Beberapa Catatan Perihal Cara Berkisah dalam Cerpen (7)

ADMIN SASTRAMEDIA 5/29/2019
oleh Wicaksono Adi


Koreografi adalah kegiatan omong-omong. Barangkali sebagian orang berpikir bahwa omong-omong itu merupakan pendahuluan untuk suatu dialog gerak dalam cakupan koreografi yang lebih luas dan koheren. Tapi ternyata mereka tidak menari bersama dalam suatu karya koreografi yang utuh dan hanya menuntaskan omong-omong sebagai omong-omong saja. Jikalau pun mereka menari bersama itu hanya bagian dari penjelasan lebih rinci dari omong-omong itu. Mereka berhenti pada saat harus berhenti, lalu surut ke belakang panggung, kembali pada diri mereka masing-masing, dan pertunjukan pun usai.

Itulah momen pertemuan dengan orang lain yang dapat terjadi pada siapa saja dalam kehidupan sehari-hari. Di situ orang tak perlu menetapkan prospek tertentu dengan tujuan akhir yang pasti. Dalam suatu peristiwa pertemuan masing-masing pihak tidak harus terbelenggu oleh hasrat untuk mendapatkan ”solusi akhir” atau apa pun namanya. Kadang cukuplah menikmati jalannya perbincangan yang dapat membuka blokade daya-daya impersonal untuk menyingkap daya-daya personal yang ada pada diri masing-masing peserta dialog. Artinya, proses dialog kadang lebih mengasyikkan ketimbang hasilnya.

Itulah salah satu contoh gejala perluasan ”bobot kehadiran” dalam karya seni. Dan jika menengok perkembangan di bidang seni rupa, kita akan menjumpai lebih banyak gejala perluasan ”bobot kehadiran” itu dalam bentuk yang bermacam-macam pula. Dalam bidang seni rupa gejala semacam itu biasanya didorong oleh ketidak puasan—bahkan ketidak percayaan—kaum seniman terhadap seni rupa konvensional yang meletakkan ”bobot kehadiran” karya pada dimensi yang paling mendasar dan tercakup pada media dwimatra (lukisan di atas kanvas dan kertas dengan cat minyak atau akrilik), dan trimatra (patung dengan bahan kayu, batu, logam dan resin) beserta berbagai tingkat perluasan kemungkinan estetik yang telah disepakati secara spesifik.

Dalam seni rupa konvensional ”bobot kehadiran” seni rupa cenderung bertumpu pada formalisasi media yang kemudian dibakukan melalui serangkaian kreasi individual yang unik sebagai hasil dari sentuhan jenius sang seniman dalam prosedur yang baku pula. Ini yang kemudian disebut sebagai ”seni murni”. Tapi semenjak munculnya gerakan Dadaisme di Eropa dan Amerika, bobot kehadiran semacam itu mulai bergeser ke wilayah kemungkinan yang lebih cair; bahwa segala sesuatu adalah media, dan media adalah segala sesuatu. Media dan bentuk yang tercakup di dalamnya tidak melulu muncul dari ”material resmi” yang sudah lazim melainkan pada segala benda yang dapat dijumpai di mana saja: kloset, perkakas kerja, barang-barang bekas, hingga sampah sekali pun. Seni tersebut lazim disebut sebagai seni instalasi.

Kemudian kita juga menyaksikan gejala meluasnya seni rupa aksi seperti performance art, happening art, demo di jalanan, seni publik, seni lingkungan, seni politik hingga tindakan-tindakan estetis yang berbau mistik dan seterusnya dan seterusnya. Bahkan ada seniman yang menciptakan bobot kehadiran karya-karyanya melalui apa yang disebut sebagai ”kerja”: bahwa seni rupa bukan sekadar wahana untuk menciptakan monumen-monumen estetik paripurna melainkan terjemahan langsung dari kegiatan si seniman di tengah masyarakatnya. Pada saat yang sama juga muncul seni yang merayakan fleksibilitas spasio-temporal yang fantastik bersamaan dengan kian terbukanya media cyber dunia digital dan kemajuan teknologi audio-visual yang kian menakjubkan itu.

Kelenturan dan perluasan ”bobot kehadiran” tersebut juga diiringi meluasnya ”seni kolaborasi”, yaitu seni yang dibuat oleh lebih dari satu seniman, baik seniman yang berasal dari tempat berbeda (yang sebelumnya tak pernah saling kenal), maupun beberapa seniman dengan latar belakang disiplin yang berbeda seperti seniman seni rupa dengan seniman teater, komposer, koreografer maupun seniman audio-visual. Seni yang semula dianggap sebagai hasil ciptaan individual kini dapat diciptakan bersama-sama oleh lebih dari satu individu. Bahkan ada seni yang diciptakan oleh beberapa orang seniman bersama-sama dengan publik, entah itu publik dalam arti penonton seni maupun dengan masyarakat umum. Seni jenis ini sering diciptakan dalam suatu komunitas atau kelompok masyarakat tertentu dan digelar di tempat-tempat umum, di jalan raya, di sungai, persawahan dan sebagainya, yang kemudian disebut sebagai seni publik. Dalam seni semacam ini yang dipentingkan adalah peristiwa kerja bersama tersebut dan bukannya pada hasil yang diciptakan. Seni bukan suatu ”benda” tapi sebuah proses.

Tujuan seni semacam ini bukan untuk menciptakan atau menyodorkan sesuatu yang sudah jadi, utuh dan final. Ia tak hendak membuat monumen-monumen tapi hendak mengajak pihak-pihak yang terlibat untuk menikmati proses kerja bersama tersebut. Jadi, proses dianggap lebih mengasyikkan ketimbang hasil akhirnya. Dan dalam proses tersebut pihak-pihak yang terlibat tak harus memperoleh sesuatu yang jelas dan gamblang. Seni rupa dibayangkan sebagai rangkuman dari segala yang tak beraturan dan kadang tak terurai namun dapat disentuh sebagai kesatuan mandiri maupun dalam hubungannya dengan bentukbentuk ungkapan serupa di sekitarnya yang juga berkaitan dengan berbagai realitas yang paradoksal, antagonistik, terpecah-pecah, kadang bergerak menuju titik tertentu kadang menyebar dan saling bertentangan. Dan karena mustahil merangkum seluruh dimensi realitas semacam itu dalam representasi tunggal maka setiap perwujudan seni akan berada dalam pusaran dimensidimensi yang bertolak belakang atau saling sejajar dalam garis tegangan pada momen dan sekuen tertentu dengan pola yang tak dapat ditentukan. Ia menjadi sejenis ungkapan tak beraturan dari daya-daya yang dikenali oleh indera, tubuh dan ruang. Seni adalah pantulan segala yang tak terurai tapi memiliki wujud yang dapat disentuh oleh mata dan pikiran.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »