Berbahasa Harus Menunjukkan Realitas

ADMIN SASTRAMEDIA 5/30/2019
oleh Umar Sidik

Bahasa yang digunakan untuk menyampaikan sesuatu sama pentingnya dengan isi pesan itu sendiri. Aa Gym (seorang dai kondang) menyatakan bahwa kualitas berbahasa seseorang beriring sejalan dengan mutu informasi atau pesan yang ingin disampaikan. Bahasa yang digunakan seseorang dapat menunjukkan kualitas penggunanya.

Pesan yang disampaikan melalui bahasa tulis seluruhnya dikendalikan oleh bahasa yang digunakan. Akan tetapi, dalam komunikasi lisan, separohnya dapat dikendalikan oleh bahasa tubuh (gestur) pembicaranya.

Peranan bahasa sebagai pengendali pesan tertulis, membawa konsekuensi pada pentingnya pemahaman yang sama antara komunikator (pemberi) dan komunikan (penerima) terhadap sistem bahasa yang digunakan. Jika terjadi pemahaman yang berbeda terhadap bahasa yang digunakan akan berakibat salah pengertian (miss-communication). Pemahaman itu bukan hanya pada penggunaan kaidah (gramatika) kebahasaan, tetapi juga pada proposisi atau maknawinya. Dapat saja secara gramatika benar, tetapi proposisinya salah. Misalnya, di kalangan umat Islam ada hadis Nabi yang sangat populer, yang berbunyi innal-’ulamãu waraœatul-ambiyã’ ( إِن و ر ثةوَرَثَةُ ا لأ ن ب یاءا ْلأ َنْب ِیَاءِ ), lazim diterjemahkan dengan ‘Sesungguhnya ulama itu pewaris para nabi’.

Secara gramatikal, terjemahan hadis Nabi tersebut tidak ada masalah, tetapi secara proposisi (maknawi) bermasalah. Pada kalimat terjemahan itu proposisinya berbalik 180° karena posisi ulama bukan sebagai pemberi, tetapi sebagai pihak yang mewarisi para nabi. Kesalahan itu disebabkan oleh penggunaan bentukan kata pewaris yang artinya ‘pemberi warisan’.

Jika pembentukan kata dengan prefiks pe- akan memunculkan makna ’orang yang memberikan...’, seperti kata penyumbang ’orang yang memberikan sumbangan’ dan pengajar ’orang yang memberikan ajaran, maka pewaris adalah ’orang yang memberikan warisan’. Oleh karenanya, hadis Nabi itu akan lebih tepat diterjemahan dengan ’Sesungguhnya ulama itu waris atau mewarisi para nabi’.

Contoh lain yang sudah sangat lazim di kalangan masyarakat, antara lain, ialah (1) Bapak-bapak yang ingin menyalatkan jenazah, kami persilakan. (2) Bapak/Ibu yang akan menjalankan salat, mushalla ada di lantai satu. Dan, (3) Bagi yang membawa HP harap dimatikan. Persoalannya ialah janazah itu tidak pernah disalatkan, tetapi jenazah itu disalati. Demikian juga dengan salat, tidak pernah dijalankan, melainkan dijalani atau dilaksanakan. Yang membawa HP pun juga tidak pernah dimatikan, tetapi HP-nya yang dimatikan.

Afiksasi me- -kan lazimnya digunakan untuk makna ’membuat sesuatu supaya ....’, misalnya mendirikan tongkat artinya ’menjadikan supaya tongkat beridiri’. Dengan demikian, kata menyalatkan janazah dapat diartikan ’menjadikan janazah supaya salat’; dan menjalankan salat ‘menjadikan salat supaya berjalan’. Hal itu tidak akan pernah terjadi kenyataan, apalagi menyuruh membunuh terhadap orang yang membawa HP tentu tidak ada yang sanggup.

Seorang filusuf, Wittgenstein, menyatakan bahwa bahasa yang “berkata sesuatu” atau proposisi seharusnya adalah kalimat yang menunjukkan “potret realitas” atau “potret logika”. Di dalam potret realitas ini, kata adalah subsitusi dari objek, sedangkan cara kata bergabung di dalam kalimat harus mencerminkan tautan di dalam realitas.

Wittgenstein menjelaskan bahwa hubungan di antara tanda di kertas (bahasa) dan keadaan luar di dunia (potret realitas) harus dapat dibuktikan. Karena itu, semua proposisi atau bahasa harus mengandung unsur kebenaran di dunia. Semua potret proposisi atau bahasa dan semua situasi yang mungkin di dunia harus memiliki bersama (share) format logika yang sama. Format logika ini adalah sekaligus sebagai “format representasi” dan “format realitas”. Jika ada bahasa yang tidak merupakan potret realitas, bahasa itu seharusnya tidak digunakan.

Bahasa bukan saja harus digunakan secara benar secara gramatika, tetapi juga harus bernalar serta sesuai dengan realitas. Kemampuan berbahasa dengan benar dan bernalar merupakan titik kekuatan yang luar biasa untuk menyampaikan pesan. Artinya bahwa penggunaan bahasa berkorelasi dengan efektif tidaknya dalam penyampaian “pesan” kepada kawan bicara.
Sebenarnya, tidak ada bahasa yang kacau. Kekacauan penggunaan bahasa bukan hanya menggambarankan kekacauan lingual, tetapi kekacauan kognitif. Kekacauan bahasa bukanlah sebab, tetapi hanya merupakan akibat dari kekacauan pikiran penggunanya. Kesalahan proposisi lantaran ketidaktepatan seseorang saat mengikuti tata cara pikirannya.

Penalaran adalah sesuatu yang abstrak. Ia akan berwujud jika dikemukakan melalui bahasa. Jika bahasa yang digunakan harus dibaca berulang-ulang untuk dapat memahami makna yang dikandungnya, menunjukkan bahwa bahasa yang digunakannya tidak tersusun secara cermat. Uraian ilmu atau budaya yang sangat rumit sekali pun akan dapat dipahami dan diserap oleh pembacanya jika disusun dengan bahasa yang benar.

Ketika pewara (MC) dalam suatu pertemuan berkata, “Hadirin yang saya hormati, acara selanjutnya ialah sambutan yang ketiga, yaitu dari Bapak Rektor. Untuk itu, waktu dan tempat kami persilakan.” Kesalahan berbahasa dari pewara itu sering dianggap sebagai suatu kewajaran. Pada konteks itu, seharusnya rektor tidak beranjak dari tempat duduknya karena yang dipersilakan memberikan sambutan bukan dirinya, melainkan waktu dan tempat.

Menata berbahasa artinya juga menata nalar dan sikap. Batas bahasanya adalah batas pikirannya atau bahasanya adalah batas pemikirannya. Jika potret realitas yang diungkapkan telah dimiliki bersama oleh pembicara dan pendengarnya, maka akan semakin sedikit kata yang diperlukan untuk pembicaraan itu.***

Sumber: KerlingAntologi Kritik/Esai Bahasa dan Sastra, Penyunting: Dessy Wahyuni, Medri Oesnoe, Agus Sri Danardana, dan  Tirto Suwondo, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan  Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta, 2016

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »