Beberapa Catatan Perihal Cara Berkisah dalam Cerpen (4)

ADMIN SASTRAMEDIA 5/29/2019
oleh Wicaksono Adi

Ada cerpen yang membuat saya ingin membacanya berulangulang, yakni ”Tuhan, Pawang Hujan, dan Pertarungan yang Remis”, karya AS Laksana. Cerpen ini tidak memberikan saya penggambaran suasana atau situasi tertentu melalui deskripsi yang rinci dari segala ihwal yang membentuk struktur cerita atau pencampuradukan yang memukau dari berbagai konteks yang membentuk struktur teks, melainkan pada cara bercerita yang sangat unik: penggambaran karakter cerita dan perkembangan alur yang diungkapkan secara sarkastik, konyol dan di sana-sini agak ugal-ugalan. Saya juga merasakan nada humor yang kuat, bahkan sejak paragraf awal yang berbunyi sebagai berikut:

”Fakta pertama, gadis itu cantik dan itu membuat Alit kikuk dan itu membuatnya tiba-tiba menyadari pentingnya bakat. Fakta berikutnya, para penjual motivasi selalu mengatakan kepadamu bahwa untuk menjadi ini itu kau tidak memerlukan bakat. Alit pernah meyakininya ketika ia memutuskan belajar sulap, tetapi belakangan ia tidak percaya pada bujukan itu. Ia kembali yakin pada bakat. ”Jika bakatmu adalah pawang kera”, katanya, ”kau pasti akan lebih beruntung menjadi pawang kera ketimbang memaksakan diri menjadi penulis atau menjadi tukang ketik. Dan jika kau mengembangkan diri menurut bakatmu, suatu saat kau bahkan bisa meningkatkan diri menjadi pawang gorila”.

Jelas perkaranya adalah Alit yang sedang jatuh cinta pada seorang gadis berusia 13an lantaran jatuh cinta ia menjadi sangat kikuk. ”Alit berusia 24 tahun dan sebenarnya sudah beberapa kali kikuk”. Ia mengutuki dirinya karena sikapnya itu. Padahal ia tahu bahwa dirinya seorang tukang sulap. Dan seorang tukang sulap tidak selayaknya kikuk. Maka, ia memutuskan bahwa dirinya tak punya bakat dalam bidang sulap. Ia memutuskan bahwa dirinya lebih berbakat menjadi pawang hujan. ”Seminggu sesudah kejadian itu ia berhenti menyulap dan pada hari ke delapan ia merasa terdorong menjadi pawang hujan”.

Maka Alit pun belajar pada pawang hujan mumpuni. Ia berpikir jika nanti sudah berhasil menjadi pawang hujan hebat, ia pasti dapat menundukkan awan. ”Atraksi mengendalikan awan-awan di langit akan menjadi pertunjukan luar ruang yang ampuh… Dan mestinya tak sulit-sulit amat bagi pesulap ampuh untuk memikat gadis cantik berpenampilan kusam”. Tapi gurunya mencium akal bulus itu, dan memperingatkan Alit bahwa seorang pawang hujan pantang ”mempermainkan awan, apalagi untuk tujuan-tujuan atraksi”. Alit menurut. Dan setelah menjalani ”bakatnya” yang baru itu selama beberapa tahun akhirnya ia menjadi pawang hujan yang cukup sukses.

Tapi pada suatu saat ia merasa sangat kecewa dengan bakatnya sebagai pawang hujan. ”Untuk kali pertama selama menjalani kepawangan, ia merasa Tuhan telah memberi bakat yang keliru, atau bakat yang tak ada gunanya. Dengan bakat cemerlangnya menghalau awan-awan, ia toh tak mampu memikat gadis yang membuatnya kikuk sejak pandangan pertama”. Dan gadis itu kemudian justru menikah dengan seorang ”lelaki yang sama sekali tidak pantas untuk dibilang jodohnya”. Celakanya, Alit diminta oleh sang gadis untuk menjadi pawang hujan pada acara pernikahan tersebut. ”Sungguh Tuhan telah memberinya bakat yang tidak berguna, bakat yang tak mampu menyelamatkan gadis itu dari pesona si bandot”. Lebih celaka lagi, si gadis justru kemudian menjadi seorang pesulap, dan dalam banyak pertunjukan sulapnya ia selalu meminta Alit untuk menjadi pawang hujannya.

Oleh karena itu, sekali lagi Alit memutuskan bahwa Tuhan telah membuat kekeliruan besar. Pertama, perihal bakat yang salah, dan kedua menjodohkan si gadis dengan si bandot. ”Maka, tak ada jalan lain, Tuhan dan keputusan-Nya yang keliru harus dilawan...Tuhan telah menyakitinya dalam urusan perjodohan, maka Alit memutuskan bertarung dengan Tuhan di wilayah yang lain yang Dia merasa paling berkuasa—soal kematian. Ia bersumpah tak akan pernah membiarkan kematiannya menjadi urusan Tuhan; ia hanya mau mati karena ia sendiri yang menghendaki kematiannya”.

Alit pun memutuskan untuk bertarung dengan Tuhan. Ia mencoba bunuh diri, tapi ternyata gagal. Maka, ia mengambil kesimpulan bahwa ”…Tuhan telah bertindak curang dengan cara mengirimkan malaikat berupa pengemis untuk menggagalkan upayanya. Pertarungan berakhir remis.” 

Begitulah kisah perihal si Alit (sebagai lelaki tukang sulap dan pawang hujan) yang dengan gampang mengambil keputusan demi keputusan terhadap jalan hidupnya dengan enteng tapi sesungguhnya menyimpan kepedihan yang wajar. Tapi lantaran kepedihan dan kesengsaraan itu diceritakan dengan cara yang tengil, dengan kalimat-kalimat yang mengandung sarkasme tajam di sana sini, sesuatu yang tragis tersebut berubah menjadi kisah yang lucu. Setiap kali membaca ulang cerpen ini saya selalu tertawa. Secara tidak sadar saya telah dibawa menuju titik ekstrem dari ”tragedi” yang meluncur menuju sebuah ”komedi”. 

Cerpen ini membuka mata saya: jangan-jangan memang benar ungkapan yang mengatakan bahwa puncak dari ”tragedi” adalah ”komedi”. Dan siapa pun tahu bahwa menulis dengan humor atau menyusun sebuah kisah ”komedi” bukan pekerjaan gampang. Bagi saya, AS Laksana adalah seorang penulis dengan ”bakat” tukang sulap yang mampu mengubah hal-hal biasa (seperti kisah perihal si Alit itu) menjadi ”komedi”. Dulu saya menemukan ke-tengil-an yang lebih dahsyat pada sebagian besar karya Budi Darma. Dalam kadar yang berbeda, saya juga menemukan hal serupa pada karya-karya Gerson Poyk dan Jajak MD serta karyakarya Putu Wijaya. Jika pada karya-karya Putu Wijaya ”humor” dan ”komedi” biasanya tercipta melalui alur yang berkembang berdasarkan suatu peristiwa yang kemudian melahirkan peristiwa runtutan secara tak terduga, pada karya-karya Budi Darma dan AS Laksana aroma tengil dan humor itu tidak hanya muncul dari alur beserta runtutan peristiwa yang melingkupinya melainkan juga pada sekujur tubuh kisah itu sendiri.

Saya juga mencium aroma humor pada cerpen ”Usaha Menjadi Sakti”, karya Gunawan Maryanto. Cerpen tersebut dibuka dengan kalimat sebagai berikut: ”Setelah gagal memperoleh kesaktian dengan jalan bertapa di kebun belakang rumah, aku jadi tak banyak bicara. Hanya Budi yang tahu kesedihanku. Dia pula satu-satunya orang yang tahu bahwa aku pernah bertapa di bawah pohon melinjo yang kelak tumbang berbarengan dengan meninggalnya ibuku. Tak perlu kuceritakan bagaimana jalannya samadiku yang pertama dan terakhir itu. Yang terang, itu tak sehening Begawan Ciptoning di cerita wayang. Tak ada setan atau bidadari yang menggoda dan duduk di pahaku. Tak ada Narada atau Jibril yang datang membawa wahyu. Cuma sejumlah semut rangrang, menggigitku berulang-ulang”.

”Seminggu setelah kegagalan itu, Budi datang membawa kabar bahwa Antok, anak pawang ular yang tinggal di ujung timur kampung, telah mengangkat dirinya menjadi guru”. Maka, si aku pun memutuskan untuk berguru kepada si Antok, agar menjadi manusia sakti. Tentu, si aku harus membayar imbalan dengan jumlah tertentu agar mendapat kesaktian dari gurunya itu. Dan setelah melalui prosedur yang yang ditentukan oleh sang guru, si aku (dan Budi) menjalani proses penggemblengan. Ilmu-ilmu kesaktian yang akan diberikan oleh sang guru tergantung pada paket (berdasarkan jumlah bayaran) yang disediakan oleh sang murid. Ada ilmu Brajamusti, Lembu Sekilan, Kethek Putih, Welut Putih dan Topeng Waja. (Setiap ilmu memiliki harga yang berbeda-beda). 

Sejak membaca bagian awal cerpen ini saya yakin bahwa saya sedang berhadapan dengan cerita yang lucu. Dan memang benar, saya kemudian bertemu dengan beberapa adegan proses ”penurunan” ilmu dari sang guru kepada muridnya yang membangkitkan tawa. Tapi cerpen ini sebenarnya memerlukan catatan kaki yang menjelaskan beberapa istilah khusus bagi para pembaca yang tidak begitu akrab dengan khazanah perwayangan Jawa yang berkaitan dengan seluk-beluk dunia mistik kejawen. Di awal cerpen disebut Begawan Ciptoning, Narada dan bidadari yang duduk di paha. Begawan Ciptoning adalah tokoh besar atau figur mumpuni atau sebutan bagi orang yang gentur (sangat asketis dan bersungguh-sungguh) dalam bertapa. Biasanya orang bertapa dengan tujuan untuk meraih sesuatu. Dan salah satu tokoh ksatria yang memiliki kemampuan bertapa adalah Arjuna (yang sering disebut sebagai lelananging jagad, lelakinya semesta). Ketika ia bertapa akan muncul banyak godaan, terutama dalam bentuk setan mengerikan dan setelah itu para bidadari cantik yang membangkitkan nafsu seks. Para bidadari itu akan berusaha sekuat tenaga merayu dan merangsang (dengan duduk di paha) pihak yang bertapa. Dan jika ia selamat dari godaan itu akan turun perwakilan dewa dari kahyangan untuk memberikan wahyu kepada pihak yang bertapa. Pihak yang menyampaikan wahyu sebagai bukti keberhasilan suatu laku bertapa, biasanya adalah Batara Guru (sebagai raja para Dewa) dan Batara Narada (Dewa senior).

Di cerpen ini juga disebut ajian Brajamusti sebagai ilmu sakti milik Raja Pringgondani, yakni Raden Gatutkaca. Tokoh Gatutkaca dalam perwayangan Jawa dikenal sebagai jagoan duel yang ampuh, anak dari Werkudara atau Bratasena atau Bima, kesatria Pandawa nomor dua (adik Yudhistira atau Puntadewa) hasil perkawinannya dengan Arimbi, putri dari kerajaan Pringgondani. Setelah menguasai ilmu Brajamusti, Gatutkaca kemudian bertahta sebagai Raja di Pringgondani tersebut. Ilmu Brajamusti ini sangat berbahaya karena bagi siapa saja yang menguasinya, ia dapat menghancurkan apa saja yang ada di hadapannya. 

Ada pun keterangan mengenai ilmu Lembu Sekilan, Kethek Putih, Welut Putih dan Topeng Waja, telah dipaparkan cukup jelas di beberapa bagian. Ilmu-ilmu tersebut memang sangat populer di wilayah tertentu di pedalaman Jawa (Tengah dan Timur). Ketika saya hidup di daerah pedalaman Tulungagung, Jawa Timur, kawankawan saya yang masih remaja biasanya mengaji di surau atau ikut perkumpulan bela diri (olah kanuragan). Para kiai dan guru kanuragan akan itu memberi ilmu-ilmu populer tersebut sebagai bekal bagi kaum remaja yang kelak akan boro (mengembara) ke tempat yang jauh guna mengadu nasib. Kaum remaja itu adalah orang-orang miskin yang biasanya hanya berpendidikan Sekolah Dasar dan tak memiliki kemampuan untuk mendapatkan akses pendidikan yang lebih tinggi. 

Maka jika ingin mengembara dan bertarung untuk membangun kehidupan di dunia luas, mereka harus membawa bekal berupa ilmu-ilmu kanuragan tersebut. Selain ilmi-ilmu yang telah disebutkan di atas, masih ada beberapa ilmu populer lainnya, yakni Isim, Macan Sekandhang, Bala Sewu dan Sepi Angin. Jika engkau menguasai Isim, engkau akan memiliki daya refleks yang luar biasa saat menghadapi serangan musuh. Bahkan ketika engkau sedang tidur lalu tiba-tiba diserang musuh, maka dengan tanpa sadar engkau akan dapat menangkis seluruh serangannya. Jika engkau menguasai ilmu Macan Sekandhang, saat engkau dikepung banyak musuh, engkau akan menggeram dahsyat hingga para musuh itu akan lari terbirit-birit karena mereka seolah-olah sedang menghadapi macan satu kandang. Dan jika engkau menguasai ajian Bala Sewu, maka tenagamu berlipat ganda seolah-olah seperti tenaga seribu manusia dijadikan satu. Sementara jika engkau menguasai ajian Sepi Angin maka engkau dapat berlari secepat angin.

Dulu di kampung saya, kami yang berguru tak perlu membayar ilmu-ilmu tersebut kepada sang kiai atau guru kanuragan. Semuanya diberikan secara gratis. Tapi rupanya kini sudah menjadi gejala umum bahwa ilmu-ilmu tersebut dapat diperjual belikan seperti paket-paket klenik atau mistik yang banyak diiklankan di majalah-majalah tertentu. Si aku dan Budi dalam cerpen ini pun harus membayar dalam jumlah tertentu saat berguru kepada si Antok yang anak pawang ular itu.
***

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »