Kembali pada Teks dalam Diskusi Sastra

ADMIN SASTRAMEDIA 5/31/2019
oleh Muhammad Syafiq Addarisiy

Di lingkungan pesantren, pesantren salaf khususnya, pastilah dikenal istilah bahtsul masail. Istilah tersebut secara bahasa terdiri atas kata bahtsu yang berarti membahas dan al-masaaila yang berarti beberapa masalah. Adapun praktiknya di pesantren sendiri bahtsul masaail adalah semacam forum yang membahas permasalahan-permasalahan agama dengan merujuk pada teks, baik teks pada kitab-kitab karangan para ulama, teks hadis, maupun teks Al-Quran yang dijadikan sebagai sandaran berpendapat. Selain peserta bahtsul masaail, dalam kegiatan tersebut juga hadir perumus dan terlebih pentashih.

Tugas pentashih adalah memutuskan mana di antara argumen-argumen yang terkumpul yang paling dapat dijadikan sandaran. Pentashih pada kegiatan bahtsul masaail lebih dari satu orang. Dua atau tiga orang biasanya, yang masing-masing memiliki spesifikasi keilmuan. Karena pentashih memiliki tugas yang berat dan penting, tentunya ia merupakan seseorang yang disepakati dan diakui memiliki kapasitas keilmuan yang mumpuni.

Peserta bahtsul masaail dalam menanggapi masalah yang diangkat akan merujuk pada teks-teks yang dijadikannya sandaran berargumen. Dalam jalannya pembahasan tersebut, peserta akan saling mengkritisi dan mempertahankan argumen yang telah dikemukakan. Ketika mengkritisi atau mempertahankan argumen, para peserta bahtsul masaail berpedoman pada kaidahkaidah kebahasaan, kaidah-kaidah penetapan hukum, dan logika pikir—nahwu-sharaf, ushul fiqh, dan manthiq. Jadi, ketika sedang terjadi pembahasan argumen-argumen yang telah mengemuka, tidak hanya argumen-argumen yang telah mengemuka saja yang dibahas, tapi juga sejak bagaimana peserta memahami teks-teks sandaran argumennya, keterkaitan apa yang teks itu sendiri sampaikan dengan apa yang peserta sampaikan hingga hubungan antara pemahaman keduanya dan masalah yang menjadi tema pembicaraan. Hal tersebut dilakukan sebagai wujud kehati-hatian dan keseriusan dalam membahas permasalahan yang ditemakan. Dengan demikian, hasil akhir dari bahtsul masaail itu dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan dan dapat dipakai sebagai sandaran dalam mengamalkan ajaran agama. 

Sekadar contoh, lihat Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri yang setiap kali mengadakan bahtsul masaail, pondok tersebut melakukan pembukuan. Hasilnya akan disaring lagi untuk dijadikan pedoman mengenai suatu masalah. Hasil pembukuan dari bahtsul masaail Pondok Pesantren Lirboyo itu dapat dilihat pada Kang Santri, Sang Penakluk, dan sebagainya bergantung pada tahun berapa bahtsul masaail diadakan. Perlu diketahui bahwa apa yang termaktub dalam Kang Santri atau Sang Penakluk dapat dijadikan sandaran dalam menjalankan ajaran agama.

Dapatlah dilihat bahwa ketidaklepasan bahtsul masaail dari teks-teks yang menjadi sumber acuan sejak bagaimana memahami teks tersebut hingga mencari keterkaitan antara apa yang teks sampaikan dan apa yang peserta sampaikan serta dengan tema permasalahan apa yang diangkat merupakan penyebab hasil dari bahtsul masaail tersebut terbilang valid. 

Apa yang dikemukakan di atas agaknya berbeda dari apa yang terjadi dalam diskusi sastra. Dalam diskusi sastra ketika membicarakan tema yang dibahas, peserta diskusi memang menyampaikan argumennya masing-masing dari apa yang dipahaminya melalui teks-teks yang pernah dibacanya. Akan tetapi, dalam diskusi sastra sumber-sumber argumen tersebut justru terabaikan. Teks-teks yang dijadikan sandaran berargumen tidak menjadi pembahasan tersendiri yang mana ketika teks-teks sumber argumen tersebut tidak dibahas, cara peserta memahami teks-teks itu pun otomatis terlupakan.

Hal tersebut sangat mengkhawatirkan mengingat pembahasan mengenai teks sumber argumen sangat mendasar karena dari teks-teks tersebut, gagasan pemahaman disampaikan oleh peserta. Jadi, mengabaikannya sama dengan membuka peluang adanya perbedaan yang semakin besar atas apa yang disampaikan oleh teks itu dengan apa disampaikan oleh peserta. Padahal, ketika hal tersebut memang terjadi, kesalahpahaman pun pasti terjadi. Ketika kesalahpahaman terjadi, usaha untuk mendekati pemahaman yang tepat semakin kecil. Dapatkah dibayangkan ketika dalam sebuah diskusi terjadi hal seperti itu? Sia-sia saja, bukan?

Dalam sebuah diskusi memang tak ada yang dapat dibilang sia-sia. Karena diskusi itu sendiri merupakan kegiatan yang positif. Dengan demikian, pasti akan ada hal yang dapat diambil dan dijadikan sebagai simpulan. Akan tetapi, ketika apa yang dibahas yakni melulu argumen-argumen yang mengemuka tanpa menelusuri teks-teks sumber argumen tersebut, hasil diskusi akan kurang dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan. Hal tersebut juga akan membuat daya kritis peserta diskusi itu sendiri menurun. Kenapa? Jelas, karena tanpa adanya pembahasan khusus pada teks-teks sumber argumen, para peserta cenderung menerima saja apa yang disampaikan oleh siapa pun yang menyampaikan argumen dan gagasannya.

Memang, ketika teks-teks sumber argumen dijadikan pembahasan tersendiri akan menimbulkan persoalan lain. Di antaranya ialah keharusan bagi setiap peserta diskusi untuk mencari dengan sebenar-benarnya teks-teks yang terkait dengan tema yang diangkat; keharusan membawa bentuk fisik teks-teks tersebut ke forum dan keharusan menyebutkannya ketika menyampaikan argumen yang dikemukakan. Di satu sisi hal itu memberikan kesan terlalu formal, bertele-tele, dan menyita waktu diskusi. Jika ditinjau kembali persoalan tersebut, sebenarnya tidak tepat hal itu disebut masalah.

Mari kita cermati. Ketika kita akan berangkat untuk membahas suatu masalah, bukankah kewajiban kita mencari teksteks yang membahas masalah yang akan dibicarakan dalam diskusi? Lalu, sebagai bukti bahwa kita memang telah mencari dan menemukan teks yang akan kita jadikan pijakan berargumen, bukankah kita perlu membawanya ke forum? Pun, seberapa berat dan sulit membawanya (apalagi di zaman teknologi ini)? Begitu juga ketika masing-masing telah siap dengan argumen tentang tema yang akan dibahas, bukankah perlu sekali untuk saling mengkaji teks-teks yang dijadikan pijakan berargumen oleh peserta. Hal itu perlu dilakukan agar terhindar dari kesalahan memahami teks. Siapa yang dapat menjamin bahwa seseorang tersebut sudah terbebas dari kesalahan dalam memahami teks yang dipakainya sebagai pijakan berargumen?

Lalu, sebenarnya apa yang menyebabkan hal seperti yang terpapar di atas terjadi? Tidak lain karena tidak ada budaya membiasakan, bahkan memaksa untuk melakukan hal tersebut. Memang sepele, tapi itulah yang terjadi. Tidak ada pihak yang mendorong untuk melakukannya. Tidak ada pihak yang mewajibkan untuk membawa bentuk fisik teks-teks sumber argumen. Akan tetapi, perlu disadari karena ketidak-adaan tersebut, para peserta diskusi cenderung merasa cukup dengan membaca teks-teks yang akan dijadikan sumber argumen saat akan mengikuti diskusi.
Setidaknya, dari hal tersebut akan terdapat tiga kerugian. Pertama, kemungkinan kesalahan memahami teks tersebut besar. Kedua, tidak dibahasnya teks sumber argumen tersebut dan langsung saja menerimanya seperti apa yang diucapkan si penutur argumen pastilah mengurangi daya kritis. Ketiga, ketika kesalahan memahami kandungan teks sumber, simpulan yang diperoleh tidak akan mendekati kebenaran.

Bahtsul Masaail Sastra

Pada tanggal 5 Oktober 2013 dalam artikel yang diunggah di IndoProgress yang berjudul “Empat Pertanyaan bagi Sastra”, Martin Suryajaya menerjemahkan puisi Goenawan Mohamad, “Di Beranda Ini Angin Tak Kedengaran Lagi”, ke dalam bahasa kalkulus predikat. Dari hasil terjemahannya itu, Martin Suryajaya, seperti dalam judul artikelnya mengajukan empat pertanyaan yang bermuara pada satu pertanyaan: “Apakah yang sebenarnya dimaksud dengan ‘karya sastra’?” dengan mengajukan delapan kemungkinan jawaban.

Artikel Martin Suryajaya tersebut ditanggapi oleh Ahmad Yulden Erwin dalam “Bias “Overconfidence” Martin Suryajaya tentang Penerjemahan Puisi dalam Bahasa Kalkulus Predikat” (teras lampung 11 Sepetember, 2016). Dalam artikelnya ini, Ahmad Yulden Erwin menyampaikan kritik atas apa yang Martin sampaikan. Yulden menyampaikan simpulannya setelah membaca artikel Martin bahwa Martin tidak paham mengenai hakikat sebenarnya kalkulus predikat. Ia pun mengajukan sangkalannya pada apa yang diajukan Martin dengan menyebutkan perbedaan fungsi sintaksis dalam kalkulus predikat dan dalam sastra (puisi). 

Polemik antara Martin dan Yulden di atas menarik dijadikan contoh untuk apa yang disebut sebagai “bahtsul masaail sastra”. Dari paparan polemik di atas dapat diambil salah satu tema pembicaraan. Misalkan “Mungkinkah dilakukan penerjemahan puisi ke dalam bahasa kalkulus predikat?”. Kemudian kita andaikan bahwa Martin Suryajaya dan Ahmad Yulden Erwin merupakan peserta bahtsul masaail sastra. Dapat dilihat bahwa Martin dan Yulden telah memiliki argumen masing-masing yang ternyata sama, yaitu mungkin. 

Akan tetapi, menanggapi jawaban yang ternyata sama tersebut wajib, baik Martin maupun Yulden, untuk menunjukkan dari mana pendapatnya. Setelah keduanya menunjukkan sumber teks yang dijadikan sandaran berargumen, selanjutnya keduanya mengkritisi teks-teks sumber dari tersebut untuk mengetahui adakah ketidakcocokan antara apa yang disampaikan sebagai argumen dan apa yang disampaikan oleh teks tersebut. Setelah diketahui bahwa tidak ada ketidakcocokan, tugas seorang pentashih-lah untuk memutuskan argumen mana yang lebih dapat diterima melalui analisis sumber-sumber teks yang telah ditunjukkan setelah dirumuskan oleh perumus.

Begitulah jalannya apa yang saya sebut sebagai “bahtsul masaail sastra” secara sederhana. Memang tidak jauh beda dengan diskusi biasa. Akan tetapi, perbedaan yang tidak jauh itu ternyata sangat penting dan mendasar sehingga memengaruhi kesahihan jawaban atau simpulan dari permasalahan yang dibahas.

Pesantren dan Kampus

Pada dasarnya tidak ada yang baru dari apa yang saya sampaikan. Apa yang di-bahtsul masaail-kan oleh para santri di pesantren sesungguhnya seperti apa yang didiskusikan oleh para mahasiswa di kampus. Yang membedakan antara apa yang para dilakukan oleh para santri dan apa yang dilakukan para mahasiswa yakni perlakuan terhadap teks. Jika para santri selalu merujuk pada 
teks-teks sumber yang dijadikan sandaran berargumen, kiranya tidaklah demikian yang terjadi dengan para mahasiswa.

Memang terdapat perbedaan antara sifat-sifat teks yang dirujuk dalam pesantren dan kampus. Di pesantren, teks-teks sumber sudahlah pasti. Dalam artian batasan-batasan yang ada sudah jelas, yaitu Alquran, hadis, dan teks-teks kitab karangan para ulama.

Akan tetapi, tidak demikian dengan dunia kampus, dalam hal ini sastra. Dalam kesusatraan tidak dapat dikatakan bahwa batasan-batasan sudah pasti. Dalam dunia sastra semua pembahasan mengalami perubahan. Apa yang kemarin disepakati belum tentu demikian hari ini dan apalagi besok. Karena perbedaan tersebut, tidak dapat diskusi sastra disamakan dengan bahtsul masaail di pesantren. Tidak bisa dalam diskusi sastra selalu merujuk pada teks-teks yang sama. Tidak mungkin dalam kesusastraan ada satu buku yang mencakup semua permasalahan sastra. Tidak mungkin membuat batasan-batasan yang pasti dan bersifat mengikat dalam sastra untuk sepanjang masa. Oleh karena itu, menyamakan antara diskusi sastra dan bahtsul masaail tidaklah tepat. Ada dimensi-dimensi dalam keduanya yang berbeda dan tidak dapat dicarikan titik temunya. Sekali lagi, sastra dan agama merupakan dua hal yang berbeda.

Memang sulit jika tak boleh dikatakan mustahil untuk membuat diskusi sastra menjadi seperti bahtsul masaail. Itu dikarenakan hal-hal yang disebutkan di atas tadi. Akan tetapi, yang perlu dilakukan yakni menumbuhkan kesadaran untuk mengkaji teks. Dalam suatu diskusi sangatlah penting untuk membahas sumbersumber yang dijadikan pijakan berargumen. Oleh karena itu, apa yang disebut bahtsul masaail sastra di atas bukanlah melakukan pembahasan sastra dengan metode yang sama seperti bahtsul masaail, tapi mengambil prinsip dasar di dalamnya: kembali pada teks. 
Sudah waktunya kita semua mulai membentuk budaya baru dalam berdiskusi agar sesering kita berangkat diskusi membawa persoalan, tidak sesering itu kita pulang tanpa membawa simpulan.

BAGIKAN:

TERKAIT

Previous
Next Post »