Kiat Meresensi

ADMIN SASTRAMEDIA 5/30/2019
oleh Wiwin Erni Siti Nurlina

Sebuah informasi dapat diperoleh, salah satunya, dengan membaca dan membaca. Untuk memperoleh informasi kajian buku dapat diperoleh melalui bedah buku atau sering disebut launching buku. Namun, jika Anda ingin memperoleh kajian atau perimbangan ringkas sebuah buku, terutama buku baru, dapat diperoleh dengan membaca resensi. Dapat dikatakan bahwa resensi sebetulnya sangat penting dihadirkan dalam rangka peningkatan sumber daya manusia.
Produksi resensi di media cetak dirasa kurang atau tidak seimbang dengan munculnya buku-buku baru. Hal itu mengakibatkan kurang tersosialisasinya produk buku di masyarakat. 

Ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan kurangnya tulisan yang berupa resensi, yaitu belum diajarkan di sekolah, tidak tertarik menulis resensi, dan mungkin merasa kesulitan untuk membuat resensi. Untuk itu, sebagai bahan pancing, sekelumit kiat meresensi ini akan bisa membangkitkan pembaca untuk mencoba menulis resensi.

Menurut Natawidjaja (1986) resensi atau ulasan buku adalah pertimbangan kualitas buku, yang dalam pembicaraannya lebih ditekankan pada evaluasi dengan mengemukakan argumentasi yang cendekia, bersifat penilaian, deskriptif, dan mencari informasi tepat guna. Diutarakan Alwasilah (2005) tentang substansi resensi atau hal-hal yang perlu dicermati, dideskripsikan, dikritisi, yaitu mencakup hal-hal berikut.

Judul (dari membaca judulnya, kira-kira apa yang dijanjikan buku itu bagi khalayak pembaca). Wajah/penampilan buku (sampul, tebal buku, jumlah halaman, ukuran). Penulis (siapa, spesifikasinya apa). Deskripsi isi (pertimbangan materi karangan: kuantitas, kualitas, analisisnya, tentang tepat guna dan perbandingannya dengan karya lain). Keunggulan (ada konsep apa yang terbaik? tambahkan opini). Kekhasan (apa kekhasan buku tersebut dibanding buku sejenis yang lain? jangan lupa, tambahkan opini). Kerumpangan (tunjukkan kekurangannya, jangan terlalu banyak, lalu berikan usul solusi). Bahasa yang digunakan (opini). Anda juga harus mengapresiasi gaya penulisan penulis. Apakah dia cenderung menggurui, mengajak dialog dengan santai, atau lebih membuka wawasan?

Kiat lain yang perlu diketahui dalam meresensi yaitu seperti berikut. (a) Judul resensi tidak boleh sama dengan judul yang diresensi. (b) Upayakan agar judul resensi lebih provokatif ketimbang judul buku yang diresensi. (c) Di awal resensi dicantumkan judul buku, nama penulis, tahun penerbitan, nama penerbit, dan jumlah halaman. (d) Jelaskan konteks sosial kelahiran buku itu dengan mengaitkan tema buku itu dengan apa yang sedang terjadi atau apa yang banyak dibahas sekarang ini. (e) Sebutkan pula otoritas, kepakaran, dan kredibilitas penulis sesuai dengan kondisi sekarang ini. (f) Bila buku teks, jelaskan siapa yang dituju (masyarakat umum, mahasiswa, dan lain-lain), menurut Anda cocok apa tidak? (g) Bila buku itu hasil terjemahan sebutkan ihwal kualitas terjemahannya.

Menulis resensi diperlukan keterampilan menulis paragraf yang koherensif. Untuk membangun koherensi (kepaduan) antarparagraf diperlukan kata penghubung (konjungsi) yang digunakan sebagai alat transisi. Konjungsi memiliki hubungan makna bermacam-macam, seperti dijelaskan dalam buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (Alwi, dkk. 1988), di antaranya, kualifikasi: dalam pada itu, sementara itu; ilustrasi dan eksplanasi: misalnya, contoh; pembandingan (komparasi): seperti halnya, sebagai bandingan, demikian pula, demikian halnya, ibaratnya; kontras: akan tetapi, namun, sebaliknya; konsekuensi: akibatnya, sehingga, itulah sebabnya, maka dari itu; konsesi: asalkan, dengan catatan; amplifikasi: lebih jauh lagi, juga, selain dari itu, di samping itu, sudah barang tentu; sumasi (penyimpulan): akhirnya, kesimpulannya, dengan demikian, pokonya, jadi.

Kegiatan menulis haruslah ada dorongan dari dalam, harus ada motivasi yang jelas. Motivasi sering diartikan ‘sikap terhadap suatu objek’. Misalnya, motivasi orang menonton televisi berbeda-beda, ada yang ingin mencari hiburan, ada yang ingin mencari informasi politik, berita terbaru, dan sebagainya. Apakah motivasi kita menulis resensi? Selamat menulis resensi!***

Sumber: Berita Nasional, 31 Maret 2012.

Sumber: KerlingAntologi Kritik/Esai Bahasa dan Sastra, Penyunting: Dessy Wahyuni, Medri Oesnoe, Agus Sri Danardana, dan  Tirto Suwondo, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan  Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta, 2016

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »