Beberapa Catatan Perihal Cara Berkisah dalam Cerpen (5)

ADMIN SASTRAMEDIA 5/29/2019
oleh Wicaksono Adi

Itulah beberapa catatan yang dapat dijadikan referensi tambahan ketika membaca sebagian cerpen yang terhimpun dalam buku ini. Sebagian cerpen yang lain menurut saya tak membutuhkan catatan karena hal-hal pokok sudah termaktub dengan jelas dalam teks. Kita akan menjumpai kisah kelompok gastronom yang suka melakukan smokol (makan ringan antara sarapan dan makan siang), dalam cerpen ”Smokol ” karya Nukila Amal; kisah pertemuan (plus jatuh cinta sekejap) seorang perempuan (bersuami) kepada seorang lelaki teman seperjalanan di pesawat terbang, dalam cerpen ”Terbang” karya Ayu Utami; kisah seorang perempuan yang sudah bersuami tapi jatuh cinta kepada laki-laki lain dan dengan ringan pula ia menunjukkan dan memperkenalkan laki-laki lain tersebut kepada para kerabat dan teman-teman dekatnya, pada cerpen ”Apel dan Pisau” karya Intan Paramaditha; dan kisah perihal perempuan tua (gelandangan) yang mati di beranda sebuah rumah dan mayatnya nyaris dimakan seekor anjing hingga si tuan rumah kalang kabut, pada cerpen ”Mbok Jimah” karya Naomi Srikandi. 

Kita juga akan menjumpai kisah perihal seorang perempuan Tionghoa (WNI) yang meninggalkan Indonesia lantaran kerusuhan Mei 1998 lalu menetap di Los Angeles Amerika Serikat dan setelah sekian lama berada di kota itu untuk kali pertama ia akan bertemu dengan seorang lelaki dari negeri asalnya. Tapi pertemuan yang mendebarkan itu justru menjadi pengalaman yang unik dan agak konyol karena si lelaki kehilangan cincin kawinnya, pada cerpen karya Eka Kurniawan (Gerimis yang Sederhana); kisah seorang perempuan yang terus mengingat cinta dan kematian ayahnya ketika bersama lelaki pasangannya pada cerpen Linda Christanty ("Sebuah Jazirah di Utara"); perihal seseorang yang menghadapi kenyataan bahwa kekasihnya mati karena kecelakaan lalu-lintas, yang dikisahkan dalam bentuk molonog lirih dan mencekam, pada cerpen Stefanny Irawan (Hari Ketika Kau Mati).

Lalu kisah perihal kepedihan yang nyaris tak tertanggungkan yang dialami dua orang perempuan Indonesia yang menetap di Los Angeles, Amerika Serikat (salah satunya bersuamikan seorang pria Amerika keturunan Korea) akibat kehilangan hak asuh anak-anak mereka setelah bercerai dengan suami masingmasing (dan akibat tekanan mental yang hebat itu salah seorang di antara mereka menembak kucing-kucing manis yang dititipkan padanya), pada cerpen Triyanto Triwikromo ("Lembah Kematian Ibu"); kisah lucu perihal seseorang yang hendak mengganti giginya dengan gigi palsu, pada cerpen karya Zelfeni Wimra ("Bila Jumin Tersenyum"); kisah perihal seorang anak kecil yang terus merindukan kartu pos dari ibunya, pada cerpen karya Agus Noor ("Kartu Pos dari Surga"); kisah perihal seorang ibu yang meyakini bahwa suaminya seorang lelaki yang baik dan setia hingga akhirnya mendapati kenyataan bahwa suaminya itu memiliki istri simpanan, pada cerpen karya Ratih Kumala ("Foto Ibu"); kisah lucu perihal seseorang yang pontang-panting menghadapi upaya penyuapan, pada cerpen karya Putu Wijaya ("Suap"); kisah seorang ibu yang semaput dan koma selama seminggu karena menemukan cincin kawinnya berada di perut ikan yang sedang ia makan. Suaminya mati terbantai pada saat huru-hara besar tahun 1965 dan mayatnya dihanyutkan di sungai Brantas (Jawa Timur) hingga menjadi santapan ikan-ikan, pada cerpen karya Danarto ("Cincin Kawin"); dan kisah (setengah dongeng) perihal tempat imajiner dengan para penghuninya yang hidup dalam damai tapi kemudian dicekam oleh rasa takut akibat diberlakukan semacam Undang-undang Kesusilaan, pada cerpen karya F. Dewi Ria Utari ("Perbatasan"). 

Secara umum, cerpen-cerpen yang terhimpun dalam buku ini sangat fasih menciptakan bentuk yang sesuai dengan isi cerita. Beberapa di antaranya bahkan berhasil mencapai bentuk yang spesifik, terutama bentuk pengisahan yang mirip monolog panjang, lirih dan halus tapi di sana sini mengandung ledakan-ledakan muram dalam sekapan ruang yang menekan dan melelahkan. Ada juga cerpen yang mencoba menciptakan berbagai metafora di antara kalimat-kalimat bersayap dan mengejutkan. Contohnya adalah cerpen ”Sebuah Jazirah di Utara”, karya Linda Christanty, di mana dapat ditemukan kalimat-kalimat seperti berikut:

”Dia tiba-tiba merasa sedih, karena menemukan sesuatu yang tak memiliki kaitan apa pun dengan dirinya. Seperti baling-baling pesawat terbang di gunung salju: keduanya bukan komposisi yang sesuai, tapi musibah telah mempertemukan benda dan tempat tersebut sebagai hal wajar. Kini dia lebih merasa sebagai gunung salju, sesuatu yang pasif dan cedera.” Juga kalimat, ”dari bawah tumpukan kemeja dan pantalon lelaki itu di sisi tempat tidur, menyembul kain hitam berenda yang seolah dirinya dan sejumlah perempuan lain dibelahan timur dan negeri ini, yang terperangkap oleh patriarki; kata yang kurang puitis untuk puisi”. 

Atau kalimat seperti ini: ”Namun, kata ayah, lelaki semacam itu akan berziarah bersamanya ke tempat di mana burungburung pembawa batu api pernah menaklukkan pasukan gajah, di mana Ibrahim menunjukkan rasa setia yang agung dengan mengorbankan putranya dan ditukar Allah dengan domba, di mana setelah 700 tahun terpisah sepasang kekasih bertemu lagi, di mana perang dan cinta diperingati tiada henti”. 

Membaca kalimat-kalimat semacam itu saya dituntut untuk terus awas dan waspada agar tidak kehilangan isi dari apa yang hendak disampaikan. Pada kalimat terakhir itu misalnya, saya harus membacanya dengan hati-hati untuk memahami sosok lelaki ”yang kata ayah akan berziarah bersamanya” ke kota Mekah, Arab Saudi. Boleh jadi si aku dan si lelaki akan pergi umroh atau naik haji. Atau sekadar berkunjung ke sebuah kota suci (sebagaimana diceritakan dalam Alquran, pernah ada pasukan gajah yang hendak menyerbu kota itu, dan kemudian Tuhan mengirim burung-burung yang menyerang dengan batubatu api hingga kota tersebut selamat dari serbuan pasukan gajah tersebut). 

Gambaran sosok laki-laki itu menjadi kian samar karena yang menonjol justru kalimat keterangan yang menyebut kisah Nabi Ibrahim (sebagai pembangun Kabah di kota Mekah) dan istrinya Siti Hajar. Ibrahim dan Siti Hajar pernah berpisah selama 700 tahun sebelum mereka bertemu lagi lalu memiliki anak Ismail. Di situ juga disebut perihal perintah Tuhan kepada Ibrahim agar menyembelih Ismail. Tapi Tuhan kemudian menukar Ismail dengan seekor domba.

Banyaknya kalimat keterangan yang kadang cukup rumit membuat saya harus mengingat terus siapa sebenarnya lelaki itu, siapa tokoh si aku dan kemudian siapa ayah di sini. Kata ganti ”dia” dalam paragraf demi paragraf dapat beralih antara lelaki itu, si aku, dan ayah. Yang pasti si aku di sini sedang menceritakan si lelaki dan juga ayahnya. ”Dia tak akan bisa melupakan keduanya, cinta ayahnya kepadanya dan cintanya kepada lelaki itu. Keduanya abadi, tiada tergantikan, seperti semua yang disebut ” kali pertama”. 

Maka, ketika saya sudah mendapatkan petunjuk yang pasti, bahwa si aku sedang bercerita perihal dua lelaki, yakni ayahnya dan lelaki yang ia cintai, maka semuanya menjadi jelas. Kalimatkalimat panjang dan disisipi metafora di sana-sini itu hanya berfungsi sebagai anak kalimat belaka. Jadi saya pun tidak tersesat oleh pertukaran posisi antara ”lelaki itu” yang kadang tampak menjadi ayah si aku, kadang justru ayah si aku yang menjadi lelaki itu.

Membaca cerpen ini bagi saya cukup mengasyikkan. Memang ada bagian yang agak menganggu di paragraf awal, yakni kalimat: ”Ketika ayahnya menyerah pada Israfil pada malam itu, dia bercinta dengan sebuah jazirah gelap di utara”. Barangkali yang dimaksud di situ bukan Israfil (sebagai malaikat peniup terompet tanda kedatangan hari kiamat), melainkan Izrail sebagai malaikat pencabut nyawa). Tapi terlepas dari kesalahan kecil tersebut, dengan kalimat-kalimat panjang di hampir semua bagian cerpen, cerpen ini dapat dikatakan cukup unik karena berani mencoba membangun model penuturan yang seolah-olah sangat rumit (dan kadang tampak tanpa alur) tapi sebenarnya berkisah mengenai sebuah momen sederhana ketika si aku sedang bersama si lelaki sembari terus menerus membayangkan ayahnya saat menjemput maut. 
***

Selanjutnya: Beberapa Catatan Perihal Cara Berkisah dalam Cerpen (6)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »