Beberapa Catatan Perihal Cara Berkisah dalam Cerpen (1)

ADMIN SASTRAMEDIA 5/29/2019

oleh Wicaksono Adi



Saya memulai membaca cerpen-cerpen yang terhimpun dalam buku ini dengan cerpen berjudul ”Pengantar Singkat untuk Rencana Pembunuhan Sultan Nurruddin”, karya Azhari. Kalimat pembukanya adalah sebagai berikut: ”Telah diceritakan dalam kisah yang lebih panjang, bahwa sebuah sidang sedang menunggu dengan hati berdebar apakah Sultan Nurruddin memutuskan hendak membeli sebuah batu permata bernama Mutiara Tuhan atau tidak”.

Pada kalimat pembuka tersebut, pagi-pagi saya sudah diberi peringatan bahwa seakan-akan cerpen ini berkaitan dengan teks lain berupa ”kisah yang lebih panjang”. Tapi saya tak diberi tahu di mana gerangan ”kisah yang lebih panjang” itu berada, bagaimana bentuknya, siapa pembuatnya dan siapa pula penerimanya. Di situ hanya disebutkan bahwa teks tersebut mula-mula menceritakan dua hal, yakni sebuah sidang dan batu permata bernama Mutiara Tuhan.

Sidang atau majelis itu ”terdiri atas para tukang nujum yang sedang berupaya mendorong Sultan untuk memiliki permata itu, sebab dalam nubuat yang mereka terima, hanya dengan batu mulia itulah ratusan tahun kemudian Lamuri dapat diselamatkan dari pendudukan Jenderal Mata Sebelah yang muncul dari seberang lautan sebagaimana halnya nasib Negeri Khurasan yang pernah ditakbirkan Al-Hadis”. Mutiara Tuhan digambarkan sebagai batu permata yang sangat istimewa karena kelak akan menentukan nasib negeri Aceh (Lamuri) agar tidak takluk kepada bangsa asing (Jenderal Mata Sebelah) seperti yang telah terjadi pada bangsa Persia (Negeri Khurasan) sebagaimana diceritakan dalam tuturan Nabi Muhammad (Al Hadis).

Sebelum dapat memastikan siapakah gerangan Sultan Nurruddin, Jenderal Mata Sebelah dan penakluk bangsa Persia (apakah orang Islam, bangsa Barat atau penyerbu dari Timur), saya langsung dijebloskan pada kalimat berikutnya yang memberi rincian mengenai siapa saja yang terlibat dalam majelis itu. Selain Sultan Nurruddin dan para tukang nujum, di situ terdapat seorang jauhari alias pakar batu permata yang berkisah panjang lebar perihal riwayat Mutiara Tuhan ”yang sangat panjang, yang mampu menyeret dua nabi Allah yaitu Khaidir dan Sulaiman pada sepertiga cerita…”

”Tak jauh dari Sultan Nurruddin berdiri seorang perempuan dengan air muka yang tak tersangka-sangka karena cadar telah menutupi hampir seluruh wajahnya. Dialah Ainul Mardiyah, perempuan pembawa Mutiara Tuhan. Di belakang Anul Mardiyah berbaris sembilan laki-laki yang menyaru sebagai pengiringnya, namun mereka sesungguhnya adalah sisa terakhir anggota Persaudaraan Rahasia Kura-kura Berjanggut, musuh utama Sultan Nurruddin yang telah diselamatkan oleh Si Ujud. Dengan kutukan batu permata itu, sebagaimana pesan terakhir Si Buduk (satu dari sembilan pemimpin puncak Kura-kura Berjanggut yang telah dibinasakan oleh Sultan) mereka berencana membunuh Sultan melalui utusannya Si Ujud”. Selain itu masih ada ”enam lelaki lainnya, utusan sebuah puak pemburu harta yang mendiami muara tersembunyi di Kepulauan Sulu”.

Mereka semua sedang berkumpul menghadap Sultan Nurruddin guna membahas perkara Mutiara Tuhan. Para tukang nujum mendorong Sultan untuk membeli permata itu, dan sang jauhari justru memberi saran sebaliknya. Sementara Si Ujud yang tak lain adalah orang kepercayaan Sultan ”sudah lama memendam dendam-kesumat untuk membunuh Sultan….Ia hendak membunuh Sultan dengan kutukan Mutiara Tuhan”.

Begitulah awal cerpen yang disebut memiliki hubungan dengan ”kisah yang lebih panjang”. Di bagian awal cerpen saya diperkenalkan dengan pihak-pihak yang terlibat dalam cerita, yakni Sultan Nurruddin, sang jauhari, para tukang nujum, Ainul Mardiyah, Persaudaraan Rahasia Kura-kura Berjanggut, Si Ujud, mendiang Si Buduk dan puak pemburu harta dari Kepulauan Sulu. Untuk memahami posisi masing-masing pihak, saya harus awas karena informasi mengenai pihak tertentu disampaikan dalam kaitan dengan informasi pihak-pihak lain yang kian meluas secara beruntun. Dan pada ujung bagian pertama cerpen itu saya diberi informasi tambahan: ”Mutiara Tuhan tidak akan datang dengan kakinya sendiri ke Lamuri dan bukan pula dengan perantara sejenis kegaiban, melainkan berkat pertemuan yang langka seorang perempuan dengan Tuhannya pada suatu hari dan peran sejenis bumbu masak kegemaran awak kapal penangkap perompak pada hari yang lain”.

Keterangan tersebut sekaligus berfungsi sebagai pengantar ke bagian kedua yang akan memperluas serbaihwal (dan sejarah) para pihak yang terlibat dalam kisah, terutama hubungan antara Ainul Mardiyah, Si Buduk, Si Ujud dan Mutiara Tuhan. (Perlu diketahui bahwa cerpen ini terdiri atas tiga bagian. Dua bagian terakhir diberi subjudul, masing-masing: Pertemuan yang Langka dan Bumbu Hitam Penangkap Perompak). Dan sebelum memasuki bagian kedua dan ketiga yang lebih rumit, terdapat kalimat sebagai berikut: ”Saya kutip lagi cerita itu, cerita yang pernah dituturkan Si Buduk kepada Si Ujud, yang kemudian diceritakan kembali oleh Si Ujud kepada persaudaraan rahasia Kura-kura Berjanggut agar komplotan itu membawa Mutiara Tuhan ke Lamuri”.

Kalimat tersebut adalah penutup bagian pertama cerpen yang memberi dua keterangan sekaligus. Pertama, informasi yang lebih tegas bahwa yang sedang saya hadapi adalah sebuah kutipan atau ringkasan dari ”kisah yang lebih panjang”. Kutipan itu disampaikan oleh seorang pencerita, yakni si ”saya” penulis cerpen. (Di sini sekali lagi saya diyakinkan bahwa di luar cerpen memang ada teks lain, meski si pencerita tak kunjung memberi tahu di mana teks itu berada). Kedua, informasi mengenai bagian kedua dan ketiga sebagai kutipan atau ringkasan dari kisah yang pernah diceritakan oleh Si Buduk kepada Si Ujud yang kemudian menceritakan ulang kisah itu kepada Persaudaraan Rahasia Kurakura Berjanggut.

Jadi, ”kisah yang lebih panjang” itu memang telah mengalami perjalanan (penuturan) atau perawian yang bertingkat-tingkat. Pada bagian kedua (Pertemuan yang Langka) itu terdapat dua kemungkinan sudut pandang proses penceritaan. Pertama, saya sedang menghadapi Si Buduk yang bercerita kepada Si Ujud, atau Si Ujud yang bercerita kepada Persaudaraan Rahasia Kura-kura Berjanggut. Kedua, saya sedang berhadapan dengan kisah yang dituturkan oleh penulis cerpen dengan mengulangi penuturan Si Buduk kepada Si Ujud lalu kepada Perkumpulan Rahasia Kura-kura Berjanggut. Di sini seolah-olah Si Buduk bercerita mengenai ”kisah yang lebih panjang” itu kepada penulis cerpen dan penulis cerpen menyampaikan ringkasannya kepada saya (sebagai pembaca).

Dan rupanya kemungkinan kedualah yang terjadi. Hal itu terbukti dari kalimat: ”Cadar cokelat yang menutup wajahnya itulah yang membuat Si Ujud tidak dapat melihat rupanya yang jelita”. (Kalimat tersebut adalah komentar Si Buduk perihal Si Ujud yang tidak mengenali Ainul Mardiyah). Komentar semacam itu tidak mungkin terjadi jika Si Buduk sedang bercerita kepada Si Ujud. Tapi pada ujung bagian kedua saya menjumpai kalimat sebagai berikut: ”Wahai Si Ujud, waktu kau turun di Tumasik, sebelum berganti kapal dan melanjutkan perjalanan ke Lamuri, barangkali karena tergesa-gesa kau menabrak Ainul Mardiyah, perempuan bercadar yang tak kaukenal, dan kancut buntalan di tanganmu terlepas. Berhamburanlah ratusan bubuk hitam dari wadahnya”.

Keberadaan dua kalimat tersebut benar-benar membingungkan: siapa bercerita kepada siapa? Apakah Si Buduk kepada Si Ujud? Si Buduk kepada penulis cerpen? Penulis cerpen kepada saya (pembaca), atau Si Buduk kepada saya (pembaca)?

Jika sebelumnya saya disodori oleh teka-teki mengenai keberadaan ”kisah yang lebih panjang”, kini ditimpa dengan pergantian sudut pandang penceritaan yang berlangsung secara tibatiba. Di situ saya benar-benar tidak dapat menentukan posisi siapa pencerita dan siapa pula yang diberi cerita. Memang pada ujung bagian kedua terdapat kalimat: ”Dari apa yang kautumpahkan itu dia menyusuri jejakmu dan menuliskan penyelidikannya”. Kalimat tersebut jelas menunjukkan bahwa yang sedang berlangsung adalah Si Buduk yang sedang bercerita kepada Si Ujud.

Tapi pertanyaan perihal munculnya kalimat ”cadar cokelat yang menutup wajahnya itulah yang membuat Si Ujud tidak dapat melihat rupanya yang jelita”, tetap tak terjawab. Jika Si Buduk sedang bercerita kepada Si Ujud, kenapa dia memberi komentar (mengenai lawan bicaranya) yang hanya mungkin jika hal itu disampaikan kepada pihak selain Si Ujud?

Entahlah. Saya benar-benar tidak tahu. Yang saya tahu, kalimat terakhir pada bagian kedua tersebut rupanya hendak memberi informasi mengenai status bagian ketiga (Bumbu Hitam Penangkap Perompak”) yang merupakan (tulisan) atau laporan investigasi Ainul Mardiyah (perihal Si Ujud) kepada Si Buduk (yang dia anggap sebagai Tuhannya alias sang Kadi). Pada bagian akhir laporannya Ainul Mardiyah juga memberi komentar perihal objek penyelidikannya: ”Sementara Si Ujud, sejak armada penangkap perompak Bumbu Hitam dikalahkan perompak Kastilia (bangsa Spanyol, WA), hilang entah di mana, hingga pada akhirnya dia menabrakku di Bandar Tumasik (Singapura, WA) ini. Bumbu hitam yang masih dia bawa-bawa itu menunjukkan betapa jauhnya dia bersembunyi selama ini, sehingga tidak dia ketahui bahwa masa pengacauan jalur pengejaran perompak Kastilia dengan tipuan bumbu hitam sudah lama berlalu”.

Jadi memang sangat jelas, di bagian ketiga itu, saya sedang membaca laporan Ainul Mardiyah kepada Sang Kadi (Si Buduk), melalui kutipan yang disampaikan oleh si ”saya”, yakni sang penulis cerpen.

Begitulah. Membaca cerpen ini diam-diam saya tersandera oleh dua teka-teki, yakni perihal ”kisah yang lebih panjang” dan kemuskilan pergantian sudut pandang cerita di bagian kedua (Pertemuan yang Langka). Cerpen berakhir hanya sampai pada bagian investigasi Ainul Mardiyah terhadap Si Ujud. Belum sempat dikisahkan kelanjutan rencana (skenario) pembunuhan terhadap Sultan Nurruddin. (Apakah rencana pembunuhan itu berhasil atau tidak). Di situ saya baru memperoleh sebagian dari drama rencana pembunuhan yang melibatkan hubungan-hubungan rumit dari pihak-pihak yang terlibat. Cerita belum memasuki bagian-bagian yang menentukan dari pelaksanaan rencana pembunuhan seperti yang termaktub dalam judul.

Saya menduga bahwa cerita ini memang belum selesai dan akan berlanjut di tempat lain. Barangkali itulah yang disebut sebagai ”kisah yang lebih panjang”. Maka tak mengherankan jika si penulis memberi judul cerpen ini ”Pengantar Singkat untuk Rencana Pembunuhan Sultan Nurruddin”. Atau lebih tepatnya: ”Sebuah Ringkasan Bagian Awal dari Kisah yang Lebih Panjang Perihal Rencana Pembunuhan Sultan Nurruddin”.

Tentu, dalam ringkasan awal tersebut saya belum banyak mendapatkan informasi mengenai siapa Sultan Nurruddin. Apakah tokoh ini benar-benar ada dalam sejarah atau hanya sosok rekaan belaka. Saya hanya diberi beberapa informasi yang berkaitan dengan konteks cerita dalam cakupan yang lebih luas melalui penyebutan nama-nama seperti Lamuri sebagai nama kuno dari negeri Aceh, nabi Khaidir (atau Khidir) dan Sulaiman yang dikaitkan dengan batu permata Mutiara Tuhan. Nabi Khidir ini bagi sebagian orang Islam diyakini sebagai Nabi gaib karena sosoknya secara fisik kadang tampak nyata kadang tidak dan hidup sepanjang masa sebagai penghulu segala ilmu yang berkaitan dengan rahasia (mistik) keabadian. Seseorang yang menjalani laku spiritual akan menemukan pertanda terbukanya tabir Kebenaran jika telah bertemu dengan Nabi Khidir, entah di tepi sungai, di dasar lautan atau dalam puncak keheningan kontemplasi yang menembus ruang dan waktu. Sementara Nabi Sulaiman adalah raja besar yang menguasai banyak dimensi dan rahasia makhluk hidup termasuk bahasa hewan. Jadi, ketika batu permata Mutiara Tuhan dikait-kaitkan dengan dua Nabi Allah tersebut maka dapat dipastikan memiliki segala daya gaib yang tak terpermanai. Ada juga disebut Persaudaraan Rahasia Kura-kura Berjanggut (yang lebih dekat pada ungkapan mengenai segala sesuatu yang mustahil), Tumasik (Singapura), Negeri Khorasan (Persia), Penghuni Kepulauan Sulu, Perompak Kastilia, Numfur (daerah dekat Biak, Papua), dan sebagainya.

Tentu, seluruh nama-nama dan tokoh cerita yang terlibat beserta elaborasi singkat yang menyertainya itu dapat kita kaitkan dengan kemungkinan acuan sejarah yang melingkupinya. Tapi acuan semacam itu hanya bagian lain dari suatu proses pembacaan sebuah teks yang berdiri sendiri. Saya tak menemukan uraian sejarah atau situasi sosial dari suatu masa tertentu dalam sejarah negeri Aceh (Lamuri) dalam kaitan dengan penggalan riwayat hidup Sultan Nurruddin. Saya tidak diajak untuk menelusuri suatu setting sejarah tertentu, tapi sekaligus juga tidak dijebloskan pada liku-liku cerita fantasi alias dongeng yang melayang di ruang kosong antah berantah. Kisah mengenai perjalanan panjang batu permata Mutiara Tuhan, petualangan armada laut (termasuk para perompak), kedudukan Sultan Nurruddin di Aceh dan hubungannya dengan kesibukan bahari yang berlalu lalang dari seluruh penjuru dunia sebagai fakta sejarah dapat diaduk-aduk bersama kisah-kisah ajaib perihal kutukan yang bercokol dalam batu pertama tersebut, perjalanan Tuhan ke arah barat, pertemuan sembilan pemimpin Persaudaraan Rahasia Kura-kura Berjanggut (di Tumasik), pertemuan antara Ainul Mardiyah dengan Si Buduk (plus adegan unik ketika Ainul Mardiyah menganggap bahwa Si Buduk adalah Tuhannya), dan pesona ajaib kisah bumbu hitam.

Di situ saya terharu-biru oleh rangkaian pesona imajiner yang berkaitan dengan situasi magis dari tempat-tempat dan pihakpihak yang terlibat dalam cerpen sebagaimana pernah dinisbatkan dalam hikayat-hikayat lama, serat atau tambo yang dipenuhi kisah-kisah ajaib pada masa silam. Lautan kisah pada masa silam yang penuh dengan pesona ajaib itu merupakan bentukbentuk ringkasan dari ”kisah yang lebih panjang” yang berada di belakangnya, menjulur ke segala arah dan telah melahirkan kisahkisah baru, saling berkelindan dengan narasi sejarah yang diyakini sebagai rangkaian fakta-fakta, atau sebaliknya hablur dengan narasi-narasi spekulatif dan imajiner yang terus berkembang biak menyebar seperti jejaring tanpa tepi.

Walhasil, cerpen menjadi sebuah teks yang penuh kemungkinan. Ia bukan sekadar kisah rencana pembunuhan sebagaimana dalam cerita detektif biasa karena ia mencampuradukkan segala kemungkinan: mitos, cerita rakyat, hikayat, magi, dan acuan sejarah sebagai kilasan-kilasan yang berputar seperti kalaideskop kisah yang tumbuh pada konteks tak bertuan. Semua kilasan itu oleh si penulis diaduk lagi menjadi teks yang penuh dengan fantasi mengenai sejarah yang dapat disusun ulang berdasarkan kemungkinan lain: kenyataan sebagai kisah-kisah yang direkonstruksi justru untuk memperkaya ingatan imajiner mengenai kenyataan sejarah itu sendiri. Di sini sejarah bukan sekadar kumpulan fakta atau rekonstruksi kejadian faktual melainkan juga rangkaian imajinasi yang mendukung terbentuknya rekonstruksi tersebut. Berbagai mitos dan kisah ajaib yang melahirkan rekonstruksi itu dapat keluar masuk dan menembus batas-batas antara yang nyata dan tidak nyata. Ia menerabas dan merasuk pada cara-cara bagaimana suatu kenyataan direpresentasikan.

Maka saya sebagai pembaca pun terjerumus pada kenikmatan permainan pencampuradukan berbagai acuan representasi di luar teks yang berkaitan dengan dimensi-dimensi faktual dan imajiner (sebagai sejarah) yang tersusun dari rekonstruksi suatu peristiwa yang boleh jadi memang pernah dan mungkin terjadi (atau tidak sama sekali), beserta segala kemungkinan representasi yang menembus batas-batas rekonstruksi rangkaian peristiwa faktual sebagaimana yang terdedah melalui kisah-kisah ajaib pada masa silam. Saya tak merasa aneh ketika ditunjukkan bahwa sejarah Lamuri adalah semacam rangkaian kisah (tertulis atau lisan) yang berada di antara tumpukan surat-surat perjanjian dagang dan politik dari Sultan Nurruddin dengan raja-raja manca negara, pedagang laut, perompak dan para iblis penakluk lima penjuru samudra. Juga hikayat-hikayat, cerita rakyat, kisah kaum petualang yang bertarung dengan siluman yang berhasil mereguk air abadi, kapten Davy Jones yang berhasil membunuh waktu dengan mencabut jantung sendiri lalu menanamnya pada sebuah pulau di ujung dunia, dan sebagainya dan sebagainya. Sejarah dapat disusun menjadi kisah-kisah baru yang mengisi ruang di sela-sela tumpukan narasi yang menyembul dari pesona hikayathikayat lama itu yang kemudian disusun ulang oleh si pencerita menjadi kisah-kisah ajaib baru yang berpusar ke berbagai arah.

Saya menduga rangkaian kisah semacam itulah yang disebut dalam cerpen ini sebagai ”kisah yang lebih panjang”. Bagi saya tidak penting lagi apakah dalam sejarah (faktual) benar-benar pernah terjadi rencana atau siasat pembunuhan terhadap Sultan Nurruddin yang dilakukan oleh Persaudaraan Rahasia Kurakura Berjanggut. Nama persaudaraan ini sendiri adalah sebuah metafora untuk suatu usaha yang mustahil diwujudkan. Ketika Ainul Mardiyah bertemu Tuhannya (yakni Si Buduk), ia mengajak junjungannya itu kembali ke Numfur. Sementara Numfur adalah nama suatu daerah di ujung timur Nusantara (di sekitar Biak, Papua).

Cerpen ini mengajak saya untuk membayangkan situasi kesibukan laut pada masa Sultan Nurruddin hidup di Aceh yang sudah mengenal Papua hingga Kastilia (Spanyol). Saya juga diajak untuk membayangkan bahwa begitu banyak ”kisah yang lebih panjang” yang menyangkut narasi-narasi ajaib perihal kehidupan laut yang begitu luas itu. Tapi, seperti telah disebutkan, pagi-pagi saya sudah diberi peringatan bahwa cerpen ini hanya kutipan atau ringkasan pendek, sebuah pengantar singkat dari suatu versi ”kisah pembunuhan” Sultan Nurruddin, di antara berbagai kemungkinan kisah yang dapat tersusun dengan melibatkan kehidupan orangorang di sekitar bangsa Lamuri pada masa silam.

Jadi, saya tak merasa perlu melacak di manakah ”kisah yang lebih panjang” itu berada. Tapi lantaran penasaran, saya pun menghubungi Azhari, sang penulis cerpen. Dia mengatakan bahwa cerpen ini adalah ringkasan dari sebuah teks yang lebih panjang. Versi lengkap itu masih dalam proses penyempurnaan. Dan hingga kini saya belum menerima versi panjang tersebut. Jika sudah membaca versi tersebut boleh jadi beberapa hal yang masih menggantung dalam cerpen ini akan terjawab. Dan terlepas dari ”cacat” berupa peralihan sudut pandang penceritaan yang musykil itu, cerpen ini ditulis dengan bahasa yang lancar mengalir sekaligus sangat terukur, rapi dan lengkap sebagaimana bahasa tulis yang ”baik dan benar”. Pemberian judul, penyusunan kalimat (subjek, predikat dan kata keterangan dengan lengkap) serta kalimat kompleks yang muncul di sana sini, menunjukkan bahwa cerpen ini secara sadar disusun sebagai teks tertulis.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »