Hermeneutik Wilhelm Dilthey

ADMIN SASTRAMEDIA 5/31/2019
oleh Kistiriana Agustin Erry Saputri



Wilhelm Dilthey adalah filusuf Jerman yang cukup masyhur. Dilthey lahir di Wiesbaden, Biebrich, Jerman pada 19 November 1833 dan wafat pada 30 September 1911. Dalam bidang hermeneutik, Dilthey lebih dikenal karena riset historisnya bukan karena filosofisnya. Karya-karyanya selalu berkaitan dengan perhatiannya terhadap pemahaman historis. Dilthey memang bukan sembarang sejarawan. Dia adalah filsuf yang ,menaruh perhatian pada sejarah. Dilthey menulis filsafat sejarah sebagai “kritik atas akal historis”, suatu filsafat tentang mengerti, cara melihat atau menemukan rangkaian pemikiran yang berlangsung dalam sejarah (Sumaryono, 1999: 48). Dilthey berpendapat bahwa, Die hermeneutischen Methoden haben schließlich einen Zusammenhang, mit der literarischen, philologischen und historischen Kritik, und dieses Ganze leitete zu Erklärung der singularen Erscheinungen über. Zwischen Auslegung und Erklärung ist nur gradweiser Unterschied, keine feste Grenze. Denn das Verstehen ist eine unendliche Aufgabe. Aber in den Disziplinen liegt die Grenze darin, daß Psychologie und Wissenschaft von Systemen nur als abstrakte Systeme angewandt werden. 

Metode hermeneutik pada akhirnya memiliki hubungan dengan kritik sastra, kritik filologi, dan sejarah, dan hal ini menyebabkan keseluruhan pernyataan tentang fenomena tunggal. Antara interpretasi dan penjelasan adalah hanya perbedaan derajat, bukan batas yang ketat. Karena pemahaman adalah tugas yang tak ada habisnya. Namun dalam kedisiplinan terdapat perbatasan, bahwa psikologi dan sistem ilmu pengetahuan hanya digunakan sebagai sistem abstrak 
(http://arbeitsblaetter.stangl-taller.at). 

Tujuan Dilthey mengembangkan metode hermeneutika adalah di samping untuk menemukan suatu validitas interpretasi yang objektif terhadap “expression of inner life” (ekspresi-ekspresi kehidupan batin), juga sebagai reaksi keras terhadap tendensi ilmu-ilmu kemanusiaan yang memakai norma dan cara berpikir ilmu-ilmu kealaman. Dilthey juga menjelaskan bahwa hermeneutik adalah fondasi dari Geistteswissenschaften yaitu, semua ilmu sosial dan kemanusiaan, semua disiplin yang menafsirkan ekspresi-ekspresi “kehidupan batin manusia”, baik dalam bentuk ekspresi isyarat (sikap), perilaku historis, kodifikasi hukum, karya seni, atau sastra (Palmer, 2005: 110). 
Hermeneutik Dilthey pada dasarnya bersifat menyejarah. Ini berarti bahwa makna itu sendiri tidak pernah berhenti pada satu masa saja, tetapi selalu berubah menurut modifikasi sejarah. Jika demikian, maka interpretasi bagaikan benda cair, senantiasa berubah-ubah. Tidak akan pernah ada suatu kanon atau hukum untuk interpretasi (Sumaryono, 1999: 56). 

Dilthey menyatakan, suatu tindakan yang secara fundamental berbeda dari pendekatan kuantitatif, penangkapan ilmu dari dunia alam, karena dalam tindakan pemahaman historis ini, apa yang harus berperan adalah pengetahuan pribadi mengenai apa yang dimaksudkan manusia (Palmer, 2005:45).

Menurut Dilthey sejarah sebagai bagian dari ilmu kemanusiaan harus menetapkan pengertian secara empatetik terhadap kegiatan spiritual dari pikiran dan jiwa manusia, serta bentuk-bentuk ekspresi yang dilahirkan dari kegiatan spiritual tersebut, akan tetapi sejarah manusia dapat didekati melalui proses intuitif pemahaman (Verstehen) karena setiap peristiwa sejarah selalu unik dan tidak bisa diulang. Pentingnya ekspresi seni dan pemikiran keagamaan karena keduanya merupakan ekspresi dari pengalaman kemanusiaan yang dihayati oleh pencipta atau penulisnya dalam konteks masyarakat dan zaman tertentu (Hadi, 2008: 71 dan 66).

Pemikiran filsafat Dilthey dikenal dengan ‘filsafat hidup’ karena ia berupaya untuk menganalisis proses pemahaman yang membuat kita dapat mengetahui kehidupan pikiran (kejiwaan) kita sendiri dan kejiwaan orang lain. Tugas hermeneutik menurut Dilthey adalah untuk melengkapi teori validitas universal interpretasi agar mutu sejarah tidak tercemari oleh pandangan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Dilthey juga menegaskan lagi bahwa prinsipprinsip hermeneutik dapat menyinari cara untuk memberikan landasan teori umum pemahaman, karena yang sangat penting dalam perenggutan struktur hidup tersebut didasarkan pada interpretasi karya, karya di mana tekstur hidup terekspresikan sepenuhnya (Palmer, 2005: 128-129).

Interpretasi nampaknya berupa suatu proses yang melingkar, yaitu setiap bagian dari suatu karya sastra misalnya dapat ditangkap lewat keseluruhannya, adapun keseluruhannya hanya dapat ditangkap lewat bagian-bagiannya. Dengan demikian kita dihadapkan pada suatu lingkaran logis. Lingkaran yang sama juga dijumpai manakala kita mencoba memahami pengaruh-pengaruhnya yang dialami oleh pengarang atas suatu karyanya. Kita dapat memahami situasi apa yang terdapat di benaknya hanya jika kita telah mengetahui apa yang sudah dipikirkan. Lingkaran tersebut secara logis bertautan, tidak terpecahkan, akan tetapi dalam prakteknya dapat kita pecahkan saat kita memahaminya. 

Interpretasi data adalah proses mengetahui sesuatu dari tanda-tanda yang dapat ditangkap pancaindera sehingga termanifestasikan, dan Penginterpretasian suatu karya sastra menurut Dilthey dapat dipahami dalam tiga proses (Sumaryono,1999: 57). (1) Memahami sudut pandang atau gagasan para pelaku asli. (2) Memahami arti atau makna kegiatan-kegiatan mereka pada hal-hal yang secara langsung berhubungan dengan peristiwa sejarah. (3) Menilai peristiwaperistiwa tersebut berdasarkan gagasan yang berlaku pada saat sejarawan itu hidup. 

Dari penjelasan teori hermeneutik sebelumnya, Dilthey menyimpulkan bahwa, 
"Der Dreischritt von Erleben, Ausdruck, Verstehen ist das Basismodell von Diltheys Hermeneutik. Es bewährt sich in "elementaren Formen des Verstehens" schon in den alltäglichen Interaktionen. Die Menschen "müssen sich gegenseitig verständlich machen", auch in nichtsprachlichen Ausdrücken: "Eine Miene bezeichnet uns Freude oder Schmerz." 

Tiga langkah yaitu pengalaman, ekspresi, pemahaman adalah model dasar hermeneutika Dilthey. Hal ini terbukti sebagai "bentuk-bentuk dasar pemahaman" yang sudah diinteraksikan dalam kehidupan sehari-hari. Orang-orang "harus menjadi saling mengerti", juga pada ekspresi yang diterapkan tidak secara bahasa: "Wajah menunjukan kepada kita perasaan sukacita atau rasa sakit"

Hadi (2008: 92) juga menyebutkan bahwa inti dari Hermeneutik Dilthey mencakup konsep segitiga yaitu, Erlebnis (pengalaman yang hidup), Ausdruck (ungkapan), dan Verstehen (pemahaman). Konsep pertama pada teori Dilthey adalah Erlebnis (pengalaman yang hidup). Kata Erlebnis berasal dari kata kerja erleben yang berarti “mengalami”. Sebetulnya dalam bahasa Jerman, kata Erlebnis tidak baku dan bahkan jarang dipergunakan orang, baru setelah Dilthey menggunakannya maka kata tersebut mempunyai makna khusus (Palmer, 2005:107).

Pengalaman-pengalaman dalam hidup kita sehari-hari tidak dapat seluruhnya disebut sebagai pengalaman yang hidup. Hanya pengalamanpengalaman yang mampu menampilkan nexus atau koherensi terhadap masa lalu dan masa mendatang saja yang dapat disebut pengalaman yang hidup. “kedekatan batin” (psychic nexus) atau erworbenes seelische Zusammenhang (“hasil”hubungan batin) yang memberikan ciri khas pada pengalaman yang hidup (Dilthey via Sumaryono, 1999: 55). 
Erlebnis  (pengalaman  yang  hidup)  melibatkan  penghayatan  dan perenungan atas hidup yang dialami manusia dalam periode sejarah tertentu di tengah kehidupan masyarakat tertentu, dengan kebudayaan tertentu pula, merupakan proses kejiwaan. Dengan demikian, penelitian terhadap ekspresiekspresi tersebut melibatkan pemahaman terhadap proses kejiwaan yang diandaikan menyertai lahirnya ekspresi-ekspresi budaya (Hadi, 2008: 69).

Menurut Dilthey, setiap pengalaman baru isinya ditentukan oleh semua pengalaman yang sampai saat itu pernah dimiliki. Sebaliknya, pengalaman baru itu memberi arti dan penafsiran baru kepada pengalaman-pengalaman lama. “ Apa yang sekarang kualami, kulihat dalam cahaya masa silamku dan cara aku membayangkan masa silam tergantung pada pengalaman hidup yang sekarang ku peroleh“ (Priyanto, 2001: 126-127).

Pengalaman yang dihayati dalam hidup setiap orang merupakan kenyataan sadar dari keberadaan manusia dan sekaligus kenyataan dasar hidup yang darinya segala kenyataan dijadikan tersurat. Pada hakikatnya hidup dialami secara langsung oleh manusia tanpa terlalu mempersoalkan perbedaan subjek dan objek karena keduanya memiliki keterkaitan dan hubungan dinamis (Hadi, 2008: 92). 

Konsep kedua dari hermeneutik Dilthey adalah Ausdruck (ungkapan). Ausdruck dapat diterjemahkan dengan “ekspresi”. Penggunaan konsep ini tidak harus secara otomatis mengasosiasikan Dilthey dengan teori ekspresi seni, karena teori tersebut dibentuk dalam konsep subyek-obyek. Bagi Dilthey, sebuah ekspresi terutama bukanlah merupakan pembentukan perasaan seseorang namun lebih sebuah “ekspresi hidup”, segala sesuatu yang merefleksikan produk kehidupan dalam manusia (Palmer, 2005: 125-126).

Dalam satu aspek, ungkapan atau pernyataan interpretatio naturae (interpretasi terhadap alam) adalah wujud dari ucapan. Dalam hal ini Dilthey menekankan bahwa terhadap benda-benda kita hanya mampu “mengetahui”, sedangkan “memahami” dan “interpretasi” hanya dipergunakan untuk “mengetahui” manusia (Sumaryono, 1999: 54). 

Sesuai dengan teori sebelumnya, Hadi (2008: 93) menjelaskan bahwa Dilthey membedakan Ausdruck (ungkapan) menjadi tiga macam yaitu, (1) Ungkapan tentang ide dari hasil konstruksi pikiran atau merupakan Denkgebilde, yaitu struktur pikiran. Ausdruck semacam ini tetap identik dalam kaitan manapun. Contoh: rumus-rumus matematika, lampu merah pada lalu lintas, rumus aljabar atau tanda lain berdasar perjanjian dan konvensi (Priyanto, 2001: 129). (2) Ungkapan dalam bentuk tingkah laku manusia dalam melahirkan maksudnya, dan di dalam maksud ungkapan ini menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi. (3) Ungkapan yang disebut dengan Erlebnisausdrücke, yaitu ungkapan jiwa yang terjadi secara spontan, seperti decak kagum, senyum, takut, sedih, tertawa, memelototkan mata karena marah, garuk-garuk kepala, dan sebagainya. 
Bagi Dilthey, pemahaman suatu karya sastra dapat dipahami dengan memahami ungkapan pengarang karya sastra tersebut. Pemahaman ungkapan pengarang karya sastra mengikuti logika yang sama sebagaimana seseorang memahami kegiatan dalam autobiografinya sendiri. Autobiografi merupakan alat yang paling baik dalam memahami hidup dan kejadian dalam hidup kita. Dengan kata lain ungkapan adalah merupakan obyektivikasi dari kebertautan atau koherensi dalam Erlebnis (Priyanto, 2001: 130). 

Konsep yang terakhir dari hermeneutik Dilthey adalah Verstehen (pemahaman). Seperti yang sudah dipaparkan sebelumnya tentang konsep hermeneutik Dilthey bahwa konsep hermeneutik yang dapat disebut juga dengan konsep segitiga yaitu, Erlebnis (pengalaman yang hidup), Ausdruck (ungkapan), Verstehen (pemahaman) yang digunakan dalam makna khusus Verstehen (pemahaman) sebagai satu pendekatan tersendiri bagi manusia adalah penting, sebab dunia manusia berisikan makna yang pada dunia fisik tidak demikian. Aktifitas manusia selain terikat pada kesadaran, juga didorong oleh tujuan dan timbul dari interpretasi situasi maupun apresiasi nilai. Selanjutnya adalah bagaimana dapat ditemukan “makna” melalui proses Verstehen (Priyanto, 2001: 125-126). Dilthey menyebutkan bahwa, Verstehen fällt unter den Allgemeinbegriff des Erkennens, wobei Erkennen im weitesten Sinne als Vorgang gefaßt wird, in welchem ein allgemeingültiges Wissen angestrebt wird. (Satz 1) Verstehen nennen wir den Vorgang, in welchem aus sinnlich gegebenen Äußerungen seelischen Lebens dieses zur Erkenntnis kommt. (Satz 2) So verschieden auch die sinnlich auffaßbaren Äußerungen seelischen Lebens sein mögen, so muß das Verstehen derselben durch die angegebenen Bedingungen dieser Erkenntnisart gegebene gemeinsame Merkmale haben. (Satz 3) Das kunstmäßige Verstehen von schriftlich fixierten 
Lebensäußerungen nennen wir Auslegung, Interpretation. 

Memahami berada di bawah konsep umum pengetahuan, pengetahuan diambil dalam arti luas sebagai sebuah proses di mana pengetahuan umum dicari. (kalimat 1) Memahami kita sebut sebagai proses, yang berasal dari ekspresi sensual dari kehidupan rohani yang menyadarkan. (kalimat 2) sebagai ekspresi yang berbeda dari kehidupan sensual spiritual yang dapat dipahami, sehingga seseorang harus memiliki pemahaman yang sama yang diberikan oleh ketentuan yang telah dinyatakan seperti pengetahuan tentang karakteristik umum. (kalimat 3) Seni memahami bahkan secara tertulis untuk ekspresi kehidupan kita sebut sebagai penafsiran, interpretasi (http://arbeitsblaetter.stangltaller.at).

Dilthey juga mengungkapkan, “bagi seorang sejarawan, menggabungkan pengalaman yang hidup ke dalam pemahaman terhadap individu merupakan keharusan”. Melalui karya seni secara umum dan sastra secara khusus, kita mengetahui bahwa pemahaman (Verstehen) manusia tentang segala sesuatu tidak pernah terpisahkan dari pengalaman hidup (Erlebnis) sebab melalui Erlebnis kita ditarik untuk hadir di hadapan kita sendiri (Hadi, 2008: 75-76).

Dalam proses pemahaman, akal pikiran kita yang mengambil alih timbulnya sebab dan akibat dalam rangkaian penyebab. Seperti yang dikemukakan oleh Dilthey (via Sumaryono, 1999: 61), 
“kita menerangkan berarti kita membuat proses intelektual murni, tetapi kita memahami berarti menggabungkan semua daya pikiran kita dalam pengertian. Dan, dalam memahami, kita mengikuti proses mulai dari sistem keseluruhan yang kita terima di dalam pengalaman hidup sehingga dapat kita mengerti, sampai ke pemahaman terhadap diri kita sendiri”.

Dengan demikian, pemahaman tidak mengacu kepada pemahaman konsepsi rasional seperti problem Matematika. Verstehen dipersiapkan untuk menunjuk pada aktivitas operasional di mana pemikiran memperoleh “pemikiran” dari orang lain. Dalam pernyataan singkat dan sangat terkenal dari Dilthey tentang pemikiran ini: “kita menjelaskan hakikat orang yang harus kita pahami”. Dengan begitu, pemahaman merupakan proses jiwa di mana kita memperluas pengalaman hidup manusia (Palmer, 2005: 129).

Pada dasarnya dalam “memahami” selalu ada sesuatu yang individual sebagai objeknya. Pada bentuk yang lebih tinggi dia beralih dari kompleks induktif bawaan ke kompleks kehidupan pribadi atau ke suatu karya. Hal ini menguatkan kita untuk menempatkan diri terhadapnya dalam keadaan apapun juga. Penyelesaian bagi pemahaman dari human studies, adalah menginterpretasikan obyektif mind atau kekuatan individu untuk menentukan dunia jiwa (Priyanto, 2001: 140). 
Proses pemahaman ini terdiri dari dua bagian yang berhubungan dengan rangkaian peristiwa dalam proses kehidupan secara berbeda satu sama lain. Pertama, pengalaman yang hidup menimbulkan ungkapannya. Bila kita menyelidiki ungkapan dengan melihat mundur ke pengalaman, ini berarti kita melakukan proses hubungan akibat-sebab. Kedua, dalam proses menghidupkan kembali atau rekonstruksi berbagai peristiwa, di mana orang dapat melihat kelanjutan peristiwa tersebut sehingga ia bisa ambil bagian di dalamnya, maka ia melakukan proses hubungan sebab-akibat. Bagian yang kedua ini merupakan epitomae atau ikhtisar pemahaman (Sumaryono, 1999: 61-62). 

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »