Bila Jumin Tersenyum

ADMIN SASTRAMEDIA 5/29/2019
oleh Zelfeni Wimra

DULU, kalau sedang tertawa, Jumin bin Kahwaini tidak pandai menyembunyikan air matanya, sehingga tak seorang pun tahu apakah ia sedang menangis atau tertawa. 
Sekarang tidak begitu lagi.

Bibirnya yang tampak selalu berminyak itu kini mirip kulit pisang sarai, coklat dan basah. Bila sedang berhati gembira, ia hanya mengulum senyum. Seolah kedua sudut bibirnya ditarik ke kiri dan ke kanan. Amat jarang ia tertawa dengan membuka mulut dan mengeluarkan suara bahak yang berderai dengan mata berair-air. 

Apalagi ketika ia sedang memberikan khotbah atau ceramah di mesjid dan surau. Jumin tampak sangat hati-hati sekali mengeluarkan kata-kata dan menjaga garis bibirnya sedemikian rupa. Sekalipun jamaah terpingkal-pingkal mendengar ceramahnya yang lucu, ia tetap tersenyum simpul. 
Di hadapan jamaah, ia pernah mengaku kalau ia kini sudah tidak benar lagi dalam melafazkan ayat-ayat Tuhan atau sabda Nabi. Ia minta maaf. Sama sekali tidak ada niatnya untuk salahsalah dalam pembacaan tersebut. Lagi pula, tidak ada maksudnya untuk memajang wajah penuh wibawa yang cuma tersenyum simpul.

Singkat kata, Jumin kini kurang bahagia dengan air mukanya. 
Semua itu karena gigi-giginya sudah tanggal.

Jamaah sepertinya mengerti keadaan Jumin ini. Salah seorang jamaah yang bersimpati, diam-diam mengajak jamaah yang lain beriur. Uang yang terkumpul akan disumbangkan pada Jumin agar ia dapat membeli gigi palsu. Kalau Jumin sudah bergigi lagi, pengucapannya tentu tidak akan bermasalah. Penyampaian ceramah atau khutbahnya tentu pula akan jernih dan mudah dipahami sebagaimana sedia kala.

Jamaah yang seorang itu tidak mau disebutkan namanya. Berbuat baik dengan menyebut-nyebut diri sendiri dalam pengajian yang sering disampaikan Jumin disebut ria, dan ibadah orang ria tidak diterima. Bahkan mereka akan ditempatkan pula di neraka. Ini tertanam dalam sanubari jamaah. 
Uang sumbangan untuk Jumin pun terkumpul. Jamaah sepakat memberikan uang itu langsung kepadanya. Terserah dia mau membeli gigi palsu yang mahal, yang sedang, atau yang murah. Harga gigi palsu yang mahal, kalau membeli ke tukang gigi yang sampai berjualan ke kampung mereka, sekitar satu juta dua ratus ribu rupiah. Yang sedang, delapan ratus ribu. Dan yang termurah, sekitar lima ratus ribu.

Jamaah berhasil mengumpulkan uang sumbangan sebanyak empat ratus lima puluh ribu rupiah. Jumlah yang lumayan besar. Bahwa jamaah yang rata-rata petani mampu mengumpulkan uang sebanyak itu, sungguh luar biasa. Sumbangan untuk gotongroyong perbaikan jalan ke mesjid saja jarang yang dapat sebesar itu.

Wibawa Jumin bin Kahwaini di kampung kecil itu memang sangat besar. Suatu kali, misalnya, Jumin akan memanen padinya. Jalan ke sawahnya mesti melewati beberapa rumah penduduk. Sepanjang jalan, orang yang dijumpainya akan bertanya, akan ke mana ia dan istrinya. Tentu saja Jumin menjawab, ia akan memanen padi. Tanpa Jumin sangka, orang-orang yang dijumpainya di jalan tersebut memberitahu kepada warga masyarakat yang lain kalau guru mengaji mereka akan memanen padi. Langsung saja, orang-orang berdatangan membantunya. Sedianya Jumin akan menghabiskan waktu paling tidak dua hari untuk memanen padi. Dengan bantuan itu, tidak sampai setengah hari padinya sudah selesai dipanen bahkan sudah diangkut pula sampai ke rumahnya. 
Wibawa itu pula barangkali yang menggerakkan hati masyarakat untuk membantunya membelikannya gigi palsu. Mengapa tidak. Anak-anak kampung rata-rata belajar mengaji pada Jumin. 

Maka malam itu beberapa orang jamaah mendatangi rumah Jumin. Uang sejumlah empat ratus lima puluh ribu rupiah pun mereka serahkan padanya. 

Akan tetapi, siapa bisa mengira, keesokan harinya, Jumin nyaris tidak bisa lagi tersenyum. Nurni, anak gadisnya pulang dari kota tempat ia kuliah. Kepulangan ini terkait dengan jatuh tempo pembayaran uang kuliahnya. 

Untuk membayar uang semester Nurni tahun lalu, Jumin menjual kambing. Rencananya, untuk semester sekarang Jumin memperkirakan cabe rawit yang ia tanam bersama istrinya sudah panen. Tetapi, cuaca yang belakangan ini tak menentu (tak jelas lagi apa musim panas atau musim hujan) membuat tanaman cabe rawitnya rusak. Daun-daunnya keriting dan buahnya mudah rontok. 
Di tempat tidurnya Jumin bin Kahwaini terpana. Ia usap liur yang leleh di sudut bibirnya. Dagunya seakan tertikam sampai ke pangkal lehernya. Uang yang dikumpulkannya bulan-bulan terakhir cuma sekitar dua ratus ribu. Sementara Nurni butuh uang enam ratus ribu. Empat ratus ribu untuk uang semester dan dua ratus ribu untuk belanja bulanan. 

Memang ada uang pemberian jamaah sebanyak empat ratus lima puluh ribu lagi. Tapi, itu pemberian jamaah untuk pembeli gigi palsu. 
Jumin memanggil Mina, istrinya. 

”Mina, apa sebaiknya aku tidak usah membeli gigi palsu dulu. Uang pemberian jamaah ini kita berikan saja pada Nurni.” ”Terserah Tuan saja. Tapi apa kata jamaah nanti?” 
Tidak ada pendapat yang jelas dari istrinya. Jumin makin tertunduk mencoba memutar otaknya untuk mencapai putusan. Teringat lagi betapa setiap kali ceramah di surau-surau selalu ia tegaskan pada jamaah kalau menuntut ilmu itu wajib hukumnya baik laki-laki atau perempuan. Menuntut ilmu itu tidak mengenal waktu, dari buaian sampai ke liang lahat. Menuntut ilmu itu tidak mengenal ruang. Tuntutlah ia sekalipun ke negeri Cina. 

Jumin tiba-tiba tersenyum. Bibir coklat dan basahnya kembali seperti ditarik ke kiri dan ke kanan. Ia dapat keputusan. Kebutuhan kuliah Nurni lebih penting dari kebutuhannya akan gigi palsu. 
Berminggu-minggu kemudian, Jumin bin Kahwaini tetap mengisi ceramah di surau-surau. Namun ketika memberikan ceramah di surau jamaah yang menyumbangkan uang pembeli gigi palsu untuknya, Jumin sangat gentar. Sebisa mungkin, ia berusaha tetap tersenyum dan tampil seperti biasanya. Tapi, sungguh, ia tidak bisa menatap mata jamaah yang memberinya sumbangan itu. Berpasang-pasang mata tersebut jelas menyimpan tanya, kenapa ia masih belum juga membeli gigi palsu.

Padang, 2007

Sumber: Koran Tempo, 27 Januari 2008

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »