Memori Afrizal dalam Berlin Proposal

ADMIN SASTRAMEDIA 5/29/2019
oleh Balok Safarudin


Budi Darma mengatakan di dalam bukunya Harmonium (1995), bahwa karya sastra ada karena manusia adalah homo ludens, yaitu makhluk yang suka bermain, berimajinasi. Ia melahirkan karya sastra dengan kreativitasnya untuk mentransformasikan kehidupan. Hal ini dibutuhkan profesionalisme kepengarangan bersifat terbuka. Selain itu, prasyarat untuk menjadi pengarang adalah kemampuan untuk menghayati realitas.

Berlin Proposal ini adalah seni, bukan puisi, sastra, atau seni rupa. Inilah kata-kata awal Afrizal Malna dalam memberi makna kumpulan puisinya berjudul Berlin Proposal. Saya menulis dalam bahasa Indonesia bukan dengan bahasa Indonesia, karena saya lahir di dalam masyarakat Indonesia. Saya lahir dan hidup di dalam masyarakat urban.

Berlin Proposal ini adalah seni. Di sini, Afrizal seolah-olah ingin lari dari kungkungan hiruk-pikuk sastra dan nonsastra, puisi, dan prosa. Afrizal tidak bisa menikmati puisi dan prosa seperti yang didengung-dengungkan oleh para akademisi. Oleh karena itu, ia pun menghindar dari pengertian puisi yang kaku. Ia ingin bebas dalam menuangkan ide-ide dan pemikirannya. Ia menjauh dari mitos-mitos para akademisi. Oleh karena itu, karya yang ada dalam Berlin Proposal beragam isinya, yaitu puisi yang berisi jajaran kalimat, kata-kata yang tidak lazim, gambar-gambar yang terbuat atas abjad-abjad, tempelan gambar-gambar, gambar kotak hitam, sekumpulan angka-angka, dan sekumpulan garis-garis.

Berlin Proposal ini seolah-olah mendekonstruksi makna huruf, abjad, gambar, dan sekumpulan kata yang sudah lazim dan tidak lazim di dalam masyarakat. Ia mendekonstruksi makna menjadi suatu mitos terbarukan. Afrizal membungkusnya dalam memorimemori: memori abjad, memori kata, memori angka, dan memori gambar.

Memori abjad. Puisi “Mitos Mimesis” ini berisi deretan dan susunan abjad: a b c e f g h i k j l m n o p q r s t u v w x y z. Di sini, Afrizal ingin membongkar abjad-abjad tersebut yang telah menjadi semacam mitos di dalam masyarakat menjadi mitos yang terbarukan. Ia membongkar makna mitos dan kebermaknaan abjad-abjad, yang kini, telah menjadi sekumpulan abjad yang memproses menjadi kata, kalimat, gambar, dan menjelma berbagai makna. Dalam puisi ini, Afrizal melihat makna abjadabjad ini sesuatu yang kaku. Kekakuan digambarkan seperti sekumpulan abjad yang mengotak.

Di dalam “Mitos Mimesis” ini, Afrizal ingin mengembalikan kesederhanaan makna abjad-abjad yang telah menjadi makna anakan yang begitu rumit dan berbelit. Ia ingin membebaskan kita dalam memaknainya. Hal ini terlihat ketika Afrizal juga memberi ruang pemaknaan dengan memberikan ruang di sela-sela abjad.

Memori kata. Puisi “Altar Pergamon” berisi kata-kata: bbc, cnn, msn, ask, wifi, bing, microsoft, intel, google, youtube, facebook, twitter, hotmail, yahoo, gmail, wikipedia, vimeo, bluetooth, e-books, napster, visa, wester union, dhl, hollywood, dollar, english, edward snowden, mh17, wto, world bank, imf, jalur gaza, the cyrus cylinder.

Kata-kata dalam “Altar Pergamon”, secara kasat mata, merupakan bank data dan tempat berkumpulnya wacana. Kumpulan bank data ini dijadikan satu dengan tempat yang baru, yaitu “Altar Pergamon”. Sebuah altar yang menyediakan berbagai ilmu pengetahuan dan kerahasian, yakni rahasia tuhan dan rahasia manusia. Ini semacam tawaran baru, untuk mencari apa yang kita inginkan, cukup pergi ke altar pergamon. Cukup dengan mengucap mantra satu kata, kita akan bertemu dengan apa yang kita inginkan. Untuk mencari berita, cukup dengan mantra: bbc. Untuk mencari teman, cukup dengan mantra: facebook. Untuk melihat negara kaya atau miskin, cukup dengan mantra: world bank.

Memori angka. Afrizal mengemas mitos-mitos yang ada di dalam masyarakat melalui sistem digit. Hal ini dapat dilihat dari karyanya yang berjudul “Teritori Digital”. Puisi teritori digital ini memuat gambar barcode yang bernomor seri 063-21-17819451948-1965-1998 dan 049-30-1381961-1990. Nomor seri tersebut seperti menyimpan datum-datum mitos atau memori.

Nomor-nomor yang ada di dalam barcode itu secara disengaja merujuk pada suatu wilayah geografi dan peristiwa-peristiwa yang berpengaruh. Nomor seri 063 (apakah ini kesalahan dalam menulis?) merupakan kode area negara Filipina. Saya belum mengetahui maksud Afrizal mencantumkan kode 063 yang notabene kode area Filipina. kode 063 ini diikuti oleh kode 21 yang merupakan kode area Jakarta, ibu kota negara Indonesia. Nomor seri 1781945 merujuk pada tanggal kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia, yaitu 17 Agustus 1945. Nomor seri 1948 mengingatkan kita pada peristiwa pemberontakan PKI dan agresi militer Belanda II. Nomor seri 1965 mengingatkan kita pada peristiwa Gerakan 30 September atau G30S/PKI atau Gestok. Nomor seri 1998 mengingatkan kita pada peristiwa kerusuhan Mei 1998, kerusuhan yang terkonsentrasi di Ibu Kota Jakarta sebagai jantung pemerintahan NKRI.

Nomor seri barcode yang kedua merujuk peristiwa di luar Indonesia, yaitu Berlin. Hal ini diketahui dari nomor awal dari nomor seri barcode tersebut. Nomor awal tersebut menunjukkan area Berlin. Nomor seri tersebut adalah 049-30-1381961-1990. sedangkan nomor seri berangka 1381961 bisa diterjemahkan (merujuk) pada suatu peristiwa yang bertanggal 13 Agustus 1961. Pada tanggal ini Berlin dibagi menjadi dua, yaitu Jerman Barat dan Jerman Timur. Hal ini seperti yang terberitakan pada http://news.liputan6.com, bahwa Berlin terbagi atas dua area. Pembagian ini dikarenakan Jerman kalah dalam Perang Dunia II. Oleh sebab itulah, Jerman dikendalikan oleh kekuatan negara-negara besar, yaitu Uni Soviet, Amerika Serikat (AS), Inggris, dan Prancis. Hal ini berpengaruh pada salah satu kota besar di Negeri Bavaria, Berlin. Soviet pun hanya bisa mengontrol bagian timur dari Berlin. Sementara, di wilayah barat pengaruh AS dan sekutunya begitu kuat terasa. Karena itulah, masyarakat yang berada di timur Berlin melakukan perpindahan massal ke barat Jerman akibat peluang untuk hidup bebas di wilayah tersebut sangat terbuka lebar. Oleh karena itu, demi mencegah eksodus massal warga Berlin Timur tersebut, Pemimpin Komunis Jerman Timur Walter Ulbricht segera menemui koleganya asal Soviet Nikita Khrushchev. Dalam pertemuan tersebut kedua pemimpin ini sepakat membangun tembok pemisah antara dua wilayah Berlin.
Nomor seri berangka 1990 pada barcode kedua menunjukkan pada suatu peristiwa penyatuan Jerman Barat dan Jerman Timur. Pada tahun ini Jerman Timur dengan Jerman Barat menjadi Negara kesatuan Jerman saja.

Memori gambar. Di dalam puisi yang lain, yaitu “Puisi Digital”, Afrizal seolah-olah menjadi seorang pesulap. Ia ingin menciptakan mitos-mitos baru, yaitu sebuah mitos yang hadir di antara kemodernan. “Puisi Digital” ini menghadirkan coretancoretan horizontal dalam tiga kelompok. Ya. Ini memang bukan puisi, ini gambar garis-garis. Akan tetapi, ada suatu tanda yang memaksakan (semacam kehendak) bahwa ini adalah puisi bukan suatu coretan garis-garis horisontal. Pemaksaan tersebut tertulis secara eksplisit yaitu “Puisi Digital”. Bagaimanakah cara menikmati “Puisi Digital” ini? Ah. Puisi tidak seharusnya dibaca atau diparolkan kelisanannya. Puisi, dalam hal ini puisinya Afrizal, tidak harus dibaca, tetapi ditransformasi. Dalam “Puisi Digital” ini, kita dapat dinikmatinya melalui irama-irama yang yang terpantul dari garis-garis horisontal tersebut. Kekuatan dalam “Puisi Digital” adalah irama yang ditimbulkan oleh garis-garis.

Selain “Puisi Digital”, Afrizal juga menawarakan karyanya dalam bentuk lukisan yang diikuti dengan tulisan-tulisan, yaitu hotmail: otto dix. Puisi hotmail: otto dix ini menggambarkan seorang pejuang yang akan menuju medan perang dan pulang dari medan perang. Di dalam puisi ini, terpampang dua lukisan yang berbeda, yaitu lukisan menuju perang dan lukisan pulang perang. Lukisan ini berangka tahun 1916—1917. Puisi ini menggambarkan betapa kejamnya suatu peperangan. Peperangan bisa mengubah apa saja, termasuk psikologi pelaku perang. Memorimemori perang menyatu dalam puisi ini. hotmail: otto dix.

Inilah Afrizal. Kecerdasan Afrizal Malna tidak hanya terlihat pada puisi-puisi yang bergantung pada kata-kata. Akan tetapi, ia pun mempergunakan abjad dan angka, serta gambar untuk menyimpan memori atau mitos yang ada dalam masyarakat. Puisi adalah seni transformasi dari masyarakat. Abjad, angka, dan gambar adalah sistem tanda yang menyimpan memori masyarakat pendukungnya.***

Mataram, 2015

Sumber: KerlingAntologi Kritik/Esai Bahasa dan Sastra, Penyunting: Dessy Wahyuni, Medri Oesnoe, Agus Sri Danardana, dan  Tirto Suwondo, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan  Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta, 2016

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »