E(k)s(ist)ensi Sastra Yogya

ADMIN SASTRAMEDIA 5/30/2019
oleh Latief S. Nugraha

Kurang lebih dalam satu dekade terakhir ini, hampir setiap hari terjadi ‘pesta’ sastra di Yogyakarta. Acara pembacaan, pementasan, perbincangan, diskusi, hingga perdebatan yang berkepanjangan meliputi karya sastra digelar baik secara rutin maupun insidental di ruang apresiasi yang beragam. Di samping itu, proses kreatif para sastrawan juga terus berlangsung suntuk di kamar-kamar kos, warung-warung kopi, ruang tamu kediaman sastrawan, gedung-gedung kebudayaan, rubrik-rubrik sastra di media massa, hingga di beranda facebook. Acara-acara pergelaran sastra benar-benar hadir semarak mengisi setiap sudut ruang daerah istimewa ini.

Demikianlah wajah sastra Yogya hari ini. Yogya seakan telah menjadi pasar bebas hambatan bernama “Jogja Istimewa.” Maka, melalui tulisan pendek ini saya ingin menyampaikan bahwa kita harus kembali kepada Yogyakarta, bukan Jogja Istimewa. Sastra mesti dijaga muruahnya sebagai sebuah dunia yang sunyi. Perlu disadari pula bahwa sastra lebih dekat dengan filsafat tinimbang sebagai karya seni. Sastra lebih memiliki posisi sebagai dasar yang kemudian menurunkan karya-karya selanjutnya. Oleh karenanya, sastra perlu dikembalikan pemahamannya bahwa ia bukan sekadar sebagai pelengkap perayaan pentas seni 17 Agustus, tetapi dapat hadir secara mandiri. Sastra mesti menjadi pokok yang melahirkan pertunjukan teater, film, lukisan, nyanyian, tarian, dan menjadi apa pun dengan bebas, bukan sekedar bagian dari karya seni-karya seni itu.

Menurut saya, karya sastra bukanlah sebuah kisah fiksi rekaan semata. Karya sastra merupakan sebuah dunia nyata yang tersembunyi. Sebab, di dalamnya terkadang kita justru dapat melihat sisi lain dunia, hal-hal yang sebelumnya tidak pernah tampak di permukaan atau bahkan memang sengaja dibenamkan. Seorang sastrawan mesti memiliki ilmu pengetahuan yang berlimpah-limpah. Menjadikan kepalanya sebagai alam semesta. Mengapa demikian? Karena, sastra merupakan ilmu yang lengkap. Maka, sudah saatnya masyarakat sastra Yogyakarta mengembalikan sastra kepada hakikatnya, kepada esensinya.

Pikiran dan pemikiran sastrawi tidak perlu melulu dihadirkan sebagai sebuah karya sastra. Hal yang terpenting adalah esensinya. Tentu hal ini harus dirumuskan, dihadirkan ke dalam bentuk yang benar-benar nyata, bukan sebagai abstrak yang bias tafsir. Menghadirkan sastra yang mewujud di tengah masyarakat tentu bukan sekadar beramai-ramai menggelar parade baca puisi dan menawarkan cita-cita untuk eksis, tetapi mengembalikannya sebagai spiritualitas. Bukankah inti sastra adalah spiritualitas? Sementara, hari ini terkadang kita lupa akan hal itu, yang dilihat adalah alun gelombang eksistensi yang justru tidak bertahan lama dan tidak memberikan manfaat apa-apa.
Itulah sebabnya, seakan situasi sastra di Yogyakarta begitu riuh dan gemuruh, bukan gemuruh sebagai mesin produksi, tetapi gemuruh ombak di permukaan laut yang digiring oleh angin. Tidak ada karya sastra yang ditunggu-tunggu lahir dari rahim kota ini. Tidak ada acara sastra yang ditunggu-tunggu hadir di gedung pusat kebudayaan kota ini. Semuanya seperti telah menjadi rutinitas belaka. Atau jangan-jangan kehidupan kebudayaan semacam inilah yang disebut sebagai keistimewaan Yogyakarta? Ah, rasa-rasanya tidak sesederhana itu.

Sejarah sastra Yogya mencatat adanya monumen-monumen yang berdiri kukuh buah tangan sastrawan Yogya di masa lalu. Selain kekal sebagai dongengan monumen-monumen itu abadi sebagai karya. Telah banyak karya besar yang lahir tak lagi terhitung jumlahnya. Untuk menyebut beberapa di antaranya, ada Romansa Perjalanan karya Kirdjomuljo, Hilangnya si Anak Hilang karya Nasjah Djamin, Pasar karya Kuntowijoyo, Para Priyayi karya Umar Kayam, Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi AG, Mega Mega karya Arifin C. Noer, Dunia Semata Wayang karya Iman Budhi Santosa, dan masih buuuanyak lagi yang lainnya. Belum lagi karya-karya antologi bersama seperti Malioboro-Bulaksumur, Tugu, Genderang Kurukasetra, Penyair Yogya Tiga Generasi, dan antologi-antologi karya sastra Indonesia maupu Jawa yang diterbitkan oleh panitia FKY seksi sastra dan sejumlah instansi yang dapat memberikan gambaran tentang perjalanan sejarah kekaryaan sastra di Yogyakarta. 

Soal ini agaknya kita tidak bisa lepas dari bayang-bayang masa silam itu. Masa lalu memang selalu lebih bisa berumur panjang jika dibandingkan dengan situasi sastra terkini yang justru hanya berusia yang pendek semata. Apa lagi kalau sudah berkait dengan keterbelahan antara sastra (berbahasa) Indonesia dan sastra (berbahasa) Jawa. Agaknya, sastra sebagai esensi memang sudah memasuki senjakala. Zaman benar-benar sudah berubah dalam kemelut eksistensi yang tak berkesudahan berebut tempat yang mapan. Setiap hari masalah demi masalah tindih-menindih membenamkan akal sehat dan dunia sunyi bernama sastra. Misalkan sastra Yogya benar-benar hilang, barangkali tidak ada lagi yang sudi mencari di mana keberadaannya.
Saya rasa kita juga perlu merumuskan perihal semesta sastra Yogya. Sastra yang Yogya itu yang bagaimana?

Persaudaraan, tegur sapa, pendidikan asah-asih-asuh yang rekat terjalin dalam masyarakat sastra Yogya yang mewujud dalam sanggar atau komunitas lalu menghasilkan karya sastra bermutu rasa-rasanya tidak hanya menjadi bagian —kehidupan di luar sastra, tetapi itulah sastra Yogyakarta. Pola inilah rasanya yang tidak terjadi di daerah lain di Indonesia. Oleh karenanya banyak sastrawan yang betah tinggal di Yogyakarta dan terusmenerus berproses kreatif menghasilkan karya. Yogya sudah dianggap menjadi tanah kelahiran kedua. Hal ini menciptakan lingkungan kreatif yang cukup dinamis sekaligus kompleks. Pertanyaannya, masihkah kebudayaan tersebut ada dalam kehidupan masyarakat sastra Yogya saat ini?

Ketika membicarakan situasi sastra Yogyakarta hari ini, tentu saja kebudayaan kuno ini masihlah tertanam dalam jiwa sejumlah sastrawan dan menyebarluaskannya kepada generasi baru sastra Yogya kini. Hal itu memang tidak tampak jika melihat sastra Yogya hari ini dalam satu sudut pandang semata. Dari sekian banyak tentulah ada yang masih mempertahankan polapola lama itu sebagai kebudayaan adiluhung. Namun, di sisi lain juga ada yang sudah berlari bahkan mendahului masa depan dan abai terhadap tradisi bersastra di Yogya yang diciptakan oleh generasi sebelumnya. Jika diperhatikan, ada kesatu-paduan antara sejumlah sastrawan baik yang muda dengan yang tua, namun juga ada keterpisahan di antara mereka. Artinya pembentukan karakter karya dan sastrawan bisa berjalan seoring namun juga sekaligus mustahil. Nah, kira-kira seperti itulah sastra Yogya.
Ada yang mengolah warisan para pendahulu, namun ada pula yang mencoba menciptakan sejarahnya sendiri. Tentu saja dalam hal ini, siapa saja yang tulus ikhlas berkarya demi sastra dan demi Yogyakarta justru akan tersingkir oleh kepentingankepentingan. Padahal, hasil karya dan laku proses kreatif sang sastrawan yang mengedepankan esensi dan bukan eksistensi inilah sesungguhnya ruh sastra Yogya.

Sungguh, sastra sejatinya memiliki posisi superior. Namun, selama ini seakan sastra justru berada pada posisi inferior dan terpencil yang seolah hanya menjadi pelengkap. Penyajian sastra di atas panggung melalui pertunjukan sastra seyogianya menumbuhkan kesadaran bahwa hal tersebut merupakan sebuah kerja reaktualisasi karya sastra bukan ajang eksistensi penampilnya.
Goenawan Mohamad (GM) pernah menuliskan kegelisahannya di Majalah Horison tahun 1993 perihal sastra “dengan minoritas yang tak tepermanai”. GM mengungkapkan bahwa sastra sudah sejak lama terpencil dan harus menemukan alasan hidupnya di lingkungan ramai yang memperoleh gambaran dirinya dari media massa sebagai “pasar”. Dengan kata lain peran sastra harus dirumuskan!

Yogyakarta merupakan salah satu daerah yang selama ini disebut-sebut sebagai kawah candradimuka dan telah banyak melahirkan sastrawan. Yogyakarta seperti ladang garapan tempat orang-orang nenandur, yang kemudian hasilnya di bawa ke tempat lain dan terjalinlah sebuah transaksi doltinuku dengan keuntungan yang berlipat ganda.

Banyaknya acara apresiasi sastra di kantung-kantung budaya (tanpa perlu saya menyebutkannya tempat-tempat itu) yang secara rutin bergantian —bahkan terkadang berbarengan, bisa diartikan sebagai wujud bahwa sastra di Yogyakarta dapat tumbuh subur berkecambah di mana-mana. Meskipun tidak sedikit acara sastra yang hadir hanya berupa selebrasi perayaan pascakarya semata tanpa ada pemaknaan terhadap karya sastra yang tiada henti diciptakan tersebut.
Melihat hal tersebut apakah ada kecemasan di tengah masyarakat perihal sastra? Kini sudah saatnya kembali memaknai apa yang disampaikan lewat karya sastra, bukan soal siapa yang menyampaikannya!

Sumber: SKM Minggu Pagi, Nomor 25, Tahun 69, Minggu IV, September 2016.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »