Dunia Kepengayoman dalam Penerbitan Antologi Cerita Pendek di Yogyakarta

ADMIN SASTRAMEDIA 5/30/2019
oleh Herry Mardianto

/1/
Kajian ini berangkat dari sebuah pameo bahwa karya sastra tidak begitu saja jatuh dari langit. Sebagaimana dikemukakan oleh Tanaka dalam bukunya Systems Model for Literary MacroTheory (1976), pada hakikatnya karya sastra merupakan sebuah sistem yang eksistensinya erat berkaitan dengan sistem-sistem yang menjadi lingkungan pendukungnya, yaitu pengarang, penerbit, kritik, dan pembaca. Persoalan yang dibahas dalam kajian ini berkaitan dengan pertanyaan sejauh mana upaya para pengayom/penerbit memperhatikan dan mendukung kegiatan sastra (khususnya dalam penerbitan/pengembangan cerpen) di Yogyakarta. Tujuan yang ingin dicapai dari pembahasan ini adalah mengetahui bagaimana perkembangan cerita pendek Indonesia di Yogyakarta ditinjau dari peran pengayom (lembaga/instansi pemerintah dan swasta, dan penerbit), bagaimana sistem penerbitan cerpen dalam sebuah antologi (baik personal maupun komunal).

Dalam konteks pembicaraan ini kita perlu menyepakati bahwa cerita pendek Indonesia di Yogyakarta yang dimaksudkan dalam kajian ini adalah karya sastra dalam bentuk cerita pendek yang lahir (terbit dalam bentuk antologi—baik perorangan maupun bersama-sama) di Yogyakarta, ditulis oleh sastrawan yang secara kultural proses kreatifnya tidak dapat dilepaskan dari Yogyakarta.

/2/
Tidak dapat dipungkiri bahwa sudah sejak lama kegiatan sastra di Yogyakarta tumbuh san berkembang dengan baik karena didukung oleh kehadiran berbagai komunitas sastra, perguruan tinggi, dan media massa. Sebelum tahun 1970-an telah terbit Majalah Indonesia (1948), Arena, Patriot, Sastra, Gadjahmada, Seriosa, dan Minggu Pagi (1945). Minggu Pagi sampai pertengahan tahun 1960 an di samping memuat artikel artikel umum juga memuat cerita pendek (cerpen) dan cerita bersambung (cerbung) karya Nasjah Djamin, Rendra, Motinggo Busje, dan Bastari Asnin. Cerita bersambung dalam Minggu Pagi yang mendapat sambutan hangat dari pembaca adalah “Hilanglah Si Anak Hilang” (karya Nasjah Djamin), dimuat secara bersambung sekitar tahun 1959—1960 dan kemudian diterbitkan dalam bentuk buku. 

Pada tahun 1950—1960 an, terbit majalah Pesat dan Budaya (yang disebutkan terakhir diterbitkan oleh Jawatan Kebudayaan P dan K Yogyakarta). Kedua majalah tersebut memuat tulisan berupa artikel sastra, drama, sajak, dan masalah masalah kebudayaan. Kurang lebih satu tahun kemudian (15 Agustus 1951) hadir majalah Basis, selain memuat artikel budaya dan sastra, juga memuat sajak sajak penyair Yogyakarta. Majalah (kebudayaan) yang menyusul kemudian adalah Citra Yogya (12 Desember 1987), secara khusus memuat artikel kebudayaan umum, kesenian, sastra, dan sajak sajak. Penerbitan berbagai surat kabar/majalah di Yogyakarta memberi andil yang cukup besar bagi perkembangan sastra di Yogyakarta. Pernyataan ini setidaknya didukung oleh tujuan penerbitan (terutama majalah kebudayaan dan sastra) yang tidak dapat dielakkan dari idealisme untuk memelihara dan mengembangkan kebudayaan; upaya dalam mengetengahkan wawasan Yogyakarta terhadap perkembangan kebudayaan dalam rangkaian kontinuitas yang dinamis hal ini dengan mengingat bahwa Yogyakarta memiliki citra sebagai kawasan budaya, kota pelajar, kota budaya, daerah yang penuh diliputi sejarah perjuangan bangsa, serta memiliki potensi untuk kaderisasi bermacam bidang, termasuk bidang seni, khususnya sastra.

Di samping penerbitan majalah/surat kabar, dinamika kehidupan sastra Indonesia di Yogyakarta diramaikan oleh penerbitan berbagai antologi cerpen dan puisi yang memuat karya karya sastrawan Yogyakarta, baik secara pribadi maupun komunal lewat institusi tertentu. Beberapa antologi puisi yang patut dicatat adalah Sajak sajak Manifes, Tugu, Risang Pawestri, Bulaksumur Malioboro, Genderang Kurusetra, Biarkan Kami Bermain, Tujuh Penyair Yogya Baca Puisi, Sembilu, Lima Penyair Yogya ke Jakarta, dan Melodia Rumah Cinta

Penerbitan antologi cerpen tidak sebanding dengan penerbitan antologi puisi yang terlihat sangat marak. Beberapa antologi cerpen yang hadir antara lain Kejantanan di Sumbing (Subagio Sastrowardojo, 1965) cerpen yang dijadikan judul antologi tersebut meraih hadiah dari majalah Kisah; Perjanjian dengan Setan (Djajak Md., 1978); Malam Putih (Korrie Layun Rampan, 1978); Ia Sudah Bertualang (Rendra, 1960 an); Lelaki Berkuda dan Di Tengah Padang (keduanya karya Bastari Asnin, 1960 an) cerpen “Di Tengah Padang” mendapat hadiah pertama majalah Sastra. Penerbitan antologi cerpen baru gencar sekitar tahun 1980-an.

/3/
Dalam masyarakat tentu ada orang atau lembaga yang tergerak menjadi pengayom kegiatan kesenian (sastra), kepengayoman tersebut antara lain berupa bantuan untuk penulisan, penerbitan, dan pemberian hadiah karya sastra. Pengertian pengayom adalah orang atau lembaga yang bertindak sebagai pendukung/pelindung (dalam pengertian luas) dalam menggiatkan olah kesastraan. Pengayom berpartisipasi dalam memberikan dukungan material terhadap kelangsungan kegiatan bersastra. Pengayom dalam kegiatan pengembangan (penerbitan) cerpen Indonesia di Yogyakarta mempunyai latar belakang orientasi berbeda-beda sehingga dukungan yang diberikan pun tidak sama. 

Situasi ini tercermin dalam tujuan pengayoman yang terbagi dalam tiga klasifikasi: (1) keinginan menerbitkan buku yang memuat karya cerpenis Yogyakarta, (2) menumbuhkan kreativitas dalam berkesastraan dengan mengadakan lomba penulisan cerita pendek, dan (3) menaruh perhatian kepada dua kegiatan tersebut, seperti yang dilakukan Taman Budaya, Panita Festival Kesenian Yogyakarta, dan Dewan Kesenian Yogyakarta. Berbagai kegiatan yang dilakukan oleh pengayom dapat berupa pemberian penghargaan atau memberikan ruang bagi perkembangan sastra (khususnya cerita pendek) di Yogyakarta.

Pada bulan Januari 1989, misalnya, Taman Budaya Yogyakarta (TBY) menyelenggarakan Lokakarya Penulisan Puisi dan Cerita Pendek. Lokakarya tersebut diadakan untuk meningkatkan keterampilan teknis dan memperluas wawasan para penulis dan calon penulis, khususnya di daerah Istimewa Yogyakarta. Narasumber terdiri atas Umar Kayam dan Ashadi Siregar (penulisan cerpen), Bakdi Sumanto dan Kuntowijoyo (penulisan puisi). Karya-karya pemenang lomba tersebut oleh TBY dipublikasikan sekaligus didokumentasikan dengan menerbitkannya dalam antologi (Antologi Puisi dan Cerpen Pemenang Lomba Penulisan Puisi dan Cerpen). Kehadiran antologi ini diharapkan dapat bermanfaat untuk melihat seberapa jauh perkembangan seni sastra di Yogyakarta, khususnya untuk genre puisi dan cerita pendek, pada kurun waktu tertentu. Serangkaian kegiatan tersebut tentunya tidak akan dapat terlaksana dengan baik tanpa adanya kerja keras semua pihak, baik peserta, panitia, juri, dan instansi terkait.

Gagasan penerbitan antologi oleh TBY mendapat sambutan positif dari Kepala Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi DIY yang menyambut gembira dengan terbitkannya buku antologi tersebut. Setidaknya, dengan diterbitkannya buku Antologi Puisi dan Cerpen tersebut akan menambah koleksi atau bahan pustaka di bidang seni sastra, khususnya puisi dan cerpen. Selain itu, masyarakat sastra memiliki dokumentasi dan sumber informasi mengenai kemajuan dan perkembangan puisi dan cerpen di DIY. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi DIY sebagai pengayom menyadari bahwa Yogyakarta sebagai kota budaya cukup potensial di bidang penulisan puisi dan cerpen sehingga perlu adanya usaha-usaha secara terus menerus dan berkesinambungan terhadap program pembinaan dan pengembangan seni sastra (puisi dan cerpen) melalui pembinaan terhadap para penulisnya guna lebih meningkatkan kualitas dan kuantitas para penulis. Penerbitan buku antologi ini besar arti dan manfaatnya bagi upaya memotivasi penulis dalam berkarya, meningkatkan kualitas para penulis guna menghasilkan karya puisi dan cerpen yang bermutu.

Panitia Festival Kesenian Yogyakarta 1992 dan Penerbit Bentang memberikan kepengayoman dalam kehidupan sastra di Yogyakarta dengan menyadari bahwa kehidupan kesastraan selalu mengalami pasang naik dan surut. Ada kalanya terjadi semacam ledakan kreativitas seiring dengan produktivitas. Ada kalanya kreativitas masih terjaga tetapi produktivitas menurun, dan ada kalanya produktivitas menggebu tetapi kreativitas begitu kering. Alat untuk mengukur pasang naik dan surutnya kehidupan kesastraan bermacam-macam, dapat diukur lewat ramainya para sastrawan melempar isu-isu kesenian atau kebudayaan ke media massa atau diukur lewar event-event sastra dan penerbitan-penerbitan antologi puisi atau cerpen. Di Yogyakarta, sering para penyair atau cerpenis merasa seakan-akan atau sungguh-sungguh sedang terjadi gelombang pasang naik dalam kehidupan kesastraannya, tetapi sering pula mereka merasa seakan-akan dan sungguh-sungguh terjebak dalam kondisi surut. 

Dinamika seperti ini sering menggelisahkan atau justru menantang; sebab apa pun yang terjadi toh mereka sendiri yang harus berbuat mengubah keadaan, berbuat mengatasi masalah, dan berbuat untuk tidak menyerah. Penerbitan buku Ambang: Antologi Puisi dan Cerpen merupakan wujud dari semangat tidak menyerah itu. Di sisi lain, penerbitan ini dimaksudkan untuk kepentingan apresiasi dan sosialisasi sastra, menjaga semangat berkarya dari sastrawan muda Yogyakarta.

Penerbitan antologi Lukisan Matahari (1993) merupakan hasil kerja sama antara Harian Bernas Yogyakarta dan Penerbit Bentang. Penerbitan antologi dilatarbelakangi oleh kesadaran redaktur Bernas akan arti penting karya sastra (cerita pendek) yang dimuat di koran. Sastra koran memiliki posisi dan makna strategis bagi keseluruhan perkembangan sastra Indonesia. Sastra koran yang hadir secara rutin dengan jangkauan pembaca relatif lebih luas menyebabkan sastra koran lebih mudah menjalin komunikasi dengan pembaca. Intensitas interaksi yang tinggi antara sastrawan (cerpenis) dan pembaca (lewat cerpen yang dimuat dalam Bernas), memberi kemungkinan terjalinnya keakraban antara cerpenis dan audience (pembaca). 

Dengan demikian, redaktur Harian Bernas Yogyakarta menyadari benar bahwa salah satu makna strategis sastra koran adalah mengurangi bahkan menghilangkan kemungkinan terjadinya keterasingan karya sastra di tengah masyarakatnya. Di sisi lain, redaktur Harian Bernas Yogyakarta menyadari bahwa keberadaan sastra Koran merupakan potensi yang mampu meramaikan pertumbuhan dunia kesastraan di Yogyakarta. 

Potensi untuk senantiasa “meramaikan” dunia sastra Yogyakarta adalah dengan menumbuhkan dan membuka peluang bagi siapa pun (termasuk cerpenis pemula) untuk mengasah bakat mereka dalam menulis cerita pendek sehingga dapat mencapai prestasi yang membanggakan. Hal ini tidak akan terwujud jika Harian Bernas Yogyakarta tidak menyediakan rubrik sastra yang diasuh secara apresiatif dan bertanggung jawab. 

Dua hal terakhir ini setidaknya dibuktikan dengan penerbitan antologi Lukisan Matahari. Alasan lain mengapa penerbitan ini dianggap penting oleh Harian Bernas Yogyakarta karena sastra koran memiliki kelemahan akibat dari kehadirannya yang dianggap hanya “selintas”. Koran cenderung mengikuti irama jurnalistik yang “berlari” mengikuti dinamika perkembangan masyarakat dan dunia, memiliki implikasi terciptanya masyarakat pembaca yang beranggapan bahwa usia koran hanya mampu bertahan sehari: hari ini terbit dan keesokan harinya sudah basi. Ketika karya sastra dikaitkan kehadirannya dengan koran, tidak urung juga terkena “hukum” seperti itu. Maksudnya, karya sastra (cerita pendek) yang dimuat di koran cenderung cepat dilupakan oleh pembacanya. Parahnya lagi, sastra koran jarang didokumentasikan dengan baik oleh pengarang maupun pembacanya. 

Mengingat begitu tingginya nilai positif sastra koran dan keterbatasan usia koran yang relatif pendek, redaktur Harian Bernas Yogyakarta berinisiatif mengumpulkan cerita pendek yang pernah dimuat di Harian Bernas. Kepedulian Harian Bernas menerbitkan antologi cerpen secara berkelanjutan berkaitan dengan komitmen akan memberikan porsi selayaknya bagi perkembangan karya sastra, khususnya cerpen. Tanpa harus diartikan menyombongkan diri, Bernas menyadari bahwa koran mampu memberikan kontribusi sekaligus komitmen besar terhadap perkembangan sastra di tanah air. Harapan para redaktur koran (termasuk Harian Bernas), penulis-penulis cerpen di Indonesia (lebih khusus lagi di Yogyakarta) senantiasa memberikan karya terbaik mereka di koran, di samping di majalah khusus sastra seperti Horison.

Yayasan Untuk Indonesia (YUI) menerbitkan antologi Parta Krama (1997) dalam rangka menandai masa pensiun Umar Kayam. Penerbitan ini berangkat dari pemikiran bahwa Umar Kayam merupakan salah seorang budayawan terpenting di Indonesia. Mengingat keterlibatannya menerjuni dunia budaya secara paripurna selaku pelaku, pemikir, pengamat sekaligus penggiat, ia merambah dunia birokrat, akademisi, pers, berbagai bentuk lembaga budaya maupun sebagai orang bebas merdeka, sebagaimana ditekuninya hampir selama satu dasawarsa terakhir. Bukan saja selalu menggugah karena ke-”baruan”-nya sebagai sebuah ide cerita, gaya penulisan maupun pesan yang ingin disampaikan, namun sekaligus menjadi wacana penting yang menggambarkan kontekstualisasi fenomena yang terjadi pada saat karya tersebut “dilahirkan”. Tema ketidakberdayaan “wong cilik” terhadap kekuasaan yang menjadi terlalu besar dan semakin sulit untuk dijangkau, menjadi tema yang diminati Umar Kayam.

Kesadaran menerbitkan sebuah kumpulan cerpen ibarat seorang musyafir berjalan di padang tandus, jauh dari popularitas—apa lagi materi—tidak membuat surut niat Kalika menerbitkan kumpulan cerpen “Percakapan Patung Buldan” karya Arwan Tuti Artha. Kumpulan cerpen ini diberi judul “Percakapan Patung Buldan” dengan melihat kenyataan bahwa di dunia yang semakin riuh ini, orang sudah tidak lagi punya teman untuk diajak berdialog, berbagi rasa atau ngudar rasa. Orang sudah kehilangan ruang dan waktu untuk berdialog dengan dirinya sendiri, apalagi dengan orang lain. Lewat “Percakapan Patung Buldan” inilah, Kalika mencoba mengajak pembaca untuk merenungkan kembali betapa pentingnya sebuah tegur sapa. Terbitnya kumpulan cerpen ini (berisi cerita-cerita pendek tulisan Arwan Tuti Artha dari tahun 1978 hingga 2000) berkat bantuan dari beberapa pihak, yaitu Yayasan Adikarya IKAPI dan The Ford Foundation.

/4/
Kehidupan sastra di Yogyakarta menjadi dinamis karena adanya peran pengayom yang turut ambil bagian di dalamnya. Peran pengayom terlihat dalam aktivitas penerbitan karya sastra, baik dalam media massa (koran dan majalah) maupun dalam bentuk buku terbitan (antologi) serta memberi motivasi dan penghargaan sastra bagi penulis yang berprestasi. Tanpa adanya campur tangan pengayom dapat dipastikan bahwa kehidupan sastra akan mengalami stagnasi atau setidaknya sastra hanya akan jalan di tempat.***

Sumber: KerlingAntologi Kritik/Esai Bahasa dan Sastra, Penyunting: Dessy Wahyuni, Medri Oesnoe, Agus Sri Danardana, dan  Tirto Suwondo, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan  Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta, 2016

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »