Perbatasan

ADMIN SASTRAMEDIA 5/29/2019
oleh F. Dewi Ria Utari

BIASANYA pagi selalu diawali dengan tepukan hangat tangan Ibu di pipiku. Tangan itu selalu berbau nasi bercampur kayu bakar. Tapi pagi ini, aku dibangunkan oleh suara keras kentongan dari arah bale warga yang berjarak 500 meter dari rumahku. Aku tergeragap. Dari bunyinya, kentongan itu dipukul kerap dan cepat. Segera aku berlari ke teras. Hampir berbarengan dengan Ibu yang keluar dari dapur sambil membawa centhong. ”Pasti ada yang ditemukan lagi di perbatasan,” kata Ibu sambil mengelap tangannya yang basah oleh air beras ke kainnya.

Beberapa warga berlari melewati rumahku menuju bale warga. Pak Sangkuy sempat berhenti dan mengajak Ibu turut serta. ”Nanti nasiku gosong,” jawab Ibu sambil mengacungkan centhong seolah membuktikan ucapannya.

Aku diperbolehkan Ibu bergabung dengan mereka ketika Vadi lewat berlari-lari kecil di belakang pamannya.

 ”Hati-hati. Jangan melihat terlalu dekat,” pesan Ibu sambil mengelus rambutku.
Aku segera berlari mengejar Vadi. Ternyata dugaan Ibu benar. Kata Vadi, subuh tadi ada seorang perempuan ditemukan tergeletak di daerah perbatasan. 
”Yang menemukan Draja,” tutur Vadi sambil sedikit terengahengah.
Kaki kecil kami memang harus bergerak lebih cepat agar tak ketinggalan dengan langkah orang dewasa.

Sesampai di bale warga, kerumunan orang sudah menyemut hingga di ujung bawah tangga. Sambil bergandengan, aku dan Vadi mencoba menyelinap menyibak pinggang orang-orang yang memenuhi rumah panggung ini. Ukuran badan kami yang kecil ternyata memudahkan untuk menyelusup hingga sampai di bagian depan.

Kini, di hadapan kami tampak seorang perempuan kira-kira berusia 20 tahunan. Ia bertubuh kurus. Mengenakan celana seperti lelaki dari bahan yang sepertinya keras. Aku tak tahu namanya. Di atasnya, ia mengenakan baju tanpa lengan dengan leher tinggi hingga di bawah dagunya.
Rambut sebahu perempuan itu dibiarkan terurai. Sebagian kusut. Di antara helaian rambutnya, tampak berkilau antinganting berbentuk lingkaran yang menggantung di bawah telinganya. Ukurannya cukup besar. Hampir sebesar kupingnya.

Dengan gelisah, perempuan itu duduk menekuk kedua kakinya hingga merapat ke dadanya. Kedua tangannya bertangkup memeluk lutut. Kepalanya menunduk. Tak berani mendongak melihat banyaknya pasang mata warga desaku yang berdiri mengelilinginya. Ia seperti bayi rusa yang ditemukan Khadi sepuluh hari yang lalu. Bedanya, bayi rusa itu berani membuka matanya dan melihat orang-orang yang mengelilinginya.

Kami bukannya ingin menjadikan perempuan itu sebagai tontonan. Tapi aku tahu, penduduk desa ini tak berani melakukan sesuatu tanpa perintah pemimpin desa, Jardin. Untunglah salah seorang pemuda yang diminta menjemput Jardin, sudah kembali bersamanya. Setelah Jardin muncul, semua dengungan warga yang sibuk mengomentari kemunculan perempuan itu langsung berhenti. Arah pandangan seluruh warga mengikuti Jardin, yang berjalan tenang mendekati perempuan yang masih duduk menekuk kaki itu. Begitu sampai di hadapan perempuan itu, Jardin ikut berjongkok. Ia mengelus perlahan kepala perempuan yang tetap menunduk itu. Begitu ia berdiri, seluruh warga langsung menunggu keputusan darinya.

”Tentunya semuanya setuju kalau tamu kita ini beristirahat. Aku akan mengantarnya ke salah satu rumah warga untuk tinggal sementara di sana. Setelah itu, seperti biasa, kita semua akan menjadi tuan rumah yang baik.”

Jardin bertepuk tangan tiga kali, dan semua orang langsung berbalik meninggalkan bale warga.
Saat aku berbalik hendak mengikuti mereka, Jardin menahanku. 
”Aku ingin ikut ke rumahmu. Perempuan ini bisa tinggal bersamamu kan?”
Aku mengangguk. Jadi, aku dan Vadi masih tinggal di bale warga. Menatap perempuan itu yang kini berdiri di sebelah Jardin. Tinggi mereka sama.

”Ayo!” ajak Jardin sambil menggandeng tangan wanita itu.
Dalam diam, akhirnya kami berjalan menuju rumahku.
***

PEREMPUAN itu bernama Susan. Nama yang aneh untuk kampung kami. Meski aneh, entah kenapa aku sepertinya cukup akrab dengan nama itu. Susan tak banyak bicara. Sering ia terlihat bengong, menatap tanpa arah. Jika sudah seperti itu, Ibu cepat-cepat mengajak Susan bicara. Tentang apa saja. Dan Susan menanggapinya dengan manis. Menurutku pada dasarnya ia tak sulit diajak bicara, hanya sering percakapan ibuku dengan Susan kurang aku pahami.

”Kalau mau, kamu bisa ikut mandi di kali. Di sini sudah biasa waktu pagi dan sore hari, anak-anak muda sepertimu mandi bersama. Orang tua sepertiku sesekali ikut. Tapi sering terlalu banyak pekerjaan yang harus kubereskan, jadinya tak sempat ikut. Kalea bisa mengantarmu jika kamu mau,” ujar Ibuku pada suatu sore.

Aku mengangguk seolah meyakinkan Susan, aku bisa mengantarnya ke kali.
Yang tak kumengerti pertanyaannya setelah itu. ”Hanya perempuan saja kan yang mandi di kali?”
Aku langsung bengong. Begitu pula ibuku.

”Tentu saja tidak. Pada dasarnya semuanya bisa ikut mandi bersama. Bukankah aku tadi mengatakan anak-anak muda?” suara Ibuku terdengar bingung.

Yang lebih membuat kami tambah bingung, melihat reaksi Susan setelah itu. Matanya terbeliak. Mulutnya ternganga. Seperti orang yang baru saja dikageti. 

”Gila! Mandi bersama lelaki dan perempuan? Itu porno sekali!” teriaknya terkaget-kaget.
Kepalaku tambah pusing.

”Porno itu apa? Kenapa kamu bilang gila? Kami bukan orang gila!” kataku.
Sekarang gantian Susan yang terlihat bingung. 

”Aku baru sadar kalau aku terdampar di sebuah tempat aneh,” ujarnya setengah bergumam. ”Lelaki dan perempuan di tempatku tidak seharusnya mandi bersama. Itu terlarang. Kalau sudah kawin sih nggak masalah. Tapi kalau belum, itu tidak boleh. Dosa. Tabu,” tambahnya.

Aku dan Ibu langsung menggeleng-gelengkan kepala. Kami sama-sama menghela napas. ”Sudah bertahun-tahun kami melakukannya. Makanya kami tidak tahu apa yang aneh dari mandi bersama. Mungkin hal ini tak biasa di tempatmu berasal. Tapi sekarang kamu ada di sini. Silakan saja kalau kamu ingin menyesuaikan diri atau tidak. Karena biasanya, siapa pun yang masuk ke desa kami, biasanya tidak bisa lagi keluar.”

Ibu langsung berbalik ke dapur seperti orang marah. Aku juga ingin marah. Tapi aku kasihan karena Susan terlihat betul-betul bingung.

Untuk menghilangkan kebingungan Susan, seharian itu aku ajak dia jalan-jalan. Di tepi kali, ia tak bisa menahan diri sesekali berteriak kaget saat mendapati para perempuan di desa kami mandi di kali. Waktu kuajak dia menanti giliran para lelaki mandi, Susan langsung terbirit-birit pergi. Aku tak tahu apa yang membuatnya takut.

Sambil mengajaknya berkeliling, kuceritakan tentang kampung kami. Dengan luas yang tak kuketahui persisnya, kata Jardin, penghuni kampung ini semuanya pendatang yang tibatiba masuk dari perbatasan. Selebihnya, anak-anak sepertiku, lahir di kampung ini. Tidak ada yang tahu perbatasan itu seperti apa. Menurut yang kudengar, baik ibuku maupun orang-orang dewasa di kampung ini, tiba-tiba saja muncul di perbatasan dalam keadaan tak sadar dan linglung. Sama seperti saat Susan ditemukan.

Setelah di kampung ini, biasanya orang-orang dewasa itu perlahan-lahan akan lupa akan tempat asalnya. Kalaupun tidak lupa, mereka tidak bisa lagi kembali. Aku sendiri belum pernah ke perbatasan. Tapi kata orang-orang, perbatasan kampung ini berupa hutan yang tak berujung. Mungkin karena itulah, mereka tidak ada yang pernah mencoba untuk kembali. Entah karena malas saking lebat dan luasnya hutan tersebut, atau mereka sudah betah tinggal di kampung ini. Aku pikir alasan utamanya karena mereka betah. Soalnya, sebagian besar dari mereka tak pernah mencoba datang ke perbatasan. Kata mereka, kehidupan di kampung ini lebih menyenangkan dari tempat asal mereka.

Lihat saja Susan. Meski ia terkaget-kaget melihat cara mandi orang-orang di kampung ini, dalam waktu seminggu, ia sudah bergabung dengan mereka. Bahkan paling semangat. Kata Susan, di tempat ia berasal, ia tak pernah sebahagia ini.
***

SEBULAN setelah Susan ditemukan, entah kenapa banyak sekali orang yang ditemukan di perbatasan. Hal ini membuat Jardin menyuruh membuat lebih banyak rumah. Banyaknya orang yang datang membuat sebagian besar orang dewasa mulai mengadakan banyak pembicaraan rahasia.

”Kata Jardin, akan makin banyak orang yang ditemukan di perbatasan. Kita harus siap-siap,” kata Raji pada Ibu suatu malam.

Mereka mengira aku sudah tidur. Makanya mereka tak lagi bicara sambil berbisik-bisik.
”Aku tahu saat seperti ini akan datang. Mereka semakin terhimpit. Terdesak. Saat itulah mereka berhasil menemukan perbatasan. Hanya yang betul-betul membutuhkan tempat ini, yang berhasil menemukan perbatasan,” bisik Ibu.

”Kita sudah beruntung berada di tempat ini. Masih banyak orang-orang tertinggal di daerah sana. Aku dengar dari mereka yang baru tiba, situasi makin tak karuan. Banyak aturan yang semakin menjauhkan manusia dari naluri mereka. Perempuan dilarang keluar malam. Bergandengan tangan juga dihukum. Bahkan mereka mulai menangkapi lelaki yang tinggal bersama dengan teman lelakinya, juga perempuan-perempuan yang hidup satu rumah.”

Aku tersentak. Tak dapat kubayangkan betapa mengerikannya daerah asal ibuku. Bagaimana mungkin bergandengan tangan pun dilarang. Padahal di kampung ini, setiap orang berjalanjalan sambil bergandengan tangan.

Setiap bertemu, kami berciuman. Baik itu sesama perempuan, sesama lelaki, atau lelaki dan perempuan. Tak ada yang salah dari semua itu. Aku bahkan tak habis pikir kenapa menangkapi para perempuan yang keluar pada malam hari.
***

SAAT kuceritakan semua ini kepada Vadi, dia begitu marah. Sambil membawa rotan, ia mengajakku pergi ke perbatasan. Aku menolak. Tapi Vadi menarik keras tanganku. Kami akhirnya berlari menuju batas desa. Pohon-pohon begitu tinggi dan lebat. Aku ragu melangkah. Tapi Vadi semakin keras menggenggam tanganku. Sebelah tangannya yang lain memegang sebilah rotan dengan kuat. Aku tahu ia sangat marah sekali. Jika sudah seperti ini, tak ada yang dapat menghentikannya lagi.

Sambil mendongak ke atas, kucoba melihat pucuk tertinggi pohon-pohon di depanku. Sia-sia. Ujung-ujungnya seolah menyatu dengan langit. Aku tak dapat melihatnya. Sinar matahari membuatku silau. Saat menunduk, baru kusadar langkah kami sudah memasuki hutan. Anehnya, saat melewati pohon demi pohon, kami seolah melewati udara. Batang-batang pohon itu seolah mengabur seperti asap.

Kami terus berjalan. Terus. Dan semakin kami berjalan, pohon-pohon itu menguap satu demi satu. Tak kurasakan lagi cahaya matahari. Aku ingin kembali. Tapi entah kenapa aku tak dapat menghentikan langkahku. Begitu pula Vadi. 

”Aku ingin kembali,” ujarnya sambil menangis.

Tapi kami tak dapat berhenti. Semakin jauh kami berjalan, kegelapan semakin datang. Hingga akhirnya kami mendapati kegelapan itu dipenuhi titik-titik cahaya seperti kunang-kunang. Hanya saja kunang-kunang itu berukuran besar dan menempel di semacam kayu berwarna putih. Saat kuketuk batangnya, terdengar bunyi tang. Keras sekali. Tanganku sampai sakit.
Tempat kami berpijak bukan tanah. Aku tak tahu apa namanya. Berwarna abu-abu dan berbentuk kotak-kotak panjang yang ditempel berjajar. Di depan kami, melintas benda-benda seperti kardus berukuran besar dengan orang duduk di dalamnya. Bendabenda itu bergerak begitu cepat. Melebihi lari seorang manusia. Refleks, kugenggam tangan Vadi. Dadaku bergemuruh. Aku takut. Kurasakan telapak tangan Vadi berkeringat. Ia pasti juga ketakutan sama sepertiku.

Tiba-tiba, sebuah kardus berhenti. Dari dalam keluar laki-laki berseragam membawa tongkat. Mereka melihat kami. Spontan kami berbalik dan berlari. Mereka mengejar. Aku tak tahu mengapa mereka meneriaki kami. Tapi sambil berlari, kulihat mereka juga mengejar beberapa perempuan. Keadaan begitu kacau balau. Teriakan perempuan terdengar di mana-mana. Aku ikut berteriak.
Kutarik tangan Vadi. Kami mencoba mencari hutan yang kami lalui tadi. Tapi kami tak menemukannya. Kami terus berlari. Bercampur bersama para perempuan yang dikejar para lelaki berseragam itu. Entah sampai kapan kami harus berlari. Perbatasan itu tak kami temukan lagi. (*)

Jakarta, 8 Mei 2008

Sumber: Suara Merdeka, 25 Mei 2008

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »