Hermeneutik menurut Para Tokoh

ADMIN SASTRAMEDIA 5/31/2019
oleh Kistiriana Agustin Erry Saputri


Hermeneutika sebagai ilmu maupun metode mempunyai peran luas dan penting dalam filsafat. Dalam sastra pembicaraanya sebatas sebagai metode. Sebagai metode, hermeneutik diartikan sebagai cara menafsirkan teks sastra untuk diketahui maknanya. Dalam sastra dan filsafat hermeneutika disejajarkan dengan interpretesi dan pemahaman. Metode Hermeneutik pada dasarnya sama dengan metode analisis isi. Diantara metode-metode yang lain, hermeneutik adalah salah satu metode yang dapat digunakan dalam penelitian teks sastra (Ratna, 2010: 44). 

Hermeneutik secara etimologis berasal dari bahasa Yunani hermeneuein yang berarti menafsirkan. Maka kata benda hermeneia secara harfiah dapat diartikan sebagai penafsiran atau interpretasi. Dan istilah Yunani ini mengingatkan kepada kita pada Hermes yaitu tokoh mitologis yang mempunyai tugas menyampaikan pesan Jupiter kepada umat manusia dengan cara menerjemahkan pesan-pesan dari dewa ke dalam bahasa yang dapat dimengerti oleh manusia. Hermes harus mampu menginterpretasikan atau menyadur sebuah pesan ke dalam bahasa yang dipergunakan oleh pendengarnya (Sumaryono, 1999: 24).

Menurut Wolf (via Palmer, 2005: 96), hermeneutika adalah sesuatu yang praktis, sebuah bentuk kebijaksanaan untuk mempertemukan problem-problem spesifik interpretasi. Problem-problem interpretasi sangat beragam, disesuaikan dengan kesulitan-kesulitan linguistik dan historis tertentu yang dibentuk oleh teks asli dalam bahasa Yahudi, Yunani, dan Latin. Wolf juga menyatakan bahwa hermeneutik yang berbeda dibutuhkan bagi sejarah, puisi, teks-teks keagamaan, dan lainnya dengan perluasan bagi bagian beragam dalam masing-masing klasifikasi.

Muslih (2004: 152) memahami bahwa hermeneutik merupakan sebuah filsafat yang memusatkan bidang kajiannya pada persoalan “understanding of understanding” (pemahaman pada pemahaman) terhadap teks kitab suci, yang datang dari kurun waktu, tempat, serta situasi sosial yang asing bagi pembacanya. Sumaryono (1999: 21) juga berpendapat bahwa hermeneutik belum bisa diterima sebagai metode yang universal, namun metode ini setidaknya mendukung pemahaman tentang sebuah pemahaman dan interpretasinya.

Pada dasarnya medium pesan adalah bahasa, baik bahasa lisan maupun bahasa tulisan. Jadi, penafsiran disampaikan lewat bahasa, bukan bahasa itu sendiri. Karya sastra perlu ditafsirkan sebab di satu pihak karya sastra terdiri atas bahasa, di pihak lain, di dalam bahasa sangat banyak makna yang tersembunyi, atau dengan sengaja disembunyikan (Ratna, 2010: 45). Gadamer juga menegaskan bahwa interpretasi akan benar jika interpretasi tersebut mampu menghilang dibalik bahasa yang digunakan. Artinya interpretasi yang baik bila tidak menurut kata per kata, tetapi disesuaikan menurut ragam bahasanya sendiri (Sumaryono, 1999: 81).

Hermeneutik, baik sebagai ilmu maupun metode, memegang peranan yang sangat penting dalam filsafat. Dalam sastra, pembicaraannya terbatas sebagai metode. Di antara metode-metode yang lain, hermeneutik merupakan metode yang paling sering digunakan dalam penelitian karya sastra (Ratna, 2010: 44).

Hermeneutik dapat disebut juga sebagai proses penguraian yang beranjak dari isi dan makna yang nampak ke arah makna terpendam dan tersembunyi. Objek interpretasi, yaitu teks dalam pengertian yang luas, bisa berupa simbol dalam mimpi atau bahkan mitos-mitos dari simbol dalam masyarakat atau sastra (Palmer, 2005: 48).

Menurut Moleong (via Ratna, 2010: 45), dalam sastra dan filsafat hermeneutik disejajarkan dengan interpretasi, pemahaman, verstehen, dan retroaktif. Dalam ilmu-ilmu sosial juga disebut metode kualitatif, analisis isi, alamiah, naturalistik, studi kasus, etnografi, etnometodologi, dan fenomenologi, yang biasanya dipertentangkan dengan metode kuantitatif. Seorang penafsir harus memahami asas-asas pemikiran atau pandangan dunia yang diisyaratkan dalam teks sehingga penafsir mampu memberi makna teks. Hal ini juga dijelaskan oleh Ricoeur (via Hadi, 2008: 56) bahwa, hermeneutik merupakan strategi terbaik untuk menafsirkan teks-teks filsafat dan sastra. Ada tiga ciri utama bahasa sastra yang perlu diberi perhatian dalam hermeneutik. (1) Bahasa sastra dan uraian filsafat bersifat simbolik, puitik, dan konseptual. (2) Dalam bahasa sastra, pasangan rasa dan kesadaran menghasilkan objek estetik yang terikat yang terikat pada dirinya. (3) Bahasa sastra dalam kodratnya memberikan pengalaman fiksional, suatu pengalaman yang pada hakikatnya lebih kuat dalam menggambarkan ekspresi tentang kehidupan.

Hermeneutik dalam Literary Dictionary, adalah teori penafsiran berkenaan dengan permasalahan umum dalam memahami makna teks dan juga seni menginterpretasi atau teori sekaligus praktek interpretasi. Penafsiran teks sastra menghadapi pelik berkenaan dengan bahasa dan unsur-unsur lain yang kompleks dalam teks. Situasi inilah yang mendorong untuk mencari cara bagaimana menetapkan asas-asas penafsiran agar proses pemahaman dapat dimulai. Ratna (2010: 46) juga menjelaskan, bahwa Penafsiran terjadi karena setiap subjek memandang objek melalui horison dan paradigma yang berbeda-beda. Keragaman pandangan pada gilirannya menimbulkan kekayaan makna dalam kehidupan manusia, menambah kualitas estetika, etika, dan logika.

Dalam hermeneutik dikenal beberapa tokoh pencetus hermeneutik yaitu, Friedrich Daniel Ernst Schleiermacher; Wilhelm Dilthey; Hans-Georg Gadamer; Jürgen Habermas. Berikut ini adalah sedikit penjelasan mengenai pemahaman hermeneutik menurut beberapa tokoh pencetus hermeneutik (Friedrich Daniel Ernst Schleiermacher, Hans-Georg Gadamer, Wilhelm Dilthey). 
Pertama adalah pemahaman hermeneutik menurut Friedrich Daniel Ernst Schleiermacher. Hermeneutik menurut Schleiermacher (via Sumaryono, 2000: 35), adalah bagian dari seni berfikir dan bersifat filosofis. Hermeneutik bersifat filosofis karena bagian dari seni berfikir. Pertama-tama buah pikiran dimengerti, baru kemudian diucapkan. Menurut Schleiermacher, ada dua tugas hermeneutik, yaitu interpretasi gramatikal dan interpretaasi psikologis. Bahasa gramatikal merupakan syarat berfikir setiap orang, sedangkan aspek psikologis interpretasi memungkinkan penafsir menangkap ide pribadi penulis.

Schleiermacher membedakan hermeneutik dalam pengertian sebagai “ilmu” dan “seni” memahami dengan hermeneutik yang didefinisikan sebagai studi tentang memahami itu sendiri (Palmer, 2005: 40). Bagi Schleiermacher hermeneutik adalah sebuah teori tentang penjabaran dan interpretasi teks-teks mengenai konsep-konsep tradisional kitab suci dan dogma (Sumaryono, 1999: 37). Dalam diskusi-diskusi tentang filsafat dan teologi, digunakan oleh Schleiermacher di bidang hermeneutik. Menurut Schleiermacher, hermeneutik merupakan sebuah teori pemahaman dan karena pokok pemahaman adalah teks yang ditulis melalui sarana bahasa yang hadir sebagai bagian penting dari keseluruhan sistem hermeneutiknya (Hadi, 2008: 45).

Hermeneutika diyakini oleh Schleiermacher harus terkait dengan yang konkret, eksis, dan berperilaku dalam proses pemahaman dialog. Kapan saatnya kita mengawali kondisi-kondisi yang berhubungan dengan semua dialog, kapan saatnya kita beranjak pada rasionalisme, metafisika, dan moralitas, dan menguji hal yang konkret, situasi aktual yang terlibat dalam pemahaman, maka kita memiliki titik awal bagi hermeneutika yang dapat digunakan sebagai sesuatu yang inti bagi hermeneutika khusus (Palmer, 2005: 96).

Schleiermacher berpendapat bahwa ada dua tugas hermeneutik yang pada hakikatnya identik satu sama lain, yaitu interpretasi gramatikal dan interpretasi psikologis. Bahasa gramatikal merupakan syarat berpikir setiap orang, sedangkan aspek psikologis interpretasi memungkinkan seseorang menangkap setitik cahaya pribadi penulis (Sumaryono, 1999: 41).

Keinginan Schleiermacher untuk mengalami kembali apa yang dialami pengarang dan tidak melihat ungkapan kecuali dari pengarang itu sendiri. Ia hanya ingin menyatakan bahwa pemahaman adalah seni rekonstruksi pikiran orang lain (Palmer, 2005: 101). Hal ini dijelaskan oleh Schleiermacher bahwa hermeneutik adalah memahami teks sebaik atau lebih baik daripada pengarangnya sendiri, dan memahami pengarang teks lebih baik daripada memahami diri sendiri (Sumaryono, 1999: 43). 
Kedua adalah pemahaman hermeneutik menurut Hans-Georg Gadamer. Lahirnya hermeneutika modern bersumber dari pemikirannya. Pokok yang dibahas dalam karya-karya filsafatnya meliputi bidang-bidang seperti metafisika, epistemology, bahasa, estetika, puisi, dan novel. Melalui hermeneutika filsafatnya, pemikir Jerman ini menghidupkan kembali minat terhadap persoalan estetika dalam kajian sastra yang mulai redup sejak pertengahan abad ke-20. (Hadi, 2008: 98).

Sebagai penulis kontemporer dalam bidang hermeneutik. Gadamer berpendapat bahwa hermeneutik adalah seni, bukan proses mekanis. Jika pemahaman adalah jiwa dari hermeneutik, maka pemahaman tidak dapat dijadikan pelengkap proses mekanis. Pemahaman dan hermeneutik hanya dapat diberlakukan sebagai suatu karya seni (Sumaryono, 1999: 77).

Proses pemahaman yang disebutkan oleh Gadamer dalam sebuah karya sastra, katakanlah puisi, adalah penghayatan yang dalam akan menjadikan sedikit demi sedikit menyingkapkan diri. Baginya tujuan memahami suatu karya sastra ialah untuk menangkap pesan moral berupa kebenaran tentang hadirnya sesuatu yang transenden. Kejanggalan atau keanehan yang dituangkan dalam karya sastra justru merupakan sarana terbaik yang memungkinkan untuk mencapai tingkat pemahaman yang lebih tinggi hingga sampai ke maknanya yang tertinggi (Hadi, 2008: 120).

Gadamer menaruh perhatiannya terhadap seni karena hermeneutik dengan seni memiliki hubungan yakni di dalam seni terdapat suatu kebenaran. Sebagai contoh, dalam sebuah lukisan, garis-garis yang mestinya ditarik lurus justru ditarik miring, atau campuran warnanya yang tidak menurut kombinasi yang lazim, seringkali menghasilkan efek kenikmatan yang estetis. Artinya, interpretasi tidak bersifat kaku atau statis (Sumaryono, 1999: 70-71). 

Karya seni akan mengarahkan seseorang untuk menghadirkan dirinya sendiri. Dari penghadiran diri saat ini dan kemudian menjadi dipahami bukanlah karakter khusus sejarah, seni dan sastra tetapi merupakan hal yang universal. Inilah spekulatifitas yang dilihat Gadamer sebagai sebuah karakter universal keberadaan itu sendiri. “Konsepsi keberadaan spekulatif yang terletak pada dasar hermeneutika merupakan arah universal serupa sebagai nalar dan bahasa” (Palmer, 2005: 254). 
Gadamer secara mendasar juga menjelaskan bahwa hermeneutik lebih merupakan usaha memahami dan menginterpretasi sebuah teks. Hermeneutik merupakan bagian dari keseluruhan pengalaman mengenai dunia. Hermeneutik berhubungan dengan teknik atau techne tertentu dan berusaha kembali ke susunan tata bahasa, aspek kata-kata retorik dan aspek dialektik sesuatu bahasa. Karena techne atau kunstlehre (ilmu tentang seni) inilah maka hermeneutik menjadi sebuah filsafat praktis (Sumaryono, 1999: 83-84). 

Dalam hermeneutika Gadamer, persoalan estetik menjadi tumpuan utama. Baginya pengalaman estetik mempunyai arti penting sebab diperoleh dari pergaulan dan perjumpaan dengan karya seni, seperti halnya puisi. Ada beberapa konsep kunci yang digunakan Gadamer berkaitan dengan estetika. Di antaranya adalah Bildung, sensus communis, pertimbangan praktis, dan selera(Gadamer, 2010: 11). 

Ketiga adalah pemahaman hermeneutik menurut Wilhelm Dilthey. Dilthey sangat dikenal di bidang hermeneutik dengan riset historisnya, khususnya historikalitas hidup, juga melihat sejarah sebagai sarana menangkap manusia sebagai makhluk berpikir, merasa, berkehendak, dan mencipta, yang hidup dalam arus sejarah kehidupan (Priyanto, 2001: 145). 

Riset historis Wilhelm Dilthey dapat disimpulkan menjadi tiga hal yang meliputi, Erlebnis (pengalaman yang hidup), Ausdruck (ungkapan), Verstehen (pemahaman). Pemahaman hermeneutik Wilhelm Dilthey inilah yang akan menjadi teori dalam penelitian.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »