Kitab Kritik Sastra: Pintu Terbuka Lebar

ADMIN SASTRAMEDIA 5/28/2019
oleh Martina Rysova
(Department of Asian Studies, Palacky University Olomouc)

 “Begitulah kritik sastra! Ia mesti menempatkan diri sebagai sebuah rumah dengan seribu pintu yang selalu terbuka. Tidak cuma itu… Ia juga mesti berperilaku dan memperlakukan pihak lain dengan semangat membuka diri bagi segala; tidak ngeyel dan sok tahu; tidak diperlukan pula kosakata bahasa kebun binatang. Filosofinya inklusif. Tujuannya membangun dunia sastra ke arah yang lebih baik, lebih bergengsi, dan lebih bermartabat, sambil tentu saja sekalian berusaha menciptakan suasana yang kondusif bagi perkembangan kesusastraannya.” Itulah pembukaan buku Kitab Kritik Sastra yang ditulis oleh dosen FIB-UI, sarjana sastra dan kritikus sastra: Maman S. Mahayana. Sesudah beberapa buku yang lain, seperti contohnya Akar Melayu: Sistem Sastra dan Konflik Ideologi di Indonesia dan Malaysia, (Magelang: Tera Indonesia, 2001), Sembilan Jawaban Sastra Indonesia (Jakarta: Bening Publishing, 2005), Bermain dengan Cerpen (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2006), Ekstrinsikalitas Sastra Indonesia (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2007), Bahasa Indonesia Kreatif, (Jakarta: Wedatama Widya Sastra, 2008), dan Pengarang Tidak Mati (Bandung: Nuansa, 2012), pada bulan Februari 2015 diterbitkan bukunya yang berfokus khusus pada kritik sastra dan bagaimana cara untuk penguasaan praktisnya. 

Kritik sastra adalah bidang diskusi sastra, yang, melalui ulasan dan teks-teks lain bertujuan untuk menginterpretasikan, mengevaluasi dan mengklasifikasikan karya sastra. Kritik sastra bertujuan untuk membedakan dalam karya sastra nilai aktual dari yang tidak nyata, dan menilai serta mengevaluasi kualitas karya sastra. Meskipun kritik sastra berdasarkan aturan teori sastra, juga berlaku rasa estetika mereka, sehingga setiap kritik tidak dapat melepaskan kesan subjektif dari penulisnya. Ketika saya berbicara dengan Maman S. Mahayana tentang buku ini, ia menjelaskan bahwa salah satu tujuan menulis buku ini supaya setiap orang bisa mempelajari dan mempraktikkan kritik sastra, juga supaya dapat membiasakan cara bagaimana memahami dan mengevaluasi karya sastra. Ya, benar, menurut saya, buku ini sesungguhnya adalah semacam buku penuntun kritik sastra, untuk orang-orang yang tertarik, gemar dan berani menjadi kritikus sastra yang betul. 

Kitab Kritik Sastra terdiri dari sembilan bab, yang dibagi lagi menjadi subbagian yang lebih kecil. Bab 1 sampai 3 dikhususkan untuk kritik genre, yaitu kritik puisi, kritik novel dan kritik cerpen. Maman S. Mahayana di sini menunjukkan cara untuk mendekatkan ke persoalan kritik genre tersebut, dan dengan fitur banyak contoh kasus-kasus tertentu. Pengarang buku ini tidak hanya mengajarkan kita bagaimana cara yang benar untuk menganalisis berbagai genre, tetapi juga mendemonstrasikan pekerjaan kritik sastra yang sangat baik. Berarti, bab-bab tersebut dapat dianggap menyajikan cara yang baik sebagai bahan ajar: “bagaimana cara melakukannya” dan pada saat yang sama, kita menjadi pembaca analisis profesional karya sastra yang terpilih. 

Selain itu, analisis-analisis karya sastra yang dipilih menggabungkan konsep ilmiah dan populer (yaitu mengatasi krisis kritik sastra, seperti yang akan dibahas di bawah ini). Oleh karena itu, sangat menarik dan bermanfaat untuk kedua belah pihak, yaitu pemula dan ahli sastra. Saya – sebagai penggemar sastra Indonesia– sangat menghargai bahwa semua contoh dipilih dari sumber-sumber Indonesia. Apalagi, analisis kritis berdasarkan pengalaman sastra Indonesia juga, yang dibangun di atas pilar sejarah negara dan sastra Indonesia. 
Dalam bab yang dikhususkan untuk puisi, misalnya, kita menemukan analisis dalam antologi puisi Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia karya Taufiq Ismail, antologi Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono dan analisis sebuah puisi berjudul Tempuling karya Rida K Liamsi. Bab tentang cerpen mengandung analisis cerpen-cerpen Fudoli Zaini, antologi Bidadari Sigar Rasa karya Mustofa Bisri dan 9 dari Nadira  karya  Leila S. Chudori. Dalam bab ketiga tentang novel, kita dapat mengenal lebih dekat dengan novel Senja di Jakarta karya Mochtar Lubis, Olenka karya Budi Darma, dan Mutiara Karam karya Turisan Suseno. 

Di sini, saya harus menyebutkan referensi ke lingkungan dunia kritik sastra Ceko (yaitu berdasarkan latar belakang pengetahuan saya). Pilihan pengarang untuk Kitab Kritik Sastra yang dibuat oleh Maman S. Mahayana sangat penting dan signifikan. Coba kita tinjau lagi: Taufiq Ismail – penyair hati nurani, Sapardi Djoko Damono – penyair makhluk paradoks,  Rida K Liamsi - penyair misteri laut dan seterurnya. Pilihan ini mengingatkan saya pada personalitas Frantisek Xaver Salda (1867–1937), kritikus Ceko terbesar sepanjang masa (rupa-rupanya, di Ceko juga, sejak pada zamannya sudah mulai krisis ilmiah). Frantisek Xaver Salda membagi penulis-penulis menjadi tiga kategori, yaitu penulis – seniman – penyair, atau yang menurut saya sendiri: pekerja – bakat – dan ya, penyair (sampai merobek isi perut). 

Maman S. Mahayana selalu memilih personalitas pengarang yang juga besar. Hal tersebut sudah dapat kita lihat sebagai proses bawah sadar kritik sastra. Menurut Salda, kritik seni yang lain setara dengan kritik dalam seni sastra. Ia menekankan kritik kreatif yang membutuhkan pekerjaan analisis yang sempurna. Kritik sastra harus menjadi inspirasi untuk pengarang menghasilkan karya sastra yang lebih baik. Oleh karena itu, kritik sastra harus didasarkan atas keraguan (skeptisme) dan pencarian aspek positif dari karya yang dikritik. Kerja kritikus tidak dipengaruhi oleh metode yang telah ditentukan, tetapi dimulai dengan cara intuitif. Kritik adalah penciptaan, tetapi sementara penyair menciptakan puisinya dari kehidupan dan alam. Kritikus memerlukan pengetahuan seni dan budaya. Kerja kritikus itu harus lebih dapat merasakan dan memikirkan di atas karya seni. 

Meskipun demikian, Maman S. Mahayana, tidak hanya berhenti di depan pintu analisis karya dan penulis tertentu. Ia melanjutkan lagi dengan menjelaskan dan menekankan fungsi keseluruhan genre individu dan sastra secara umum. Ia juga menekankan pentingnya ketepatan dan kecermatan waktu penulisan, refleksi realitas dan masalah yang dihadapi pencipta individualitas melalui fleksibilitas yang dapat memukul siapa pun: “Puisi menjadi sesuatu yang dapat dirasakan dan dipikirkan, dan sekaligus juga merangsang kualitas penalaran kita untuk coba memahaminya secara menyeluruh dan lengkap. Itulah kualitas puisi yang sebenarbenarnya puisi!” 

Menurut pendapat saya, hubungan antara kritikus sastra dan karya sastra yang dievaluasi adalah seperti hubungan antara dua kekasih. Anda mencintai atau membenci sang kekasih. Tetapi, meskipun jika Anda tidak dapat mencintainya, Anda ingin sekali setidaknya mengerti dia. Dan untuk memahami atau memaklumi dia, Anda harus benar-benar mengerti dia. Perlakuan terhadap karya sastra juga seperti itu; memahaminya dan dapat menilai karya itu berarti mengerti di mana, bagaimana, dan mengapa karya itu dibuat, dari mana asalnya dan mengapa penulis memilih topik tentang yang dia tulis. Lalu, mengapa pula pengarang merasa perlu menuliskannya. Ada banyak teori dan konsep sastra, bagaimana kita bisa mengevaluasi karya sastra, salah satunya yang disebut-sebut di sini adalah teori strukturalisme yang mengevaluasi hanya karya sastra itu saja, bukan linknya atau persoalan di luar itu yang berhubungan dengan penulis, tempat dan waktu kejadian, dan konteks keseluruhan. 

Saya sangat menghargai dan menganggap penting bahwa Maman S. Mahayana dalam buku Kitab Kritik Sastra ini tidak menerima atas keberatan atas konsep tersebut, bahkan sebaliknya, ia menawarkan kepada masyarakat pembaca pandangan atas seluruh persoalan yang luar biasa komprehensif dan secara konsisten menghadirkan sastra dan karya kreatif sebagai cermin masyarakat: “Adanya pendekatan sosiologis dalam kritik sastra sebenarnya dimungkinkan karena kesusastraan berurusan dengan dunia manusia, atau dunia simbolik yang mengacu pada kehidupan manusia. Karya sastra adalah produk pengarang yang hidup di lingkungan sosial. Dengan begitu, karya sastra merupakan dunia imajinatif pengarang yang selalu terkait dengan kehidupan sosial. Pengarang sebagai anggota masyarakat, dilahirkan, dibesarkan, dan memperoleh pendidikan di tengah-tengah kehidupan sosial. Oleh karena itu, ia juga, secara sadar atau tidak, telah menjalankan peranannya sebagai anggota masyarakat sejak ia lahir.” Pernyataan Maman S. Mahayana benar, bahwa jika kita ingin memahami estetika novel, cerpen atau puisi, kita harus melihatnya dari perspektif kultur, agama, asal usul dan kedudukan sosial pengarang, terlebih lagi di lingkungan yang multikultural seperti Indonesia. “Hanya dengan cara itu kita dapat memperlakukan novel itu, bahkan karya-karya sastra lainnya, secara adil dan bertanggung jawab.” 

Dalam bab 4–9, Maman S. Mahayana menawarkan kepada pembaca bentuk sastra yang biasa digunakan untuk kritik sastra apresiatif. Pada bab-bab 4 (Polemik Kritik Esai), 5 (Kritik Apresiatif: Resensi), 6 (Esai Apresiatif: Obituari), 7 (Kritik Apresiatif: Catatan Prolog dan Epilog), 8 (Makalah sebagai Model Kritik), dan 9 (Model Kritik dalam Jurnal Ilmiah), mengandung artikel atau makalah yang merangkum semua topik yang berkaitan dengan kritik sastra yang menjadi fokus Maman S. Mahayana. 

Ada beberapa topik yang ternyata “kebakaran” atau  kontroversial. Contohnya, ia mencoba membuka perspektif baru melalui kemungkinan cerita pendek sebagai perintis lahirnya kesusastraan Indonesia modern dan mengevaluasi problem kapankah kesusastraan Indonesia lahir, menguraikannya bagaimana sesungguhnya perjalanan estetika cerpen Indonesia modern sejak sebelum Balai Pustaka sampai selepas Angkatan 2000, atau apa yang mempengaruhi sastra Indonesia modern dan menegaskannya berdasarkan atas penelitian kultur etnik dan masyarakat. Suatu persoalan lain yang disebut Maman S. Mahayana adalah “krisis” dalam kritik sastra, yaitu adanya dua aliran yang berbeda dalam kritik sastra – aliran akademik dan aliran populer yang seolah-olah tidak berhubungan. Bagaimanapun, soal ini tercermin dalam kritik sastra hampir di semua negara. 

Dengan peningkatan pendidikan dan sejumlah besar informasi dan sumber daya yang dapat diperoleh, dunia kritik sastra dapat dibagi menjadi lebih dari dua aliran kritik dari para ahli, ilmuwan, atau peneliti, pada kritik dari masyarakat umum, yaitu menerbitkannya di majalah, di internet dll. Namun seperti yang dikatakan Maman S. Mahayana, aliran bermacam-macam itu hanyalah jalan yang berbeda-beda menuju tujuan yang sama: “Padahal, keduanya justru saling melengkapi, berada dalam wilayah yang berbeda, tetapi masing-masing tetap memberi kontribusi bagi perkembangan kritik sastra, dan secara keseluruhan bagi dunia sastra Indonesia.” 

Kitab Kritik Sastra adalah buku dengan ambisi besar. Pertama, memberi informasi luas tentang sastra Indonesia dan tradisi kritik sastra Indonesia. Kedua, memberi informasi yang luas itu dalam bentuk yang resmi untuk kritik sastra. Ketiga, menjawab banyak pertanyaan tentang pengertian dan praktik kritik sastra secara umum dan membuka lebih jauh munculnya banyak pertanyaan baru. 

Buku ini sangat berguna untuk semua orang yang tertarik dengan sastra Indonesia modern, terlebih lagi untuk orang asing seperti saya. Jika mencari pengetahuan tentang kecenderungan dalam bahasa Indonesia, dengan tenang dan senang hati, saya akan mencabut buku ini dari rak buku. Salah satu harapan untuk buku ini adalah bahwa buku ini dapat membantu memastikan bahwa kritik dari jajaran publik juga dapat dianggap menjadi kritik profesional. Mengapa tidak? Sesudah membaca sekitar 500 halaman buku ini, hanya tinggal satu langkah lagi untuk menjadi kritikus sastra, yaitu mulai menulis kritik sastra. 

Saya perlu menyampaikan penyataan maaf, bahwa saya meminjam kata-kata Maman S. Mahayana sendiri untuk menutup makalah ini. Akan tetapi, menurut saya, yang paling tepat harus saya katakan di sini adalah berikut ini: 

“Kitab Kritik Sastra ini memuat contoh-contoh kritik sastra akademis dengan pretensi ilmiah dan kritik sastra umum dengan pretensi sebagai esai. Siapa pun, dengan latar belakang bidang ilmu atau disiplin apa pun, punya hak yang sama dalam menulis kritik sastra. Jadi, jenis kritik apa pun yang hendak diceburinya, dengan pretensi ilmiah atau tidak, semuanya berada baikbaik saja. Maka, tak perlu salah satu pihak menganggap lebih unggul atau lebih rendah dari yang lain. Sebab, kedua arus besar kritik sastra Indonesia itu berada dalam tempat dan sasaran yang berbeda. Maka, cara penyajiannya juga berbeda. Itulah yang saya maksud: Kritik Sastra: 

Pintu yang Terbuka!” 

Demikianlah gambaran ringkas tentang buku Kitab Kritik Sastra ini! 


____
Sumber: Makalah Bedah  Buku: Kitab Kritik Sastra Karya. Maman S Mahayana (Yayasan Obor Indonesia, 2014), Universitas Pakuan Bogor, 21 Februari 2015 


Share this

Related Posts

Previous
Next Post »