Hamka dan Sastra di Tengah Adat, Agama, dan Gempuran Ideologi - Nenden Lilis A.

ADMIN SASTRAMEDIA 5/28/2019
oleh Nenden Lilis A.

…Engkoe Hamka, pertemoekanlah Hajati dengan Zainoeddin, djangan dia dimatikan. Kasihani anak saja, tiap-tiap menoenggoe samboengan tjeritera itoe berdoa djoega, tolonglah kedoea orang moeda itu!...

… Engkoe Hamka, generasi dan semangat moeda menghendaki kemenangan. Adat kolot mesti kalah, sebab itoe hendaklah kedoeanya bertemoe joega…

… Toean Hamka, kasihani saja, soenggoeh kalau toean tidak akan toetoep itoe tjerita dengan kematian!... 1)

Begitulah surat-surat dari pembaca yang mengalir ke meja Haji Abdul Malik Karim Amrullah, atau yang lebih dikenal dengan nama singkatan HAMKA, sang pengarang roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, saat roman tersebut termuat sebagai cerita bersambung dalam majalah Pedoman Masyarakat (1938) yang dipimpinnya.

 Roman tersebut memang sangat populer dan berpengaruh di masyarakat luas. Cuplikan surat-surat di atas menjadi gambaran sejauh mana kepopuleran karya tersebut sampai pembaca begitu larut di dalamnya. Bahkan saking populernya cerita itu, sang pengarang, ke mana dia pergi, sering disoraki anak-anak dengan julukan “Engkoe Van Der Wijck” 2). Pengaruh roman tersebut di masyarakat dibuktikan pula dengan berkalikalinya mengalami cetak ulang. Setahun setelah menjadi cerita bersambung pada majalah Pedoman Masyarakat, roman tersebut diterbitkan oleh sebuah penerbit di Medan, tahun 1949 mengalami cetak ulang yang kedua, tahun 1951 dicetak ulang yang ketiga oleh Balai Pustaka berturut-turut hingga cetakan yang ketujuh.. Cetakan kedelapan ditangani penerbit Nusantara Jakarta (1961). Cetakan berikutnya hingga cetakan kedelapan belas diterbitkan penerbit Bulan Bintang. Selain itu, novel ini juga diterbitkan dalam bahasa Melayu di Malaysia sejak 1963 dan hingga kini terus mengalami cetak ulang 3).

Uraian di atas hanya salah satu contoh saja dari pengaruh luas yang ditunjukkan oleh karya-karya Hamka. Karya-karya Hamka lainnya yang tak kalah berpengaruhnya di masyarakat adalah Di Bawah Lindungan Ka’bah (1936), Merantau ke Deli (1939), Tuan Direktur (1939), dan lain-lain. Tak kalah menariknya juga karya-karya Hamka, baik yang berbentuk roman, cerita pendek, maupun otobiografi lainnya, yang ditulis sejak 1930-an dan tahun-tahun selanjutnya, antara lain: Dijemput Mamaknya, Karena Fitenah, Keadilan Illahi, Di Dalam Lembah Kehidupan, Menunggu Beduk Berbunyi, Kenang-Kenangan Hidup I-IV, Lembah Nikmat, Cemburu, Cermin Penghidupan, dan Ayahku.

Siapa tak kenal Hamka, tokoh yang fenomenal tidak hanya pada lapangan kesusastraan, tapi juga lapangan keagamaan, kenegaraan, sosial, politik, dan budaya. Sastrawan kelahiran Maninjau Sumatera Barat, 16 Pebruari 1908, dan wafat di Jakarta, 24 Juli 1982, ini merupakan putera Dr. Abdul Karim Amrullah, seorang tokoh yang dikenal sebagai pemimpin pembaharuan Islam. Salah satu contoh dari ketokohan ayah Hamka ini yang menunjukkan pendiriannya yang kuat dalam membela Islam dari hal-hal yang dapat menyimpangkannya adalah penentangannya terhadap Jepang, yang memaksakan penyembahan terhadap Maharaja Jepang oleh orang Indonesia.

Penyembahan itu jelas suatu penyimpangan dari prinsip ketauhidan Islam. Sebagai putera dari seorang tokoh Islam, kehidupan dan pendidikannya kental dengan keagamaan. Ia mengecap pendidikan sekolah dasar sampai kelas 2. Kemudian mengikuti pendidikan agama dan bahasa Arab di Sumatera Thawalib, Bukittinggi. Pada saat berumur enam belas tahun, Hamka meninggalkan kampung halamannya untuk belajar pada H.O.S Tjokroaminoto di Surabaya, kemudian ke beberapa negara Arab, termasuk Mekah. 

Sepulangnya ke Indonesia, Hamka sempat menjadi guru agama di Deli Sumatera Timur, selanjutnya pergi ke Medan dan terjun dalam lapangan jurnalistik (penerbitan). Dalam bidang ini, Hamka pernah memimpin majalah Pedoman Masyarakat, Gema Islam, dan Panji Masyarakat. Kontribusi lainnya dari sastrawan penerima gelar doktor kehormatan dari Universitas Al-Azhar Mesir (1956) ini adalah menjadi Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) hingga akhir hayatnya. Tentu saja, selain menulis bidang sastra, Hamka pun menulis bidang-bidang lainnya, seperti filsafat, etika, dan khotbah 4).

***
Dalam kaitannya dengan bidang kesusastraan, Hamka selalu menarik untuk dibicarakan secara khusus. Hal itu terjadi karena beberapa sebab:

Pertama, dari segi pendidikan. Seperti terlihat dari penelitian yang dilakukan Jakob Sumardjo 5) mengenai pendidikan para pengarang Indonesia, baik pengarang yang termasuk dalam zaman kolonial, maupun zaman peralihan (tahun 1940-an), mereka rata-rata berpendidikan tinggi dan menengah, semacam STOVIA, OSVIA, Sekolah Tinggi Hukum, MULO, AMS, Sekolah Guru, Kweekschool, dan lain-lain. Atau dalam istilah A. Teeuw 6), kaum pribumi yang terjun ke dalam lapangan kesusastraan itu rata-rata berpendidikan Barat.  Menurut penelitian Jakob Sumardjo di atas, lulusan pendidikan tingkat itu kemampuannya menguasai bahasa asing (Belanda, Inggris, Perancis, Jerman) cukup kuat. Ini yang menyebabkan mereka dapat belajar sastra dari sumber-sumber berbahasa asing, terutama melalui bahasa Belanda, baik berupa sastra Belanda sendiri, maupun terjemahan sastra dunia. Dengan demikian, dapat diduga orientasi sastra para pengarang tersebut, tentunya tidak jauh dari sastra Barat.

Hamka berbeda. Ia tidak mengenyam pendidikan Barat. Bahkan, menurut A. Teeuw, ia tidak bisa berbahasa Belanda atau Inggris. Minat sastranya lebih berkembang karena bacaan-bacaan dari kesusastraan Arab Modern. Pengarang yang paling digemarinya adalah pengarang Mesir Mustafa Luthfi Al-Manfaluthi (1876-1942). Selain menulis karya sastra asli, Manfaluthi menulis juga saduran dari karya sastra Eropa, terutama Perancis. Dengan demikian, Hamka lebih mengenal sastra Barat ini melalui saduran-saduran dalam kesusastraan Arab tersebut.

Kedua, berkenaan dengan latar belakang keagamaan, keulamaan, atau kekiyaiannya. Pada masa yang sering disebut dengan masa sebelum perang, seiring dengan semangat nasionalisme yang mulai tumbuh, antara lain lewat ikrar para pemuda Indonesia untuk berbahasa satu bahasa Indonesia, kesusastraan Indonesia modern lebih banyak diisi oleh para penulis roman dari Sumatera, khususnya Minangkabau. Hal ini terjadi karena akar bahasa yang diikrarkan sebagai bahasa pemersatu itu, yakni bahasa Indonesia, berasal dari bahasa Melayu. Adapun yang lebih dekat dengan bahasa tersebut adalah Sumatera (Minangkabau). Tak mengherankan apabila kesusastraan masa ini banyak ditulis oleh pengarang Sumatera Barat atau Minangkabau ini (60%).

Oleh karena pendidikan yang diterimanya dan kiprahnya di masyarakat, para pengarang tersebut, meski berasal dari Sumatera, tidak banyak disorot secara khusus dari segi agamanya.. Hal itu berbeda dengan Hamka, latar belakang pendidikannya dan ketokohannya sebagai ulama Islam, sering disorot dan dikait-kaitkan dengan kiprahnya sebagai penulis roman. Dalam kaitan ini, Hamka sering mendapat gugatan dan kritikan tajam, baik dari kalangan Islam sendiri, maupun di luar itu, tentang kiprahya sebagai pengarang roman tersebut.

Ketiga, Berhubungan dengan orang-orang di lingkaran penerbitan tempat Hamka beraktivitas, maupun mempublikasikan karya-karyanya. Orang-orang dalam lingkaran penerbitan Medan dan karya-karyanya seringkali mendapat sorotan tajam, khususnya oleh pemerintah kolonial. Mereka adalah para pengarang pribumi yang berasal dari kalangan Islam, seperti Joesoef Syou’yb, Tamar Djaja, Rifa’i Ali, A. Damhuri, A.M. Pamuntjak (sebuah nama samaran), dan lain-lain. Mereka sering dijuluki sebagai pujangga surau (julukan yang pertama kali diberikan A.S. Hamid) 7) karena mereka berlatar belakang pendidikan sekolah agama. Mereka menulis berbagai jenis roman, termasuk roman detektif. Di dalam roman-roman tersebut sesungguhnya mereka tidak murni sekedar mengemukakan cerita sebagai penghibur, tetapi, seperti telah mengemuka dari berbagai hasil penelitian, memasukkan semangat pergerakan dan nasionalisme.

Hal ini tentu menggentarkan pemerintah Hindia-Belanda karena sangat mengancam status quo mereka. Untuk meng-counter-nya, dilabelilah karya-karya mereka sebagai bacaan liar, roman picisan, cabul, sastra populer, komersil, dan sejenisnya. Bahkan, tak segan-segan pemerintah kolonial Belanda melakukan pemenjaraan terhadap penulis roman jenis ini, contohnya terhadap Maisir Thalib (Martha) akibat romannya berjudul Leider Mr. Semangat.

Hamka adalah salah seorang yang juga sering dikategorikan sebagai pengarang surau ini. Namun, berbeda dengan pengarang yang juga sering disebut pengarang surau lainnya, yang karya-karyanya tak pernah dan sangat tak mungkin diterbitkan Balai Pustaka, karya-karya Hamka justru diterbitkan penerbit bentukan pemerintah HindiaBelanda.

Keempat, berkaitan dengan polemik-polemik yang mengiringi aktivitas kepengarangannya, dan juga karyanya, terutama polemik yang berkenaan dengan karya romannya yang telah disebutkan di awal, yakni Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, yang oleh beberapa pihak diduga sebagai jiplakan dari karya pengarang Perancis Alphonse Karr berjudul Sous les Tilleuls, yang disadur pengarang Mesir kegemaran Hamka, Manfaluthi, dengan judul Madjulin (Magdalena).

Berkaitan dengan kekhususan-kekhususan itulah tulisan ini akan menyoroti sosok sastrawan fenomenal ini.

***

Karya-karya Hamka, baik dari segi temanya, maupun dari segi pengungkapannya, senapas atau tidak berbeda dengan karya-karya pengarang lain sezamannya, terutama yang berlatar belakang Minangkabau. Karya-karya Hamka (seperti dapat dilihat dalam berbagai judul roman yang telah disebutkan di depan), bertema gugatan terhadap adat Minangkabau, terutama kawin paksa. Bentuk pengungkapannya pun sejalan dengan karya-karya pengarang lain masa itu yang cenderung bertutur dalam teknik ekspositori, moralistis, plot yang selalu berakhir dengan kematian tokoh-tokoh utamanya, dan cenderung sentimentil, serta penggunaan bahasa yang berbunga-bunga (mendayu-dayu).

Beberapa kritikus, termasuk Teeuw, memandang bahwa dari segi sastra, karyakarya Hamka ini tidak istimewa. Menurut Teeuw, Hamka tidak bisa dianggap sebagai pengarang besar. 8)

Penilaian seperti itu dapat dimaklumi dari latar belakang mereka yang memandang kesusastraan dari kaca mata Barat, terutama kaca mata yang timbul dari lahirnya pandangan akibat renaisance di Eropa yang diikuti oleh paham rasionalisme. Pengaruhnya ke dalam sastra modern Indonesia awal, seperti dicatat Ajip Rosidi 9), adalah penolakan terhadap karya-karya sastra berbau dakwah (seperti yang terdapat dalam kesusastraan tradisional di daerah-daerah Nusantara, semacam hikayat dan serat).

Penolakan ini berimplikasi pula pada penolakan terhadap karya-karya sastra bertendens atau yang memperlihatkan aspek moralitas secara eksplisit.

Penilaian itu akan berbeda apabila menggunakan kaca mata lain dari sudut latar belakang pengarang yang tentunya tak lepas dari tradisi lokal, terutama Minangkabau. Keterkaitan pengarang dengan tradisi lokal ini dapat dilihat dari pernyataan Hamka dalam tulisan “Mengarang Roman” yang dimuat majalah Pedoman Masyarakat (1938) Edisi 4 (51):

…Bekal kita dalam mengarang adalah dari doea aliran, pertama aliran kesoesastraan dari desa kita sendiri dari Manindjau jang dikelilingi oleh Boekit Barisan, dari Oedjoeng Djoengoet dan Oedjoeng Tandjoeng, dari Rakok Tandjoeng Balat, dari bidoek jang berlajar dari taloek ke taloek, dari tapian ke tapian, dari njanjian kita seketika menggerakkan padi di sawah menoeroetkan iboe ketika badan masih ketjil. Setelah itu kita dididik oleh ajah menoeroet didikan soerau…

 Dalam tradisi lokal (Nusantara), sastra, baik yang berbentuk puisi, maupun prosa, biasa digunakan untuk menyampaikan nilai moral tertentu. Dalam pantun, misalnya dikenal pantun nasihat, pantun budi pekerti, pantun agama, dan lain-lain. Demikian pula cerita-cerita rakyat, seperti legenda, dongeng, hikayat, dan lain-lain, adalah sarana bagi masyarakat untuk bercermin dalam bertingkah laku. Saya kira satu hal yang wajar apabila ‘semangat’ memasukkan unsur moralitas seperti ini muncul dalam karya-karya pengarang zaman sebelum perang, termasuk Hamka.

Adapun dalam hubungannya dengan kebiasaan para pengarang tersebut menulis bahasa yang berbunga-bunga (penuh peribahasa, kiasan, pantun, dan lain-lain), juga dialog-dialog panjang, dapat dilihat dari latar belakang mereka yang berasal dari adat Minangkabau, khususnya yang berkenaan dengan kebiasaan masyarakat Minangkabau tradisional yang disebut dengan musyawarah untuk mencapai kata sepakat. Dalam tradisi ini kerap terjadi perbincangan kedua pihak dengan menguraikan hal-hal terdahulu dan banyak mengucapkan peribahasa dan pepatah adat, sebab dalam adat Minangkabau, peribahasa dan pepatah-pepatah itu adalah undang-undang masyarakat 10). Dengan menyadari pengaruh tradisi lokal ini, penggunaan bahasa dalam karakteristik seperti disebutkan di atas, dapat dipandang bukan sebagai sebuah kekurangan, tetapi sebagai unsur lokalitas.

Meski secara tema dan estetika karya Hamka senapas dengan para pengarang sezamannya, terutama para pengarang Minangkabau yang karya-karyanya banyak diterbitkan Balai Pustaka, ada satu hal yang sering disorot dari karya Hamka, yakni unsur keislamannya. Contoh karyanya yang sering disebut mengandung unsur keislaman yang kental ini adalah Di Bawah Lindungan Ka’bah. Bahkan, H.B. Jassin 11) terang-terangan menyebut karya tersebut memajukan falsafah keislaman dan bercorak serta beraliran keislaman.

Pendapat yang berbeda datang dari Jakob Sumardjo. 12) Dalam penelitiannya tentang “Konteks Sosial Novel Indonesia 1920-1977”, dalam sorotannya tentang agama pengarang (yang di dalamnya termasuk juga Hamka dengan karyanga Di Bawah Lindungan Ka’bah) Jakob Sumardjo menilai bahwa agama pengarang tidak berpengaruh besar dalam menentukan tema yang diusung para pengarang. Pengarang yang berlatar agama tertentu tidak mengangkat tema-tema yang bersifat agama yang mereka anut. Latar agama ini hanya terlihat pada setting kehidupan masyarakat yang seagama dengan penulisnya.

Sebenarnya, apabila kita membaca karya-karya Hamka, termasuk dalam roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, aspek-aspek keislaman dan dakwah keislaman dapat kita rasakan. Dalam roman di atas misalnya, dakwah keislaman itu terasa dari penokohan yang dilakukan pengarang. Sebagai contoh, ada pernyataan dalam roman tersebut bahwa tokoh Zainuddin, setelah berpisah dengan Hayati, berniat dan bercita-cita untuk memperdalam ilmu dunia dan akhirat supaya kelak menjadi seorang yang berguna.. Angan-angan Zainuddin adalah menjadi orang alim, jadi ulama, sehingga apabila kembali ke kampungnya dapat membawa ilmu. Zainuddin sendiri adalah turunan dari ayah dan ibu ahli ibadat.

Apa yang dilakukan Hamka dalam penokohan di atas, menurut saya, adalah salah satu cara dakwah yang dilakukannya, suatu upaya untuk menunjukkan kepada pembaca bahwa betapa mulia orang yang berilmu dan ahli ibadat. Dakwah yang dilakukannya itu sangat halus. Cara dakwah seperti ini, jika melihat karya-karya sastra pada zaman itu yang rata-rata penuh tendensi, tentunya adalah suatu hal yang bisa kita nilai pula sebagai kelebihan Hamka. Dengan kelebihan cara berdakwah seperti ini, sangatlah wajar jika kemudian karya-karya Hamka dapat lolos dalam penerbitan Balai Pustaka, penerbit yang justru menghindarkan diri dari karya-karya berbau agama.

Sayang sekali, apa yang dilakukan Hamka ini justru dikecam, baik oleh kalangan Islam sendiri, maupun oleh kalangan yang berbeda ideologi. Kiprah Hamka (dan pengarang-pengarang lainnya yang berlatar pendidikan agama), dalam penulisan roman dianggap tidak pantas, karena Hamka seorang ulama. Seperti terlihat dari pernyataan A.S. Hamid 13), buku-buku dari kalangan tersebut (yang kemudian oleh A.S. Hamid disebut Pujangga Surau) seharusnya membawa kebudayaan surau ke tengah-tengah masyarakat, kebudayaan yang damai dan tentram. Sementara apa yang dibawa dalam cerita roman para pengarang ini oleh para pengecamnya dianggap telah keluar dari kebudayaan tersebut, bahkan dianggap dapat merusak moral masyarakat. Sebagai contoh, penggambaran pertemuan tokoh Zainuddin dan Hayati di sebuah dangau di sawah dalam Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck telah mengantarkan Hamka pada julukan ‘kijahi I love you, kijahi tjabul’. Ujung-ujungnya, majalah Pedoman Masyarakat, Pustaka Islam, dan penerbitan lain yang sejalan dianggap membahayakan moral.

Ada dua hal yang dapat kita simpulkan dari kecaman-kecaman tersebut. Yang pertama adalah masih dominannya pandangan konservatif dalam memahami agama di masyarakat, dalam arti agama masih dipahami sebatas persoalan-persoalan ritual dan akhirat. Tugas ulama dan kiyai dipahami hanya sebatas di wilayah itu. Hamka dan kawan-kawan berani menerobos konservatisme tersebut. Pandangan mereka yang penuh pembaharuan untuk mengoreksi sempitnya pandangan itu tampak dalam tulisan-tulisan yang mereka tulis, bahkan dalam roman-romannya. Sebagai contoh, dalam roman karangan Hamka, ditemui pernyataan seperti ini:

Kota itu adalah kota kemauan. Murid-murid sekolah agama belajar di sana, telah mengubah bentuk “orang siak” atau santri pelatuk, yang tersisih dari masyarakat lantaran hanya mengetahui kitab-kitab bahasa Arab, dengan kepala dicukur, kain pelekat kasar dan baju gunting Cina. Semuanya telah ditukar dengan model yang baru, murid-murid telah boleh berdasi, boleh berpakaian cara Barat, karena agama bukan pakaian, tetapi sanggup bertempur, berjuang di dalam menjalankan agama. Dalam pada itu, oleh guru-guru diizinkan pula murid-murid mempelajari musik, mempelajari bahasa asing, sebagai Belanda dan Inggris.


                                                                           (dari Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck).

Apa yang dilakukan Hamka dengan tindakannya dalam lapangan kesusastraan dalam menyadarkan kepicikan pandangan masyarakat akan agama seperti digambarkan di atas tentunya merupakan suatu kontribusi yang tidak ternilai. Ia telah membuka dan menguak medan berat yang sedianya tertutup dengan penuh resiko. Sastra sebagai bagian dari seni yang sering dicap haram, lewat upaya yang dilakukannya, lambat laun disadari sebagai bagian dari upaya menjaga moralitas masyarakat, memperhalus budi pekerti, menyadarkan dari kebatilan, dan lain-lain.

Selanjutnya, hal kedua yang dapat disimpulkan dari kecaman-kecaman yang tertuju pada Hamka adalah perlunya pandangan kritis dalam memandang persoalan tersebut. Pandangan kritis ini diperlukan karena tidak setiap kecaman tersebut bersifat murni. Ada berbagai kepentingan politis dan ideologis di baliknya, yang oleh beberapa pihak disinyalir dilakukan untuk menjatuhkan keulamaan Hamka, sebab tak jarang kecaman-kecaman itu dilontarkan pihak-pihak yang bersebrangan ideologi dengan sang sastrawan. Termasuk dalam polemik tentang pemlagiatan yang dilakukan Hamka dalam roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.

Lepas dari benar/tidaknya pemlagiatan ini, kita bisa memandang hal lain yang lebih besar yang telah dilakukan dan diberikan Hamka yang kontribusinya sangat banyak dirasakan masyarakat. Salah satunya, dalam kaitannya dengan kesusastraan, apa yang dilakukan Hamka dapat kita tarik sebagai model dan cermin tentang bagaimana sastra, dengan suatu keteguhan, dapat menjadi jalan bagi suatu cita-cita mulia dalam membangun masyarakat dan bangsa. ***

Catatan:

1)      Dikutip dari artikel Hamka, “Mengarang Roman” dalam Pedoman Masyarakat (1938) edisi 4 (51), hal 1033-1034, lihat pula E. Ulrich Kratz (ed.),  Sumber Terpilih Sejarah Sastra Indonesia Abad XX (Jakarta, 2000), hal.71.

2)      Ibid.

3)      Maman S. Mahayana, dkk., Ringkasan dan Ulasan Novel Indonesia Modern
(Jakarta, 1992), hal.59.

4)      Keterangan-keterangan ini dapat dilihat dalam Teeuw, Sastra Baru Indonesia. E. Ulrich Kratz (ed.),  Sumber Terpilih Sejarah Sastra Indonesia Abad XX (Jakarta, 2000), Taufiq Ismail, dkk, Dari Fansuri ke Handayani (Jakarta, 2001). Tentang riwayat hidupnya dapat dibaca pula otobiografinya Kenang-Kenangan Hidup (1951).

5)      Jakob Sumardjo, Konteks Sosial Novel Indonesia 1920-1977 (Bandung, 1999), hal. 102-105.

6)      A. Teeuw, Sastra Baru Indonesia (Ende-Flores, 1979 ), hal.104.

7)      A.S. Hamid, “Banjir Roman”, Pedoman Masyarakat (1939) edisi 5 (49), hal.960961.

8)      Teeuw, op.cit., hal 107.

9)      Ajip Rosidi,”Sastra Dakwah Islamiyah di Nusantara sebagai Landasan Pengembangan Sastra Modern” dalam Sastra dan Budaya, Kedaerahan dalam Keindonesiaan (Jakarta, 1995), hal.349.

10)  Hal ini diakui Teeuw, op.cit., hal 87.

11)  H.B. Jassin Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esai (Jakarta, 1985), hal.46.

12)  Sumardjo, op.cit.,hal 93.

13)  A.S. Hamid, loc.cit.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »