Menyusuri Lintasan Kepenyairan D. Kemalawati

ADMIN SASTRAMEDIA 5/29/2019
oleh Suminto A. Sayuti

/1/
“D. Kemalawati “hanya” punya puisi. Maka ia pun berbuatlah melalui puisi.” Demikian tulis Maman S. Mahayana ketika mengantar Hujan Setelah Bara (selanjutnya HSB, 2012, Banda Aceh: Lapena). Dalam kaitan ini, yakni dalam kaitan “berbuat melalui puisi,” agaknya Kemalawati berangkat dari kesadaran bahwa dalam puisi modern, efek puitis hendaknya terbebas dari tuntutan moral atau pikiran-pikiran tentang fungsionalisasi puisi bagi khalayak. Tesis kreatif itu akan terasa jika kita telusuri puisipuisi karyanya. Membaca puisi-puisinya terasa ada upaya mengabadikan kenangan dan peristiwa menjadi peristiwa komunikasi puitis. Karenanya, Kemalawati cenderung memilih grenengan, gumam, atau solilokui. Pembaca tidak dilibatkan dalam pikiran dan abstraksi tertentu, tetapi lebih dilibatkan pada suasana hati yang khas, dengan perasaan tertentu. Pilihan kata lebih diupayakan sebagai sugesti. Karenanya, puisi-puisi Kemalawati pun hadir tanpa beban makna. Pembaca diberi kemerdekaan untuk mengonstruksi makna itu, misalnya dengan melakukan kontekstualisasi. Ia mengomparasikannya dengan situasi lain (yang pernah ada atau teralami), termasuk situasi kedirian pembaca yang bersangkutan. Akibatnya, makna puisi pun suatu ketika menjadi luput, kemudian terpegang, dan bisa luput kembali. Terdapat peristiwa pengelakan dan penundaan makna yang terus-menerus dalam peristiwa perburuan makna.

Perangkat-perangkat realitas yang tersaji dalam puisi Kemalawati merupakan sarana untuk membangun sebuah tegursapa “dari hati ke hati”. Terhadap perangkat yang tersaji itu, pembaca boleh saja menerimanya sebagai kias, boleh juga menerimanya sebagai sesuatu yang akan terus berubah sesuai dengan suasana hati tatkala mengadakan persemukaan dengannya. Jadi, ekspresi verbal puisi Kemalawati hanyalah sebiji suasana, yang dalam dan melaluinya pembaca dipersilakan untuk melakukan abstraksi. Dalam konteks semacam ini, imaji menjadi penting. Jika pembaca bersikeras menghendakkan pengertian, melalui imaji yang membangun suasana itulah boleh jadi pengertian dapat diderivasikan. Jadi, untuk apa membaca puisi-puisi (dan yang serupa dengan) karya Kemalawati ini?

/2/
Jawaban terhadap pertanyaan tersebut tidak bisa dipisahkan dari hakikat puisi sebagai diyakini penyairnya, yakni “… rumpun padi/bagi jiwa sunyi” (puisi: “Puisi”, HSB, 2012), dan penyairnya “… adalah pelayat/sekaligus mayat/di pekuburan kata-kata” (puisi: “Penyair”, HSB, 2012), sedangkan “diksi”-nya adalah “kata-kata yang diturunkan hujan” yang dipungutnya “dengan tangan berbalut arang” (puisi: “Memilih Diksi”, Bayang Ibu, selanjutnya BI, 2016), tetapi diketik “dengan tinta embun/di lembar daun-daun” kehidupan (puisi: “Aku Mengetik Riwayat Malam”, HSB, 2012).

MEMILIH DIKSI

memungut kata-kata yang diturunkan hujan 
dengan tangan berbalut arang 
puisi-puisi hanya berwarna hitam 
mengalir tanpa tujuan

dalam kalungan melati 
matahari memutihkan kata-kata 
dan angin mewangikannya 
hingga puisi menjadi awan 
wangi dan putih dimana-mana

jika ingin memungut lebih banyak kata 
carilah taman-taman bunga 
yang tidak dihinggapi hama
jika siang kupu-kupu terbang leluasa 
dan malam hari beribu kunang meneranginya

(BI, 2016)

Karena diketik “dengan tinta embun/di lembar daun-daun” (puisi: “Aku Mengetik Riwayat Malam”, HSB, 2012), jejak-jejak yang ditinggalkannya pun bisa saja menjadi “riak metafora di laut maya” (puisi: “Tapak Sajak”, HSB, 2012). Pada posisi yang demikian, yakni posisi sebagai “… pelayat/sekaligus mayat/di pekuburan kata-kata” (puisi: “Penyair”, HSB, 2012), penyair pun bisa saja tak ubahnya sebagai “pejalan petang” yang mungkin “sudah lupa cara menulis puisi/sejak kau bakar catatan harianku/dalam bara lahar kawah merapi” (puisi: “Buku Catatan Pejalan Petang”, HSB, 2012), tetapi tetap “menujumu”, walau “dalam jejak sunyi” (puisi: “Menujumu”, HSB, 2012); tetap “di kedalaman kolam/makrifatMu” (puisi: “Aroma Ganggang”, HSB, 2012).

Pilihan posisi sebagaimana dikemukakan, yakni ketika jarak dengan objek-objek yang semula tak terjembatani karena telah “membatu mengukur jarak dan waktu” dan menjadi “dongeng di raut keningnya” (puisi: “Lelah di Lidah Patah”, HSB, 2012) sendiri, dan “selebihnya” cuma “gua-gua tanpa cahaya/dengan pintu entah dimana” (puisi: “Jalan Pulang”, HSB, 2012) akhirnya mampu dijembatani, penyair pun menjadi mampu melihat “orang-orang yang mengikat kaki sendiri,” yang “semakin tak perduli/selain menjaga/ kampung murungnya/dari bara api yang menari-nari” (puisi: “Orangorang Makin Paham Menjaga Ingatan”, HSB, 2012); dan puisi pun menjadi seserpih “lirih doa” (puisi: “Badai Jangan Singkirkan Jilbabku”, HSB, 2012), puisi pun menjadi “keping hati/… /puding kata/… rongga jiwa” yang “… terus meruang dalam ingatan” (puisi: “Dalam Gamang yang Panjang”, HSB, 2012). Pilihan eksistensial pun mampu diambil: “aku kembali ke hakekat sunyi” dan “…menjauh dari suara-suara,” lalu “akan kunyalakan/bara apiku/menujuMu” (puisi: “Dalam Pejam”, HSB, 2012), walau “bersama airmata” yang “memandikan kenangan” (puisi: “Dibalut Cemburu”, HSB, 2012), walau “kini, aku tak punya suara/untuk melantunkan syair” dan akhirnya “kupilih bungkam/menuju makam” (puisi: “Maka Kupilih Bungkam”, HSB). Diri pun “seperti daun dan angin/helai-helai kering di pucuk ranting/…/bara api dan percik sunyi” (puisi: “Lukisan Air”, HSB, 2012), “…aku membawa harum semesta/dalam kelopak rindu yang utuh/terbang bersama tubuh dan ruh” (puisi: “Katherina, Aku Membawa Aroma Semesta dari Desah Nafas Panjangmu”, HSB, 2012); diri pun “tak bergegas menjadi lilin /biarkan malam tanpa lentera/ desah dalam senyap/sayap-sayap cahaya di ruang mata//tak bergegas menjadi lilin/biarkan ruang tanpa cahaya/meraba dan memaknai lekuk semesta/bersama suara-suara//menjadi lilin/membakar diri/cair dalam kemilau /beku tak dihirau” (puisi:”Lilin Diri”, HSB, 2012).

/3/
Menikmati puisi-puisi Kemalawati ini dengan saksama akan kita tangkap bahwa Kemalawati meyakini puisi sebagai “sebuah rumah” tempat menyemayamkan pengalaman diri tatkala bersintuhan dengan dunia luar: diri liyan, semesta, dan bisa jadi juga, keagungan yang muncul dari berbagai hal, termasuk lingkungan yang terdekat. Puisi bagi Kemalawati, dengan demikian, bukan sebuah konstruksi keindahan kata tempat fatwa, petuah, nasihat, ajaran, dan kearifan dikapsulkan. Puisi tidak harus mengedepankan kata-kata indah sekaligus juga tidak mengedepankan isinya. Karenanya, pentingnya membaca puisi semacam karya Kemalawati adalah untuk meneguhkan kembali ikatan spiritual-batiniah kita dengan kehidupan. Hanya itu. Implikasinya, pembaca tetap lebih berpeluang untuk mengarifi kehidupan usai menghayati puisipuisi dengan “jiwa sunyi” itu.

Puisi Kemalawati, apapun label yang dilekatkan padanya: lirik, naratif, atau apa saja, pada hakikatnya selalu diupayakan untuk menunjukkan keterlibatan manusia dalam proses eksistensial. Di dalamnya terbayang kehendak, kecenderungan, dan perjuangan-perjuangan kemanusiaan yang kompleks. Kehidupan keseharian yang acapkali keruh dan tak terpecahkan, menjadi sumur inspirasi kreatif yang tak habis ditimba oleh Kemalawati: nilai sosial, moralitas, tradisi, sejarah, dan pengetahuan. Baginya, dalam kekonkretannya, puisi memberi kenikmatan jiwani. Betapapun tak sempurna dan abstraknya, puisi menghasilkan efek situasional karena bersumberkan pada hidup insani berikut pengalaman dan dorongan religius, sosial, dan personal yang telah diolahnya dalam dan melalui jagat puitik itu.

Walaupun bersumber pada kehidupan keseharian, jagat putik berbeda dengan jagat yang dijadikan sumbernya itu. Kehidupan keseharian begitu bergantung pada abstraksi. Tindakan dan penunaian tugas sekecil apapun selalu bergantung pada sistem tertentu, yakni sistem yang darinya realitas keseharian itu diorganisasikan dan diregulasikan, baik secara sosial maupun moral. Hasilnya, dari waktu ke waktu, pada berbagai sisinya, tindakan dan pengalaman keseharian pun menunjukkan adanya beragam jejak abstraksi, generalisasi, dan tipifikasi pemikiran, dan berbarengan dengannya kekonkretan, heterogenitas, dan partikularitas pun sirna. Pada sisi yang berbeda, puisi mampu dan berhasil memelihara heterogenitas dan partikularitas karena sebagai salah satu manifestasi kesadaran, jagat puitik menolak adanya regulasi dan sistematisasi. Kemalawati selalu meneguhkan keyakinannya bahwa abstraksi hampir selalu membuat sensitivitas menjadi majal. Untuk itu, Kemalawati menentang kemutlakan pemikiran, idealitas, intelektualitas, dan generalitas. Sebaliknya, ia selalu mengupayakan agar kesan sejati dan pengalaman nyata menjadi objek visi dalam proses kreatif yang dirambahnya.

BUKU CATATAN PEJALAN PETANG

Aku sudah lupa cara menulis puisi 
sejak kau bakar catatan harianku 
dalam bara lahar kawah merapi

subuh itu, aku hanya merapal doa-doa 
memandang percikan bunga api 
sekawanan burung putih serupa awan 
berarak diam menuju Selatan
dalam gigil pagi kucoba melukis kepundan 
di antara debu dan tanah. Angkuh wajahmu tengadah

tak lagi embun membelai pucuk daun 
lahar menjalar mematahkan putik-putik hijau
kita pun seperti dua kutub. Kau dilimpahi cahaya 
aku meraba dalam gulita

bara merah yang melumatkan catatan harianku 
deraknya bagai dawai kering meretakkan dinding kalbu 
tempat puisi-puisi pernah menyatu

tak mudah bagiku, harum belantara hutanmu 
liar arung jeram sungai-sungai, telaga jernih yang sejuk 
Puncak biru dibalut awan, 
catatan- catatan hujan yang mengalir 
lembar-lembar catatan harian itu 
dan cintamu adalah humus basah 
menyuburkan puisi-puisi rinduku

(Kini aku telah sampai pada petang 
saat pejalan bergegaspulang 
tanpa buku harian 
tanpa puisi-puisi yang kutulliskan 
mengetuk pintu kesunyian)

(BI, 2016)

Penentangan tersebut sama sekali jauh dari upaya menghilangkan kesadaran partisipatif dalam melandasi tindakan normatif. Terasa bahwa Kemalawati selalu menjaga kesadaran semacam itu, apalagi jika berkenaan dengan keseluruhan kehidupan yang konkret dan tak terserpih-serpih, atau yang diupayakannya menjadi konkret dan utuh, yang mengepungnya: soal Aceh dan ke-Aceh-an. Aceh yang, di mata batin Kemalawati, musti melindungi dirinya sekaligus membuka diri untuk membangun tegur-sapa dengan jagat di luarnya, yang berpotensi mendikte, bahkan menindasnya. Puisi pun berposisi menjadi sebuah “rumah besar” ekspresi dan representasi, di samping sebagai medium empati sang kreator bagi “keseluruhan wargahidup” karena di dalamnya dirumahkan berbagai pengalaman yang berasal dari tindakan-tindakan eksistensial. Basis kesadaran semacam ini menjadikan jagat puitik Kemalawati sebagai sebuah keseluruhan pengalaman manusia dan kemanusiaan yang universal tanpa harus kehilangan partikularitasnya. Di dalam jagat itu terbayang proses dinamik dan dialektik-resiprokal yang melalui dan di dalamnya relasi penyair-pembaca menjadi tak terpisahkan: bahwa mereka dari dan berada dalam dunia kehidupan nyata, tempat keduanya tinggal bersama.

/4/
Puisi-puisi Kemalawati meniscayakan tak terpisahkannya diri-subjek yang terlibat secara resiprokal. Dengan demikian, teks kreatif itu memperoleh signifikansi, nilai, dan relevansinya dalam keterkaitannya dengan keseluruhan kehidupan. Relasi dialektik-resiprokal tersebut menjadikan “jagat puitik” Kemalawati mampu menyuguhkan nilai emosional sejati, yakni nilainilai yang mampu membentuk dan meningkatkan taraf hidup dan kehidupan: berbudaya dan berperadaban.

Suatu ketika bisa saja puisi secara formalistik tertutup di dalam dirinya sendiri. Dalam konteks yang demikian, sesungguhnya ia mewakili sebuah keretakan yang tak terelakkan dalam proses kehidupan penyairnya. Akan tetapi, hal itu tidaklah berarti bahwa puisi-puisi Kemalawati kehilangan landasan objektif yang mengakibatkan musnahnya fungsi karena pengalaman puitik yang tercerabut dari konteks pencerapan dan nilai. Tidak! Kesan adanya pemenuhan diri dan isolasi tidak membuat puisipuisi Kemalawati berakhir menjadi “busa bahasa”. Betapapun samarnya, makna kemanusiaan tetap bisa dirasakan.

Puisi-puisi Kemalawati mampu merefleksikan realitas secara penuh dalam cara yang hidup dan menyentuh karena kenyataan berikut ciri-cirinya yang melekat tidak diabaikan dan tetap dijadikan sandaran utamanya. Agaknya Kemalawati, sebagai kreator, menyadari sepenuhnya bahwa pengabaian akan hal itu akan membuat ekspresi dan representasi puisi kehilangan daya gugah.
Untuk itu, keterlibatan langsung dan mendalam dengan kenyataan, dan bukan sekedar sebatas pada ciri-ciri permukaan, selalui diupayakan untuk mencapai bobot “jagat puitik”. Kemalawati berupaya menembus jantung permasalahan hingga pada akhirnya mencapai intensitas secara penuh-menyeluruh. Kemalawati tidak melakukan penjumlahan atas bagian-bagian pengalamannya, melainkan menderivasikannya dari tiap-tiap bagian yang ada dan dimungkinkan sebagai “matriks”, untuk kemudian dikonversi atau diekspansikan. Penciptaan jagat puitik yang dirambahnya itu menghasilkan puisi yang kekuatan puitiknya setara dengan totalitas dan kesatuannya: struktur keseluruhan puisi sarat oleh hidup dan kehidupan itu sendiri. Puisi pun mampu berdiri sendiri sesuai dengan pola khas atau partikularitas yang menjadi miliknya.

Dalam kehidupan keseharian yang mengepung dan mengkondisikan kita, seluruh pemikiran, perasaan, dan kehendak kita diarahkan pada satu realitas yang sama, yang membedakan hanya variasinya saja. Situasi ini agaknya disadari betul oleh Kemalawati sebagai dan menjadi situasi yang tak terhindarkan dalam melihat relasi resiprokal antara puisi dan kehidupan. Realitas itu kadang sarat dengan teka-teki, dan seringkali mengancam. Dalam dan melalui puisi, Kemalawati berupaya dan mencoba untuk menemukan sifat dasar realitas yang harus dihadapi dan bagaimana bisa bertahan hidup di dalamnya. Karenanya, sebagai “rumah besar” berbagai pengalaman, puisi Kemalawati sulit dipisahkan dari tempat ia disemai, berakar, tumbuh, dan berkembang.

Apapun sebutan yang dialamatkan kepada puisi Kemalawati: puisi agamis, puisi sosial, puisi filosofis, puisi dedaktis, dan seterusnya hingga puisi personal; menunjukkan dan sekaligus membuktikan bahwa puisi-puisinya juga merupakan salah satu sumber pengetahuan. Intuisi puitik yang dipilihnya menawarkan pandangan-pandangan yang bisa dijadikan “gapura agung” bagi kajian-kajian lain yang nonpuitik. Kajian tentang “kuasa dan wibawa” politik ke-Aceh-an misalnya saja, bisa ditopang dengan membaca puisi-puisi Kemalawati. Tentu saja, dalam kaitan ini bukan fakta-fakta politik belaka, melainkan telaah terhadap prosesnya dan juga tafsir terhadap perjuangan kelompok-kelompok tertentu, yang kadang luput dari perhatian sejarah perpolitikan itu sendiri. Seliar apapun imajinasi seorang penyair tidak akan “melampaui batas”, sebaliknya, sekecil apapun imajinasi tersebut selalu mengandung nilai-nilai kebenaran.”Goa-garba” puisi adalah ruang-ruang spekulatif kebutuhan hidup, yang peran fungsionalnya sebagai penerjemah sekaligus pemandu keberadaan manusia, yang kehadirannya menghindari cara-cara doktriner. Ketika “pintu-pintu” lain telah tertutup, puisi mampu mencapai kebenaran lewat “pintu belakang” secara cerdas. Begitu pun dengan puisipuisi Kemalawati karena berpijak pada fakta yang ada dan pengalaman langsung.

Tentu berangkat dari alasan tertentu ketika Kemalawati menempatkan realitas pada posisi sentral dan utama dalam konteks keseluruhan karyanya, yakni karena signifikansi perannya. Setelah menelusuri suatu proses yang panjang, akhirnya ia menemukan apa disebutnya sebagai “realitas puitik”. Ia menjadi sadar akan kemampuannya untuk menangkap dan berpegang teguh pada realitas itu. Penyair pun memperoleh dan mencatat berbagai kesan yang sederhana, tetapi utama; yang membingungkan, tetapi konseptual. Kesan-kesan tersebut memunculkan perasaan yang mengganggu sekaligus membahagiakan karena ia merasa telah mengalami sesuatu yang “tak bisa dijelaskan dengan kata-kata”. Ia merasa terlibat dalam pengalaman eksistensial yang bermakna. Ia pun berkehendak menuliskannya, dan secara esensial merasa bahwa berbagai hal yang ada di dalamnya berfungsi untuk menjelaskan sekaligus “menemukan”. Kemalawati pun menemukan potongan-potongan cinta, kuasa dan wibawa politik, derita sosial, senjata, derap sepatu, luka, darah, para wira dalam legenda, juga batas hidup yang bernama maut.

MENUJU SUNYI

Kita juga akan segera pergi 
hanya seorang diri 
menuju sunyi abadi

hanya ruang tuju 
sesaat diantar pelayat 
lalu senyap

kepada siapa 
pernah kita senandungkan 
syair cinta

kepada siap lagi 
kecamuk lahar kita muntahkan 
gemuruh genderang perang 
kita tabuhkan

kepada siapa 
hitam kelam peradaban 
kita wariskan

pada akhirnya 
kita akan pergi 
seorang diri 
tanpa senandung cinta 
tetabuhan gendang 
kecamuk perang 
dan pesta kemenangan

tanpa pilihan 
ke taman yang teduh 
atau ke liang kumuh 
(BI,2016)

Lintasan ini niscaya diperoleh di dalam sebuah tamasya sosiokultural, tamasya politikohistoris ke masa lalu, juga bayangan ke depan; dan sebagai aspek yang paling mengedepan dari seluruh pengalaman itu adalah tergerusnya rasa kemanusiaan yang tidak hanya terjadi di masa lalu, tetapi juga di masa kini dan (bisa saja di) masa-masa mendatang. Pertanyaan yang tersisa: dari manakah asal-usul empati yang tak berkesudahan itu bermula, yang terhubung dengan cerapan-cerapan itu. Manakah yang merupakan potongan perasaan nostalgik yang terbuang, manakah pula realitas yang tersembunyi, yang kesemuanya pasti ada di dalamnya, sehingga berbagai serpih dan sayatan historis itu terasa begitu signifikan dan eksistensial. Pada akhirnya terbukalah sebuah pintu yang sebelumnya telah diketuk ribuan kali, tapi sia-sia. Kemalawati dibanjiri oleh perasaan “penuh,” disergap oleh realitas tersebut. Ia dikuasai oleh kejutan, bahwa tamasyatamasya yang berbeda situasinya mampu menghadirkan kenangan akan nasib kemanusiaan akibat kuasa dan wibawa politik. “Seribu jari beragam sunyi” yang “menghentak tubuh” dalam gemulai tarian “Saman” (puisi: “Saman”, HSB, 2012) adalah untuk “menyuarakan kebenaran”, ialah kebenaran yang telah berubah menjadi, atau paling tidak mengingatkannya pada, “rintih pedih” mereka yang telah dijadikan tumbal politik. Kemalawati mampu menggenggam realitas dan menyimpannya: begitu nyata dan aktual, dalam bulir-bulir puisi. Realitas yang mengesankan, stilis, dan berbobot. Puisi-puisi Kemalawati, sejak muncul dan dikenal luas dalam dan melalui kumpulan bersama sastrawan Aceh, “Gadis” dan “Dihempas Badai” (dalam Seulawah Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas, Yayasan Nusantara, Jakarta:1995), HSB (2012), hingga BI (2016), semuanya “realistis”, semuanya dahaga dan berkehendak untuk meneguk sari-pati realitas. Puisi-puisinya adalah “nyanyian perkasa” yang merupakan rekaman “petualangan” ketika sang penyair adalah “kelana di hutan belantara” (puisi: “Dihempas Badai”). Setelah hampir 27 tahun, saripati realitas itu, dengan intensitas yang berbeda, puisi “Dihempas Badai” yang bertitimangsa 1989 tersebut dikukuhkan lagi sebagaimana puisi berikut ini.

NYANYI ITU

Ada yang menyanyi dalam kegelapan 
sangat lembut dan senyap 
hanya daun-daun
hanya pucuk-pucuk rumput 
yang merasakan getarnya

ada yang menyanyi dalam kegelapan 
sangat lembut dan senyap 
hanya angin 
hanya awan 
yang merasakan gemanya

ada yang menyanyi dalam kegelapan 
sangat lembut dan senyap 
hanya daun-daun 
hanya pucuk-pucuk rumput 
hanya angin 
hanya awan 
merasakan getar 
dan gemanya

nyanyi itu 
begitu halus 
begitu sayup 
menyusup nadi 
menuju kalbu

(BI,2016)

/5/
Gambaran di atas menunjukkan bahwa puisi sejatinya merupakan tindakan realisasi. Penyair, siapapun dia, mustinya memang berupaya menghubungkan substansialitas gagasan dengan realitas yang dicarinya, menghindarkan diri dari kekaburan agar tujuan-tujuan aktualisasi puitik dan karakter sejati puisi tercapai. Realitas yang dicoba digumuli dari “serpihan waktu yang telah berlalu” bisa saja pada akhirnya mengandung kebenaran yang tinggi ataupun gagasan yang murni karena di dalamnya bersemayam pengalaman individual yang tidak hanya konkret, tetapi juga unik, partikular, dan khas. Penyair, siapapun dia, berhadapan dengan kesulitan yang tak berkesudahan dalam menyingkap tabir yang menyelubungi pengalaman-pengalaman tersebut, hingga pada akhirnya muncul kesadaran bahwa mereka terikat pada kondisi yang lebih dalam dan esensial. Oleh karena itu, semua gejala inderawi yang langsung bisa dipahami akan terasa sebagai semacam telikung yang menghalangi pencapaian sesuatu yang hakikatnya ideal, partikular, serta tak berkesudahan. Penciptaan puisi sejatinya memang bukan merupakan pertarungan berbagai gagasan, melainkan sebuah perjuangan melawan pengaburan banyak hal dengan sarana tertentu agar gagasan berikut esensinya mewujud. Dan Kemalawati menyadari hal itu sepenuhnya.

TAPAK SAJAK

Apa yang telah aku tulis dalam sajak-sajakku 
kesalahan dan kenaifan diri 
kebusukan kata dibalut selimut metafora 
kemarahan dan api dendam yang menyala-nyala 
menghanguskan dinding jiwa 
hitam dalam jelaga

apa yang kutulis dalam sajak-sajakku 
setelah semua metafora telanjang sempurna 
jiwa ringkih mengais rahasia yang hijab selamanya 
di tubir usia dirundung papa 
getir langkah dalam bait tak bermakna 
akankah tapak sajakku bermuara

apa yang kutulis dalam sajak-sajakku 
selain riak metafora di laut maya 

(BI,2016)

Esai ini memang disengajakan tidak membahas puisi-puisi Kemalawati secara detail, apalagi satu demi satu atas seabreg karyanya. Alasannya sederhana: apapun labelnya, puisi adalah puisi. Bagi saya, penyair mana pun, adalah orang-orang yang sedang dalam proses memperadabkan diri dan lingkungannya melalui puisi. Dan proses itu tidak berhenti sebagai sebuah proses yang membuat penyair tidak mampu berbalik arah. Sebaliknya, penyair senantiasa berada dalam perjalanan bolak-balik di antara dua kutub: diri-lingkungan, ruang lirik-ruang publik, tradisimodern, lokal-global. Sebagai rumah pengalaman, bahasa puisi tidak lagi berhenti pada fungsinya yang reproduktif, tetapi malahan berfungsi produktif dan konstruktif. Dengan cara demikian, puisi pun akan memiliki daya individuasi yang bisa membentuk cara berpikir seseorang dalam menghadapi realitas objektif. Nah. ****

Lereng Merapi-Yogya: Akhir Juni 2016.

Sumber: KerlingAntologi Kritik/Esai Bahasa dan Sastra, Penyunting: Dessy Wahyuni, Medri Oesnoe, Agus Sri Danardana, dan  Tirto Suwondo, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan  Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta, 2016

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »