Beberapa Catatan Perihal Cara Berkisah dalam Cerpen (8)

ADMIN SASTRAMEDIA 5/29/2019


oleh Wicaksono Adi




Dari deskripsi perihal gejala yang berlangsung dalam bidang seni pertunjukan dan seni rupa tersebut, saya hendak mengatakan bahwa dalam proses menikmati karya seni—dalam hal ini proses membaca teks cerpen - kadang kita tak perlu mengharapkan suatu ”cerita” atau berbagai peristiwa di sekitar cerita beserta karakterisasi tokoh-tokohnya yang gamblang utuh bulat, melainkan dapat dengan cara lain, yakni dengan menikmati kalimat-kalimatnya, imajeri-imajeri yang dibuka oleh teks atau menyentuh bentukbentuk deskripsinya. Beberapa cerpen mengajak saya untuk menikmati teks sebagaimana saya berhadapan dengan beberapa gejala yang berlangsung dalam seni pertunjukan dan seni rupa di mana ”proses” perjumpaan dengan elemen-elemen yang membentuk karya tersebut kadang lebih penting dan lebih mengasyikkan ketimbang mencari atau menemukan suatu ”hasil”. 

Menikmati pencampuradukan yang memesona dari berbagai kemungkinan representasi (seperti pada cerpen ”Pengantar Singkat untuk Rencana Pembunuhan Sultan Nurruddin” karya Azhari), penggambaran sebuah situasi ruang yang sangat rinci (pada cerpen ”Ruang Bunuh Diri” karya Zaim Rofiqi), kejutankejutan dari bentuk penuturan yang tengil (pada cerpen ”Tuhan, Pawang Hujan, dan Pertarungan yang Remis” karya AS Laksana, kalimat-kalimat panjang dengan sisipan metafora di sana-sini (pada cerpen ”Sebuah Jazirah di Utara” karya Linda Christanty), dan lain-lain, kadang lebih mengasyikkan ketimbang mencari alur cerita dan karakterisasi tokoh-tokohnya. Sebagaimana telah dikatakan, dalam beberapa cerpen saya tak disodori ”cerita” yang gamblang dan utuh-bulat, melainkan berbagai lekuk-liku penceritaan yang bermacam-macam. 
Dan dalam ”proses” menelusuri lekuk-liku itu kadang saya terseret arus tergulung ke sana sini, kadang kelelahan, tapi pada saat lain justru menemukan semacam gairah dan keasyikan tersendiri untuk memulai semuanya dari awal, membaca setiap cerpen secara berulang-ulang. 

Menikmati cerpen dengan cara semacam itu bagi saya terkadang dapat membangkitkan kembali sejumput harapan; bahwa masih ada sesuatu yang berarti selain luapan rasa mual dan jijik akibat hamburan kata-kata kosong di spanduk-spanduk, poster, selebaran, centang perenang bendera partai dan iklan politik yang mengepung dari segala jurusan berebut ruang dengan berita bajir, iklan SMS ”ketik Reg…”, perang kotor di beberapa belahan dunia, PHK, hamburan infotainment, siaran sepak bola, berita pembunuhan dengan mulitasi, perampokan, orang-orang miskin yang antre BBM, kapal tenggelam dan sebagainya dan sebagainya.***

WICAKSONO ADI, menempuh pendidikan di Fakultas Teknik Sipil Universitan Islam Indonesia dan Jurusan Seni Lukis, Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia (ISI), Yogyakarta. Kini menetap di Jakarta dan menulis berbagai ulasan yang diterbitkan di beberapa media massa cetak, berupa ulasan sastra, seni rupa, seni pertunjukan dan film.

_____
Sumber: 20 Cerpen Indonesia Terbaik 2009 Anugerah Sastra Pena Kencana, Penyunting: Triyanto Triwikromo, Gramedia, 2009

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »