Hakikat dan Struktur Puisi

ADMIN SASTRAMEDIA 5/31/2019
oleh Kistiriana Agustin Erry Saputri 

Hakikat Puisi

Secara etimologi, istilah puisi berasal dari bahasa Yunani poeima ‘membuat’ atau poeisis ‘pembuatan, dan dalam bahasa Inggris disebut poem atau poetry. Puisi diartikan “membuat” dan “pembuatan” karena lewat puisi pada dasarnya seorang telah menciptakan suatu dunia tersendiri, yang mungkin berisi pesan atau gambaran singkat tentang pengertian puisi (Aminuddin, 2009: 134). Puisi merupakan salah satu genre sastra yang dapat dikaji dari beberapa aspek, seperti struktur, bahasa, jenis-jenisnya, dan sebagainya. Puisi dapat dikaji dari segi struktur karena puisi merupakan sebuah struktur yang dibentuk dari banyak unsur. Dari segi bahasa, bahasa dalam puisi berbeda dengan bahasa dalam karya sastra yang lain yang berbentuk prosa.

Menurut Pradopo (2010: 7) puisi itu mengekspresikan pemikiran yang membangkitkan perasaan, yang merangsang imajinasi panca indera dalam susunan yang berirama. Semua itu merupakan sesuatu yang penting, yang direkam dan diekspresikan, dinyatakan dengan menarik dan memberi kesan. Dikemukakan juga oleh Altenbernd (1970: 2), puisi adalah pendramaan pengalaman yang bersifat penafsiran (menafsirkan) dalam bahasa berirama (bermetrum) (as the interpretive dramatization of experience in metrical language).

Secara lebih lanjut, Marquaß (2000: 5) memberikan pengertian puisi sebagai berikut:

“Gedichte sind kurze Texte. Ihr Grundprinzip ist es, mit wenigen Worten viel zu sagen. Dies führt zu stark verdichteten und komplizierten Gebilden, die nur von dem Ganz verstanden werden, der sich in besonderer Weise darum bemüht und sich auf das Wagnis einer Gedichtinterpretation einlässt”.

Dari pendapat di atas mengandung arti puisi adalah teks-teks pendek. Prinsip dasarnya yakni untuk menyatakan banyak hal dengan sedikit kata.Prinsip ini mengarah pada bentuk-bentuk yang begitu kuat dipadatkan dan diperumit, yang hanya dimengerti secara keseluruhan, dengan mengusahakan cara-cara khusus dan melibatkan keberanian menginterpretasikan puisi. 

Puisi juga merupakan bentuk sastra yang paling padat dan terkonsentrasi. Kepadatan komposisi tersebut ditandai dengan pemakaian sedikit kata, namun mengungkap lebih banyak hal. Secara implisit puisi sebagai bentuk sastra menggunakan bahasa sebagai media pengungkapnya. Hanya saja bahasa puisi memiliki ciri tersendiri yakni kemampuannya mengungkap lebih intensif dan lebih banyak ketimbang kemampuan yang dimiliki oleh bahasa biasa yang cenderung bersifat informatif praktis (Siswantoro, 2010: 23). 

Waluyo (1987: 68) juga menjelaskan bahwa, penikmat puisi biasanya merasa kesulitan dalam memahami maksud penyair. Salah satu penyebab dalam kesulitan tersebut adalah karena bahasa yang digunakan pengarang seringkali menyimpang dari arti sebenarnya atau semantik. Penyimpangan semantik berarti bahwa bahasa yang digunakan seringkali tidak menunjuk pada suatu makna, melainkan memiliki makna ganda atau kias. 

Hawkes (via Siswantoro, 2010: 22) berpendapat bahwa sebuah karya seni, khususnya karya sastra, harus dipahami sebagai karya otonom, dan tidak dinilai dengan rujukan kepada kriteria atau ketentuan-ketentuan di luar dirinya. Tidak kurang dan tidak lebih karya yang otonom itu menghendaki kajian yang teliti pada dirinya sendiri. Sebuah puisi merupakan suatu bentuk penyajian dan penataan sejumlah pengalaman manusia yang kompleks yang diungkap dalam bentuk kata. 

Puisi yang digunakan manusia sebagai sarana penyampaian ungkapan atau perasaan yang diungkapkan melalui bahasa tulisan. Aristoteles (via Sumaryono, 1999: 24) menyebutkan bahwa tidak ada satu pun manusia yang mempunyai, baik bahasa tulisan maupun bahasa lisan yang sama dengan yang lain. Manusia mempunyai cara menulis yang berbeda-beda. Kesulitan itu akan muncul lebih banyak lagi jika manusia saling mengkomunikasikan gagasan-gagasan mereka dalam bahasa tertulis, contohnya dalam bentuk puisi. 

Menurut Aminuddin (2009: 134-136), jika ditinjau dari bentuk maupun isinya, ragam puisi itu bermacam-macam. Ragam puisi itu sedikitnya akan dibedakan antara: (1) puisi epik, yakni suatu puisi yang di dalamnya mengandung cerita kepahlawanan, baik kepahlawanan yang berhubungan dengan legenda, kepercayaan, maupun sejarah, (2) puisi naratif, yakni puisi yang di dalamnya mengandung suatu cerita, dengan pelaku, perwatakan, setting, maupun rangkaian peristiwa tertentu yang menjalin suatu cerita, (3) puisi lirik, yakni puisi yang berisi luapan batin individual penyairnya dengan segala macam endapan pengalaman, sikap, maupun suasana batin yang melingkupinya. (4) puisi dramatik, yakni salah satu jenis puisi yang secara objektif menggambarkan perilaku seseorang, baik lewat lakuan, dialog, maupun monolog sehingga mengandung suatu gambaran kisah tertentu, (5) puisi didaktik, yakni puisi yang mengandung nilai-nilai kependidikan yang umumnya tertampil eksplisit, (6) puisi satirik, yakni puisi yang mengandung sindiran atau kritik kehidupan suatu kelompok atau masyarakat, (7) romance, yakni puisi yang berisi luapan rasa cinta seseorang terhadap sang kekasih, (8) elegi, yakni puisi ratapan yang mengungkapkan rasa pedih seseorang, (9) ode, yakni puisi yang berisi pujian terhadap seseorang yang memiliki jasa, (10) himne, yakni puisi yang berisi pujian terhadap Tuhan. Dari teori di atas, Puisi Du hast gerufen - Herr ich komme termasuk dalam puisi lirik karena, Nietzsche sebagai pencipta puisi telah meluapkan perasaan pada saat itu melalui puisi tersebut.

Pradopo (2007: 13) menambahkan, bahwa puisi itu merupakan karya seni yang puitis. Kata puitis itu sendiri sudah mengandung keindahan yang khusus untuk puisi. Karya sastra dikatakan puitis jika karya tersebut dapat membangkitkan perasaan, menarik perhatian, dan menimbulkan tanggapan yang jelas. Selain bersifat puitis, bahasa puisi juga merupakan bahasa multidimensional, yang mampu menembus pikiran, perasaan dan imajinasi manusia. 

Menurut Badrun (1989: 2), puisi juga merupakan karya seni yang memiliki sifat dan ciri tersendiri. Dengan sifat dan ciri khususnya itu menyebabkan puisi berbeda dengan karya-karya lain. Salah satu ciri yang membedakan puisi dengan jenis karya sastra lain terletak pada kepadatan bahasa yang digunakan.

Dari beberapa teori diatas, dapat disimpulkan bahwa puisi adalah ekspresi pemikiran yang membangkitkan perasaan, yang merangsang imajinasi panca indera dalam susunan yang berirama. Puisi merupakan karya seni yang memiliki sifat dan ciri tersendiri. Salah satu cirinya terletak pada kepadatan bahasa yang digunakan. 

Struktur Puisi 

Struktur puisi adalah unsur pembentuk puisi yang dapat diamati secara visual. Unsur tersebut meliputi bunyi, kata, larik atau baris, dan tipografi. Menurut Marquaβ (2000: 9), struktur puisi dapat dibedakan menjadi empat bagian, yakni Schriftbild und Satzbau (susunan kata dan kalimat), Rhytmus und Klang (rima dan irama), Sprecher und Inhalt (pembicara dan isi), Wörter und Bilder (pilihan kata dan gaya bahasa). 

Kekhasan puisi adalah penggunaan kata-kata asing dan mengkombinasikannya. Pilihan kata yang lazim dalam bahasa sehari-hari seringkali diubah dan disalin dengan penuh artistik serta kiasan, sehingga kejadiaan dalam hal-hal sehari-hari tidak dikenali secara langsung (Marquaβ, 2000: 75). Kata dalam puisi berdasarkan bentuk dan isi dapat dibedakan antara lain. (1) Lambang, yakni bila kata-kata itu mengandung makna seperti makna dalam kamus (makna leksikal) sehingga acuan maknanya tidak menunjuk pada berbagai macam kemungkinan lain (makna denotatif). (2) Simbol, yakni bila katakata itu mengandung makna ganda (makna konotatif) sehingga untuk memahaminya seseorang harus menafsirkannya (interpretatif) dengan melihat bagaimana hubungan makna kata tersebut dengan makna kata lainnya (analisis kontekstual). (3) Utterance atau indice, yakni kata-kata yang mengandung makna sesuai dengan keberadaan dalam konteks pemakaian (Aminuddin, 2009: 136140). 

Kata sebagai satuan dari perbendaharaan kata sebuah bahasa mengandung dua aspek, yaitu aspek bentuk atau ekspresi dan aspek isi makna. Pada umumnya makna kata dibedakan atas makna yang bersifat denotatif dan makna kata yang bersifat konotatif. Makna denotatif adalah makna yang tidak menunjuk pada berbagai macam kemungkinan lain (makna murni). Makna konotatif adalah makna yang menunjuk pada kemungkinan lain (makna ganda) (Keraf, 1996: 2531). 

Dalam puisi cara penataan kosakata sehingga menjadi sesuatu yang lebih bermakna tidak lepas dari masalah gaya bahasa. Gaya bahasa dalam retorika dikenal dengan istilah style. Style berubah menjadi kemampuan dan keahlian untuk menulis atau mempergunakan kata-kata secara indah. Dalam perkembangannya, gaya bahasa atau style menjadi bagian dari diksi atau pilihan kata yang mempersoalkan cocok tidaknya pemakaian kata, frasa, atau klausa tertentu untuk menghadapi situasi tertentu (Keraf, 1996: 112). 

Gaya bahasa adalah susunan perkataan yang terjadi karena perasaan yang timbul atau hidup dalam hati penulis, yang menimbulkan suatu perasaan tertentu dalam hati pembaca. Gaya bahasa dapat menghidupkan kalimat dan memberi gerak pada kalimat. Gaya bahasa itu untuk menimbulkan reaksi tertentu, untuk menimbulkan tanggapan pikiran kepada pembaca (Pradopo, 2010: 93). 
Gaya bahasa pada dasarnya merupakan cara khas dalam menyatakan pikiran dan perasaan dengan menggunakan ragam tertentu. Gaya bahasa terdapat dalam segala ragam bahasa, baik ragam lisan maupun tulis, baik ragam sastra maupun nonsastra. Namun, secara tradisional gaya bahasa selalu dikaitkan dengan teks sastra, khususnya teks sastra tertulis (Sudjiman, 1993: 13). Gaya bahasa juga merupakan salah satu unsur kepuitisan. Adanya gaya bahasa ini menyebabkan sajak menjadi menarik perhatian, menimbulkan kesegaran, hidup, dan terutama menimbulkan kejelasan gambaran angan. Gaya bahasa mengiaskan atau mempersamakan sesuatu hal dengan hal lain supaya gambaran menjadi jelas, lebih menarik, dan hidup. 

Menurut Altenbernd (via Pradopo, 2010: 62) Bahasa kiasan ada bermacam-macam, namun meskipun bermacam-macam, mempunyai sesuatu hal (sifat) yang umum, yaitu bahasa-bahasa kiasan tersebut mempertalikan sesuatu dengan cara menghubungkannya dengan sesuatu yang lain. Jenis-jenis gaya bahasa tersebut antara lain, metafora, paradoks, asindenton, tautologi, dan hiperbola. 

1. Metafora 
Metafora adalah semacam analogi yang membandingkan dua hal secara langsung, tetapi dalam bentuk yang singkat seperti: bunga bangsa, buaya darat, buah hati, cindera mata, dan sebagainya. Dalam persajakan Jerman, istilah metafora biasa dikenal dengan die Metapher. Marquaβ (2000: 80) menerangkan bahwa: 

Die Metapher ist eine sehr häufige Bildform, bei der zwei unterschiedliche Vorstellungen (z.B: Wald und Meer) zu einer neuen verschmolzen werden. Durch die Einfügung eines eigentlich unpassenden und unerwarteten Wortes (Meer) entsteht ein Ausdrück mit einer neuen Bedeutung. 

(Metafora adalah sebuah gambaran yang sangat sering muncul dengan dua gambaran atau bentuk yang berbeda yang melebur menjadi sebuah makna yang baru. Melalui sisipan kata yang tidak sesuai dan tidak diharapkan, terjadi sebuah ungkapan dengan arti yang baru.)

Contoh metafora pada puisi Jerman terdapat dalam puisi Heidenröslein karya Goethe berikut:

Sah ein Knab’ ein Röslein steh’n/ Röslein auf der Heiden 
(Seorang pemuda melihat setangkai mawar kecil berdiri/ Mawar kecil di padang)


Röslein dalam puisi tersebut merupakan kiasan untuk menggambarkan seorang gadis yang cantik dan menarik hati. Seorang gadis tersebut diibaratkan sebagai Röslein (mawar kecil). 

2. Paradoks 
Menurut Pradopo (2007: 288), paradoks adalah gaya bahasa yang menyatakan sesuatu secara berlawanan atau bertentangan dalam wujud bentuknya. Contoh paradoks, yakni 

Sei selber Regen der vergilbten Wildniss 
(Jadilah hujan bagi belantara kerontang)

Paradoks pada penggalan puisi (1) terlihat pada kata Regen dan vergilbten Wildniss. Dari sini, dapat diketahui bahwa ada sesuatu yang berlawanan, yakni hujan dan belantara kerontang. Maka, dapat dikatakan kata-kata tersebut mengandung gaya bahasa paradoks. Melalui paradoks ini dapat ditafsirkan bahwa optimism Zarathustra (hujan) di tengah kehampaan hidup yang dikiaskan sebagai vergilbten Wildnis.

3. Asindenton 
Asidenton yakni suatu gaya yang berupa acuan, yang bersifat padat dan mampat di mana beberapa kata, frasa, atau klausa yang sederajat tidak dihubungkan dengan kata sambung. Bentuk-bentuk itu biasanya dipisahkan saja dengan koma, seperti ucapan terkenal dari Julius Caesar: 
Veni, vidi, vici 
(“saya datang, saya lihat, saya menang”.)

4. Tautologi 
Gaya bahasa tautologi mempergunakan kata-kata lebih banyak daripada yang diperlukan untuk menyatakan satu pikiran atau gagasan. Acuan itu kalau kata yang berlebihan sebenarnya mengandung perulangan dari sebuah kata yang lain. Contohnya pada sajak salah satu puisi Goethe: 

Glücklich, den in Leerer Traum beschäftigt! 
Glücklich, dem die Ahnung eitel wärl... 
,,,, 
Sag, was will das Schiksal uns bereiten? 
Sag, wie band es uns so rein genau?... 

5. Hiperbola 
Hiperbola adalah gaya bahasa yang mengandung suatu pernyataan yang berlebihan, dengan membesar-besarkan sesuatu hal. Contoh hiperbola yakni, (a) Kemarahanku sudah menjadi-jadi hingga hampir saja membuatku meledak (Keraf, 1984: 135), (b) Bergelimpangan mayat, terpisah kepala dari badan di sepanjang perbatasan (Tarigan, 1986: 56).

Struktur puisi juga merupakan makna yang terkandung pada tiap kata atau kalimat dalam sebuah puisi. Menurut Pradopo (2010: 295), untuk konkretisasi makna puisi dapat diusahakan dengan pembacaan heuristik dan retroaktif atau hermeneutik. Pada mulanya puisi dibaca secara heuristik, kemudian dibaca ulang secara hermeneutik. 

Pembacaan heuristik berdasarkan konvensi bahasa atau sistem bahasa sesuai dengan kedudukan bahasa sebagai sistem semiotik tingkat pertama. Pada umumnya, bahasa puisi menyimpang dari penggunaan bahasa biasa (bahasa normatif). Menurut Endraswara (2003: 67), Pembacaan heuristik adalah pembacaan sastra yang berdasarkan struktur kebahasaan dan yang dilakukan dalam heuristik antara lain menerjemahkan atau memperjelas arti kata-kata dan sinonim-sinonim. 

Culler (via Pradopo, 2010: 296) juga berpendapat bahwa, dalam pembacaan ini semua yang tidak biasa dibuat biasa atau harus dinaturalisasikan sesuai dengan sistem bahasa normatif, kata-kata diberi awalan atau akhiran, disisipkan kata-kata supaya hubungan kalimat-kalimat puisi menjadi jelas. Sebagai contoh pembacaan heuristik pada bait kedua kutipan puisi Chairil Anwar yang berjudul “Sebuah Kamar”, berikut: 

Ibuku tertidur dalam tersedu 
Keramaian penjara sepi selalu, 
Bapakku sendiri terbaring jemu 
Matanya menatap orang terselip di batu! 
(Pradopo, 2010: 295-296) 

Ibuku tertidur dalam (keadaan menangis) tersedu (sedu) (karena) kamar itu seperti penjara yang ramai, tetapi pada hakikatnya selalu sepi Bapakku sendiri terbaring (bertiduran) dengan rasa jemu 
Matanya melihat (gambaran nasibnya seperti) orang yang terselinap di batu!

Contoh pembacaan heuristik dalam puisi Jerman yang berjudul “Nachtgedanken”pada bait ke-3, baris ke-9 sampai -12, 

Mein Sehnen und Verlangen wächst.
Die alte Frau hat mich behext.
Ich denke immer an die alte,  
Die alte Frau, die Gott erhalte! 
Es wächst mein Sehnen und Verlangen.
Die alte Frau hat mich behext.
Ich denke immer an die alte Frau.
Der Gott erhalte die alte Frau. 

Pada bait ke-3, ‘aku’ sangat merindukan dan menginginkan bertemu dengan ibu. ‘Aku’ selalu memikirkan wanita tua itu, dia seakan-akan menyihirku untuk selalu memikirkannya. Wanita tua itu adalah wanita yang Tuhan jaga. ‘Aku’ merasa bahwa Tuhan akan selalu melindungi wanita tua itu. 
Pembacaan heuristik ini baru memperjelas arti bahasa sebagai sistem semiotik tingkat pertama, makna sastra belum tertangkap. Oleh karena itu, harus dibaca lebih lanjut menggunakan pembacaan retroaktif atau hermeneutik. Pembacaan retroaktif adalah pembacaan ulang dari awal sampai akhir dengan penafsiran atau pembacaan hermeneutik.

Pembacaan hermeneutik adalah pemberian makna berdasarkan konvensi sastra khususnya puisi. Puisi menyatakan sesuatu gagasan secara tidak langsung, dengan kiasan (metafora), ambiguitas, kontradiksi, dan pengorganisasian ruang teks tanda-tanda visual (Pradopo, 2010: 297). Menurut Endraswara (2003: 67), pembacaan hermeneutik adalah pembacaan karya sastra berdasarkan sistem semiotik tingkat kedua atau berdasarkan tingkat konvensi sastra. Jika dalam pembacaan heuristik hanya mengarah pada sistem bahasa atau tataran gramatikalnya, maka pembacaan hermeneutik merupakan pembacaan yang dilakukan pada sistem konvensi sastra. Dalam pembacaan ini, pembaca harus menafsirkan jauh lebih dalam untuk memperoleh kesatuan makna dari pemahaman makna sebelumnya yang masih beraneka ragam.

Saat melakukan pembacaan hermeneutik, pembaca akan mengingat sesuatu dan menafsirkan pengertiannya tentang teks tersebut dengan melakukan pemecahan kode. Hasil dari pembacaan retroaktif adalah pemunculan makna. Pembacaan hermeneutik merupakan pembacaan yang bermuara pada ditemukannya satuan makna puisi secara utuh. Puisi harus dipahami sebagai sebuah satuan yang bersifat struktural atau bangunan yang tersusun dari berbagai unsur kebahasaan. Oleh karena itu, pembacaan hermeneutik pun dilakukan secara struktural (Faruk, 1996: 29).

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »