Berbahasa Membangun Jatidiri Bangsa

ADMIN SASTRAMEDIA 5/30/2019
oleh Yohanes Adhi Satiyoko

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia telah dikumandangkan 71 tahun lalu. Kelebihan dan kekurangan kemajuan bangsa pun masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah. Kemajuan pembangunan biasanya didengungkan dan divisualisasikan melalui media, sedangkan kekurangan pembangunan cenderung “disembunyikan”. Ini adalah sebuah fakta pembangunan kebangsaan. 

Oleh karenanya, perjuangan menuntut keadilan pun menyeruak di mana-mana. Jika kita berkeliling di kota Yogyakarta, tidak akan lepas dari pandangan kita berbagai mural dan poster. Jika dicermati, ada poster-poster berwarna hitam-putih tertempel di dinding-dinding bangunan dan tembok-tembok di pinggir jalan dengan beragam tulisan “pedas” dan sindiran yang berisi kritik tehadap pemerintah. 

Lihat saja, ada gambar almarhum wartawan Udin dengan tulisan di bawahnya “dibunuh karena berita”, kemudian gambar wajah almarhum aktivis kemanusiaan, Munir, dengan tulisan di bawahnya “menolak lupa”, dan yang agak menggelitik adalah gambar badut yang memegang kotak bertuliskan “jika butuh badut lucu hubungi senayan”. 

Ini adalah secuil fakta tulis dan visual yang digabung menjadi media protes, kritik, bahkan propaganda dalam rangka memberikan kontribusi positif terhadap perkembangan kehidupan kebangsaan di Indonesia. Seni tulis dan visual, memang, dirasa lebih efektif sebagai alat “perjuangan” daripada aktivitas konfrontasi fisik. Bahkan, harus diakui, pada masa tertentu, bahasa tulis mampu menjadi momok bagi pemerintah yang sedang berkuasa.

Selain sebagai peranti komunikasi kritik, bahasa, seni, dan sastra juga merupakan peranti komunikasi utama yang juga berperan menunjukkan sebuah peradaban bangsa. Tulisan Hieroglif yang ditemukan di Mesir kuna sekitar 1799 pada Batu Rosetta, ditulis oleh Francois Champollion. Hieroglif yang dipercaya sebagai tulisan paling kuna tersebut merupakan peranti komunikasi dengan bentuk-bentuk huruf yang dapat dibaca walaupun masih menggunakan simbol gambar yang mewakili objek-objek alamiah. Namun, kehadiran Hieroglif telah menunjukkan bahwa tulisan adalah peranti paling penting di dalam usaha manusia untuk menunjukkan peradaban mereka.

Selanjutnya, bahasa sebagai tanda dan alat komunikasi menjadi peranti vital dalam aktivitas kehidupan manusia untuk mengekspresikan temuan-temuan mereka. Tidak hanya itu, bahasa dan sastra mampu menjadi peranti peruasif yang dapat menggerakkan massa meruntuhkan sebuah rezim. Tidak luput dari ingatan kita, ketika karya-karya Pramudya Ananta Toer (19252006) dibreidel zaman pemerintahan Soeharto karena dianggap “meracuni” dan menghasut rakyat untuk melawan pemerintah, bahkan dirinya pun, sebagai penulis, harus ikut menjadi tumbal dengan mendekam di penjara. Pelarangan beredarnya buku Bumi Manusia (1980) dan Anak Semua Bangsa (1981) oleh pemerintah membuktikan ketajaman bahasa melalui susastra sebagai alat persuasi pembuka “kebenaran” kondisi pemerintahan waktu itu. 

Tidak dapat dilupakan juga, Revolusi Prancis, 14 Juli 1789, juga tidak lepas dari peran bahasa tulis sebagai alat persuasi kepada rakyat untuk melawan kerajaan. Seorang esais, J.J Rousseau (1712-1778), berhasil mengekspresikan idenya melalui Emile ou de I’Education (1762) untuk “memberi tahu” rakyat Prancis yang waktu itu masih terbelakang supaya “melek ilmu” dan sadar bahwa mereka dibodohi oleh rezim penguasa.

Ekspresi kebahasaan dan kesastraan, memang, menjadi sebilah pisau yang akan mampu menebas sasaran dengan kendali penulis (ideologi pengarang). Bahasa dan sastra tidak harus frontal dalam memberi kritik, tetapi dengan caranya sendiri mampu menjadi pisau tajam melawan pedang penguasa. 

Dengan sifat pragmatis susastra berusaha “membangun tata kehidupan masyarakat” dengan ekspresi-ekspresi realis, naturalis, satiris, dan sebagainya. Gulliver Travel (1726) karya Jonathan Swift, seorang esais, penyair, adalah salah satu bukti karya satiris yang menjadi alat perjuangan untuk menyuarakan “kemenangan” rakyat kecil terhadap kekangan penguasa di Inggris. 

Novel Jawa Kirti Njunjung Drajat tulisan Jasawidagda juga menyisipkan pesan komunikasi melalui tanda-tanda kesastraan dan menjadi corong yang menyuarakan, pada waktu itu, bahwa kaum pribumi pun sebenarnya dapat “mencuri” dan memanfaatkan pergaulan dengan orang-orang Belanda untuk mengadopsi teknologi dan ilmu pengetahuan. Untuk itu, supaya dapat menjadi alat perjuangan yang benar, penciptaan karya kebahasaan dan kesastraan harus dihasilkan oleh insan-insan yang bertalenta dan bertanggung jawab dengan ideologi mereka. 

Ketika kejujuran dan tanggung jawab moral dipegang oleh penulis, pesan-pesan persuasi positifkritis untuk “membangun” masyarakat pun akan terwujud. Maka, tidaklah muluk-muluk penanaman akhlak ilmiah, terutama bagi remaja bertalenta menulis, untuk membentuk karakter penulis yang humanis, kritis, dan konstruktif-nasionalis. Tidak mudah mewujudkannya, tetapi bukan tidak mungkin juga merintis ke arah tersebut.

Berbagai komunitas (kantong-kantong penulisan kebahasaan dan kesastraan), sebut saja Sanggar Sastra Jawa Yogyakarta (SSJY), Sanggar Sastra Indonesia Yogyakarta (SSIY), dan Sanggar Bahasa Indonesia (SBI) yang diayomi oleh Balai Bahasa DIY adalah bagian kecil dari komunitas-komunitas kepenulisan di Yogyakarta yang berusaha membina generasi muda menjadi penulis yang mumpuni. 

Diharapkan aktivitas kreatif-konstruktif-kritisnasionalis remaja akan terwujud sehingga menjadi sumbangsih bagi pembangunan dan kemajuan pemikiran anak bangsa dalam rangka menjaga dan menegakkan kedaulatan dan jati diri bangsa Indonesia. Jangan pernah lupa bahwa teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945, diakui keberadaannya walau hanya berupa tulisan di selembar kertas.***

Sumber: KerlingAntologi Kritik/Esai Bahasa dan Sastra, Penyunting: Dessy Wahyuni, Medri Oesnoe, Agus Sri Danardana, dan  Tirto Suwondo, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan  Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta, 2016

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »