(Mem)baca(kan) Puisi untuk Siapa? - Afriyendy Gusti

ADMIN SASTRAMEDIA 5/29/2019
oleh Afriyendy Gusti

Sebagai karya sastra tertua, puisi telah menempati posisi tersendiri dalam sejarah hidup manusia. Hampir dapat dikatakan bahwa tidak ada manusia yang tidak mengenal puisi. Bahkan, jika mengacu kepada jenisnya, yakni pantun, syair, gurindam, seloka, mantra, dan sebagainya, jamak individu yang telah menggunakannya sebagai media ekspresi.

Kata puisi dalam bahasa Indonesia diserap dari bahasa Belanda poezie yang juga diserap dari bahasa Yunani poiesis yang berarti ‘penciptaan atau syair yang diciptakan’. Kata ini juga berhubungan dengan kata poetae dari bahasa Latin yang berarti ‘pembuat’. I.A. Richards (dalam Sumardjo dan Saini, 1994) mencoba mempertegas pengertian puisi dengan menjawab empat pertanyaan, yakni (1) apakah yang dipikirkan penyair?; (2) bagaimanakah perasaan penyair tentang hal yang dipikirkannya tersebut?; (3) bagaimanakah cara penyair mengungkapkan pikiran dan perasaan tersebut?; dan (4) apakah yang diinginkan penyair terjadi kepada pembaca setelah membaca karyanya? Secara sederhana, empat pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan tema, rasa, nada dan/atau diksi, dan tujuan.

Dengan mengacu pada paparan di atas, puisi sebagai hasil karya manusia sekurang-kurangnya memiliki tiga unsur yang komplementer, yakni sumber, proses, dan hasil. Dilibatkannya penyair dan pembaca dalam pertanyaan di atas dapat diartikan sebagai adanya upaya komunikasi dari penyair kepada pembaca. Artinya, dengan mengacu kepada prinsip dasar komunikasi, penyair dan pembaca (pendengar) masing-masing berperan sebagai komunikator dan komunikan.

Puisi sebagai Pesan
Memaknai puisi sebagai pesan berarti memosisikan puisi sebagai karya yang sengaja dibuat untuk menginformasikan hal tertentu. Untuk dapat menyampaikan informasi tentang hal yang dirasakan dan dipikirkannya, penyair harus mampu memilihkan lambang bahasa yang tepat. Alasan inilah yang kemudian membuat sebuah puisi memerlukan waktu yang cukup lama untuk dapat dianggap pantas dihadirkan ke publik oleh penyairnya. Sapardi Djoko Damono, misalnya, penyair dengan puisi bergaya prosa ini kerap membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk siap menghadirkan puisinya ke wilayah publik. Konsekuensinya, tidak sedikit penyair yang protes jika puisinya diapresiasi secara serampangan oleh orang lain.

Meskipun berkembang konvensi bahwa sebuah puisi sebagaimana lazimnya karya sastra menjadi hak apresiator ketika telah dilepaskan ke publik, hal itu tidak secara otomatis menjadi pembenaran terhadap metodologi yang tidak argumentatif. Karya sastra memang bukan ilmu, melainkan seni. Akan tetapi, pengapresiasian karya sastra termasuk puisi tetap berdasarkan ilmu, sedangkan ilmu itu sendiri bersifat metodologis. Dengan alasan metodologis ini, tema, rasa, nada dan/atau diksi, dan tujuan sebuah puisi perlu dipahami oleh seorang apresiator.

Puisi yang sudah berada di tangan apresiator memang sebuah hasil. Namun, hasil tersebut tidak akan bermanfaat sebagai pesan bila tidak dipahami secara benar. Untuk itu, apresiator harus juga memiliki pemahaman mengenai sumber dan proses terciptanya puisi tersebut. Sumber merupakan penyair dan lingkungan atau situasi yang mendasari lahirnya puisi tersebut. Penyair merupakan individu yang memiliki ideologi dan kepribadian. Sebagai individu, penyair menjadi entitas dari lingkungan sosialnya. Lingkungan sosial penyair tentu tidak selalu dalam situasi yang konstan atau stagnan. Tentu ada gejolak atau situasi tertentu yang menyebabkan penyair melahirkan puisi tersebut.

Berikutnya, proses dapat dimaknai sebagai gaya atau cara penyair mengekspresikan pikiran atau perasaannya dalam puisi. Proses ini dapat dijelaskan melalui lambang bahasa baik secara semantis, sintaksis, maupun gramatikalnya. Meskipun pada dasarnya sebuah puisi adalah bunyi, era keberaksaraan telah mendominankan fungsi tulisan sebagai penanda bunyi. Untuk itu, apresiator juga harus jeli terhadap fungsi diksi dan tanda baca baik sebagai konotasi, konjungsi, pungtuasi, ujaran langsung, dan sebagainya.

Ketika Puisi Dibacakan

Membacakan puisi bukanlah pekerjaan mudah. Membacakan puisi tentu berbeda dengan hanya sekadar membaca puisi. Membaca puisi dapat dilakukan oleh siapa pun baik dengan nyaring maupun lirih. Tidak dibutuhkan kemampuan khusus untuk hal ini. Berbeda dengan membacakan puisi. Kata kerja aktif yang bermakna benefaktif ini menuntut kemampuan khusus dalam setiap pelaksanaannya. Secara etimologis, kata baca berasal dari bahasa Sanskerta vaca yang berarti ‘mengucapkan tulisan’. Artinya, puisi yang dibacakan adalah puisi yang ada aksara atau tulisannya. Dengan demikian, tidak menjadi persoalan apakah ketika membacakan puisi seraya melihat teks maupun tidak (dihafalkan).

Hal pertama yang mesti dipahami ketika akan membacakan puisi adalah untuk siapakah puisi tersebut dibacakan. Hal ini memang sederhana, tetapi sangat berpengaruh terhadap proses berikutnya. Membacakan puisi atau lazim dikenal dengan baca puisi kerap ditemukan dalam kegiatan yang bersifat kompetisi atau lomba. Kompetisi atau lomba identik dengan penilaian atau penjurian karena tujuan dari kegiatan jenis ini adalah menentukan yang terbaik.
Nah, dalam kegiatan seperti inilah, pertanyaan sederhana tersebut menjadi sumber masalah. Tidak sedikit kontestan gagal pada bagian ini. Kegagalan ini dapat segera terlihat begitu pembaca seolah-olah memperlakukan orang yang mendengarkan bacaanya sama-sama menguasai atau memegang teks puisi yang dibacakannya. Padahal, penonton bahkan tidak jarang juri tidak memerhatikan teks puisi yang sedang dibacakan. Masalah ini seharusnya tidak terjadi jika pembaca puisi benar-benar memahami bahwa ia sedang bertugas untuk membuat penonton terlebih lagi juri memahami puisi yang sedang dibacanya tanpa mereka harus mengandalkan teks puisi karena memang inilah hakikat kegiatan tersebut.

Pemahaman pembaca tentang membacakan puisi juga dapat disimpulkan berdasarkan kriteria penilaian yang kerap digariskan. Kegiatan Pekan Seni Mahasiswa, misalnya, menggariskan empat aspek penilaian, yakni pemahaman, penghayatan, vokal, dan penampilan.
Aspek penghayatan merupakan bagian elementer dari pembacaan puisi. Pada bagian ini, pembaca puisi harus betulbetul dapat menginterpretasikan puisi secara tepat. Interpretasi yang bersumber dari penafsiran yang tepat akan sangat membantu ketiga aspek lainnya. Namun, kesalahan dalam penafsiran secara otomatis akan membuat aspek lainnya tidak berarti. Untuk mendapatkan penafsiran yang tepat, calon pembaca harus memahami karya puisi yang akan dibacakannya. Salah satu cara adalah dengan mengganggap bahwa puisi tersebut sebagai sebuah pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Dengan demikian, jika awalnya hanya berposisi sebagai komunikan, calon pembaca sudah beralih menjadi perpanjangan tangan penyair atau komunikator berikutnya.

Aspek penghayatan lebih beriorientasi pada ekspresi sebagai ungkapan perasaan dan penjiwaan terhadap puisi yang dibacakannya. Lulus pada aspek pertama belum tentu berbanding lurus dengan aspek kedua ini. Hal yang jamak terjadi ketika sedang membacakan puisi adalah pungtuasi atau jeda yang kurang tepat dan munculnya gerak refleks atau gestur nirkontrol seperti gerak tangan ke atas ke bawah secara berulang-ulang tanpa jelas maknanya atau mobilitas yang tidak jelas di atas panggung.

Aspek vokal menyasar pada artikulasi dan intonasi yang jelas dan tepat. Pada bagian ini jamak juga kesalahpahaman pembaca tentang jelas dan teriak. Vokal yang jelas tidak sama dengan teriakan atau suara keras. Tidak jarang juga penonton dan bahkan juri mengeluh dan merasa tersiksa ketika mendengar pembaca puisi beraksi karena kesalahpahaman tentang konsep jelas dengan teriak tersebut. Selain “siksaan” tersebut, kesalahpahaman ini juga berdampak negatif terhadap penilaian. Tentunya, akan sangat sulit membayangkan puisi yang bertema kasih sayang atau rasa bersalah terhadap orang tua dibawakan dengan cara seperti ini.

Aspek terakhir yang juga patut diperhitungkan adalah penampilan. Aspek ini berkaitan dengan kostum dan pembawaan pembaca puisi. Untuk pembawaan atau sikap tampil, tentu tidak begitu bermasalah karena hal ini seringnya berlaku standar. Jebakan justru pada bagian konstum. Dikatakan jebakan karena umumnya dalam lomba membacakan puisi peserta diminta untuk membacakan dua karya puisi. Hal ini sering diistilahkan dengan puisi wajib dan puisi pilihan. Kostum yang digunakan untuk puisi pertama tentu tidak mungkin digunakan ketika membacakan puisi berikutnya jika ternyata temanya berlawanan. Artinya, jebakan ini justru ada karena kesalahan memilih puisi.

Dengan demikian, membacakan sebuah karya puisi terbukti tidak sesederhana pengertian membaca pada umumnya. Intensitas, totalitas, dan kontinuitas merupakan fitrah kualitas. Pun demikian untuk kita. Salam!***

Minggu, 13 Juli 2014

Sumber: KerlingAntologi Kritik/Esai Bahasa dan Sastra, Penyunting: Dessy Wahyuni, Medri Oesnoe, Agus Sri Danardana, dan  Tirto Suwondo, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan  Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta, 2016

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »