Belajar dari Guru Sang Guru

ADMIN SASTRAMEDIA 5/28/2019
oleh Fatih Muftih


Ekspresi pertama saya usai tiap membaca karya sastra bagus adalah mengumpat. Lantang-lirihnya umpatan ini bergantung pada kualitas karya tersebut. Semakin bernas semakin keras. Saya tahu ini bukan ekspresi yang baik. Tapi, saya tak pernah punya cara lain untuk meluapkan kegeraman.

Saya masih mengingat beberapa umpatan yang acap terlontarkan. “Kampret, kok bisa begini, sih?” atau “Ini benar-benar karya yang kurang ajar,” misalnya. Namun, sebenarnya masih banyak koleksi umpatan yang luput dari ingatan saya. Hanya saja, bila diterjemahkan dengan mudahnya, umpatan itu tak lebih dari kegeraman saya mengetahui seorang manusia di muka bumi ini bisa menulis sastra dengan memukau lagi terang-benderang. Terkecuali golongan nabi, saya kira, semua umat manusia di muka bumi ini punya kesempatan yang sama. Bila seorang ningrat macam Soeharto bisa menjadi presiden, kesempatan sama juga yang berlaku pada Joko Widodo, kendati si Jokowi ini hanya berasal dari keluarga nirningrat. Tentang mewujudkan impian, dalam buku The Secret, Rhonda Byrne pernah merumuskan: ketahuilah, yakinilah, dan terimalah.


Termasuk pula bilamana Putu Wijaya bisa sedemikian edan menulis prosa. Seharusnya generasi sekarang punya kesempatan yang sama untuk menjadi sepertinya, atau bahkan melebihinya. Putu hanyalah seorang anak petani di desa kecil yang luput pencatatannya dari peta Indonesia. Sebagai sarjana hukum, sebenarnya ia amat jauh dari kata layak untuk menjadi penulis kaliber dedengkot di kesusastraan Indonesia. Namun, ia menepis agitasi yang layak jadi penulis hanyalah para sarjana sastra. Karena pada kenyataannya, sarjana sastra di negeri ini lebih banyak mengeram telur di kantor-kantor bahasa. Ada pula sebagian yang mengajarkan sastra. Akan tetapi alpa menulis karya sastra. Agitasi itu kemudian Putu terobos lewat karya-karya bedelau. Bila tak percaya, coba ketikkan “Putu Wijaya” di laman pencarian internet. Yang bakal didapati adalah ketakhabisan tentang Putu. Seolah-olah, laman maya ini tak pernah cukup untuk menceritakannya.


Saya tak mencatat sudah berapa kali Sang Teroris Mental ini bertandang ke Tanjungpinang. Akan tetapi, beberapa tahun silam, Putu sudah pernah menggegerkan taman penyair ini dengan membacakan cerpen pada malam pembuka Temu Sastrawan Indonesia 2010. Itulah awal mula perjumpaan saya dengan mantan wartawan Tempo ini. Adalah benar, sesuatu yang pertama akan selalu paling berkesan. Dapat berfoto sambil dirangkul Putu tentu menjadi arsip gambaran diri, buat saya pribadi, yang cukup membanggakan. Tapi, apalah arti berfoto bersama tanpa sempat berbicara. Saya kemudian menanyai pelopor Teater Mandiri ini.

Bukan pertanyaan hebat. Namun, sekadar pertanyaan seorang anak muda tentang cara menulis agar bisa menghasilkan karya sastra yang berkilau-kilau dan tak lapuk oleh zaman. Sebelum Putu menjawab, pikiran saya sudah meracau. Jangan-jangan jawaban Putu sama dengan Pramoedya Ananta Toer, yang selalu berpesan, “Untuk menulis bagus, yang diperlukan hanya menulis. Menulislah.” Namun rupanya, Putu punya jawaban berbeda. Pengidola baretta ini mengungkapkan, sebelum menulis karya sastra bagus diperlukan membaca karya-karya sastra bagus. “Bacalah dari guru sang guru,” tegasnya. Sebuah pesan singkat dari maestro itu saya patri lekat dalam benak saya. Tentu saja, saya paham itu pesan berkias. Kalau diterapkan plek-plek, serasa tak mungkin. Misalnya, bila saya menjadikan seorang Putu Wijaya sebagai guru saya, maka saya harus mencari gurunya dan belajar menulis padanya. “Maksud saya bukan begitu. Tapi baca buku yang dibaca oleh penulis-penulis hebat itu,” terang Putu.


Ini maksud kiasan Putu, mencari buku-buku yang dibaca penulis hebat. Kepada saya, Putu membocorkan, bahwasanya selagi muda ia banyak belajar menulis dari Teknik Mengarang karya Mochtar Lubis. Kemudian ia juga banyak membaca karyakarya Guy De Maupassant, Chekov, Dostoyevsky, dan Tolstoy. Saya yakin, bukan itu saja guru-guru Putu. Masih ada banyak lagi seabrek guru Putu yang belum terucapkan. Akan tetapi, itu sudah lebih dari cukup bagi saya untuk belajar dari guru-guru Putu.


Ketika saya menyungkemi satu per satu guru yang Putu sebutkan, saya kembali mengumpat. “Kampret, pantas si Putu bisa nulis cerita dengan akhir yang menjengkelkan. Rupanya ia belajar dari Maupassant. Soal alur yang kurang ajar, rupanya itu pembelajaran dari karya-karya Chekov dan Tolstoy.” Umpatan bercampur keterpengarahan itu membuat saya makin gila untuk mencari guru-guru dari guru Putu. Namun, hingga kini saya belum menemui mereka.


Perburuan guru sang guru masih terus saya jalani hingga hari ini. Kadang guru-guru itu tak hanya berbentuk jilidan karya saja. Beberapa guru itu justru bicara lewat film. Kegemaran saya lainnya adalah membaca film tentang kepenulisan. Saya menyebutnya sebagai kegemaran sinting. Karena, film tentang kepenulisan bukan film yang mejeng di papan iklan bioskop. Otomatis perburuan ini menjadi kian menantang. Satu di antara yang paling berkesan adalah “Finding Forrester”. Sekilas, judul ini mirip dengan film animasi tentang ikan badut di laut yang mencari anaknya hingga ke belantara kota. Akan tetapi, film yang dirilis tahun 2000 ini berbanding terbalik dengan cerita “Finding Nemo”.


Film itu bercerita tentang Jamal Wallace, 16 tahun, pemuda berkulit hitam yang mencintai aktivitas menulis. Namun, kecintaannya itu hanya ia simpan rapi-rapi dalam buku catatan hariannya. Hingga ia bersua dengan seorang tua yang tinggal di lantai atas sebuah apartemen sebatang kara. Rupanya orang tua itu adalah William Forrester, penulis peraih penghargaan Pulitzer. Kepada James, Forrester punya pesan, yang saya kira cukup sungsang di kepala, tetapi benar adanya. “Tulislah draf pertamamu dengan hati dan tulis-ulanglah dengan kepala. Aturan pertama dalam kepenulisan adalah menulis. Bukan berpikir.”

Menulis tanpa berpikir? Gila? Iya! Karena berpikir itu urusan kepala. Sementara, kesenangan adalah urusan hati. Tak heran, bila James akhirnya sanggup menulis sebuah karya apik yang dibacakan Forrester di hadapan seorang profesor sastra yang mengira tulisan itu karya Forrester. Mengapa menulis dengan hati? Karena urusan hati adalah tentang kebahagiaan. Sementara, urusan pikiran adalah menuntaskan kerumitan. Lantas, bagaimana akan menulis karya bagus bila penulis lebih banyak berkutat pada kerumitan dengan mencintai tombol backspace di mesin ketiknya. A.S. Laksana, sastrawan Indonesia, pernah menuliskan, “Menulislah secepat-cepatnya. Mengeditlah seketatketatnya.” Ini pesan yang sejalan dengan petuah Forrester yang bernama asli J.D. Salinger.

Dengan cara itu, menulis akan menjadi kegiatan yang menyenangkan. Bukan sesuatu yang gelap sebagaimana paradigma masyarakat selama ini. Kesuksesan James menulis sebening itu, saya rasa, juga karena ia belajar kepada seorang yang tepat, penulis semoncer Forrester. Ia menemukan guru yang tepat untuk mengajarinya menulis. Agaknya, karena tak mungkin lagi menjumpai Tolstoy atau Maupassant secara fisik, Putu pun memilih berguru melalui karya-karyanya. Toh, karya-karya sang guru itu dituliskan berlandaskan kebahagian. Kebahagian itu, Anda tahu, adalah hak hakiki manusia sebelum Adam dan Hawa menelan buah kuldi. Kemudian, dengan bermodalkan kebahagiaan dan pelajaran-pelajaran dari guru sang guru, langkah selanjutnya

adalah menunaikan petuah Pramoedya. “Menulislah!”

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »