Beberapa Catatan Perihal Cara Berkisah dalam Cerpen (2)

ADMIN SASTRAMEDIA 5/29/2019
oleh Wicaksono Adi

Cerpen berikutnya yang saya baca adalah cerpen berjudul ”Semua untuk Hindia” karya M. Iksaka Banu. Di bagian akhir cerpen terdapat catatan sebagai berikut:

Pieter Brooshooft (1845-1921) adalah wartawan, pemimpin redaksi harian De Locomotief. Tokoh Politik Etis bersama Conrad Theodor van Deventer.

Pada peristiwa Puputan 20 September 1906, sejumlah besar wanita sengaja melempar uang kepeng atau perhiasan sebagai tanda pembayaran bagi serdadu Belanda yang bersedia mencabut nyawa mereka.

Tokoh Pieter Brooshooft disebut dalam percakapan antara tokoh utama cerpen ini, yakni Bastiaan de Wit dengan Baart Rommeltje seorang pegawai Dokumentasi Negara. Mereka sedang berada di Bali meliput perang puputan yang legendaris itu. Bastiaan de Wit adalah seorang wartawan De Locomotief yang menjalin persahabatan dengan Anak Agung Istri Suandani, seorang perempuan cerdas dari lingkungan Puri Kesiman, Bali. Sebagaimana diketuhi umum, perang Puputan berlangsung antara kerajaan Badung (yang terdiri atas Puri Denpasar, Puri Pamecutan dan Puti Kesiman), dengan pihak kolonial Belanda. Anak Agung Istri Suandani kira-kira mirip Kartini yang menjalin persahabatan (melalui surat-menyurat) dengan orang Belanda. Sebagaimana diketahui oleh umum pula bahwa dalam perang itu pasukan dari ketiga Puri yang menggunakan senjata tradisional dalam perang yang tak seimbang. Dapat dikatakan bahwa prajurit dan keluarga puri menyongsong maut untuk dibantai oleh serdadu Belanda.

Saat itu Puri Denpasar dipimpin oleh seorang raja yang masih muda dan belum beristri, sementara Puri Pamecutan dipimpin oleh raja yang sudah uzur. Si raja tua (Pamecutan) ingin menyatukan kedua puri dengan cara mengawinkan anak gadisnya dengan raja Denpasar. Tapi anak gadisnya itu sudah punya pacar. Dan demi mematuhi perintah ayahnya, si anak gadis menurut saja ketika dikawinkan dengan raja Denpasar. Lalu ketika terjadi perang puputan, si raja muda (Puri Denpasar), si gadis dan bekas pacarnya, maju bersama menyongsong maut. Dan mereka bertiga akhirnya memang tewas di medan perang. Seluruh keluarga puri tumpas tanpa sisa.

Demikian juga yang terjadi dengan keluarga Puri Kesiman, termasuk Anak Agung Istri Suandani. Semua sengaja mencari mati berkalang tanah ketimbang takluk kepada penjajah. Pada saat pembantaian itu terjadi, de Wit (sebagai wartawan yang bertugas meliput perang), berada bersama para serdadu Belanda menyaksikan langsung keluarga Puri Kesiman yang menghambur menyambut peluru serdadu Belanda. Tentu, banyak drama yang dapat dikembangkan menjadi cerita pendek (bahkan juga roman) dari peristiwa besar semacam itu. Tapi rupanya M. Iksaka Banu tidak mengangkat kisah cinta segi tiga antara raja Denpasar-Putri Pamecutan dan pacarnya (yang berakhir dengan maut lewat pembantaian perang puputan), melainkan mengambil tokoh putri cerdas dari Puri Kesiman. Putri Kesiman ini digambarkan sangat fasih berbahasa Belanda. Saat berkenalan dengan Anak Agung Istri Suandani Bastiaan de Wit bertanya: ”dari mana belajar bahasa Belanda begini baik?” Suandani menjawab: ”Dari tuan Lange, dan dari koranmu. De Locomotief”, engkau tersenyum manis. ”Mijn beste nieuwsblaad.”

Berdasar keterangan tersebut kemungkinan besar komunikasi di antara mereka berdua berlangsung dalam bahasa Belanda. Tapi kemunculan kalimat dalam bahasa Belanda itu mengingatkan saya ketika membaca roman Para Priyayi karya Umar Kayam. Dalam roman itu terdapat adegan dialog antara Romo Sosrodarsono dengan anak-anaknya yang terjadi di sekitar masa revolusi. Mereka hidup di daerah Ngawi, Jawa Timur. Dapat dipastikan bahwa komunikasi dalam roman itu berlangsung dalam bahasa Jawa. Tapi anehnya, saat menyebut beberapa istilah Jawa, Romo Sosrodarsono kemudian memberi terjemahannya dalam bahasa 

Indonesia. Mungkinkah itu terjadi? Bukankan mereka samasama orang Jawa dan hidup di daerah pedalaman pada masa awal terbentuknya republik? Kenapa Romo Sosrodarsono seperti berbicara kepada orang (non-Jawa) ketika berbincang dengan anak-anaknya yang sama-sama orang Jawa? Lagian, apakah pada masa itu bahasa Indonesia sudah jadi bahasa sehari-hari di dalam keluarga para priyayi di daerah Ngawi, Jawa Timur?

Kemungkinan besar hal itu terjadi karena Umar Kayam saat menulis roman membayangkan bahwa pembacanya kelak bukan hanya orang Jawa, maka dia merasa perlu memberi terjemahan istilah-istilah tertentu yang sukar dimengerti. Hal itu dapat diterima jika berlangsung pada bagian narasi dan bukannya pada bagian dialog. Dalam dialog antara anak-bapak yang sama-sama orang Jawa dan sehari-hari berbahasa Jawa, sangat mustahil jika satu pihak memberi terjemahan istilah-istilah tertentu dalam bahasa lain (dalam hal ini bahasa Indonesia). Situasi serupa juga saya jumpai ketika membaca roman Bekisar Merah karya Ahmad Tohari dengan tokoh-tokoh cerita yang hidup di Karangsoga, di pedalaman Jawa Tengah, sekitar 1960-an. Seluruh bangunan narasi dan dialognya mengesankan dengan kuat bahwa mereka seolah-olah berbicara dalam bahasa Indonesia.

Hal itu merupakan bentuk anakromisme bahasa yang kadang tidak disadari oleh beberapa penulis Indonesia yang biasanya disebabkan oleh kesalahan dalam penggunaan konteks pragmatik dari bahasa-bahasa daerah yang sangat kaya itu. Munculnya kalimat dalam bahasa Belanda, yakni ”Mijn beste nieuwsblaad”, dalam dialog antara de Wit dan Suandani merupakan bentuk kesalahan penggunaan konteks yang telah mengacaukan seluruh posisi penuturan cerita. Pada awal cerpen terdapat surat Suandani (yang pasti ditulis dengan bahasa Belanda). Dalam cerpen ini surat itu ditampilkan dalam bahasa Indonesia. Artinya, cerpen ini memang ditulis dengan bahasa Indonesia, meski tokoh-tokohnya berbahasa Belanda dan Bali. Maka penggunaan bahasa Belanda hanya mungkin terjadi pada bagian narasi, karena hal itu mengandaikan posisi pencerita yang sedang berbicara kepada pembaca cerita. Adapun di bagian dialog hal itu hanya mungkin dilakukan untuk penyebutan nama-nama (orang, benda atau tempat), seperti surat kabar De Locomotief itu. Dialog mengandaikan sebuah laku ujaran antara dua pihak yang menggunakan bahasa tertentu. Munculnya pernyataan ”Mijn beste nieuwsblaad” dalam dialog antara de Wit dan Suandani hanya mungkin jika dua orang ini berbicara dalam bahasa yang berbeda. Tapi seperti telah disebutkan, kedua tokoh cerita tersebut kemungkinan besar berbicara dalam satu bahasa, yakni bahasa Belanda, dan karena cerpen ini ditulis dalam bahasa Indonesia maka kalimat ”Mijn beste nieuwsblaad” seharusnya berbunyi: ”Koran kami yang terbaik”. 

Secara keseluruhan cerpen ini ditulis dengan sangat lancar dan hidup. Tapi gara-gara satu kalimat dalam bahasa Belanda yang nyelonong begitu saja itu tampak bahwa cerpen ini telah melabrak pilihan posisi penggunaan bahasa yang telah dibangunnya sendiri. Sebuah bentuk narasi memang pada dasarnya menuntut kejelasan posisi dan konteks dari bahasa-bahasa yang digunakan pada setiap bagiannya sehingga secara keseluruhan tersusun koherensi yang jelas pula. Tapi harap jangan salah mengerti bahwa koherensi di sini bukan pada aspek tata bahasa tetapi pada aspek pragmatiknya.
***

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »