Peran Sastra dalam Pembentukan Karakter - D. Kemalawati

ADMIN SASTRAMEDIA 5/30/2019
oleh D. Kemalawati

Beberapa hari lalu saya melihat tumpukan buku baru di perpustakaan sekolah tempat saya mengajar. Sampulnya berwarna abu-abu muda dengan gambar keluarga kecil yang terdiri atas ayah, ibu, dan seorang anak lelaki. Ketiganya menyatukan tangan mereka di belakang kepala, tersenyum bahagia. Ada juga poster dan tas yang gambarnya sama. Menarik. Begitu kesimpulan sementara saya saat membaca judulnya, Menjadi Orang Tua Hebat Untuk Keluarga dengan Anak Usia SMA/SMK.

Buku yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2016) menjadi benar-benar menarik karena mencantumkan disklaimer (pernyataan resmi) sebagai berikut: “Buku ini adalah pegangan orang tua yang dipersiapkan Pemerintah dalam upaya meningkatkan partisipasi pendidikan anak, baik di satuan pendidikan maupun di rumah. Buku ini disususn dan ditelaah oleh berbagai pihak di bawah koordinasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dan diserahkan pada hari pertama masuk sekolah di tahun ajaran baru. Buku ini merupakan “dokumen hidup” yang senantiasa diperbaiki, diperbaharui, dan dimutakhirkan sesuai dengan dinamika kebutuhan dan perubahan zaman.”

Dokumen hidup. Dua kata ini menyeret saya ke halaman berikutnya, pada kata sambutan yang ditulis oleh Anies Baswedan atas nama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Anies Baswedan menulis bahwa keluarga adalah tempat lahirnya benih generasi berkarakter dan sekolah adalah tempat tumbuh kembangnya generasi tersebut. Generasi yang sukses, lanjut Anies, adalah mereka yang berkarakter, jeli melihat kesempatan, dan memiliki etos kerja serta integritas yang tinggi.

Dokumen hidup yang semestinya tidak menumpuk di ruang pustaka itu segera saya ambil untuk saya jadikan referensi menulis makalah ini, “Peran Sastra dalam Pembentukan Karakter”.

Kita mulai dengan mencari makna “sastra”, merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta yang berarti ‘teks yang mengandung instruksi’ atau ‘pedoman’, dari kata dasar sas yang berarti ‘instruksi atau ajaran’. Dalam bahasa Indonesia, kata ini biasa digunakan untuk merujuk kepada kesusasteraan atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu[1].

Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008:623) menjelaskan bahwa karakter adalah sifat atau ciri kejiwaan, akhlak, atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain; tabiat, dan watak. Karakter merupakan nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma agama, hukum, tatakrama, budaya, dan adat istiadat.

Karakter adalah tabiat atau kebiasaan. Karakter dan akhlak tidak memiliki perbedaan yang signifikan keduanya didefinisikan sebagai suatu tindakan yang terjadi tanpa ada lagi pemikiran karena sudah tertanam dalam pikiran. Dengan kata lain, keduanya disebut dengan kebiasaan. Karakter merupakan cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas setiap individu dalam hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, maupun negara. Individu berkarakter baik adalah individu yang mampu membuat suatu keputusan dan siap mempertanggungjawabkan setiap akibat dari keputusan yang dibuatnya. Imam Al-Ghazali mengatakan, “Akhlak atau karakter adalah suatu perbuatan yang dilakukan oleh seseorang tanpa melalui proses pemikiran.” Lalu, bagaimana sastra berperan membentuk karakter?

Lustantini Septiningsih dalam tulisannya berjudul “Mengoptimalkan Peran Sastra dalam Pembentukan Karakter Bangsa”[2], mengutip Saryono (2009:52—186) mengemukakan bahwa genre sastra yang mengandung nilai atau aspek (1) literer-estetis, (2) humanistis, (3) Etis dan moral, dan (4) religious-sufistik-profetis. Keempat nilai sastra tersebut dipandang mampu mengoptimalkan peran sastra dalam pembentukan karakter bangsa.

Marilah kita susuri satu persatu dari nilai yang dikemukan oleh Saryono di atas dengan mengambil contoh karya sastra dalam bentuk puisi yang saya petik dari buku Pasie Karam, antologi puisi Temu Penyair Nusantara yang diluncurkan dan dibedah oleh Prof. Dr. Abdul Hadi. W.M. pada pembukaan acara Temu Penyair Nusantara, 27 Agustus 2016 di Pendopo Bupati Aceh Barat.

(1)
Nilai literer-estetis adalah nilai keindahan, keelokan, kebagusan, kenikmatan, dan keterpanaan yang dimungkinkan oleh segala unsur yang terdapat dalam karya sastra. Piranti puitis (diksi, rima, alur, gaya, majas, tema, dan amanat). Untuk menemukan nilai literer-estetis ini, mari kita simak puisi Nezar Patria berikut ini.

MENGHADIRI PENGAJIAN RUMI
Nezar Patria

Alif.
Pada alif aku belajar segala awal menuju Ya. Dia muncul suka-suka dari balik kitab, lalu mengabarkan sebelum ada cahaya, semesta adalah setangkup gelap. Ia tak takjub melihat bumi hanya sebutir debu, karena di kerjab mata kakinya terayun bima sakti. Begitulah kau ada dan tiada seperti Alif berjalan menuju Ya. Aku tak paham. Ia mungkin dongeng dari mereka yang kurang tidur siang.

Rumi selalu mengantuk sewaktu aku bertanya soal rahasiarahasia.

Ba.
Ada lelaki tambun berbaring di pematang. Ia Ba, perut bulatnya tak berhenti berguncang karena tertawa. Wajahnya selebar teratai di kolam air mata. Dia mengatakan aku tak sampai ke nirwana jika tergoda sebundel arsip bagaimana cara bergembira. Ia mengambil segulung kertas, lalu menulis: “Samsara adalah sumur daya cipta bagi segala termasuk menimba kata bahagia”.

Ta.
Aku duduk bermuka-muka bersama Ta, dan segera ia membuatku skizofrenia. Segala yang melintas pada Ta akan terbelah dua: langit-bumi, air-tanah, bahagia-derita. Aku tak bisa membaca mana yang lebih baik, ke kanan atau ke kiri karena begitulah Rumi mengajarku mengaji. Ia tak menghujah ketika aku kehilangan arah. Ia hanya berbisik di antara benar dan salah ada sebuah savanna, dia akan menemuiku di sana.

(Pasie Karam, hal. 248)

Nezar Patria adalah sarjana lulusan Fakultas Filsafat UGM yang berprofesi sebagai wartawan dan tercatat sebagai anggota Dewan Pers Indonesia. Lelaki kelahiran Sigli, 5 Oktober 1970, ini mengaku sebagai pembaca rakus karya sastra. Darah wartawan yang sastrawan mengalir deras dari orang tuanya, Sjamsul Kahar. Puisi-puisinya sangat memukau. Ia sangat piawai memilih diksi. Latar belakang pendidikan filsafatnya membuat puisinya menjadi kaya dengan nilai filsafat. Dalam semua karya sastra “yang bermutu” akan selau terkandung nilai filsafat, entah menyangkut sikap dan pandangan hidup tokoh yang digambarkannya atau tema karya sastranya itu[3]. Puisi Nezar ini bagi yang bukan pembaca puisi, tentu sulit dicerna, tetapi keindahannya mungkin dapat dirasakan. Majas yang dihadirkan membuat kita terpana. Begitu ia mulai menggambarkan Alif, kita disuguhi majas yang beruntun. Lihatlah bagaimana dia menggambarkan semesta yang menurutnya hanya setangkup gelap. Bumi hanya sebutir debu. Alif berjalan menuju Ya.

Baca pulalah bagaimana Nezar menggambarkan Ba. Ba itu lelaki tambun dengan perut bulat dan wajah selebar teratai di kolam air mata. Lalu, apa makna pesan yang ditulis di kertas “Samsara adalah sumur daya cipta bagi segala termasuk menimba kata bahagia”? Adakah amanat yang diisyaratkan di sana?

Ta, bait terakhir yang begitu memukau. //Aku tak bisa membaca mana yang lebih baik,ke kanan atau ke kiri karena begitulah Rumi mengajarku mengaji. Ia tak menghujah ketika aku kehilangan arah. Ia hanya berbisik di antara benar dan salah ada sebuah savanna, dia akan menemuiku di sana//.

Inilah pesan yang kuat untuk sebuah karakter, akhlak, atau tabiat. Kadang kita selalu didoktrin benar dan salah seperti hitungan matematika. Padahal ada sebuah savana yang tentu sangat luas untuk dilalui dan Rumi tak menghujah ketika si aku kehilangan arah.

(2)
Nilai humanistis adalah yang berisi dan bermuatan nilainilai kemanusiaan, menjunjung harkat dan martabat manusia, menggambarkan situasi dan kondisi kemanusiaan (kondisi tragis, dramatis, sinis, ironis, humoristis, riang, murung, dan penasaran).

Mari kita simak puisi dari Sastrawan Negara Malaysia ke13, Dato. Dr. Zurinah Hasan, berikut ini.

KUALI HITAM
Zurinah Hasan

(1)

Sebiji kuali hitam
di dapur rumah kelahiran 
adalah teman ibuku 

siang dan malam sebiji kuali hitam 
terjerang di atas tungku 
adalah penghibur ibuku 
ketika kami menunggu

sebiji kuali hitam 
di atas api siang dan malam 
tahun demi tahun 
kami tak pernah menghitung 
seorang ibu menyayangi sebiji kuali 
sering memeluk kami 
pernahkah kami perhatikan 
mata yang ditikam serbuk arang 
kulitnya yang dikoyak percikan minyak 
lengannya yang diserap abu hitam 
dahinya yang disengat pucuk api 
kami hanya tahu lena kekenyangan 
ketika tidur ibu diketuk-ketuk 
oleh lelah dan batuk 
setelah asap dan abu menggaru-garu 
di paru-paru

kami tidak pernah menyadari 
dan ibu pun tak peduli d
ia hanya tahu bahagia 
melihat kami keriangan 
menunggu sesuatu akan terhidang 
dan tak ada yang lebih membahagiakan 
dari melihat kami kekenyangan

begitulah tahu demi tahun 
kuali yang setia menjalankan tugasnya 
hingga kami dewasa dan hidup di kota

(2)
kini di dapur rumahku yang bersih  
tak ada kuali hitam yang hodoh 
cuma pada kesempatan 
yang tak selalu sempat 
aku memasak untuk anak-anak 
dengan kuali non-stick 
yang tebal dan mahal 
dan sesudah itu membasuhnya 
dengan sabun lembut 
berhati-hati seperti memandikan bayi 
mengikut arahan buku panduan

suatu hari ibu datang ke rumahku 
dengan kerajinannya yang biasa 
memasak untuk kami sekeluarga  
cucu-cucunya ternyata amat berselera 
dan ibu merasa terlalu bahagia

dan sesudah itu 
dengan cara yang ia tahu 
mengemas dan merapikan dapurku 
dan seperti yang biasa dibuat 
pada kualinya di kampung 
dia menyental kualiku yang mahal 
dengan berus yang kesat 
dan spontan aku menjerit  
“Ibu merosakkan kuali saya 
tahukah ibu berapa harganya?”

ibu terdiam 
barangkali hatinya terguris 
barangkali hatinya hampir menangis 
melihat wajahku bengis

(3) 
dan kini
setelah ibu kembali kepada Ilahi 
aku menyesali keterlanjuran
kiranya aku telah mengukur kasih sayang ibu 
dengan harga sebiji kuali

ibu telah tiada 
kuali hitam tergantung sepi 
di dinding dapur rumah tua 
bolehkah kami menghitung 
berapa harganya?

(Pasie Karam, hal. 414)

Zurinah Hasan adalah seorang sastrawan terkemuka di Malaysia. Beliau seorang pensyarah di salah satu Universitas di Malaysia dan kini adalah seorang nenek dengan beberapa orang cucu. Puisi “Kuali” tidak seperti puisi yang ditulis Nezar Patria di atas. Puisi “Kuali” tergolong puisi yang lugas, mudah dipahami. Namun, pesan yang disampaikan sangat mendalam. Karakter seorang perempuan sederhana yang ikhlas melayani anak hingga cucunya dibalas dengan perlakuan kasar anaknya yang lebih menyayangi benda mahal daripada menjaga hati ibunya. Puisi Zurinah Hasan, yang ditutup dengan sadarnya sang tokoh, telah mengukur kasih sayang ibu dengan sebiji kuali merupakan pelajaran berharga yang kita temukan dalam karya sastra.

(3)
Pengalam etis dan moral adalah pengalaman yang berisi dan bermuatan bagaimana seharusnya sikap dan tindakan manusia sebagai manusia. Anak bukan tamu biasa di rumah kita. Mereka telah dipinjamkan untuk sementara waktu kepada kita dengan tujuan agar kita mencintai mereka dan menanamkan nilai-nilai dasar untuk kehidupan masa depan yang akan mereka bangun (Dr. James C Dobson, Psikolog )[4].

Bagaimana perlakuan orang tua terhadap anak-anaknya di zaman globalisasi ini? Zurinah Hasan menulis untuk kita semua berikut ini.

GLOBALISASI
Zurinah Hasan

anak kecil bertanya 
apa makna globalisasi 
si ayah yang menekuni internet 
mengarahnya diam 
dan apabila dia terus bertanya 
si ayah memanggil si pengasuh 
suaranya keras menyuruh 
membawa si anak menjauh

Si ayah terus tekun 
seperti setiap malam 
bercinta dengan computer 
mengecap nikmat bahagia 
hidup di era canggih 
computer adalah kekasih
pastinya ia adalah ciptaan 
yang menakjubkan dan menguntungkan
betapa nikmatnya berlayar 
dari laman web ke laman web 
berbual bergurau senda 
walaupun tidak pernah bersua 
seluruh dunia telah menjadi 
sebuah kampung yang mesra 
ketika itulah di sebelah rumah 
jirannya ditimpa musibah 
tetapi itu tidak mengganggu 
dia dan dunia fantasi 
di hujung jari si anak meneka-neka sendiri 
apa maknanya globalisasi 
mungkinkah maksudnya berkomunikasi
dengan yang jauh 
tetapi tak mengenal saudara sendiri

(Pasie Karam, hal. 416)

Jadilah orang tua hebat dengan menciptakan lingkungan rumah yang ramah, aman, dan menyenangkan untuk membentuk karakter anak-anak kita. Mengatur jam dan program televisi yang ditonton, mengatur penggunaan gadget (gawai), meluangkan waktu untuk anak, mendorong anak bergaul di lingkungan sekitar adalah hal yang bisa semestinya dilakukan oleh para orang tua. Ini pesan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia dalam buku Menjadi Orang Tua Hebat.

Dan sesekali bacalah puisi “Globalisasi” karya Zurinah Hasan ini agar orang tua sadar anak bukanlah tamu biasa di rumah kita.

(4)
Sastra religius –sufistik- profetis adalah genre sastra yang menyajikan pengalaman spiritual dan transcendental. Semua sastra pada awalnya digunakan sebagai sarana berpikir dan berzikir manusia akan kekuasaan, keagungan, kebijaksanaan, dan keadilan Tuhan yang maha esa, kerinduan manusia kepada tuhan, bahkan hubungan kedekatan manusia dengan tuhan.

Untuk genre sastra dalam hal ini kita akan mengambil contoh puisi berikut ini.

MENANGIS
L. K. Ara

Tiba-tiba orang tua itu menangis 
apa yang dia sedihkan rumahnya terbakar 
hartanya ludes 
bukan

orang tua itu 
merasa pilu
apa yang membuat ia berduka 
istrinya dijemput maut 
atau salah satu anaknya meninggal 
bukan

orang tua itu 
menitikkan air mata 
gembira 
masih diperkenankanNya 
berjumpa dengan bulan puasa

Depok, 7 Juni 2016

(Pasie Karam, hal. 185)

Dan tentu sangat banyak puisi bergenre religius yang bisa kita contohkan untuk pembinaan karakter. Nilai-nilai agama terbukti merupakan penangkal yang kuat terhadap berbagai pengaruh negatif. Nilai-nilai agama merupakan nilai utama dalam penumbuhan budi pekerti dan bersifat universal. Pepatah mengatakan ilmu tanpa agama lumpuh dan agama tanpa ilmu buta.

(5)
Membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat. Puisi “Mencari Sampah Di Seoul”, karya Maman S. Mahayana berikut ini, dapat kita gunakan untuk mendorong anak-anak kita generasi muda membiasa hidup bersih bebas dari sampah.

MENCARI SAMPAH DI SEOUL 
Maman S. Mahayana

aku mencari sampah 
di Seoul di stasiun-stasiun dan kebun kampus 
di pertokoan dan pusat perbelanjaan 
di pojokan perkantoran dan taman-taman 
di pasar tradisional dan petak hutan 
di manakah kalian?

Aku jumpa sampah dalam bak plastik tiga warna:11 
botol-botol dan kaleng minuman 
kertas-kertas dan kardus barang 
limbah busuk dan sisa makanan 
terkunci diam dan kalian gagal berserakan

datanglah ke pasar ikan 
di manakah kutemukan 
bau keparat dan becek jalanan? 
Sia-sia mencari kalian di sana

dini hari tadi aku melihat truk besar berderak 
pelan-pelan membawa kalian ke pusat sampah 
dan menyulapnya jadi:
rabuk pupuk, pakan ternak, serat baju, kardus mainan 
juga pot bunga warna-warni dan kertas Koran

datanglah ke aparteman-apartemen pencakar langit 
kolam sampah di pojok taman 
tanpa dengung lalat berterbangan 
tanpa kucing wara-wiri gentayangan 
juga tak kujumpa
anjing kampung mengais sisa makanan

aku mencari sampah 
di Seoul di manakah kalian?
Bersembunyi atau pergi diam-diam 
lalu menjelma barang-barang rumah tangga

Seoul, 9 Juli 2011

(Pasie Karam, hal. 200)

Suatu kali saya berkesempatan berkunjung ke Seoul atas undangan Hankuk University dalam acara pertukaran budaya Indonesia-Korea. Saya dan teman-teman sempat membicarakan tentang beberapa hal yang mestinya merupakan karakter kita yang mengaku muslim tetapi tidak kita miliki. Sementara, di negeri yang tak begitu paham agama ini bisa ditemukan karakter yang diperbincangkan tadi; kebersihan, kejujuran, serta kelembutan terhadap anak dan perempuan. Di sana tak ada sampah, tak takut kesasar, atau dirampok bila naik kendaraan. Di jalan yang padat, pejalan kaki tak mesti mengapit tas kuat-kuat takut kecopetan. Begitulah.***

(Makalah “Syareh Budaya Pekan Kebudayaan Aceh Barat" (PKAB) 2016, Aula Bappeda Aceh Barat, Senin 29 Agustus 2016.)

Endnote:

[1] Wikipedia bahasa Indonesia

[2] http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa/artikel/323

[3] S Mahayana, Maman. (2005), Jawaban Sastra Indonesia, Bening Publishing.

[4] Sukiman, dkk. Menjadi Orang Tua Hebat. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Sumber: KerlingAntologi Kritik/Esai Bahasa dan Sastra, Penyunting: Dessy Wahyuni, Medri Oesnoe, Agus Sri Danardana, dan  Tirto Suwondo, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan  Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta, 2016

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »