Kritik Sastra Pintu yang Terbuka: Memelihara Warisan Sastra Indonesia

ADMIN SASTRAMEDIA 5/28/2019

oleh Suroso 
(Dosen Univertas Negeri Yogyakarta)

Membaca buku  Kitab kritik Sastra, karya Maman Mahayana (2014) saya medapatkan pandangan berbeda tentang  kritik Sastra produk  produk Program Studi Sastra di Perguruan tinggi. Beberapa pakar menganggap  Kritik sastra  akademik pasti dilakukan oleh  alumni program studi sastra. Bahkan pandangan yang lebih ekstrim, kritik sastra yang afdol ditulis oleh kritikus yang sekaligus pencipta sastra.
Dalam pengantarnya, Mahayana menulis bahwa ada dua jenis kritik sastra yaitu kritik sastra ilmiah dan kritik sastra umum. Krtitik sastra ilmiah berada dalam wilayah akademik. Oleh karena itu kritik sastra akademik pasti punya metode dan kerangka teori. Sedangkan kritik sastra umum sasarannya publik yaitu masyarakat berbagai kalangan dengan pendidikan yang beraneka ragam. Media kritik sastra umum pun medianya sangat luas seperti surat kabar, majalah, bulletin yang dicetak terbatas, majalah kampus, pengantar diskusi yang dicetak maupun yang dimasukkan dalam website.
Tentang kualitas kritik sastra tentu ada perdebatatan. Hal itu menyangkut kredibilitas penulis dan sarana penyebarannya. Para kritikus akademik masih mempercayai majalah Horizon, Harian nasional yang terbit di Jakarta maupun di daerah seerta Jurnal ilmiah Sastra  di perguruan tinggi sebagai sarana yang efektif memproklamirkan kritik sastra. Namun demikian, media sosial saat ini menjadi media yang efektif dalam pempublikasikan kritik sastra. Kegiatan seminar, bedah buku, petemuan sastra, dan sejenisnya bisa diunggah untuk dipublikasikan. Benar –salah, bermutu – jelek, bemanfaat – sampah tergantung dari penilaian pembaca. Namun demikian, setiap penulisan kritik selalu berkait dengan metode dan kerangka teori beserta analisisnya.
Studi kritik sastra akademik dibajiri oleh teori sastra barat  seperti struktualisme Greimas, Tzvan Todorov, Roland Barthes, Levis Strausss sampai teori post-colonial dan Ethnosastra. Selain studi  inter teks,  semiotic dan stilistika. (Suwondo, 2003) Namun kehadiran teori kritik sastra dari Barat,  Subagio Sastrowardoyo  membuat renungan “Mencari Jejak Teori Sastra Sendiri” yang disampaikan dalam Seminar Susastra Indonesia di Universitas Bung Hatta , Padang 23-26 Maret 1988 (Esten (1992). Prinsipnya teori harus (1) Umum, berlaku pada jumlah gejala yang relative banyak, dan sanggup menerangkannya, kalau mungkin malah meramalkannya; (2) eksplisit, pemumusan teori tidak boleh menyerahkan penafsirannya pada institusi pemakaiinya. Semua harus bisa diuji secara eksplisti dengan teori; (3) falsifikasi, harus dirumuskan dan asas pertaliannya tak tebantag, ditunjukkan kekeliruannya, (4) Kogerensi, berkaitan secara logis dan tidak bertentangan, (5) sahaja. Sedikit aturan, unsure, lambing, menguraikan gejala  dan menjelaskan hubungannya, dan (kaitan empiris, teori empiris harus berkait dengan bidang kenyataan empiris dan dapat menerangkan gejalanya secara tepat. 
Tradisi Kritik Sastra
Jika ada yang beranggapan terjadi kemandegan kritik sastra, benarkah demikian?. Buku kritik sastra selalu ditulis dari waktu ke waktu, sejak awal Pujangga baru sampai saat ini. Penulisan mulai dari yang berasal dari skripsi, tesis, dan disertasi yang dibukukan sampai berbagai tulisan kritik yang dimuat di media massa dan website. Menurut Mahayana, menulis kritik dapat dilakukan oleh siapa pun. Latar belakang pendidikan merupakan alat bantu. Kritik muaranya pada apresiasi yang pada akhirnya pada peroalan pertanggungjawaban ilmiah (kritik Akademik dan Kritik Umum (hal 109: versi draft).
Persoalan kualitas  dalam tradisi kritik, Mahayana membelajarkan pembaca pada tulisan pada bab 4: Polemik Kritik Esai yang membahas persoalan Kritik“Kritik Pura-pura Kritik” atas tulisan Raya Dewi berjudul “Beban Capaian Puncak Estetik Cerpen”. Dalam tulisan itu Mahayana menjelaskan kritik dari sudut penafsiran (interpretation) , penilaian (evaluation)  dan pemahaman (comprehension).Bagaimana kritikus memahami konteks historis penulis melalui analisis budaya. Artinya, cerpen tidak lepas dari konteks. Cerpen yang ditulis oleh penulis Jawa akan berbeda dengan cerpen yang ditulis oleh orang Melayu atau Papua, demikian sebaliknya.  Tawaran eksplorasi kultural diperhitungkan dalam menulis kritik sastra. Mahayana juga menulis “Seolah-olah Kritik Sastra”  (Pikiran Rakyat, 3 Okt 2010) untuk menanggapi Esai berjudul “ Kritik dan Hama Sastra” yang dimuat rubrik Khazanah dlam Harian Pikiran Rakyat (19/9/2010), dalam tulisan itu  tejadi distorsi pemahaman sejarah sastra.
Ada tiga hal yang menggelindingkan ketersesatan pemahaman atas kritik sastra yaitu (1) lalai membaca sejarah, (2) salah kaprah memahami hakikat dan tujuan kritik sastra, dan (3) keliru  memahami kategori kritik sastra.  Hakikat kritik sastra adalah penilaian. Di dalamnya melekat apresiasi yang didalamnya ada kegiat yang muaranya  elusidasi (memperlakukan baik) dan eksplanasi yang meliputi deskripsi, interprestasi, analisis dan evaluasi. Sebagai contoh: Mengapa Chairil Anwar menulis puisi “Doa” dan “Isa Kepada Pemeluk Teguh”  pada saat yang sama. Apakah puisi tersebut hanya cukup  dianalisis secara tekstual, namun juga menggunakan terori Kritik (theoretical critic) yang muaranya pada teori sastra (literary Theory), Sejarah sastra ( literary history), dan kritik sastra (literary criticsm). Hal sama juga menjawab pertanyaan mengapa Ramadhan KH menulis novel “Keluarga Permana” (1978)  dan menghadirkan tokoh FX. Sumarto dalam keluarga Muslim Permana. Jawaban atas multikultutalisme Ramadhan juga bisa ditelusur dalam teks lain,  kritik interteks dalam Novel sesudahnya yaitu  “Jalan Menikung” (1992)  karya Umar, mengapa Eko dari yang bernenek moyang Muslim tinggal dan menikah dengan Clare dari Keluarga Yahudi.
Kritik Sastra bersifat Terbuka
Dari buku kritik sastra yang berpengaruh seperti Seks, Sastra, dan Kita  (Mohamad, 1980 ), Mitos dan Komunikasi (Yunus, 1981), Membaca dan Menilai Sastra (Teeuw, 1983), Kesusasteraan Indonesia Modern Beberapa Catatan (Damono, 1983), Menjelang Teori dan Kritik Susastra Yang Relevan (Esten, ed(1988) , Sejumlah Masalah Sastra (Hoerip, ed. 1983), Sejumlah Esei Sastra (Budidarma, 1984) ,Sastra dan Budaya Kedaerahan dalam Keindonesiaan (Rosidi, 1995)  dan Buku-buku Kritik sastra  lain yang ditulis akademisi seperti Atar Semi, Andre Hardjana, Suminto, suroso, dkk (20080) Suroso dan Santosa (2009) dll, buku Kitab Kritik Sastra yang ditulis  Mahayana ini agak khas, dan berbeda. 
Kalau buku kritik sastra yag dipaparkan di atas  bersifat akademik dan teoretik, Kitab Kritik Sastra Mahayana ini lebih bersifat praktis, namun demikian tidak meninggalkan nilai akademik. Tradisi kritik sastra dalam buku ini tidak mendikotomi antara kritik akademik dan kritik publik. Siapa pun, dengan latar belakang bidang ilmu dan disiplin apa pun punya hak yang sama dalam menulis kritik sastra. Gelar akademik dalam bidang bahasa dan susastra menjadi pendukung dalam melakukan kritik.
Para penulis dapat menulis kritik sastra dengan menggunakan media apa saja dan dalam forum apa saja dan di mana saja. Forum-forum diskusi mahasiswa, pertemuan penggiat sastra, forum seniman dan mahasiswa, asosiasi, perkumpulan, seminar, lokakarya, penelitian dapat dianfaatkan untuk mengkomunikasikan tulisan kritik sastra. Setiap individu di manapun, ketika menghadapi karya sastra dapat melakukan penghargaan dan melakukan penjelasan perihal deskripsi, interprets, analisism dan penilaian teks. 
Di era komunikasi seperti sekarang ini persoalan promosi  karya sastra sangat terbantu oleh penulis kritik dan  media social yang mempublikasikannya. Sebagai contoh Novel Laskar Pelangi dihargai sebaga salah satu karya terlaris dan mendunia berkat kritikus dan media massa. Media social, film, dan bedah buku dapat menaikan popularitas karya sastra. Dalam hal ini novel dan cerpen melampaui popularitas puisi dan naskah drama.
Mozaik Materi Kritik Sastra
Buku Kitab kritik sastra setebal 330 halaman (belum disunting) memberi perspektif pembaca betapa luas wilayah kritik dan esai sastra. Dari segi materi, dua genre karya sastra dibahas yaitu kritik puisi, cerpen dan novel . Pada bab selanjutnya pembaca diajak memahami persoalan kritik apresiatif yang membahas kehadiran buku teks yang diterbitkan yang membahas perkembangan  teori, sejarah dan teks sastra. Obituari tokoh sastra pun dibahas dalam Kitab kritik sastra walaupun hanya menjangkau sebagian kecil pengarang Indonesia, namun saswan berpengaruh seperti Ayatrohadi, Ajib Rosidi,  S.M Ardhan, Rendra dan Wan Anwar. Namun, cara menulis obituari tersebut sudah berkategori penulisan sejarah tokoh sastra yang bermanfaat dalam sejarah sastra. 
Konten yang disajikan dalam Kitab Kritik Sastra ini, setidaknya akan memperluas wawasan pembaca untuk mencari, mengembangkan, dan menulis kritik atas teks-teks sastra lain yang belum dibahas dalam buku Kitab Sastra ini. Pembicaraan mengenai Novelis sekelas Umar Kayam, YB Mangunwijaya, atau novel-novel Ayu Utami, Dewi Lestari, Fira basuki, Oka Rsmini dan sederetan wanita novelis belum disinggung dalam bab khusus Kitab Kritik Sastra. Mungkin penulis buku punya pertimbangan sendiri. Karya sastra warna local seperti Dayak, Papua, Bali.
Di bagian lain juga diberi contoh menulis Kritik sastra di media dan di Jurnal Ilmiah Sastra. Melalui contoh penulisan Kristik sastra Ilmiah, akan  mengasah penulis untuk studi lebih intens persoalan teori, meode, sejarah, kritik dalam berbagai pendekatan untuk menyusun sebuah analisis untuk membangun paradgma baru dalam studi kritik. Namun pesoalannya, lembaga penerebitan akan menyeleksi karya ilmiah kritik sastra dan perlu waktu yang cukup lama proses publikasi. Jalan pendek yang bisa ditempuh adalah menulis di media masa dan memasukkan dalam blog pribadi atau asosiasi.
Selain kedekatan pada persoalan historis  sastra Indonesia, penulis juga  dekat dengan akar budaya Sunda dan Melayu. Hal ini bisa dimengerti karena secara genetik penulis adalah  warga Cierbon dan  tinggal di Jakarta berakulturasi budaya Sunda dan Melayu. Kedekatannya dengan berbagai komunitas melayu penulis begitu fasih berbicara pantun, kemelayuan, dan keindonesiaan.
Buku yang diberi kata pengantar Dr. Etienne Naveau dari Jurusan Indonesia,Departemen Asia Tenggara INALCO (Institut National des Langues et Civilisations Orientalis) Paris, Prancis ini menjadi salah satu pilihan baru buku kritik Sastra di belantara buku kritik sastra yang sudah ada. Artinya, sebagian besar artikel yang sudah dierbitkan media massa ini, menjadi salah satu model atau contoh bagaimana menulis kritik dan esei di Media massa, Jurnal ilmiah dan media lain untuk  mempromosikan karya sastra Indonesia. Ibarat industri musik, Kritikus sastra adalah promotor yang mengorbitkan karya sastra. Buku sastra berpengaruh dari kreator biasanya muncul dari tangan dingin kritikus sastra, baik melalui penjurian buku, penulisan kritik, esei tentang kritik di media massa.
Buku ini wajib menjadi salah satu referensi kritik sastra Indonesia, selain “Kitab Suci” Theory of Literature (Wellek and Waren), Pengantar Ilmu Sastra (Luxemburg dkk), sastra dan ilmu sastra (Teeuw), Sejarah Sastra (Jassin, Rosidi). Namun untuk menjadi kritikus yang baik masih perlu kerja  keras menggali ilmu lain seperti sejarah ,geografi, politik, sosial budaya suatu etnis atau bangsa tempat teks itu diproduksi . Dengan demikian kesesatan atas pemahaman kritik sastra bisa dieliminir.
Ke depan, buku Kitab  Sastra Indonesia ini akan member inspirasi pembaca untuk menyusun  esai dan kritik sastra dalam derasnya penerbitan dan publikasi di media massa. Novel, cerpen, bahkan teks drama.
Selamat kepada sahabat yang saya yang sangat produkif, yang saya kenal secara fisik tujuh tahun lalu ketika menikmati tembakau di teras Hotel Akasia, jalan-jalan ke berbagi tempat waktu menjadi asesor, dan guru multikulturalime  Indonesia. Terima kasih atas transfer   ilmunya dari Hankuk University of Foreign Study ( HUFS) untuk saya bawa ke Guangdong University o Foreign Study( GDUFS).
Membaca kitab Kritik Sastra seperti menghargai karya anak bangsa dan melestarikannya.

Daftar Putaka
Budidarma (1984) Sejumlah Esei Sastra. Jakarta: PT Karya Unipres.
Djoko Damono, Sapardi (1983) Kesusasteraan Indonesia Modern Beberapa Catatan.Jakarta: Gramedia.
Ensten, Mursal (ed) (1988) Menjelang Teori dan Kritik Susastra Indonesia Yang Relevan. Bandung: Angkasa.
Luxemburg, Jan Van et all (1984) Pengantar Ilmu Sastra. (Terj. Dick Hartoko). Jakarta: Gramedia.
Mohamad, Goemawan (1980) Seks,, Sastra, dan Kita. Jakarta: Sinar Harapan (Seri Esni 1)  Rosidi, Ajip (1995) Sastra dan Budaya Kedaerahan dalam Keindonesiaan, Jakarta: Pustaka jaya.
Suwondo, Tirto (2003) Studi Sastra Beberapa Alternatif. Yogyakarta: Hanindita  Graha Widya.
Teeuw, A (1983) Membaca dan Menilai Sastra. Jakarta: Gramedia.
Teeuw, A (1984) Sastra dan Ilmu Sastra Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya
Yunus, Umar (1981)  Mitos dan Komunikasi.Jakarta: Sinar Harapan (Seri Esmi 2)  

____
Sumber: Makalah Bedah  Buku: Kitab Kritik Sastra Karya. Maman S Mahayana (Yayasan Obor Indonesia, 2014), Universitas Pakuan Bogor, 21 Februari 2015

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »