Persoalan Sastra dan Penciptaan Karya Populer

ADMIN SASTRAMEDIA 5/28/2019
oleh Erwan Juhara


Sastra Indonesia Sekarat!


Sastra Indonesia sedang sekarat! Begitulah penyair Soni Farid Maulana mengatakan keterpencilan sastra dengan masyarakatnya dalam harian umum Pikiran Rakyat, 25 Mei 1992. Saya lalu menjawabnya lewat tulisan serupa di Pikiran Rakyat, 9 Juni 1992, bahwa sastra Indonesia sebenarnya tidak sekarat, tetapi sastra Indonesia masih sebatas sastra kulit, belum mendalam ke dalam sanubari maupun kebutuhan primer masyarakat kita, sehingga tak ubahnya hadir di permukaan kehidupan saja, misalnya menjadi milik para pelajar/mahasiswa di sekolah/kampus atau para sastrawannya saja.


Namun, begitulah fakta sastra kita. “Itulah Fakta!” kata Farouk H.T., dosen Fakultas Sastra UGM dalam tulisannya di Kompas, 30 April 1989 yang isinya mempersoalkan keterpencilan sastra kita dari masyarakatnya. Padahal, ia sangat merindukan masyarakat menjadi kedanan dengan karya-karya sastra kita, seperti baca novel, baca puisi, gemar baca resensi buku sastra, bikin kritik sastra, dan selanjutnya membeli serta membacanya.

Ya, fakta yang ada di masyarakat memang tak sama dengan kehendaknya. Namun, kalau faktanya seperti itu, kita tak perlu menghapus atau menciptakan fakta baru lagi. Yang harus dilakukan menjawab mengapa fakta itu terjadi.

Dari kekhawatiran Farouk, cerpenis Satyagraha Hurip (alm.) responsif menjawab tulisan Farouk yang berjudul, “Sastra Memasyarakat: Mungkinkah?” dengan tulisannya “Kemiskinan Kaum Intelektual Sumber Keterpencilan Sastra”, Kompas, 14 Mei 1989.

Dalam tulisannya, Satyagraha menganjurkan untuk menyebarkan karya-karya sastra seluas-luasnya lewat media massa, televisi, radio, dan kampus-kampus, sehingga orang-orang tidak heran jika mendengar dan membicarakan “Seribu Kunang-Kunang di Manhanttan” atau “ Dokter Zhivago”, yang tentu saja diharapkannya mampu menjadikan masyarakat kedanan dengan sastra.

Hal itu juga didukung Doktor Kuntoro Wiryomartono, dalam majalah Humanitas, Yogyakarta, tentang perlunya mengambil langkah pendek penanggulangan masalah keterampilan sastra dari masyarakatnya dengan jalan mengembangkan jenis “sastra koran” yang lebih meluas pangsa pasarnya mulai dari rakyat kecil hingga pejabat.


Namun, pendapat-pendapat itu bagi Farouk tak memberi jaminan besar pada fakta sastra yang ada pada saat ini. Selain faktor sistem yang diciptakan Balai Pustaka cenderung menjauhkan elite sastra dari masyarakat, lemahnya apresiasi masyarakat terhadap sastra adalah hal yang cukup mendasar dari terpencilnya sastra di masyarakat serta ditambah lemahnya budaya baca masyarakat.

Ilustrasi di atas mungkin sebagai kilas balik pembicaraan kita pada penilaian “Kehidupan Sastra Indonesia sedang Sekarat?”. Sebab, adalah benar bahwa kekhawatiran Farouk dan seluruh sastrawan tentang fakta sastra kita tak begitu saja bisa dijawab oleh usulan Satyagraha Hurip atau pun Doktor Kuntoro.


Sastra koran memang sempat dijalankan, tetapi rupanya rutinitas yang terlalu tinggi menjadikan kejenuhan rubrikasi sastra dan budaya di media massa menjadikan koran-koran perlahan mengurangi kolom-kolom tersebut dan menggantikannya dengan yang sedang trendi di masyarakat. Sebab lain, tentu saja karena koran adalah dunia bisnis yang juga menjadi periuk nasi bagi pemilik dan pelaksananya, bahkan bagi masyarakatnya.


Persoalan Sastra dalam Kehidupan


Artinya, ada hal yang lebih dulu harus kita pecahkan dan kita cari jawabannya sebelum lahir lagi fakta yang lebih baru dari fakta-fakta yang berkembang. Misalnya, benarkah bahwa sastra itu hal yang sangat mendasar dalam kehidupan manusia? Benarkah masyarakat memang butuh sastra? Sejauh mana tingkat fleksibilitas sastra mengimbangi tingkat fluktuasi kehidupan manusia yang kian hari kian berkembang?


Jika hal tersebut dapat dijawab, tentu saja kita bisa mengantisipasi permasalahannya mengapa sastra terpencil di masyarakat. Kita ambil contoh bandingan sastra dengan dunia ekonomi kita yang berkembang cepat, sampai sejauh mana sastra bisa mengimbanginya?


Tentu saja itu perlu dipertanyakan karena untuk memasyarakat diperlukan perimbangan yang sesuai dengan selera masyarakat, sebab dari sana pula masyarakat berhak untuk memilih hal mana yang mesti diutamakan. Dari sana pula ada kemungkinan pembentukan masyarakat sastra yang bagaimana yang ada di Indonesia.


Benar pula jika ada gambaran bahwa Horison dan Basis sebagai majalah yang sempat jadi “buku suci” bagi setiap penikmat sastra pada beberapa dasawarsa, kini tak bisa lagi dijadikan “buku suci”. Lalu, ada baiknya pula kita iri pada Malaysia yang begitu arif memandang sastrawan dan dunianya. Namun, kita pun lebih arif pula jika sebelumnya menengok dulu “rumah” kita sendiri dengan keinginan kuat untuk “melayakkannya” sebelum melihat “rumah” orang-orang yang terkadang membuat kita frustasi ingin “bunuh diri”.


Fenomena sastra Indonesia yang diteriakkan Soni juga berangkat dari rumah sendiri lewat beberapa pengalamannya “berdiskusi” dengan rekan sejawat dan koleganya. Saya pun ingin memberikan beberapa pengalaman di “rumah” kita tentang sastra.


Inilah dia. Akhir tahun 1989, Jakob Sumardjo dalam Pikiran Rakyat secara deskriptif telah mengemukakan bahwa “pena para sastrawan kita memang sudah lama tumpul”. Ditambah lagi penerbitan buku sastra tak menimbulkan gema di tengah masyarakatnya. Tahun itu juga disebutnya sebagai tahun studi budaya/ belajar karena tak ada kegiatan seni budaya dan tokoh yang menonjol dan monumental selain gelombang usaha penerjemahan karya sastra dunia ketiga.


Akhir tahun 1989, juga sebelum keberangkatan W.S. Rendra ke negeri Sakura untuk menggelar “Selamatan Anak Cucu Sulaiman” di Depok, penulis sempat “ngobrol” tentang masalah kehidupan sastra di Indonesia. Diakuinya sastra Indonesia memang menyedihkan karena beberapa sebab, di antaranya keberadaan sastra kita mengkhawatirkan tidak hanya disebabkan oleh karya sastra dan masyarakat sastranya, tetapi juga disebabkan oleh sastrawan kita yang turut membantu suasana buruk itu. 


Misalnya, seniman/sastrawan kita sudah tidak gigih lagi membaca situasi masyarakat dan berkarya yang bermutu, selain hidupnya yang sudah kurang mantap dan tidak konsisten lagi mengabdikan dirinya pada dunia sastra. Contohnya banyak sastrawan yang terjun ke dunia bisnis, menjadi wartawan, atau bintang film. Selain itu, menjamurnya masalah drop out sekolah, jalan hidup, dan drop out sosial di masyarakat adalah hal yang paling berat karena itu berkaitan dengan masyarakat secara langsung. Apa jadinya sastra kita kalau masyarakatnya saja sudah banyak yang mengalami drop out sosial.


Di ruang kuliah, guru sastra saya, Prof. Dr. H. Yus Rusyana, bercerita bahwa pada zamannya hasil-hasil sastra itu memiliki fungsi yang amat penting, baik secara personal maupun sosial. Secara personal, hasil sastra berfungsi sebagai kelanggenan, spiritual, dan estetis. Secara sosial, berfungsi menjaga dan melestarikan aktivitas dan pranata sosial. Karena itu, terjadilah dukung mendukung yang timbal balik antara hasil sastra dan masyarakatnya. Hasil sastra mencerminkan, memurnikan, dan memberi pemahaman tentang kehidupan masyarakat, dan sebaliknya masyarakat menghidupi sastra itu. Sastra pun merupakan sarana dalam kelangsungan masyarakat. Karena itu pula sastra terpelihara.


Budayawan Saini K.M. pun dalam wawancara dengan penulis di ruang kerjanya, tahun 1990, bercerita tentang sebuah model masyarakat sastra yang membuatnya iri. Satu saat beliau diutus ke luar negeri dan berjalan-jalan sambil mencari majalah Time. Setelah Time diperolehnya, segera dicarinya kolom berita yang mengabarkan buku sastra apa yang sedang hangat dan populer di negara itu lewat abstract. Menakjubkan, ketika ia menyempatkan untuk melihat ke sekelilingnya, orang-orang sedang membaca dan membicarakan karya tersebut. Ia agak sedikit terkesima sambil berdecak dan bergumam, “Jika saja masyarakat Indonesia seperti itu.”


Selain itu, tentu saja tidak kita lupakan pendapat Satyagraha Hurip yang menghujat bahwa “Kemiskinan Kaum Intelektual: Sumber Keterpencilan Sastra” dalam Kompas, 14 Mei 1989.


Masih banyak cerita saya tentang “rumah”, tapi itu pun tak menjamin kekhawatiran semua pihak tentang fakta sastra kita akan lekas teratasi. Cerita tentang rumah hanya untuk membuat kita lebih arif memandang dulu keadaan “rumah” kita karena dari “rumah”-lah kita memulai sesuatu sambil berniat meningkatkan “rumah” itu menjadi lebih “nyaman” dan “hadir” sebagai bagian dari kehidupan kita yang terus berkembang.


Lalu, bagaimana dengan fakta sastra kita yang sedang sekarat ini? Tentu saja itu tidak bisa kita lupakan begitu saja karena denyutnya tetap masih kita rasakan dan kita nikmati. Walaupun faktanya jelas kita lihat di masyarakat tak begitu menggembirakan dengan cerita-cerita “rumah” yang telah kita simak dan kita dengar serta kita tatap.


Sastra kita masih sebatas sastra kulit yang kadang dibutuhkan untuk bungkus “tubuh-tubuh” dan jika tak dibutuhkan lagi tercecer begitu saja di sembarang tempat. Sepertinya masih enggan untuk menikmati kelezatan “buah” di dalamnya.


Akhirnya, apakah kita akan tetap membiarkan sastra Indonesia sekarat? Tentu saja tidak. Namun, sekali lagi, ada baiknya kita selalu menengok “rumah” kita yang masih punya “kulit” sambil mencari jawab kembali pertanyaan-pertanyaan, benarkah bahwa sastra itu hal mendasar dalam kehidupan manusia? Benarkah masyarakat kita masih butuh sastra? Sejauh mana tingkat fleksibilitas sastra mengimbangi tingkat fluktuasi kehidupan manusia yang terus berkembang? Memang harus kita jawab. Sebab bukankah masalah budaya hanya sepersekian saja dari seluruh pranata kehidupan manusia secara keseluruhan.


Soeria Disastra, seorang aktivis Komunitas Sastra Tionghoa-Indonesia dalam salah satu tulisannya di Jendela Newsletter (2002) mengatakan bahwa karya sastra bukan hanya melukis dunia tetapi juga meresapi dan menghayati dunia, bukan hanya membuka dunia objektif yang kaya raya tetapi juga mengekspos dunia jiwa yang lembut dan subtil, bukan hanya menjelajah jagat luar tetapi juga merambah jagat dalam, bukan hanya mondar-mandir di dunia luar tetapi juga merambah jagat dalam, bukan hanya mondar-mandir di dunia luas, tetapi juga berjalan sendirian dalam dunia jiwa, bukan hanya berdialog dengan dunia dan mempersilahkan pembaca mencuri dengar. Sastra merupakan gambaran dan sekaligus penghayatan; internalisasi, subjektifikasi, dan emosionalisasi dunia. Tidak heran, karena sentuhan rasa dan jiwa, dunia sastra menjadi dunia yang diterangi matahari batin, gunung menjadi berwarna, air menjadi bangsa, bunga menjadi bercahaya, perempuan menjadi bergaya.


Pendek kata, dunia sastra adalah dunia yang indah penuh warna penuh nuansa, yang memberi pembacanya pengalaman batin yang menggetarkan jiwa, menggoncangkan rasa, mengharukan sukma, dan melembutkan citra. Menciptakan dan mengapresiasikan karya sastra, merupakan pengalaman intelektual dan emosional yang tinggi derajatnya yang akan lebih memanusiakan manusia. Manusia-manusia Indonesia yang bersastra, yang menciptakan dan mengapresiasi karya-karya sastra, tentu akan membentuk bangsa Indonesia yang lebih berbudaya, lebih manusiawi., dan lebih menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.


Tugas sastrawan-sastrawan, para pekerja, dan aktivis sastra selain menciptakan karya-karya sastra dan mengusahakan penerbitan sastra, yang tidak kurang pentingnya adalah membimbing masyarakat luas mengenal dan berkerabat dengan sastra. Ruang dan kesempatan dalam media massa cetak dan elektronik yang luas menunggu para pekerja dan aktivis sastra untuk direbut dan dimanfaatkan. Sajian-sajian yang kreatif dan menarik, baik berupa karya-karya sastra maupun karya kritik dan tuntutan sastra dalam media massa itu akan langsung menjangkau berbagai kalangan dan berbagai lapisan masyarakat. Dalam hal ini, baik kiranya diutarakan di sini semacam program tele-prosa (berupa pembacaan karya prosa pilihan bersama tayangan suasana dan pemandangan yang sangat artistik dan pas dalam televisi dan program pembacaan puisi-puisi pendek beserta pengantar yang menarik serta pembawaan lagu-lagu yang sengaja diciptakan berdasarkan teks puisi-puisi yang dibacakan. 


Contoh program-program televisi itu bisa kita saksikan dalam siaran beberapa stasiun televisi di Tiongkok. Mengapa kita tidak berbuat serupa? Masihkah kita peduli dengan dunia sastra Indonesia? Mari kita bergerak dan berbuat sesuai kemampuan kita untuk menjaga kehidupan sastra Indonesia! Kita bisa memulainya dari yang populer hingga jenjang filosofis. Keluarga, sekolah, lingkungan, dan buku adalah pintu terdekat ke arah pelestarian kreativitas sastra Indonesia. Hayu atuh!****


Share this

Related Posts

Previous
Next Post »