Kreativitas Musikalisasi Puisi adalah Model Apresiasi Sastra yang Berakar Budaya

ADMIN SASTRAMEDIA 5/29/2019
oleh Dediesputra Siregar

Menafsir pengertian musikalisasi puisi menjadi tidak penting, bahkan mengganggu dan cenderung menghambat serta “salah kaprah”, dalam konteks perdebatannya sebagai sebuah istilah, kecuali oleh para pakar bahasa dan kritikus di meja perundingan, jurnal kritis, dan ensiklopedia. Menafsir kerja dan metode dari kata atau istilah dapat menimbulkan bermacam model tafsir atau persepsi yang menghasilkan ragam bentuk dan resepsi. Hal itu bisa diposisikan sebagai upaya pengayaan intelektual seni-budaya. Akan tetapi, dalam koridor pembinaan, apresiasi, belajar, dan lomba bermusikalisasi puisi membutuhkan aturan main (rule of the game) dan rencana pengajaran (silabus), untuk menjadi suatu sistem nilai sebagai parameter kualitatif, yang mendasari penilaian atas capaian yang sudah dilakukan.

Musikalisasi puisi sebagai kata kerja adalah sebuah proses kreativitas berkarya seni berdasarkan apresiasi sastra. Hal itu harus terkonsep dan punya metode. Ia mengolah unsur-unsur sastra dan musik sebagai media ungkap tafsir puisi. Puisi sebagai karya sastra menghadirkan kata dan ungkapan yang mengandung hal yang menarik untuk disimak. Ada jangkauan simbolik yang dapat membuat kita turut menyelami penjelajahan dan permainan seni mengolah kata. Musikalisasi puisi diharapkan dapat menangkap makna tersirat sekaligus tersurat, kemudian menguatkan citraannya dalam gaya ungkap musikal. Hal itu dapat membantu masyarakat memahami dan merasakan kedalaman makna puisi.

Jika musikalisasi puisi dipertunjukkan atau dipentaskan, langkah kerja musikalisasi puisi membutuhkan kemampuan untuk mengolah unsur-unsur teater dan visual sebagai bahasa ekspresi dan media reflektif yang menyarankan tafsir kreatif atas teks puisi tersebut. Hal itu mesti menyeluruh menjadi tekstur, meliputi audio-visual dengan karakter pencitraannya sendiri, yang sesuai dengan pencitraaan yang dimiliki puisi, yaitu; diksi, majas, rima, metrum, matra, tipografi dst., menjadi semacam struktur, sekaligus membentuk tekstur estetis puisi. Struktur estetis inilah yang mendasari bentuk dan gaya penulisan, sekaligus merepresentasikan kebudayaan, ideologi, dan zamannya.

Demikian pengertian apresiasi sastra yang perlu dikemukakan dan harus dijaga, karena merupakan pengertian vital, sekaligus strategis dan intelek, untuk menyusun pola kerja kreativitas musikalisasi puisi dalam memasyarakatkan sastra puisi. Hal itu berkesesuaian dengan sejarah musikalisasi puisi mulai digalang di lingkungan siswa sekolah dan yang sederajat oleh Pusat Bahasa sejak 1990 di Jakarta. Maka, ukuran kualitatif capaian musikalisasi puisi mengutamakan kualitas apresiasi sastra puisi yang dilakukan. Tidak terbatas enak didengar dan bagus dilihat, tetapi musikalisasi puisi memiliki tekstur yang tersusun dan mampu dikenali (terbaca) sebagai tekstur yang berlandaskan potensi normatif karya yang diapresiasi, yaitu puisi.

Musikalisasi puisi juga melakukan semacam remediasi pada unsur-unsur puisi, sastra, musik, teater, dan visual. Hal tersebut juga dianggap strategis, signifikan, urgen, dan vital untuk menyusun kembali kebudayaan dalam era postmodern saat ini. Tujuannya adalah untuk menghasilkan produksi kreatif berakar budaya dan berani merangkum tidak sedikit disiplin ilmu pengetahuan. Ia menjadi kerja kolaborasi dan multikultural dalam satu model kreativitas seni, yang dapat menyampaikan pesan secara ekpresif–reflektif dari individu, komunitas, bangsa, generasi, budaya, dan zamannya. Musikalisasi puisi dapat membentuk kepribadian generasi yang kritis, seiring isu krisis identitas di kalangan generasi saat ini.

Remediasi yang dimaksud adalah pencarian dan penggalian untuk menemukan media ungkap yang dianggap mampu mengartikulasikan kembali unsur-unsur yang terkandung, walau zamannya sudah terlewati, seperti “Pada-Mu Jua” karya Amir Hamzah, atau karya karya di era awal abad ke-20. Media sebagai komponen potensial dari disiplin ilmu lain yang strategis. Akan tetapi, ini harus sesuai dengan argumentasi logika objektif (ilmiah) dari nilai yang terkandung dalam karya yang akan diartikulasikan, yaitu puisi.

Puisi dari bahasa Yunani kuno, poiéo/poi ‘I create’, adalah seni tertulis yang menggunakan bahasa untuk kualitas estetiknya. Penekanan pada segi estetik suatu bahasa dan penggunaan pengulangan dengan sengaja dengan rima sebagai pembeda puisi dari prosa. Puisi lebih singkat dan padat, sedangkan prosa lebih mengalir dalam mengutarakan cerita. Beberapa ahli modern memiliki pendekatan dengan mendefinisikan puisi tidak sebagai jenis literatur, tetapi sebagai perwujudan imajinasi manusia yang menjadi sumber segala kreativitas. Selain itu, puisi juga merupakan curahan isi hati seseorang yang membawa orang lain ke dalam keadaan hatinya.

Baris-baris pada puisi dapat berbentuk apa saja (melingkar, zigzag, dan lain-lain). Hal tersebut merupakan salah satu cara penulis untuk menunjukkan pemikirannnya. Puisi juga kadang hanya berisi satu kata/suku kata yang terus diulang-ulang. Akan tetapi, beberapa kasus pada puisi modern atau puisi cyber belakangan ini makin memprihatinkan, jika ditilik dari pokok dan kaidah puisi itu yaitu “pemadatan kata”. Hal itu seperti ditinggalkan dan lebih mementingkan gaya bahasa.
Dalam puisi juga biasa menggunakann majas yang membuat puisi itu semakin indah. Banyak ragam majas, salah satunya adalah sarkasme, yaitu sindiran langsung dengan kasar. Menelaah puisi tentu tidak dapat dipisahkan dari struktur fisik dan struktur batin.

Berdasarkan unsur-unsur puisi tersebut, musikalisasi puisi melakukan apresiasi sastra yang objektif untuk memulai kreativitasnya. Banyak hal lain sebagai referensi yang bisa didapat dari buku buku sastra mengenai seluk beluk sastra puisi, baik angkatan kepenyairan atau gaya estetis para penyair di dalam puisi puisinya. Hal itu memberikan tanggungjawab apresiasi sastra yang cukup besar dan berguna dalam perencanaan konsep dan metode bermusikalisasi puisi.
Musikalisasi puisi memiliki kemampuan menjadikan puisi menjadi lebih “hidup” dengan daya ungkap yang lebih menyeluruh, berdasarkan kata, bentuk, dimensi, dan sifatnya. Dinamika melodi dan bunyi yang disusun menjadi semacam penegasan makna puisi yang telah ditafsirkan. Musikalisasi puisi harus dapat dibedakan dengan bentuk-bentuk apresiasi sastra lainnya seperti teaterikalisasi, dramatisasi, dan seterusnya yang merupakan bentuk-bentuk apresiasi yang telah banyak berkembang. Musikalisasi puisi bertujuan

1. Meningkatkan apresiasi sastra
2. Memasyarakatkan sastra puisi
3. Menunjang ide dan kreativitas kesenian
4. Mengembangkan minat-bakat kesusastraan pertunjukan
5. Menumbuhkan kepribadian

Pesan-pesan puisi yang dirasakan berat dan melingkar dapat dapat mencapai nurani masyarakat, sekaligus menjadi media alternatif dalam pengembangan kreativitas dalam hidup dan kesenian
Ada pun kriteria musikalisasi puisi yang dirumuskan Bidang Penelitian dan Pengembangan Komunitas Musikalisasi Puisi Indonesia adalah berikut ini.

1. Penafsiran 30 %
2. Komposisi Musikal 30 %
3. Harmonisasi 20 %
4. Vokal 10 %
5. Penampilan 10 %

Bahasa menunjukkan bangsa. Bahasa melahirkan hidup bersama. Sastra merupakan pencitraan kemampuan berbahasa. Segala sesuatu yang bergerak cepat dan apa pun bisa kehidupan saat ini. Maka, Indonesia harus menjaga dan terus merumuskan nilai-nilai kebudayaannya. Hal itu merepresentasikan kemanusiaan, hubungan antarpribadi, alam, lingkungan hidup, dan pengetahuan menjadi hubungan dialektis antargenerasi yang bisa terbaca. Setiap generasi harus dapat merumuskan konsepsi dan pola untuk mampu menyuarakan zaman, memberi sidik jari pada karyanya sebagai entitas suatu keberadaan. Hal itu membutuhkan kemampuan menggali dan merumuskan “bahasa-ungkap”, menjadi kreativitas seni sebagai hasil budaya yang organik dan mengakar. Hal ini menjadikan pola kreatif dan beragam karya sebagai kekayaan hidup bersama. Itulah kekayaan kebudayaan sebagai bangsa dari entitas yang utuh.***

Sumber: KerlingAntologi Kritik/Esai Bahasa dan Sastra, Penyunting: Dessy Wahyuni, Medri Oesnoe, Agus Sri Danardana, dan  Tirto Suwondo, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan  Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta, 2016

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »