Hari Ketika Kau Mati

ADMIN SASTRAMEDIA 5/29/2019
oleh Stefanny Irawan

AKU memutar anak kunci sambil menahan napasku. Sedetik ke depan, ruang yang ada di balik pintu ini akan terbentang, menyambut, seperti yang telah mereka lakukan dengan setia bertahun-tahun lamanya. Namun kali ini berbeda. Mereka hanya akan menemukan diriku. Sendiri. Tidak ada lagi kamu. Tanganku bergetar, mencabut anak kunci dari rumahnya. Kutekan gagang pintu ke bawah. Ruangan itu menyambutku dengan sepi yang memekakkan telinga. Sunyi. Sebab tak ada lagi kamu. Napasku merendah ke tanah.

Kututup pintu di belakangku. Gesekan halus engselnya seakan membuka tanya tentang keberadaanmu, satu manusia lagi yang seharusnya melewati ambangnya bersamaku. Aku belum siap menjawab. Kupasang gerendel pengaman, berharap ia akan mengerti bahwa kamu tak akan pulang. Kugantungkan mantel di gantungan sebelah pintu, kulepaskan sepatu.

Kulangkahkan kaki, namun dua langkah dan aku berhenti. Aku mematung di ujung. Bukan pertama kalinya aku pulang lebih dahulu, malahan aku cukup sering pulang mendahuluimu yang tertahan rapat-rapat menjemukan firma hukum tempatmu bekerja. Biasanya aku akan menaruh tas kerjaku di meja dapur, membuat secangkir irish coffee dan mengoreksi pekerjaan para mahasiswaku hingga kau muncul lalu memelukku.

Kemudian entah bagaimana kau selalu berhasil membuatku meninggalkan pekerjaanku dan menemanimu yang berbaring di sofa, dengan dasi longgar dan kancing atas kemeja terbuka, berbagi cerita tentang harimu dan hariku. Setelah itu kita biasanya makan malam: masakan sederhana untuk berdua bila salah satu dari kita sedang ingin memasak atau makanan Meksiko hantaran dari restoran langganan kita.

Untuk kali ini aku tak lagi memiliki kuasa atas otot-otot kakiku dan meminta mereka menuju meja dapur, menuju mesin pembuat kopi, ataupun sofa nyaman berwarna kuning terang itu. Seakan ada lapisan gelembung raksasa yang menempel di seluruh dinding ruangan, menghisap semua kenyamanan dan kehangatan, dan sebagai gantinya adalah suatu kehampaan yang menekan. Rasa sendiri yang sebenarnya.

Entah berapa lama aku diam kaku di sana. Ketika akhirnya kupaksa diriku bergerak, serasa bisa kudengar dan kurasakan sendi tubuhku berderit. Aku tak berjalan ke arah meja dapur, namun berbelok ke kiri dan meletakkan tas di atas meja kecil di dinding belakang sofa dengan hati-hati, tak ingin menyenggol vas yang menampung bunga lili putih kesukaanmu. Ini bukan biasanya, dan karena itu aku tak mungkin bertingkah seperti biasanya. Aku bahkan tak tahu apa yang akan terjadi dengan tempat ini sampai pengacaramu membacakan isi surat wasiat. Kita belum menikah.

Kehampaan ini mulai benar-benar menggangguku. Bergegas aku tiba-tiba, mengambil remote control di atas meja dan menyalakan pesawat televisi. Saluran musik menampilkan klip lagu sedih. Tidak, tidak, bukan waktunya. Kuganti saluran hingga kutemukan acara berita. Aku butuh suara orang, percakapan, perdebatan atau apa pun yang bisa mengimbangi atmosfer menyedihkan di ruangan ini. Aku memang sendiri, tapi aku menolak tenggelam di dalamnya. Paling tidak untuk saat ini.

Berita kecelakaan lalu lintas. Ayunan langkahku untuk membuka pintu balkon dan memaksa pertukaran udara di ruang ini mendadak terhenti. Aku juga tidak siap untuk ini. Kuganti saluran. Safari fauna.

SEBENTAR aku merasa konyol. Bukankah belum tentu mereka menayangkan kecelakaan itu? Hatiku mengiya, tapi aku hanya tak ingin ada kemungkinan sekali lagi melihat apa yang mereka tunjukkan padaku di kamar mayat: kulitmu yang berwarna dingin tak wajar, tulang-tulang rusuk yang patah (”Salah satu tulang rusuk yang patah itu menusuk jantungnya,” dokter forensik berkata kepadaku perlahan), bercak-bercak darah yang mengering di rambut cokelatmu, dan matamu yang akan senantiasa terpejam.

Ya, matamu akan senantiasa terpejam, tak lagi menatapku dengan ceria atau mesra, seperti anak remaja yang tengah jatuh cinta. Aku selalu menggodamu akan hal ini, namun kita samasama paham bagaimana aku menyukai setiap kali aku memandang ke dalamnya. Mungkin juga itu sebabnya kau selalu betah berlamalama memandangiku. Ah, aku telah mulai merindukanmu.

Perlahan kusapa seisi ruangan dengan pandanganku dan aku bisa melihatmu di setiap titik dan sudutnya. Aku bisa melihatmu mencari-cari CD di antara koleksimu yang tersusun rapi di menara CD di samping televisi sambil berkata, ”Aku pernah dengar lagu itu dan aku hampir yakin Firehouse menyanyikannya. Atau Black Sabbath. Atau... Ah, mana sih?”

Aku bisa melihatmu duduk santai membaca salah satu buku yang berjajar di lemari dinding dekat pintu balkon. Kamu biasanya memilih untuk membaca buku-buku milikku. ”Sastra tentu baik untuk menenangkan otak hukumku yang tegang dan ruwet ini,” begitu kilahmu. Sampai saat ini aku masih yakin itu hanya alasan untuk tak mengakui bahwa kau juga diam-diam menggemari novel sastra dan novel populer. Lembar-lembar buku itu tentu akan merindukan jemarimu yang membolak-balik mereka dengan gerakan halus namun tegas. Dan aku tahu, bukan hanya mereka yang akan merindu. Napasku kembali jatuh. Kuyu.

Orang-orang berkata bahwa maut selalu bertanda. Seakan kematian datang seperti seseorang datang ke agen penjual mobil dan membayar sejumlah uang muka tanda jadi sebelum nanti melunasi dan membawanya pergi. Tapi sejak dulu aku tahu, bahwa denganmu, tak akan pernah ada tanda jadi macam apa pun. Pekerjaanmu sebagai pengacara di firma hukum terkemuka di negara bagian ini membuatmu semacam brosur gratisan di toko serba ada yang bisa dicabut kapan saja.

Di antara sederet kasus yang pernah dan akan kau tangani, pasti ada orang-orang yang berbahaya, yang selalu mendapatkan apa yang mereka mau. Termasuk kematianmu, entah bagaimana. Sejak dulu aku tahu, bahwa denganmu, aku harus selalu siap. Namun ketika hari ini tiba, tetap saja, hampa ini datang tibatiba dan menolak pergi, seperti pahit obat yang menempel erat di langit-langit mulut dan tenggorokan. Keras kepala. Tak peduli aku sesiap apa.

TIBA-TIBA aku merasa napasku sesak. Hampir berlari aku menuju pintu balkon dan membukanya lebar-lebar. Angin senja menerpaku. Kuhirup dalam-dalam, tak peduli uap lalu lintas kota yang ikut terbawa naik ke lantai ini. Di kejauhan lampu-lampu kota telah sebagian besar menyala; segerombolan kunang-kunang yang berpesta. Namun, berdiri di ambang pintu ini semakin membuatku merasa sendiri. Aku pernah menjadi bagian dari keramaian itu, tertawa, bercanda, bersamamu. Kini aku hanya seorang pemain tunggal di tepian arena.

Aku tertunduk dan mataku tertuju pada sebuah wadah bening berisi dua ekor kura-kura kecil, di sudut dekat ambang pintu. Dua kura-kura itu tengadah, menatapku. Ah, kalian, gumamku, siapa yang akan merawat kalian sekarang?

Sepasang makhluk hijau berumah cangkang itu pemberian temanmu. Aku masih ingat ketika setahun lalu kita hanya mampu tersenyum sopan seadanya ketika ia, sambil tersenyum tulus, menyodorkan wadah itu dan berkata, ”Untuk kalian. Menurut kepercayaan Cina, kura-kura melambangkan panjang umur.”

Dan kalimat pertama yang kulontarkan padamu begitu temanmu pergi adalah, ”Kita punya dua pilihan. Satu, membuang mereka. Dua, membiarkan mereka di sini tapi kamu yang mengurus. Aku tak suka kura-kura.” Tetapi karena kau tak berniat berbohong—atau lebih parah, menerima sepasang kura-kura lain sebagai gantinya—pada temanmu jika kali lain ia muncul untuk bertamu, akhirnya mereka tetap tinggal. Sampai sekarang aku tetap membenci mereka.

Dan kini mereka memandangiku. Benar-benar memandangiku. Leher dan kepala mereka tegak tengadah, dan mata hitam mungil mereka yang dilintasi garis lurik di kedua sisi wajah itu tak beralih dari arahku. Lalu, seakan tak puas melihatku sedemikian rupa, salah satu dari mereka bergerak, naik ke punggung yang lain dan memandangiku dari sana. Bersama, keduanya seakan membentuk satu menara kecil yang bertugas untuk mengawasiku.

Awalnya aku biasa saja, namun sedikit demi sedikit ada amarah yang mulai mengisi nadi. Apa maksud kalian memandangiku? Ya, hanya ada aku mulai saat ini. Kalian tak akan lagi menemui wajahnya memandang ke bawah, ke arah kalian, dan memberi kalian makan atau mengganti air yang menggenangi wadah plastik murahan itu. Hanya aku.

Tepat setelah aku berhenti mengucapkan kata-kata itu di dalam hati, menara kura-kura itu bergerak mendekat ke arahku, seolah menantang. Seakan menuduh. Menyalahkan, karena mereka tak lagi punya pilihan selain aku. Aku tak tahan lagi.

”Bagaimana mungkin kalian melihatku seperti itu? Seolaholah aku yang bertanggung jawab atas semua ini. Bukan! Bukan salahku. Aku tidak pernah menyuruhnya kembali setelah separuh perjalanan untuk mengambil dokumen maha penting di kantornya yang ternyata harus dibaca malam ini juga. Seharusnya ia tetap saja meneruskan perjalanan, menjemputku, dan makan malam di Pedro’s seperti yang kami rencanakan semula. Ia bisa bilang sesuatu pada seniornya atau mengarang sebuah alasan. Bukankah dia seorang pengacara? Dan aku juga tak pernah menyuruh gelandangan itu untuk muncul tiba-tiba, menyeberang jalan di perempatan seenaknya, tanpa melihat sebuah mobil tengah melaju ke arahnya. Aku juga tak menyuruh truk itu untuk berhenti di sana. Lampu merah! Salahkan lampu merahnya kalau kalian mau! Atau keputusannya untuk membanting kemudi ke arah kiri dan langsung menghantam moncong truk sialan itu! Yang jelas, ini bukan salahku!”

Napasku kini tersengal, dan aku merasa setitik air mulai muncul di sudut mataku. 
”Aku sudah bilang,” isak kecil mulai menjelma, ”ambil saja dokumen itu besok pagi-pagi.” 
Kedua kura-kura itu tetap melihat ke arahku. Namun entah bagaimana, aku merasa pandangan mereka tak lagi menghukum. Malahan, mereka terlihat sedikit rapuh sekarang. Aku mencibir, lalu mengusap mataku dengan lengan baju.

”Ya, kalian tak berhak menyalahkanku. Dan kalian tak berhak membuatku merasa lebih buruk. Malah mungkin kalian harus menyalahkan diri sendiri. Lambang panjang umur? Cih! Dan ya, kalian patut merasa sedih dan rapuh sekarang, karena hanya kini hanya ada aku, si pembenci kura-kura yang tak segan membuang kalian dari balkon ini kapan saja dia mau.”

LALU aku mengalihkan pandangan kembali ke seisi ruangan. Pada buku-buku di lemari, pada tumpukan CD, pada vas lili putih, pada sofa kuning. Semuanya tampak kosong dan sayu. Seolah-olah tenggelam dalam sedih tak terkatakan. Kini, setelah aku menuturkan dengan jelas kematianmu, mereka mengirimkan gaung perih ke arahku, membuat kesendirian getir di dalam diriku semakin kencang berdenyut. Aku mengutuk pelan lalu menggeleng.

”Tidak. Kalian tak seharusnya melakukan ini. Kalian tak boleh membuatku kian merasa ditinggalkan. Hibur aku. Penuhi aku dengan keberadaannya yang tersimpan dan melekat di setiap diri kalian. Kalian tak berhak merasakan kehilangan yang sama,” suaraku mulai meninggi, ”Hanya aku yang berhak! Karena bagiku, semuanya tak akan pernah sama lagi. Sedangkan kalian, kalian hanya seperangkat benda mati! Kalian tak berhak untuk...”

”Maureen? Maureen!” 
Segera aku menoleh ke arah pintu. Terdengar kunci diputar tergesa dan gagang pintu ditekan ke bawah bahkan sebelum waktunya. 

Cepat aku mengecek arlojiku. Setengah tujuh. Lima belas menit lebih awal dari biasanya. Sialan. Cepat kubersihkan sisa air mata hingga sempurna. Kurapikan baju dan rambutku. 
Pintu dibuka. 
Tertahan. 
Gerendel! Aku lupa. 

”Maureen? Baby? Buka pintunya!” 
Terburu-buru, namun sewajarnya, aku bergerak untuk melepas gerendel. Wajah itu telah tampak pucat di celah pintu. Aku harus berpikir cepat. 

Setelah gerendel terlepas sepenuhnya, Jeff menghambur masuk.
”Ada apa? Kau baik-baik saja? Aku dengar teriakan-teriakan,” dengan gugup ia menanyaiku sambil merengkuh wajahku ke dalam telapak tangannya, memeriksa apa aku benar tak apa-apa. 
”Tidak ada apa-apa, Jeff. Aku baik-baik,” ucapku berusaha menenangkan. 
”Lalu suara-suara teriakan itu?” 
Aku terpaksa tersenyum, campuran pura-pura antara malumalu dan minta maaf. ”Hanya aku yang membaca keras-keras salah satu naskah drama yang ditulis para mahasiswaku.” 
”Ya Tuhan, Maureen, kau membuatku takut. Jangan lakukan itu lagi,” katanya sambil memelukku erat, ”Lakukan itu kalau aku tak ada di rumah.” 
Aku balas memeluk. 

Ya, aku memang selalu melakukannya kalau kau tak ada di rumah, sayang. Berulang kali. Berlatih untuk menghadapi kematianmu tak mungkin kulakukan di depanmu, bukan? Tapi dengan adanya kepulanganmu yang lebih awal hari ini, aku harus mengulang berlatih dengan skenario ini dari awal sekali lagi. Untung kau tak menggangguku ketika aku memakai skenario bahwa kau ditembak pembunuh bayaran di ruang sidang waktu kebetulan kau menggantikan seniormu datang ke pengadilan hari itu. Untuk skenario satu itu, aku bahkan mencabik-cabik foto atasanmu. Tak akan ada waktu untuk membersihkan serpihannya di atas karpet jika kau muncul lebih awal. Begitulah. Karena denganmu, sejak dulu aku tahu, aku harus selalu siap. 

”Mau makanan hantaran dari Pedro’s?” aku melepaskan pelukan dan bertanya manja.

D600, 29 Juli 2007; 15:23

Sumber: Koran Tempo, 4 November 2007

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »