Beberapa Catatan Perihal Cara Berkisah dalam Cerpen (6)

ADMIN SASTRAMEDIA 5/29/2019
oleh Wicaksono Adi



Hal lain yang perlu saya catat setelah membaca cerpen-cerpen yang terhimpun dalam buku ini adalah munculnya kecenderungan dari apa yang ingin saya sebut sebagai perluasan ”bobot kehadiran” teks cerpen. Dulu bobot kehadiran sebuah cerpen lazimnya bertumpu pada alur cerita dan karakterisasi yang kuat dan utuh. Seseorang menulis cerpen karena memang benar-benar memiliki ”cerita” yang hendak dibagi dengan orang lain. Tapi kini ternyata sebuah cerpen tidak selalu menyodorkan ”cerita” melainkan dapat berupa penggambaran situasi tertentu, deskripsi yang berisi penjajaran peristiwa-peristiwa atau semacam ”monolog interior” dan lain-lain. ”Bobot kehadiran” sebuah cerpen tidak melulu bertumpu pada ”cerita” tetapi dapat meluas menuju hal-hal lain yang mengitari peristiwa atau segala ihwal yang berada di balik ”cerita”. Cerpen dapat bermula dari teks lain, pencapuradukan dan peleburan berbagai teks dengan acuan-acuan yang menyebar serta dapat dikaitkan dengan teks-teks lainnya yang berkaitan atau tidak berkaitan dengan teks cerpen. 

Gejala perluasan bobot kehadiran semacam itu tampak lebih jelas pada bidang teater (atau seni pertunjukan secara umum) dan seni rupa di Indonesia dua puluh tahun terakhir. Saya menyaksikan beberapa pertunjukan (teater dan tari) yang tidak lagi bertumpu pada manusia sebagai sosok (karakter) utuh, sebagai pusat cerita, melainkan pada rangkaian peristiwa, komposisi ruang dan permainan visual. Di situ tubuh dan gerak tidak menjadi pusat pertunjukan melainkan hanya bagian dari susunan ruang dan bangunan visual yang dibangun di atas panggung. Dalam susunan ruang dan bangunan visual tersebut terdapat berbagai peristiwa acak, terpotong-potong, seperti fragmen-fragmen yang seolah tak memiliki struktur utuh. Dari peristiwa yang satu melompat ke peristiwa lain tanpa urutan yang jelas. Kadang antara peristiwa satu dengan lainnya tak terdapat kaitan sama sekali. Saya seperti berhadapan dengan pencampuradukan segala yang absurd, kontradiktif, paradoksal, hamburan mesin simulacrum, timbunan budaya massa, berbagai kebrutalan dunia impersonal akibat politik, kapitalisme, fundamentalisme agama, anarkhi dan omong kosong sekaligus di dalamnya. 

Semua itu seolah-olah hendak menunjukkan bahwa pada saat ini kian sulit menyusun manusia dalam sosoknya yang utuh. Modernitas yang telah menemukan manusia sebagai subjek yang utuh dan otonom ternyata justru kemudian menghancurkan si subjek itu sendiri. Kini manusia hanya dapat disusun dari serpihan-serpihan sejarah, sebagai fragmen-fragmen. Dan manusia yang fragmentatif itu kini hidup dalam dunia yang terpecahpecah pula. Maka sungguh tak mengherankan jika sebagian seniman teater dan tari kemudian menyusun pertunjukan sebagai potongan-potongan ruang dan imaji-imaji visual karena memang demikianlah kondisi manusia dan dunia yang mereka saksikan saat ini. 

Keberadaan dan kondisi manusia kadang tak dapat dilihat melalui satu sudut pandang tunggal tapi harus dilihat dalam kaitannya dengan keberadaan dan sudut pandang orang lain yang berada di sekelilingnya. ”Subjektivitas” dapat dilihat melalui hubungannya dengan subjek-subjek lain, seperti orang yang berhadapan dengan cermin (orang lain) untuk melihat dirinya sendiri sekaligus melihat dan memahami keberadaan orang lain yang terpantul dari cermin tersebut. ”Subjektivitas” adalah suatu proses saling melihat melalui cermin, suatu aktivitas dialog tanpa akhir. 

Salah satu contoh karya yang melakukan perluasan ”bobot kehadiran” dalam seni pertunjukan adalah pementasan tari yang berjudul Pichet and Myself, karya kolaborasi antara koreogragerpenari Prancis Jerome Bel dengan penari Thailand Pichet Klunchun yang dipentaskan dalam acara Indonesian Dance Festival 2008 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. 
Karya ini memiliki latar belakang yang cukup panjang. Pada September 2004 Jerome Bel diundang ke Bangkok oleh kurator seni pertunjukan Singapura Tang Fu Kuen untuk membuat suatu ”proyek”. Jerome berencana melakukan kerja sama—dalam istilah kerennya, kolaborasi—dengan penari tradisional Thailand. Tapi saat berada di Bangkok ia mendapati beberapa kenyataan berupa waktu yang sempit, kota yang hiruk-pikuk semrawut oleh kemacetan sehingga mustahil menyusun program dengan latihan panjang melalui perencanaan yang komprehensif dan matang. 

Tang Fu Kuen kemudian mempertemukan Jerome dengan seorang penari tradisional Thailand yang mumpuni dan memiliki kepekaan terhadap semangat tari kontemporer, yakni Pichet Klunchun. Jerome dan Pichet sebelumnya tak pernah saling kenal. Pichet belum tahu karya-karya Jerome, begitu juga sebaliknya. Dan saat bertemu pun mereka tidak tahu apa yang akan dikerjakan dan apa hasil dari kerja sama mereka nanti. Jerome hanya berbekal beberapa pertanyaan yang diajukan kepada Pichet. Dari partanyaan-pertanyaan itu mereka kemudian melakukan perbincangan panjang yang kian lama kian intens.

Perbincangan itulah yang kemudian mereka bawa ke atas panggung. Mereka mengobrol dalam poisisi berhadap-hadapan untuk melakukan apa yang disebut oleh Jerome ”dokumentasi koreografik dalam situasi paling nyata”. Perbincangan itu mulamula mirip ”interogasi” etnografis yang dilakukan oleh seorang pengamat Barat (Jerome Bel) terhadap dunia Timur. ”Interogasi” semacam itu mengandaikan posisi yang hirarkis, si pengamat berada dalam posisi yang aktif dan yang diamati sebagai objek. Tapi perlahan-lahan kemudian justru terjadi pembalikan posisi, antara pengamat dan yang diamati saling menginterogasi. Dan ujungnya, mereka saling menginterogasi diri masing-masing. Mereka saling menelanjangi diri, mementahkan mitos-mitos dan stereotype dalam kebudayaan, mencairkan berbagai batas representasi atas realitas yang dilakukan oleh seni sekaligus kerelatifan kehadiran mereka sebagai pekerja seni yang terlibat secara langsung dalam praksis seni tersebut. 

Dalam perbincangan itu sesekali Pichet memperagakan potongan-potongan gerak dalam tari tradisional Thailand beserta konteks historis yang mendasarinya. Begitu juga sebaliknya, Jerome memperagakan beberapa potongan gerak dari karya-karyanya beserta elaborasi filosofis secukupnya. Jerome juga berbicara mengenai beberapa masalah mendasar yang berkaitan dengan persoalan individualitas dalam pengalaman masyarakat ”Barat” yang harus berhadapan dengan risiko laten akibat goyahnya kepercayaan terhadap manusia sebagai subjek otonom akibat keretakan modernitas yang bersusah payah mengatasi berbagai kontradiksi dan antagonisme dalam upaya penemuan dunia yang memusat pada individualitas itu sendiri, serta posisi karya-karya tarinya dalam menghadapi gejala tersebut.

Hal itu berbeda dari pengalaman dunia ”Timur” dan negaranegara berkembang yang menerima modernitas sebagai entitas yang hadir tidak secara utuh dan selesai melainkan suatu proses yang seolah-olah tanpa desain dan saling berkelindan dengan berbagai kekuatan khazanah tradisi. Gerak laju proses tersebut tidak berlangsung secara linier melainkan cenderung simultan; kadang saling menyerap, berjalan sejajar, saling bersitegang atau saling tolak, di sana sini menemukan titik ikat, satu saat surut ke belakang pada saat lain melompat ke depan, lalu mencair dan bergerak secara acak guna menemukan ikatan baru untuk sementara waktu, kadang stabil dan tampak utuh kadang mengambang dan menguap tanpa bekas. Suatu proses yang mengelak dari prospek tunggal. 

Di situ modernitas dan khazanah tradisi kadang tampak dalam potongan-potongan, fragmen-fragmen. Terkadang orang tergoda untuk merengkuh seluruh dimensi modernitas dalam wujudnya yang paling ambisius, tapi seperti yang pernah dikatakan penyair Octavio Paz, akhirnya yang tergenggam hanya seberkas suku kata. Faktanya, baik di ”Barat” maupun di ”Timur”, seni lebih suka memperlihatkan dimensi-dimensi modernitas melalui ”pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab”, ketimbang sesuatu yang telah jadi dan final. Sekali waktu finalitas memang dianggap sebagai konsep yang menghantui banyak seniman dan pemikir besar. Sebagian di antara mereka bahkan mencoba membangun desain tentang manusia dan dunia secara menyeluruh dan utuh kendati pada akhirnya gagal. 

Berbagai paradoks dan antagonisme yang nyata-nyata terjadi dalam sejarah (seperti perang dunia kedua, pembersihan etnis, kerusakan ekologis, berbagai patologi sosial, paranoia akibat dislokasi dan disorientasi akut yang disebabkan oleh dunia mesin) cenderung diingkari jika tidak cocok dengan proses pembuktian kebenaran desain menyeluruh tersebut. Dan kini setelah berbagai ilusi mengenai desain menyeluruh dan final tersebut runtuh maka yang tersisa adalah berbagai pertanyaan yang muncul dari lorong gelap modernitas. Seniman ”Barat” kemudian kian suka berbicara perihal modernitas dari sisi perjalanan jatuh bangun proses penemuan makna individualitas dan posisi subjek otonom di tengah gempuran daya-daya impersonal yang kadang berada di luar kendali si subjek itu sendiri. Jerome Bel mengatakan bahwa salah satu pertanyaan yang dapat diajukan oleh seni tari kotemporer adalah ”bagaimana kita dapat kembali menyusun makna personalitas”.

Di pihak lain Pichet Klunchun seolah berada dalam posisi yang berbeda dari pengalaman Jerome sebagai manusia ”Barat”. Sebagai manusia ”Timur” dengan tubuhnya Pichet dibayangkan dapat merengkuh sesuatu dari modernitas tapi pada saat yang sama tak dapat menyangkal bahwa tubuh tersebut tersusun dari darah dan daging khazanah tradisi yang juga tak lagi tampil secara utuh dan menyeluruh. Penemuan individualitas barangkali memang bukan tema utama dalam khazanah tradisi tapi tema tersebut telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari situasi sejarah tempat si Pichet berpijak. Hal itu menuntut pendefinian terus menerus terhadap posisi subjek di atas pijakan yang juga tak pernah stabil: suatu proses yang nyaris tak mungkin dirangkum dalam rumusan tunggal dan pasti. Juga tak ada yang permanen dalam proses negosiasi tanpa akhir itu. 

Dalam perbincangan mereka di atas panggung itu terungkap banyak hal yang berkaitan dengan perbedaan paradigma antara dunia Barat dan dunia Timur dalam memahami diri. Tentu, mereka tidak sedang melakukan diskusi filsafat dengan bahasa yang berat dan membuat kening berkerut melainkan berbincang santai dengan bahasa yang cair didukung gerak tubuh dan ekspresi wajah yang hidup. Kadang gerak tubuh tampak lebih kaya untuk mengungkapkan hal-hal yang tak terjangkau oleh bahasa verbal yang mereka ucapkan. Mereka tidak sedang menyusun konsep tentang tari kontemporer dan kemudian menerjemahkannya dalam gerak melainkan sedang melakukan dialog guna saling mengenali daya-daya personal diri mereka dengan cara melihat orang lain. Mereka tidak sedang menyusun koreografi tapi benar-benar sedang berbincang vis a vis.
***

Selanjutnya: Beberapa Catatan Perihal Cara Berkisah dalam Cerpen (7)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »