi Otista, Jalan Laswi (Laskar Wanita), Jalan Gatsu (Gatot Subroto), Jalan Bubat (Buah Batu), Jalan Paskal (Pasir Kaliki), dan Jalan Layang Pasupati (Pasir Kaliki—Surapati).

Nama-nama jalan tol pun selalu menggunakan akronim. Misalnya adalah Tol Cipularang (Cikampek-Purwakarta-Padalarang) dan Tol Padalenyi (Padalarang-Cileunyi). Bahkan nama jalan tol yang masih dalam proses pembangunan pun dinamai Tol Soroja (Soreang-Pasir Koja). Adapun akronim yang digunakan pada nama-nama tempat, di antaranya Gerlong (Geger Kalong), Bubat (Buah Batu), Punclut (Puncak Ciumbuleuit), Ciwalk (Cihampelas Walk), bahkan Kebun Binatang Bandung diakronimkan juga menjadi bonbin (kebon binatang).

Tak hanya nama tempat, nama toko buku pun ada yang menggunakan akronim, contohnya Tobucil (Toko Buku Kecil) dan Wabule (Warung Buku Lesehan). Yang paling umum adalah nama-nama perguruan tinggi. Hampir semua perguruan tinggi terkenal di Bandung menggunakan akronim, ada Unpad, UPI, Unpas, Unpar, Unla, Unisba, Unbar, Akper, dan sebagainya. Jangan lupa, semboyan Kota Bandung “Bermartabat” (bersih, makmur, taat, dan bersahabat), bukankah merupakan akronim juga?

Masalah Penggunaan Akronim
KBBI Pusat Bahasa memaknai akronim sebagai ‘kependekan yang berupa gabungan huruf atau suku kata atau bagian lain yang ditulis dan dilafalkan sebagai kata yang wajar, misalnya letkol dari letnan kolonel; rudal dari peluru kendali; pemilu dari pemilihan umum; tilang dari bukti pelanggaran. Perhatikan kata wajar dalam frase ‘yang ditulis dan dilafalkan sebagai kata yang wajar’. Suasana wajar inilah yang nantinya menjadi ciri khas sebuah akronim.

Unsur lafal-mudah, enak-dengar, dan enak-lihat (sehingga cepat-ingat) adalah alasan dari perumusan singkatan dan akronim. Singkatan dan akronim berfungsi sebagai sejenis jembatan bagi pendengar/pembaca bahasa untuk dapat dengan (lebih) mudah menyeberang menuju makna. Suatu singkatan biasanya dibentuk dari sebuah kata bersuku-banyak atau frasa yang rumit yang tentunya akan menimbulkan kesulitan dalam proses pencerapan dan pengertiannya. Untuk itulah singkatan dan akronim dihadirkan dalam ruang berbahasa.

Akronim merupakan bentuk penggunaan bahasa yang tidak dianjurkan. Pusat Bahasa (sekarang bernama Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa [BPPB]) sebetulnya tidak membuat kaidah pembentukan akronim. Seperti kita ketahui, akronim memiliki potensi untuk berkembang karena orang sangat gemar membuat akronim. Penggunaan akronim yang tidak terkendali dapat membingungkan pengguna bahasa sendiri, khususnya bagi pengguna asing atau pengguna bahasa yang berasal dari luar. Misalnya, orang yang berasal dari luar Bandung akan kebingungan untuk mencari sesuatu yang dimaksud ketika orang yang ditanya menjawabnya dengan menyebutkan nama akronim, bukan nama aslinya.

Kesulitan itu sangat terasa khususnya pada penggunaan nama tempat dan jalan. Pengalaman ini pernah saya alami sendiri. Teman saya mengajak janji bertemu di “Monju”. Saya kebingungan, di manakah Monju itu, serasa di negara Korea saja. Eh, ternyata yang dimaksud Monju itu adalah “Monumen Perjuangan” rakyat Jawa Barat. Begitu juga ketika kawan saya yang berasal dari luar provinsi kebingungan setengah mati ketika mencaricari alamat Jalan Otista yang juga tak ia temukan di lembar peta sekali pun.

Meskipun demikian, jika ternyata kita sangat perlu untuk membuat akronim, BPPB memberikan rambu-rambu untuk diperhatikan. Pertama, jumlah suku kata akronim jangan melebihi jumlah suku kata yang lazim pada kata Indonesia. Misalnya, akronim ipoleksosbudhankam tidak memenuhi kriteria ini karena bersuku kata terlalu banyak. Kedua, akronim dibentuk dengan mengindahkan keserasian kombinasi vokal dan konsonan yang sesuai dengan pola kata Indonesia yang lazim. Misalnya, akronim Pangkopkamtib tidak mudah untuk dilafalkan untuk kelaziman pelafalan kata bahasa Indonesia. Ketiga, akronim tidak berkonotasi negatif dan menyamai kata yang sudah ada. Misalnya, akronim markus (makelar kasus) yang bernilai negatif sangat menyinggung umat Kristen karena nama Markus dalam agama Kristen merupakan salah satu sahabat nabi.

Kegiatan mengakronimkan nama atau semboyan secara berlebih akan menjadi kurang bermanfaat. Bahkan hal itu cenderung merugikan karena tingkat pemahaman orang terhadap bentuk suatu akronim tidaklah sama. Oleh karena itu, pengakroniman dalam bahasa Indonesia lebih baik dihindari atau setidak-tidaknya dibatasi untuk keperluan tertentu saja, misalnya hanya untuk hubungan kedinasan intern.***

Sumber: KerlingAntologi Kritik/Esai Bahasa dan Sastra, Penyunting: Dessy Wahyuni, Medri Oesnoe, Agus Sri Danardana, dan  Tirto Suwondo, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan  Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta, 2016

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »