Catatan Kecil Setelah “Membaca” Rini Intama: Dux Femina Facti

ADMIN SASTRAMEDIA 5/02/2019

Oleh: Wahyu Wibowo
(Dibawakan di muka acara bedah buku karya Rini Intama, Hikayat Tanah Jawara (Babad Banten dalam Sekumpulan Puisi), Kosa Kata Kita, 2018, dan Sejarah & Budaya Tangerang dalam Puisi: Kidung Cisadane, Kosa Kata Kita, 2016, dan karya Kunni Masrohanti, Calung Penyukat, di PDS HB JASSIN, TIM, Jakarta, 27 April 2019. )

NAMANYA “catatan kecil”, ya, mestinya berwujud sekadar peringatan yang biasa-biasa saja tentang karya penyair Rini Intama, Sejarah & Budaya Tangerang dalam Puisi: Kidung Cisadane (Kosa Kata Kita, 2016) dan Hikayat Tanah Jawara: Babad Banten dalam Sekumpulan Puisi (Kosa Kata Kita, 2018).
Peringatan (catatan) itu, misalnya, pertama, Rini Intama menggunakan metrum puisi (sesuai dengan judul kedua bukunya itu) dalam mengekspresikan perasaannya. Andai hendak dirujukkan pada perkembangan sastra Indonesia sejak sebelum perang, hal yang dilakukan Rini Intama itu sebenarnya menjadi “kelemahannya”, karena Rini Intama bersosok wanita (guru yang penyair, atau penyair yang guru ini, lahir di Garut, Jabar, 21 Februari. Pemilik sebuah lembaga pendidikan untuk anak-anak ini selain menulis puisi, cerpen, dan novel juga menulis sejumlah modul tentang matematika dan bahasa Inggris). Alhasil, kalau tadi saya katakan “kelemahannya”, ini berarti mengarah pada jumlah wanita penyair/pengarang kita sejak sebelum perang yang memang tidak banyak.
Sekadar pengingat, tentu kita mengingat nama Selasih/Seleguri (Sariamin), yang menulis roman Kalau Tak Untung (1933) dan Pengaruh Keadaan (1937) – kedua roman ini berisikan kisah cinta yang mengharu-biru pembacanya (mungkin, mirip dengan sinetron kita di televisi dewasa ini). Ia juga menulis puisi yang banyak diterbitkan dalam majalah Pujangga Baru dan Panji Pustaka. Kita juga boleh mengingat nama Hamidah (Fatimah H. Delais), kontributor majalah Pujangga Baru dari Palembang, yang menulis roman Kehilangan Mestika (1935). Roman ini mengisahkan penderitaan berkepanjangan seorang gadis, bermula dari ketika dijodohkan oleh kedua orangtuanya hingga kemudian ia “harus merelakan” suaminya menikah lagi. Di dunia sandiwara/teater, pada 1940-an kita boleh mengingat nama Adlin Affandi yang menulis naskah sandiwara berjudul Gadis Modern dan Sa’adah Alim yang menulis naskah sandiwara berjudul Pembalasannya. Di kemudian hari, Sa’adah Alim terkenal sebagai penerjemah novel-novel Barat.
 Pada saat menjelang penjajahan Jepang (1940-an), kita boleh pula mengingat nama Maria Amin, yang ketika itu amat rajin menulis puisi untuk majalah Pujangga Baru dan juga amat aktif menulis prosa simbolik (mengingat kala itu Jepang terkenal amat galak dengan sensornya terhadap sastrawan Indonesia). Lalu, bagaimana dengan masa-masa pra-Kemerdekaan RI? Sejarah sastra kita mencatat, juga tidak banyak wanita sastrawan/penyair kita. Pada awal 1950-an, kita tentu boleh mengingat nama-nama Ida Nasution, Waluyati, S. Rukiah, St. Nuraini, dan Suwarsih Djojopuspito. Di antara mereka ini, hanya S. Rukiah yang dikenal sebagai sastrawan sekaligus penyair.
Pada masa akhir 1950-an s.d. 1970-an, sejarah sastra kita masih saja mencatat tidak banyak wanita satrawan/penyair kita. Kita tentu boleh mengingat nama NH Dini, Surtiningsih, Dyantinah, Hartini, Titie Said, Tjahjaningsih, Titis Basino, Sugiarti, Ernisiswati, Enny Sumargo, Isma Sawitri, Dwiarti Mardjono, Susy Aminah Aziz, Bipsy Soenharjo, Toety Heraty, dan Rita Oetoro (karya semua sastrawan/penyair ini tersimpan di PDS HB Jassin). Lalu, bagaimana dengan masa 1970-an hingga dewasa ini? Silakan menelitinya.
Akan tetapi, boleh dipertanyakan, mengapa saya begitu menggebu menyajikan fakta historis perihal sastra dan wanita? Jawabannya tercermin melalui ungkapan Latin ini, dux femina facti, bila wanita memegang suatu pekerjaan maka ia selalu mengambil peran penting di dalamnya (mumpung bulan ini kita sedang memperingati Hari Kartini, kan?).

Puisi Sejarah
NAMANYA “catatan kecil”, ya, mestinya berwujud sekadar peringatan yang biasa-biasa saja tentang karya penyair Rini Intama.
Peringatan (catatan) itu, misalnya, sebagaimana sudah disampaikan di atas, pertama, Rini Intama menggunakan metrum puisi. Akan tetapi, kedua, ternyata Rini Intama di dalam kedua kumpulan puisinya itu,  Sejarah & Budaya Tangerang dalam Puisi: Kidung Cisadane (Kosa Kata Kita, 2016) dan Hikayat Tanah Jawara: Babad Banten dalam Sekumpulan Puisi (Kosa Kata Kita, 2018), tidak tampil biasa-biasa saja.
Tidak tampil biasa-biasa saja, dalam perspektif filsafat sastra merujuk pada objek material yang dipilih Rini Intama ketika membangun puisi-puisinya, yakni sejarah (Tengerang dan Banten). Objek material yang menjadi pembeda puisi Rini Intama dengan puisi wanita penyair Indonesia lainnya (yang telah disebutkan di atas), menyebabkan puisi Rini Intama boleh disebut sebagai puisi sejarah, yang proses kelahirannya boleh diduga berpangkal dari suatu fakta sejarah (Tangerang dan Banten) kemudian dibangun melalui pencitraan menjadi bangunan puisi, yang efek perlokutifnya kepada pembaca bisa berupa protes, dongeng, rasa khawatir, dan lain-lain yang seirama dengan “harapan” pembaca. Bisa pula, puisi-puisi sejarah Rini Intama malah lebih efektif ketika dibacakan untuk murid-murid SD, terkait dengan ucapan Bung Karno perihal “jasmerah” (hal yang belakangan menjadi catatan kritis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita). Perhatikan puisi Rini Intama berikut ini, “Festival Cisadane” (Kidung Cisadane, h.20).
  
Perahu naga berlayar menyusuri sungai,
Menyampaikan pesan leluhur

     Mendayunglah terus hingga muara

Ritual bebek-bebek yang lepas berenang bebas
Barongsai meliuk-liuk, bumi menyambut perayaan

Lebih dari seratus tahun lalu
Perahu Peh Cun menulis jejak di tepian Cisadane
Menyampaikan pesan leluhur

     Mendayunglah terus hingga muara

Dalam gempita yang berloncatan, orang-orang berdoa
Riak air membawa kisahnya di setiap kelopak bunga yang jatuh di sini


Uniknya, atau mungkin istimewanya, di bawah puisinya ini Rini Intama membubuhkan catatan kaki (hal yang dilakukannya hampir di semua puisinya). Oleh karena itu, puisinya menjadi puisi sejarah, mengingat, sebagaimana telah disebutkan, ia berpijak pada objek formal sejarah (Tangerang dan Banten).
 Pilihannya terhadap objek formal sejarah, secara lokutif setidaknya dapat disandarkan pada minatnya pada sejarah (dengan lokus Tangerang dan Banten), yang mungkin secara kontekstual dekat dengan hidup dan kehidupannya. Mengingat (peninggalan fisik) sejarah mesti dilestarikan, demi terpeliharanya nilai-nilai luhur setempat, yang secara kebangsaan setidaknya dianggap telah menopang nilai-nilai luhur bangsa, tidak heran jika Rini Intama turut melestarikannya melalui metrum puisi. Karena memilih puisi, tidak heran pula jika Rini Intama mengekspresikan peristiwa sejarah (Tangeran dan Banten) yang, sebagaimana telah disinggung, mampu memicu efek perlokutif kepada pembaca, bisa berupa protes, dongeng, rasa khawatir, dan lain-lain yang seirama dengan “harapan” pembaca.
Perhatikan puisi Rini Intama berikut ini, “Watu Gilang” (Hikayat Tanah Jawara, h.32), yang seperti puisi-puisinya yang lain diberi catatan kaki mengenai apakah itu Watu Gilang.

Serupa sajadah batu
Raja-raja menyemai doa
Dan memintal janji
Rakyat menyandarkan semua asa

Di waktu pentasbihan
Di atas watu gilang raja-raja dinobatkan
Saat ini batu tetap menetap di tengah kota
Karena tak ingin sejarah runtuh dan orang-orang lupa

Tentang puisi sebagai medium pengekspresian sejarah, sebenarnya sudah dilakukan nenek moyang kita lebih dari seribu tahun lalu. Di dalam sejarah sastra Jawa kuno, misalnya, mungkin kita mengenal nama Empu Sedah dan Empu Panuluh sebagai penggubah kakawin “Bharata Yudha”. Empu Panuluh, yang hidup pada masa pemerintahan Raja Jayabaya dari Kediri, itu, kemudian lebih dikenal sebagai penyair sejarah. Selain kakawin “Bharata Yudha”, ia juga menulis kakawin “Hari Wangsa” (mengisahkan perkawinan Kresna dengan Rukmini), dan kakawin “Ghatotkacasraya” (mengisahkan perkawinan Abimanyu, anak Arjuna, dengan Dewi Sundari, anak Kresna). Dari hal ini, nyatalah bahwa epos Mahabharata itu sendiri sesungguhnya sudah menjadi filosofi bagi orang Jawa sejak ribuan tahun lalu.      
Tentang sadar sejarah, hal yang mungkin patut dipertalikan dengan puisi sejarah Rini Intama, juga sudah digarisbawahi oleh filsuf sejarah G.W.F Hegel (1770-1831), yang sejak menjadi dosen di Universitas Berlin pada 1818 kemudian dikenal sebagai pencetus metode dialektika (bagaimana “mendamaikan” pertentangan melalui tesis, antitesis, dan sintesis). Sejarah, bagi Hegel, adalah proses yang dialami “Roh absolut” ketika manusia mengalami/melakukan dialektikanya secara sadar. Oleh karena itu, sejarah tidak akan pernah berakhir (secara dialektis) mengingat itulah “perjalanan” manusia menuju hari depan gemilangnya. Karena “Roh absolut” diharapkan mampu memeroleh kesadarannya, melalui dialektikanya tersebut, maka manusia tidak akan mengulangi masa lalunya yang kelam.
Itulah yang juga disebut Bung Karno sebagai “jasmerah”.

Pamunah
NAMANYA “catatan kecil”, ya, mestinya berwujud sekadar peringatan yang biasa-biasa saja tentang karya penyair Rini Intama.
Akan tetapi, sebagaimana telah diuraikan, ternyata Rini Intama di dalam kedua kumpulan puisinya itu, tidak tampil biasa-biasa saja.
Rini Intama, melalui puisi-puisinya, turut tersadar betapa sejarah (Tangerang dan Banten) mesti selalu menjadi kesadaran transenden masyarakatnya agar mereka senantiasa hidup dalam etika berbangsa dan bernegara.


Wahyu Wibowo, penyair Angkatan 1980 dan dosen Filsafat Bahasa di FBS Universitas Nasional, Jakarta; tinggal di Depok.

BAGIKAN:

TERKAIT

Previous
Next Post »

EmoticonEmoticon

Note: only a member of this blog may post a comment.