Beberapa Catatan Perihal Cara Berkisah dalam Cerpen (3)

ADMIN SASTRAMEDIA 5/29/2019
oleh Wicaksono Adi

Cerpen berikutnya yang saya baca adalah cerpen ”Kamar Bunuh Diri”, karya Zaim Rofiqi. Pada bagian akhir cerpen ini terdapat catatan sebagai berikut:

Cerita pendek ini adalah variasi atas puisi Wislawa Szymborska, ”The Suicide’s Room”, dalam Wislawa Szymborska, View with a Grain of Sand: Selected Poems, Faber and Faber, 1996, hlm.122123.

Baiklah saya kutipkan bagian pembukaan cerpen tersebut.

I. Ruang Kamar
Kau tentu mengira kamar itu kecil. Terlalu sempit sehingga membuat pikiran sumpek, udara mampet, angan-angan mandek?

Salah. Kamar itu cukup luas, sekitar 3 X 4 meter, cukup untuk menampung lebih dari dua orang. Dindingnya terbuat dari batu bata dan kayu, dengan cat putih yang sudah mulai mengelupas dan berbercak. Langit-langitnya juga tidak terlalu rendah, cukup tinggi untuk menggantungkan angan-angan. Lantainya yang bersih terbuat dari marmer, cukup nyaman dan kokoh untuk dipijak. Dua buah jendela, dengan ukuran yang hampir sama, masingmasing dengan horden berwarna biru, menghampar di dinding, satu di sebelah kanan pintu masuk, satu lagi di sebelah kirinya. Di atas salah satu jendela itu, terpajang dua buah ukiran nama yang terbuat dari kayu: ukiran nama Sang Ketua dan Wakilnya.

Kemudian saya kutipkan bagian awal puisi Wislawa yang dijadikan acuannya.
The Suicide’s Room 
I’ll bet you think the room was empty.
Wrong. There were three chairs with sturdy backs.
A lamp, good for fighting the dark.
A desk, and on the desk a wallet, some newspapers.
A carefree Buddha and a worried Christ.
Seven lucky elephants, a notebook in a drawer. You think our addresses weren’t in it?
No books, no picture, no records, you guess?
Wrong. A comforting trumpet poised in black hands. 

Sebagaimana disebutkan dalam catatan, di situ tampak jelas bahwa cerpen ini merupakan variasi dari sebuah puisi. Teks puisi tidak hanya berposisi sebagai catatan kaki yang diperlukan sebagai acuan yang dapat memperkaya teks cerpen melainkan sebagai bahan awal yang kemudian ditulis ulang atau dikembangkan menjadi teks yang sama sekali baru. Sebagaimana puisi yang dijadikan bahan dasarmya, cerpen ini memang menggambarkan bentuk dan situasi dari sebuah ruang kamar tempat seseorang telah melakukan bunuh diri. Penggambaran ruang itu dilakukan dengan sangat rinci bagian per bagian, mirip lukisan hiperrealistik. 

Peristiwa bunuh diri itu sendiri tidak ditampilkan di sini. Tapi penggambaran ruang dan situasi yang melingkupinya dengan sangat rinci itu perlahan-lahan menggantikan segala pertanyaanpertanyaan yang menuntut jawaban logis perihal suatu peristiwa bunuh diri. Tapi si tokoh yang bunuh diri ternyata tidak meninggalkan jejak-jejak yang mengarah pada alasan-alasan yang masuk akal dan meyakinkan kenapa ia melakukan hal itu. Di bagian akhir cerpen ditegaskan bahwa, ”Memang, kau—dan aku juga—tentu merasa semuanya mungkin akan lebih mudah jika suatu dalih, suatu sebab, suatu alasan yang dapat ditemukan, sebuah alasan untuk menjawab pertanyaan mengapa dan kenapa, sebelum dia diam-diam pergi meninggalkan kehidupan, tanpa mengucapkan ”selamat tinggal”.

Ihwal ketiadaan alasan untuk menjawab pertanyaan ”mengapa” dan ”kenapa” itu tidak dilakukan dengan memberi penjelasan mengenai karakter beserta berbagai peristiwa yang melibatkan si tokoh cerita atau dengan penyusunan dialog yang mendukung penjelasan tersebut, melainkan justru diganti dengan deskripsi rinci dari bentuk dan situasi ruang tempat si tokoh telah melakukan bunuh diri. Ruang itu merupakan jejak dari terjadinya suatu peristiwa. Dan dari jejak itulah cerpen ini bertolak. Aroma maut disusun ulang melalui rekonstruksi benda-benda dan suasana yang melingkupinya hingga ketika membacanya seolah-olah saya dapat menghirup kembali sisa maut yang menempel pada seluruh ruang tempat terjadinya peristiwa tersebut. Dan sebagai sebuah variasi dari suatu puisi, cerpen ini cukup berhasil ”menampilkan” jejak maut dan bukannya ”menyatakan”, menceritakan dan menjelaskan bagaimana maut itu terjadi.

”Penampilan” situasi atau suasana dari situasi tertentu (dalam bentuk yang lain) saya jumpai juga pada cerpen ”Sonata” karya Lan Fang. Pada beberapa bagian terdapat kutipan dari teks lain yang diberi catatan pada akhir cerpen. (Kutipan terbanyak berasal dari puisi-puisi Sapardi Djoko Damono, yakni Sonet 1, Sonet 3 dan Sonet 4). Jika pada cerpen ”Kamar Bunuh Diri”, puisi Wislawa merupakan bahan dasar yang kemudian dikembangkan dan ditulis ulang menjadi cerita pendek, pada cerpen ”Sonata”, teks puisi hanya dikutip pada bagian-bagian tertentu dan seandainya kutipan tersebut dibuang juga tidak akan banyak berpengaruh pada bangunan keseluruhan cerpen. Cara pengutipan semacam itu perupakan hal yang lazim dalam teks apa pun. Saya menjumpai beberapa cerpen (dengan cara pengutipan serupa) yang terbit di media massa cetak akhir-akhir ini. 
***

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »