Kontinuitas Nilai, Fungsi, dan Harapan dalam Sikap Positif Berbahasa

ADMIN SASTRAMEDIA 5/30/2019
oleh Abd. Rasyid

Dalam era kekinian, sikap positif berbahasa tidak lagi harus dipandang sebagai sesuatu yang instan terjadi atau langsung diterima masyarakat setelah dianjurkan oleh pembina atau penyuluh bahasa. Namun, yang perlu diperhatikan adalah sikap positif mengandung muatan-muatan dinamis yang membutuhkan formulasi pada tataran penjabaran sehingga ia dapat menjadi sistem yang terpadu.
Hal itu perlu diperhatikan secara sungguh-sungguh, karena sikap positif berbahasa merupakan tautan multifungsi dari anggapan, tata nilai, dan perilaku. Smith berpendapat bahwa perangkat penerimaan tentang dunia pengalaman diterjemahkan ke dalam tata nilai yang memberi pedoman tentang sifat selayaknya perikehidupan ini. Tata nilai itu selanjutnya diungkapkan sebagai perangkat sikap yang dalam perilaku berupa pernyataan putusan penilaian (Moeliono, 1981:143).

Gambaran dan pernyataan tersebut di atas, mengisyaratkan bahwa nilai, fungsi, dan harapan dalam sikap positif berbahasa seharusnya diformulasikan dalam paradigma kontinuitas yang konkret. Artinya, konsep sikap positif tidak hanya menjadi bagian dari doktrin pembinaan kebahasaan dan anjuran bernasionalisme, tetapi harus dikemas dalam pola yang runtut sehingga menjadi media pemberdayaan dalam kehidupan bermasyarakat. Wujud paradigma sikap positif berbahasa adalah suatu konsep yang dapat diharapkan menumbuhkan keyakinan, menggugah perasaan, dan mendorong kecenderungan bertindak sehingga sikap positif tidak lagi menjadi sesuatu yang abstrak.

1. Strategi Pendekatan
Manusia dalam kehidupannya selalu dihadapkan dengan objek sikap yang beragam, salah satu dari ragam tersebut adalah bahasa. Oleh karena itu, kognisi, perasaan, dan kecenderungan bertindak atau tanggapan selalu timbul atau muncul sehingga membentuk suatu sisi pandang. Sisi pandang yang muncul dari seseorang atau sekelompok orang didasari oleh nilai, fungsi, dan harapan dari objek sikap sehingga dalam memandang sikap, dapat dilihat sebagai sikap penggerak dan sikap mental.

Jika kita menoleh kembali ke perangkat fungsi bahasa yang baku dan sikap bahasa yang berpautan dengan tiap-tiap fungsi itu, usaha pengubahan sikap itu sepatutnya dipusatkan pada peningkatan sikap kesetiaan bahasa, sikap kebanggaan bahasa, dan kesadaran akan norma bahasa (Moeliono, 1981:145). Namun, menurut hemat penulis, kesetiaan, kebanggaan, dan kesadaran bahasa masih dalam tataran sikap mental sehingga memerlukan formulasi yang mengarahkan pengguna bahasa pada sikap motorik atau penggerak. Dalam konsep ini, masalah kebahasaan bukan lagi milik pencinta bahasa Indonesia, melainkan milik penganut paham yang sungguh-sungguh memahami bahwa bahasa Indonesia selalu berada dalam taraf terjunjung.

2. Formulasi Kontinuitas
Sikap yang ada pada penutur bahasa kemungkinan tidak mengandung validitas hanya karena informasi tentang sikap positif berbahasa yang sampai kepada mereka tidak cukup. Anjuran bersikap positif baru menyentuh sisi mental dari mereka setelah mendengar atau menerima anjuran itu yang hanya terbatas pada pengakuan. Oleh karena itu, nilai, fungsi, dan harapan dalam sikap positif berbahasa sepatutnya diformulasikan dalam tahap-tahap yang berkelanjutan.
Kontinuitas nilai sikap positif berbahasa, fungsi sikap positif berbahasa, dan harapan sikap positif berbahasa adalah kelangsungan, kenyataan, dan kesinambungan sikap mental dan sikap penggerak dalam tataran perilaku berbahasa. Konsep perumusan seperti itu dapat membantu masyarakat atau penutur bahasa memahami nilai sikap positif berbahasa, dapat memanfaatkan nilai sikap positif berbahasa.

Berhubung karena sikap positif berbahasa memiliki beberapa komponen sikap yang membangunnya, atau sikap itu dianggap sebagai sejumlah nilai yang dipertimbangkan, yang terdapat pada semua sifat yang dihubungkan dengan objek sikap, Triandis (Suhardi, 1996:22) mengisyaratkan bahwa sikap terdiri atas tiga komponen, yaitu komponen kognitif, komponen afektif, dan komponen perilaku. Dengan dasar itu, kita membuat formulasi kontinuitas sikap positif berbahasa.

2.1 Nilai Sikap Positif Berbahasa
Pada tahap ini, sikap positif berbahasa baru dianggap sebagai suatu kumpulan ide, gagasan, atau nilai sehingga komponen sikap yang berperan baru komponen kognitif. Misalnya, sikap terhadap bahasa Indonesia dapat menyertakan atau mencakup pengetahuan Anda mengenai isi Sumpah Pemuda, pengetahuan Anda mengenai sejarah bahasa Indonesia, keyakinan Anda mengenai kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia, pengetahuan Anda mengenai kebijakan bahasa Indonesia, dan sebagainya. Pengetahuan yang menyatu dengan diri Anda merupakan keyakinan berdasarkan penilaian yang mengarah pada kualitas diperlukan atau tidak diperlukan, disukai atau tidak disukai terhadap bahasa Indonesia.

Wujud sikap positif berbahasa dalam tahap ini merupakan suatu kompleks ide-ide, gagasan-gagasan, nilai-nilai, dan normanorma. Fungsi sikap positif berbahasa dalam tahap ini adalah mengatur, mengendalikan, dan memberi arah kepada penutur bahasa atau sekurang-kurangnya penutur bahasa memiliki pengetahuan tentang bahasa Indonesia.

2.2 Fungsi Sikap Positif Berbahasa
Pada tahap ini sikap positif berbahasa berkenaan dengan emosi yang berkaitan dengan bahasa tertentu. Bahasa tersebut dirasakan sebagai suatu hal yang menyenangkan atau tidak menyenangkan. Pengaruh emosional ini yang memunculkan watak tertentu terhadap sikap penutur, seperti watak termantap, termotivasi, dan tergerak.

Jika Anda penutur bahasa Indonesia, Anda merasa senang dengan upaya-upaya pengembangan dan pembinaan bahasa Indonesia. Anda menyenangi lembaga bahasa seperti Pusat Bahasa, Balai Bahasa, dan Kantor Bahasa, serta sekaligus menjadikan lembaga itu sebagai haluan. Kita dapat menyaksikan para pemuda mencari pekerjaan berbondong-bondong memasuki kursus bahasa Inggris tanpa disuruh-suruh (Moeliono, 1981:150).

Pusat Bahasa sementara menggodok satu sistem perangsang yang bernama UKBI (Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia) dan juga sebagai sarana ukur kemampuan berbahasa atau kemahiran berbahasa yang berstandar nasional.

Kemudian, dalam kebudayaan memang dikenal istilah harapan budaya (cultural expectation), yakni harapan masyarakat dari suatu kebudayaan bagi anggotanya untuk bertingkah laku berbuat sesuai dengan norma-norma atau adat istiadat yang berlaku. Sekadar ilustrasi dari pernyataan di atas. ***

Sumber: KerlingAntologi Kritik/Esai Bahasa dan Sastra, Penyunting: Dessy Wahyuni, Medri Oesnoe, Agus Sri Danardana, dan  Tirto Suwondo, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan  Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta, 2016

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »