Menggugat Sejarah Sastra Indonesia - Suyadi San

ADMIN SASTRAMEDIA 5/28/2019
oleh Suyadi San


Sejarah sastra Indonesia wajib digugat. Para ahli sastra kadung merumuskan sejarah sastra Indonesia yang keliru. Jika hal ini tidak diluruskan, berarti kita mengamini pengingkaran terhadap sejarah. Pengingkaran terhadap sejarah sastra, berarti pengingkaran terhadap kebudayaan Indonesia.


Penyair Ajip Rosidi pernah melontarkan pertanyaan, Kapankah Kesusastraan Indonesia Lahir? (1964). Itu dilanjutkannya lagi dalam Ikhtisar Sejarah Sastera Indonesia (1967). Lalu, dia menjawab sendiri pertanyaan tersebut. Awal membaca bukunya, saya tertarik. Apalagi membukanya dari deklarasi Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Selanjutnya saya kecewa, karena tidak jauh beda dengan pendapat ahli-ahli sastra lainnya.


Buku Pengantar Sejarah Sastra Indonesia (2007) dan Pengkajian Kritik Sastra Indonesia (2009) Yudiono K.S. juga sempat menaruh harapan untuk membongkar sejarah sastra kita. Apalagi, dia memasukkan data peta sastra Indonesia teranyar, yaitu Temu Sastra Indonesia 1 tahun 2008 di Jambi. Dia juga memasalahkan adanya ketidakberesan pada sejarah sastra Indonesia. Sayangnya, ia tidak tegas menolak konsep sejarah sastra Indonesia yang ada.


Terhadap keterbatasan kemampuan Yudiono K.S. itu saya sangat memakluminya, sebab, mungkin dia diburu waktu untuk menerbitkan bukunya tersebut. Kita tunggu saja edisi revisi atau buku lain darinya untuk meluruskan sejarah sastra Indonesia ini.

Ya, lantaran terjadinya benang kusut sejarah sastra Indonesia, banyak orang sesuka hatinya memasukkan sesuatu dalam peta sejarah sastra. Contohnya, buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh (2014). Wajar saja, penikmat sastra Denny J.A. dimasukkan ke dalam buku tersebut. Namun, tentu saja sangat mengganggu sejarah sastra Indonesia pada anak-cucu kita.


Bagi saya, kekacauan sejarah sastra Indonesia merupakan dosa-dosa yang dibuat ahli sastra terdahulu. Dosanya sangat besar! Selain mengaburkan sejarah, juga pro penjajah. Apa dosa besar mereka? Ya! Mereka tahu butir-butir Sumpah Pemuda, tetapi hanya mengimplementasikannya sepotong-sepotong. Apakah mereka melanggar sumpah atau justru mengkhianati sumpah tersebut?


Butir-butir Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 adalah satu kesatuan. Tidak bisa diinterpretasikan salah satunya. Namun, para ahli dan kritikus sastra kita hanya mengakui butir ketiga. Mereka mengatakan, sastra Indonesia adalah sastra yang menggunakan bahasa Indonesia. Lalu, mereka menjustifikasi bahwa sejarah sastra Indonesia dimulai pada masa Balai Pustaka atau era 1920-an. Hajab, kita!


Mereka mengatakan, sebelum masa Balai Pustaka memang sudah ada sastra Indonesia lahir, tetapi belum masuk ke dalam wajah sastra Indonesia. Sastra pra-Balai Pustaka itu dikategorikan sastra daerah dan sastra di Nusantara. Wah! Itulah kekeliruan yang terus dibawa-bawa di Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) dan jurusan Sastra Indonesia lainnya di perguruan tinggi. Dan, pasti juga diikuti kurikulum pendidikan dasar dan menengah.


Kalau para ahli dan kritikus sastra kita sepakat Sumpah Pemuda merupakan dasar semangat berbangsa dan bernegara, jangan hanya butir ketiga yang menjadi landasan sejarah sastra Indonesia. Tiga butir Sumpah Pemuda itu adalah satu roh, satu jiwa dan raga, tidak bisa dipisahkan satu sama lain.


Dari bunyi Sumpah Pemuda itu, sastra Indonesia sudah ada jauh hari sebelum orang Eropa datang ke Indonesia. Kalau mereka (ahli dan kritikus sastra Indonesia) bersepakat bahwa sastra merupakan bagian dari suatu sistem peradaban, sastra Indonesia sudah ada sejak manusia Indonesia mengalami peradaban. Peradaban maju manusia Indonesia bisa dilihat dari hasil kebudayaannya.


Kalau sastra merupakan satu media pembelajaran kebaikan, sastra Indonesia sudah ada sejak orang Indonesia mengenali baik-buruknya perikehidupan. Hukum-hukum yang dimiliki orang Indonesia masa lalu merupakan bagian dari sistem ajaran itu. Pelaksanaan sistem itu di antaranya dilakukan melalui kitab suci, hukum kerajaan, dan teks-teks sastra. Sayangnya, para ahli sejarah hanya menemukan Prasasti Yupa di Kerajaan Kutai Karatenegara pada abad IV Masehi. Prasasti yang menerangkan tentang keberadaan Kerajaan Kutai itu merupakan awal adanya jejak sastra Indonesia.


Ketika masa itu, tulisan mengadopsi bahasa Sansekerta dan huruf Palawa dari India. Bahasa dan tulisan tersebut, dibawa oleh kaum Brahmana yang dimaksudkan untuk kegiatan ritual keagamaan. Namun, tidak sebatas itu, para pujangga Indonesia mulai mengembangkan kemampuan mereka dalam kesusastraan. Tercatat, di masa Kerajaan Kediri Jawa Timur, tergubahlah kitab epik Baratayudha versi bahasa Jawa yang dikarang oleh Mpu Sedah dan Mpu Panuluh, Arjuna Wiwaha karya Mpu Kanwa, dan diteruskan lagi di masa Kerajaan Majapahit dengan mahakarya kitab Negara Kertagama oleh Mpu Prapanca serta kitab Sutasoma oleh Mpu Tantular.


Setelah pengaruh Hindu-Budha, muncul pula sastra Indonesia pengaruh Islam. Pada awalnya, kisah-kisah yang beredar terkait dengan cerita para nabi, Rasulullah Muhammad saw., Sunan, Wali, atau orang suci lainnya. Namun, kesusastraan yang bernapaskan Islam ini terus berkembang hingga ke kehidupan yang berlatar belakang Indonesia asli seperti suluk Wujil karangan Sunan Bonang. Ini menceritakan wejangan-wejangan Sunan Bonang kepada Wujil, seorang cebol yang terpelajar mantan abdi dalem keraton Majapahit.


Sastra Indonesia mengalami perkembangan baru lagi dengan kedatangan bangsa Eropa pasca-Revolusi Industri di Inggris dan Prancis, dengan motif bidadari, fabel, dan emansipasi. Karya sastra Indonesia juga didominasi syair, gurindam, pantun, dan hikayat. Isi cerita berkisah sejarah dan moral. Ciri utama masa ini adalah anonim atau tak ada nama pengarang. Berkembang di daerah Sumatra seperti Riau, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara. Contoh yang terkenal adalah “Hikayat Bayan Budiman” dan syair “Ken Tambunan”.


Begitulah. Sejarah sastra Indonesia bukan dimulai pada era 1900 atau 1920 sebagaimana dikatakan Ajip Rosidi dkk., apalagi sejak Balai Pustaka. Sesuai butir pertama Sumpah Pemuda, siapapun yang lahir atau bertumpah darah di Indonesia, dia adalah orang Indonesia. Maka, Kwee Tek Hoay, Ting Sam Siem, Thijt Liap Seng, Thio Tjien Boen, Gouw Peng Liang (Salmon, 2010) adalah sastrawan Indonesia sebagaimana Nuruddin Arraniri, Tun Sri Lanang, Hamzah Fansuri, Raja Ali Haji, Raden Ngabehi Ronggowarsito, Mas Marco Martodikromo, Raden Mas Tirto Adhisurjo pada masa sebelum Balai Pustaka. Begitu juga jika menilik butir kedua Sumpah Pemuda, yaitu berbangsa atau bertempat tinggal di bumi Indonesia, maka Multatuli, F. Wiggers, Eddy du Perron, dan G. Francis adalah sastrawan Indonesia sebagaimana Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi.


Jika dikaitkan dengan butir ketiga yaitu “menjunjung tinggi bahasa Indonesia” bukan berarti meminggirkan bahasa-bahasa lainnya di Indonesia. Maka, “Mahabharata”, “Arjuna Wiwaha”, “Serat Kalatida”, “Lutung Kasarung”, “Wawacan Angling Dharma”, “Jayaprana dan Layonsari”, “Calon Arang atau Nyai Dasima”, “Allah yang Palsu”, dan “Bintang Toedjoeh” adalah karya-karya sastra Indonesia yang luar biasa hebat. Karya-karya tersebut menggunakan bahasa Jawa, Sunda, Bali, dan Melayu. Itu, belum lagi karya sastra yang muncul di surat kabar era 1800 hingga awal 1900.


Jadi, mulai sekarang jangan lagi meletakkan Balai Pustaka sebagai awal sejarah sastra Indonesia kalau kita cinta dengan Indonesia. Balai Pustaka pada awal pendiriannya bahkan melecehkan sastra Indonesia sebelumnya dengan menyebut bacaan liar dan sejenisnya.****


Sumber: KerlingAntologi Kritik/Esai Bahasa dan Sastra, Penyunting: Dessy Wahyuni, Medri Oesnoe, Agus Sri Danardana, dan  Tirto Suwondo, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan  Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta, 2016

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »