Peta Sastra Indonesia Mutakhir

ADMIN SASTRAMEDIA 5/26/2019
oleh Maman S Mahayana

....

Dalam dua dasawarsa terakhir ini peta sastra Indonesia mulai berubah secara signifikan. Mitos Majalah Sastra Horison mulai bergeser pada koran-koran nasional, seperti Kompas, MediaIndonesia, Republika, Koran Tempo, dan seterusnya.Tambahan pula, beralihnya majalah sastra Horison dalam bentuk cetak ke bentuk online (Juli 2016), tidak hanya menyurutkan posisi majalah itu makin ke belakang, tetapi juga boleh dikatakan mengakhiri pengaruhnya—atau kotribusinya— dalam peta kesusastraan Indonesia.

Sementara itu, bermunculannya koran-koran di berbagai daerah yang menyediakan ruang sastra, beberapa di antaranya, Jawa Pos, Riau Pos, Batam Pos, Banjarmasin, Padang, Bali, Mataram, dan seterusnya, membuka peluang sastrawan di berbagai daerah mengisi ruang-ruang sastra yang disediakan media massa itu. Jadi, meskipun beberapa koran ibukota lenyap dari peredaran, seperti Sinar Harapan, Suara Pembaruan, Suara Karya, dan seterusnya, koran daerah boleh dikatakan, berperan sebagai saluran lain dalam ‘melahirkan’ sastrawan kita.

Pemberlakuan otonomi daerah sangat jelas berdampak positif, selain terjadi perkembangan yang signifikan dalam kehidupan sosial ekonomi di berbagai daerah di Indonesia, juga bermunculan semangat untuk menunjukkan eksistensi kedaerahan melalui pentas-pentas budaya, termasuk di dalamnya kesusastraan. Kehidupan kebudayaan—kesenian—kesusastraan, mulai mendapat tempat dan perhatian pemerintah daerah yang kerap diikuti pula oleh penerbitan karya sastra yang sebelumnya sering diabaikan.

Perkembangan kesusastraan di daerah-daerah di luar Jawa yang dalam beberapa dekade menempatkan Jakarta sebagai pusat orientasi, seperti Pekanbaru, Tanjungpinang, Aceh, Banjarmasin, Jambi, Padang, Makasar, Bali, kini seperti tak peduli lagi pada Jakarta. Aktivitas kesusastraan di Taman Ismail Marzuki atau beberapa komunitas lain di Jakarta yang kerap ditempatkan sebagai standar capaian estetik, bahkan juga dimitoskan sebagai legitimasi bagi sastrawan di luar Jakarta, kini tidak lagi diperlakukan demikian. Begitu juga lomba penulisan novel dan antologi puisi yang biasanya heboh dan diburu sastrawan dari berbagai daerah lantaran dipandang dapat mengangkat para pemenangnya dengan reputasi nasional, kali ini tidak lagi memposisikan dirinya sebagai salah satu tonggak penting perkembangan sastra Indonesia.

Sementara itu, di kota-kota besar di Pulau Jawa, seperti Surabaya, Bandung, Yogyakarta, Semarang, dan Banten, bahkan juga Depok, gerakan yang dilakukan para sastrawannya, makin menegaskan posisi Jakarta hanya sebagai salah satu sekrup dalam mesin raksasa yang bernama Sastra Indonesia. Oleh karena itu, pemahaman kita tentang peta kesusastraan Indonesia kini, mutlak juga mencermati dinamika dan perkembangan kesusastraan di berbagai daerah itu. 

Bersamaan dengan itu, munculnya berbagai komunitas dan kantong-kantong budaya, menempatkan peta sastraIndonesia sekarang, tidak dapat mengabaikan peranan mereka. Lihat saja serangkaian kegiatan sastra yang diselenggarakan di sejumlah kota di luar Jakarta, seperti yang dilakukan Komunitas Sastra Indonesia (KSI), Temu Sastrawan Nusantara, Temu Sastra Mitra Praja Utama (MPU) yang melibatkan sastrawan dari 10 provinsi, Komunitas Cerpen Indonesia (KCI). Festival Ubud di Bali, perayaan hadiah Sagang di Pekanbaru, Riau, Pertemuan Sastra Pesisir, dan perayaan Hari Puisi Indonesia. 

Kegiatan itu tentu saja berdampak positif bagi perkembangan sastra di berbagai wilayah itu. Mengingat dalam setiap kegiatan itu –kini—selalu diikuti dengan penerbitan karya, maka selain terus bermunculan nama-nama baru, terdokumentasikannya karya sastrawan di berbagai daerah, juga dapat melengkapi peta sastra Indonesia yang tak lagi dapat mengabaikan perkembangan sastra di berbagai daerah itu.

Bagaimanapun juga, sejumlah perhelatan sastra itu tidak saja menunjukkan terjadinya semacam kebangkitan sastra di berbagai daerah itu, tetapi juga makin menegaskan, bahwa peta sastra Indonesia kini, tidak lagi terpusat di Jakarta. Oleh karena itu, terlalu gegabah jika muncul klaim-klaim yang menyebutkan beberapa gelintir sastrawan Indonesia sebagai mewakili prestasi keseluruhan sastra Indonesia. Klaim itu telah menafikan keberadaan dan kebangkitan sastrawan Indonesia di berbagai daerah.

Di antara hingar-bingar kegiatan perhelatan sastra di berbagai daerah itu, acara-acara lomba, pemberian hadiah, dan penerbitan buku, pemanfaatan media sosial seperti facebook(FB) dan whatsapp(WA), melahirkan generasi yang lain lagi. Tidak dapat dimungkiri, hadirnya FB dan WA, telah memberi kemungkinan lain bagi perkembangan sastra Indonesia. Jika pada masa sebelumnya, kemunculan sastrawan—juga kritikus (sastra)—secara langsung atau tidak, (sangat) ditentukan oleh peran redaktur suratkabar atau majalah, maka kini, orang bebas membuat klaim dirinya sebagai apa pun. Jika persaingan di media massa, terutama suratkabar, begitu ketat, yang terjadi di FB dan WA, justru begitu longgar, cair, dan licin.

Longgar, lantaran dalam FB dan WA, orang bebas mengeluarkan apa pun. Setiap saat, siapa pun, bisa mempublikasikan karyanya yang berupa apa pun yang berkaitan dengan sastra, atau apa pun. Lalu, orang-orang yang tergabung dalam lingkaran perkawanannya, boleh menanggapi sesuka hati; mengklik tanda jempol atau cukup komentar singkat: keren, mantap, dan seterusnya.

Situasinya sangat cair. Berbagai klaim bisa muncul setiap saat. Klaim yang satu, bisa menyalip klaim yang lain. Klaim itu-ini, bisa timbul tenggelam begitu cepat. Lalu segalanya berakhir tak selesai. Menggantung. Tidak ada pihak mana pun, tanpa atau dengan otoritasnya, punya kekuatan memberi legitimasi atau melarang orang membuat klaim.

Pergerakannya juga begitu licin, sebab di sana, orang bisa menikmati ketidakjujurannya lewat perbuatan lempar batu sembunyi tangan. Orang bisa begitu bangga jadi Pak Turut atau Eyang Kutip –menurut bla … bla … atau sekadar mengutip judul-judul atau cukup menyebut nama-nama doang. Ketika ada orang yang bertanya atau minta klarifikasi, Pak Turut atau Eyang Kutip itu cuma berkilah, bersilat lidah atau ngeles, tanpa ada penjelasan dan pertanggungjawaban etik, moral, intelektual, bahkan juga sosial.

Situasi itu tidak terjadi dalam proses pemuatan sebuah karya di suratkabar atau di majalah. Ketika sebuah karya akan dimuat sebuah suratkabar, seorang redaktur mesti mempertimbangkan banyak aspek: keterbacaan karya itu dan pertimbangan lain yang berkaitan dengan kualitas; pertanggungjawaban etik, moral, dan sosial; dan pembinaan pada nama-nama baru. Sekadar menyebut beberapa, H.B. Jassin, Saini KM, Ajip Rosidi, Abdul Hadi WM, Sutardji Calzoum Bachri, Ahmad Tohari, Efix Mulyadi, Willy Hangguman; atau redaktur yang lebih muda, Nirwan Dewanto, Kenedi Nurhan, Djadjat Sudradjat, Triyanto Triwikromo, Jamal D. Rahman, dan entah siapa lagi, sangat mempertimbangkan aspek pembinaan ini. Maka, para redaktur yang disebutkan tadi, akan memuat karya-karya yang sebenarnya belum begitu bagus, tetapi potensial mendorong penulisnya akan menghasilkan karya yang lebih bagus lagi.

Lewat pemuatan karya di suratkabar dan majalah itu pula, masyarakat perlahan-lahan dapat melabeli seseorang —yang secara konsisten dan berkelanjutan—karyanya dimuat di suratkabar atau majalah itu, sebagai penyair, cerpenis, atau kritikus. Tentu saja proses pelabelan itu tidak jatuh pada seseorang yang karyanya secara kuantitatif belum teruji oleh waktu. Pernyataan Budi Darma yang memelesetkan larik puisi Chairil Anwar, “Sekali (tidak) berarti, setelah itu mati!” sebagai isyarat, bahwa predikat kesastrawanan mesti dibarengi dengan kualitas dan kuantitas karya. Jadi, masyarakat itulah yang melabeli predikat penyair, cerpenis, atau kritikus, dan bukan klaim dirinya sendiri. Maka jangan harap seseorang yang karyanya hul-hol – lama tenggelam, dan setelah itu muncul lagi, lalu lama lagi tenggelam—akan mendapat label dari masyarakat. Nah, di sini, proses seleksi sebagai penyair, cerpenis atau kritikus dimulai dari redaktur, lalu konsistensi dan kontinuitas, dan setelah itu kualitas dan kuantitas.

Generasi FB dan WA tak mengalami persaingan ketat dan seleksi seperti itu. Cenderung instan. Tak bakal ia berhadapan dengan kesabaran luar biasa, sebagaimana yang terjadi pada Gus tf (Sakai), Pamusuk Eneste, Tjahjono Widarmanto (Widianto), Isbedy Stiawan, Mardi Luhung, Wayan Sunarta, dan entah siapa lagi, yang pada karya yang kesekian puluhnya, baru nongolmenghiasi suratkabar atau majalah nasional terkemuka. Tanyalah mereka, berapa banyak prangko dan amplop kabinet, mereka persiapkan; berapa lembar fotokopi naskah dan potongan wesel berwarna kusam, mereka simpan; dan setebal apakah kesabaran mereka hari Minggu nongkrong di lapak koran membacai nama-nama para penulis?

Medsos FB dan WA memang sebuah keniscayaan. Perlakukan ia secara bijaksana. Sebagai ajang berlatih menulis, sharing gagasan, atau berdiskusi, FB dan WA bisa menjadi medan yang baik dan bermanfaat. Maka, bertindak sebagai pendekar mabuk,mengacung-acungkan golok untuk membabat rumpun, dan membusungkan dada lalu mengajari ikan berenang, hakikatnya seperti orang meludah ke langit. Meskipun demikian, para penggiat sastra di ruang FB dan WA ini punya kelompok dan jaringannya sendiri, yang bagaimanapun tetap perlu ditempatkan sebagai bagian dari dinamika sastra Indonesia mutakhir.

Begitulah, mencermati peta perkembangan kesusastraan Indonesia mutakhir, tidak pelak lagi, kita tidak dapat mengabaikan poros-poros kesusastraan Indonesia di berbagai daerah yang makin mengukuhkan keberadaannya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari dinamika kesusastraan Indonesia secara keseluruhan. Dari poros-poros itulah sesungguhnya kesusastraan Indonesia, menegaskan jati diri sastrawan di berbagai daerah dan sekaligus merepresentasikan warna-warni keindonesiaan dengan berbagai kultur etniknya. 

Di sinilah pentingnya memahami lanskap kesusastraan Indonesia secara lengkap, dan tidak secara sepihak menempatkan Jakarta sebagai representasi Indonesia. Itulah konsekuensi pemberlakuan otonomi daerah yang pada gilirannya akan dapat pula menghancurkan usaha-usaha sentralitas dari komunitas tertentu. Peta sastra Indonesia adalah lanskap warna-warni sebagai potret keindonesiaan. Potret itu menggambarkan dinamika sastra Indonesia di berbagai daerah dengan segala problem sosialbudaya tempatan. Maka, pahamilah peta sastra Indonesia dari dinamika keseluruhan yang terjadi di pelosok Tanah Air. Itulah semangat multikulturalisme, semangat merayakan keberbedaan dan kesetaraan kultur etnik sebagai kekayaan Indonesia.

Mempertimbangkan kembali peta sastra Indonesia mutakhir, kiranya penting artinya membuat semacam gerakan untuk: (1) menyuburkan semangat kedaerahan dan kultur etnik dalam lanskap keindonesiaan yang juga tidak dapat melepaskan diri dari perkembangan sastra dunia, (2) menegaskan jati diri sastra dan sastrawan di berbagai daerah di Nusantara ini –melalui karyanya—sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari identitas sastra Indonesia, (3) menggencarkan publikasi khazanah sastra di berbagai daerah sebagai usaha pendokumentasian, sekaligus untuk melengkapi peta sastra Indonesia. Salah satunya melalui penerbitan antologi bersama yang merepresentasikan keterwakilan komunitas, poros sastra, sastrawan daerah, dan grup facebook, (4) memberi ruang kepada sastrawan di berbagai daerah dalam setiap perhelatan nasional dan internasional, dan tidak lagi memanfaatkan sastrawan daerah sebagai Tuan Rumah yang bertindak sekadar menjadi penonton, (5) menumbuhkan semangat kompetisi melalui berbagai kegiatan lomba dan isu-isu aktual untuk menciptakan polemik yang bertujuan menyemarakkan suasana kehidupan sastra Indonesia lebih dinamis. Cara ini juga kerap melahirkan berbagai pemikiran yang cerdas.

....

(Dikutip dari makalah "Peta Sastra Indonesia Mutakhir", Maman S. Mahayana, Susastra FIB-UI)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »